Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 72


__ADS_3

Bryan merasa lega karena satu ikat bunga mawar tadi masih tergeletak di atas meja restoran. Ia pun mempercepat langkahnya untuk mengambil satu ikat bunga mawar tersebut.


"Ini yang ulang tahun siapa?, Yang dapat hadiah juga siapa," Bryan menggelengkan kepalanya mengingat Papanya yang memberikan hadiah untuk istrinya.


Dengan segera Bryan membawa mawar tersebut menuju ke atas.


"Sayang, Kau dari mana?," tanya Aya.


Bryan memberikan satu ikat mawar tersebut kepada istrinya.


"Bunga mawar untuk mu sayang," ucap Bryan seraya memberikan bunga tersebut kepada istrinya.


"Untuk ku?, " tanya Aya heran. " Tapi ini hari ulang tahun mu sayang, kenapa Aku Kau memberiku bunga?."


Bryan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya menatap sang Papa. Namun Bagaskara menggelengkan kepalanya.


"Ini tanda cinta ku untuk mu sayang, ada sesuatu di dalamnya," bisik Bryan, membuat Aya mengerutkan keningnya.


"Sesuatu?, Apa itu sayang?."


"Bukalah, Kau akan tahu nanti." ucap Bryan dan membuat Aya semakin penasaran.


Namun saat akan membukanya, Lisa memanggilnya, sehingga Aya pun mengurungkannya.


"Aku akan membukanya nanti sayang, Aku mau ngobrol dulu sama Lisa," ucap Aya seraya mencium pipi suaminya.


Bryan pun menganggukkan kepalanya, ia membawa bunga mawar tersebut dan berjalan ke arah Lusi.


"Lusi, Kau simpan bunga mawar ini baik-baik. Bunga ini sangat berharga, dan ini hadiah untuk istri ku," ucap Bryan.


"Baiklah Tuan."


Bryan langsung menghampiri Papanya yang tengah menggendong Bintang. Wajahnya nampak di tekuk saat ini.


Sementara Bagaskara yang melihatnya ingin sekali tertawa, karena ia tahu Kenapa wajah putranya nampak ditekuk.


"Kau kenapa?, Kenapa wajahmu seperti itu Bryan?,"ucap Bagaskara tertawa.


"Kenapa Papa hanya memberi Aya hadiah?, Bukankah anakmu ini yang sedang ulang tahun?. Apa kau tidak berniat untuk memberiku hadiah?," Ucap Bryan yang nampak begitu kesal.


Sementara Bagaskara malah terbahak mendengar penuturan putranya.


Bryan berdecak melihat Papanya yang mentertawakan dirinya.


Melihat hal itu Bagaskara segera memberikan baby Bintang kepada pengasuhnya. Lalu ia pun kembali mendekati putranya.

__ADS_1


"Bukankah kau sudah dewasa?, Apa kau masih menginginkan hadiah dari ayah mu ini?,"goda Bagaskara.


"Tapi kan aku sedang ulang tahun Pa, masa Papa enggak adil sih," protes Bryan.


Bagaskara segera mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kunci rumah ia berikan kepada putranya.


"Ini apa Pa?, Kenapa pa-pa malah memberiku kunci?,"tanya Bryan begitu heran.


"Apa putra Papa ini menjadi bodoh sekarang?, Kau lihat baik-baik ini apa." Bagaskara kembali memperlihatkan kunci yang ada di tangannya.


Bryan berpikir keras, kenapa Papanya malah memberikan sebuah kunci kepadanya. Lalu ia pun sejenak terdiam saat mengerti apa maksud kunci tersebut.


Tangannya langsung meraih kunci tersebut dan mengambilnya. Kini ia pun mengerti apa artinya.


"Sungguh ini untukku Pa?," Ucap Bryan begitu girang.


"Ya, ini untukmu. Papa tahu Kau sudah memiliki rumah sendiri. Tapi ini adalah rumah impianmu waktu kecil. Bukankah dulu Kau ingin sekali memiliki sebuah rumah di tepi pantai?. Papa hanya mencoba untuk mewujudkan keinginanmu waktu itu," ucap Bagaskara mengingat kembali keinginan Bryan waktu kecil


Rasanya waktu begitu cepat, putranya kini telah tumbuh dewasa. Dan kini telah memiliki sebuah keluarga sendiri. Terlebih lagi ia di berikan bonus kedua malaikat kecil yang begitu menggemaskan.


Bryan begitu terharu mendengar ucapan sang papa. Ternyata Papanya begitu mengingat kenangan dirinya waktu kecil. Bryan pun memeluk Bagaskara dengan rasa yang begitu haru.


"Terima kasih pa, karena sudah mewujudkan keinginan ku. Papa adalah Papa terbaik yang pernah Bryan miliki. Maafkan Bryan yang selama ini selalu menentang Papa," ucap Bryan dalam pelukan papanya.


"Seandainya Mama mu masih hidup, Papa yakin dia akan begitu bahagia saat ini nak," ucap Bagaskara membuat Bryan kembali mengingat sosok Mamanya.


Bryan tahu Papanya begitu merindukan almarhum Mamanya. "Mama sudah bahagia di atas sana melihat kita di sini," ucap Bryan yang juga hampir menitihkan air mata.


Sementara orang-orang di sana juga merasa terharu melihat sepasang ayah dan anak itu.


***


"Sayang, terima kasih telah memberikan ku sebuah kejutan di hari ulang tahunku," ucap Bryan saat perjalanan pulang ke rumah utama.


"Untung Aku melihat tanggal lahir di KTP mu sayang. Kalau tidak, mungkin Aku tidak akan mengingat bahwa ini adalah hari ulang tahun mu," sahut Aya dengan memegang tangan suaminya.


Kini mereka pulang bersama, namun hanya berdua saja. Sementara baby Bintang dan Galaxy bersama dengan kedua kakeknya.


"Sayang, coba lihatlah bunga mawar yang ku bawakan tadi. Apa Kau tidak ingin tahu hadiah apa yang ada di dalamnya?."


"Memangnya ada hadiah apa di dalamnya sayang?," Ucap Aya seraya meraih bunga mawar yang ada di kursi belakang.


Aya pun mencium wangi bunga mawar tersebut dan tersenyum. Lalu ia melihat sebuah kotak merah yang tersemat di tengah mawar tersebut.


Ia pun mengerutkan keningnya. Tangannya mengambil kotak tersebut dan mulai membukanya.

__ADS_1


"Apa ini sayang?," tanya Aya.


"Bukalah maka Kau akan mengetahuinya." Bryan tersenyum sekilas saat menatap istrinya.


Karena merasa begitu penasaran, Aya pun segera membuka kotak tersebut. Dan betapa terkejutnya Aya saat melihat sebuah kunci mobil dalam kotak tersebut.


"I-ini apa sayang?."


"Itu adalah hadiah mobil untuk mu sayang," ucap Bryan tersenyum.


Aya begitu senang, namun sesaat kemudian iapun menatap suaminya.


"Terima kasih sayang, tapi bukankah Kau memiliki beberapa mobil, Aku bisa menggunakan salah satunya sayang," ucap Aya. Dan membuat gemas suaminya.


"Aku tidak pernah tahu kalau Kau sekarang sudah bisa menyetir sendiri sayang. Dan itu hadiah karena kamu sudah belajar menyetir." Bryan mengusap lembut kepala istrinya dengan lembut menggunakan satu tangannya, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menyetir.


"Terima kasih sayang untuk hadiahnya," ucap Aya memeluk lengan suaminya.


"Tapi Kau belum memberi ku hadiah sayang."


.


Aya pun kembali ke posisi duduknya dan menatap suaminya. "Aku sudah menyiapkannya sayang, tapi tidak sekarang," ucap Aya tersenyum.


Lalu tiba-tiba saja di depan sana ada sebuah mobil yang datang berlawanan arah dan melaju dengan tidak menentu.


"Sayang awas...!," pekik Aya saat mobil di depannya semakin dekat.


Bryan pun berusaha untuk menghindari mobil tersebut, namun terlambat. Mobilnya sudah tak bisa lagi menghindar.


Bruak...


Mobil mereka pun terguling.


Kecelakaan pun tak dapat lagi terhindarkan. Banyak orang yang berkerumun ke tempat itu.


Aya masih tersadar dan menatap suaminya yang bersimbah darah di bagian kepalanya. Hingga membuatnya begitu histeris.


"Sayang...!." Tangannya mulai meraih tangan suaminya. Dan membuat Bryan sedikit tersadar dan membuka matanya.


Bryan menatap Aya dengan tatapan sayunya. "A-aku men-cintai-mu Aya," ucap Bryan terbata. Lalu ia kembali tak sadarkan diri.


"Tidak sayang, kumohon tetaplah tersadar," pekik Aya, namun suaminya tak bergeming. Matanya tetap saja terpejam. Hingga Aya pun merasakan pusing yang luar biasa dan membuatnya juga tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


__ADS_2