
Aya mulai merapikan rambutnya, dengan memakai pewarna bibir dan mengoleskannya begitu tipis.
Aya bahkan melepaskan kacamata tebalnya dan memasukannya ke dalam tas kecilnya.
"Nah,begini kan lebih baik daripada tadi. Bagaimana mungkin Bryan mengajak ku bertemu orang penting dengan penampilan ku yang seperti tadi, pasti Aku malah akan mempermalukannya nanti." Ucap Aya.
Kini Aya terlihat begitu cantik dengan polesan tipis.
Dengan langkah penuh keyakinan, Aya pun berjalan keluar dan mencari di mana suaminya.
Dapat Aya lihat suaminya yang kini tengah berbincang dengan dua orang pria di sana. Aya pun berjalan menghampirinya.
"Permisi, maaf Aku terlambat," ucap Aya menatap suaminya.
Bryan menatap istrinya itu tanpa berkedip, Ia begitu terpesona oleh kecantikan Aya. Walaupun hanya memakai makeup tipis, Aya terlihat begitu cantik.
Sementara itu pria yang sedang duduk di samping pria paruh baya disana juga terpesona dengan kecantikan Aya. Ingin sekali Ia bisa berkenalan dengan gadis yang baru datang itu.
"Maaf, Anda siapa ya?." Tanya pria muda di samping Tuan Abraham. Dia adalah Oskar, putra Tuan Abraham yang kebetulan akan menggantikan Tuan Abraham menjadi investor Bryan.
Bryan segera tersadar saat mendengar suara Oskar. Saat hendak menjawab pertanyaan Oskar kepada Aya, Oskar kembali berkata.
"Apakah Nona cantik ini adalah sekertaris Anda Tuan Bryan?. Kau begitu beruntung mendapatkan sekertaris cantik seperti...ah maaf, siapa nama sekertaris Anda Tuan?." Tanya Oskar kepada Bryan. Oskar terus saja menatap Aya sejak Aya datang.
"Namanya Aya Tuan Oskar, dan dia bukan seker..." Belum sempat Bryan menyelesaikan ucapannya, Oskar kembali berkata.
"Oh, jadi namanya Nona Aya. Baiklah Nona Aya, silahkan duduk," ucap Oskar mempersilahkan.
Aya tersenyum canggung, Ia menatap wajah Bryan yang kini terlihat begitu kesal. Lalu Ia pun duduk di samping Bryan yang kini menatapnya tajam.
"Sepertinya Bryan marah, Apa dia malu karena Aku menghampirinya kemari?." Ucapnya dalam hati.
"Tuan Brayn, saya sudah memutuskan bahwa putra saya ini akan menggantikan saya untuk masalah suplai dana ke perusahaan Anda. Jadi putra saya yang akan memberikan keputusan nantinya. Dan karena saya juga ada urusan penting,maka saya permisi dulu Tuan," ucap Tuan Abraham.
Bryan tersenyum ramah dan menjabat tangan Tuan Abraham. "Baiklah Tuan."
__ADS_1
Dan Tuan Abraham pun meninggalkan mereka bertiga setelah berjabat tangan dengan Bryan dan Aya.
Bryan dan Oskar berbincang mengenai kontrak kerja yang akan di perpanjang atau tidak. Sebelumnya Tuan Abraham selalu menjadi investor terbesar Bryan. Namun kali ini entah mengapa putra Tuan Abraham seakan mengulur waktu untuk tanda tangan kontrak itu.
Pandangan mata Oskar terus saja tertuju pada Aya, dan itu membuat Bryan menjadi panas. Rasanya Ia ingin mencongkel mata yang terus menatap istrinya.
Karena tidak tahan lagi, Bryan mengambil ponselnya dan menulis chat untuk Aya agar menunggunya di mobil.
Aya yang menerima chat dari suaminya merasa bingung, bukankah tadi suaminya yang bersikeras agar dirinya ikut?. Tapi sekarang malah menyuruhnya untuk menunggu di mobil.
"Permisi Tuan Oskar, saya harus menerima telepon. Silahkan Anda dan Tuan Bryan melanjutkan pembicaraannya." Ucap Aya tersenyum dan segera melangkah dari sana.
Bryan semakin kesal. "Kenapa dia harus tersenyum, lihatlah pria itu terus menatapnya!." Sungut Bryan dalam hati.
Bryan begitu kesal saat pria lain menatap Aya, Apa lagi kini istrinya itu malah menggunakan make up dan melepaskan kacamata tebalnya. Bryan semakin kesal karenanya.
Sedangkan Oskar terus saja menatap kepergian Aya tanpa berkedip.
"Tuan Bryan, saya punya penawaran besar kepada Anda." Ucap Oskar masih menatap kepergian Aya.
"Aku akan memberikan suplai dana berapapun yang Anda minta, asalkan Anda membiarkan saya untuk bermalam dengan sekertaris cantik Tuan Bryan." Ucap Oskar dengan senyum menyeringai.
Seketika itu emosi Bryan semakin memuncak, pria di depannya menginginkan istrinya?. Bryan sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dengan langkah kasar Bryan menghampiri Oskar dan memukulinya membabi buta.
Buk...buk...
"Dasar Kau pria hidung belang. Kau pikir Aku akan menyerahkan istri ku kepada pria hidung belang sepertimu huh!!. Bahkan pria manapun tidak boleh menyentuhnya ataupun menatapnya!." Bryan terus saja memukuli Oskar.
Hingga beberapa security pun datang dan memisahkan keduanya.
"Anda sudah merendahkan saya dengan memukuli saya Tuan Bryan!, Anda mengatakan Nona Aya istri anda karena Anda menjadikan dia simpanan Anda kan?." Ucap Oskar tersenyum sinis.
"Kau!!!, Aku akan menghabisi mu!!." Bryan semakin terbakar amarahnya mendengar ucapan Oskar. Bryan ingin kembali memukuli Oskar kalau security tidak menghadangnya. Tapi Ia terhalang oleh beberapa security itu.
"Silahkan saja Tuan Bryan, Kau tahu?. Aku tidak akan pernah lagi menjadi investor di perusahaan mu itu!."
__ADS_1
"Aku juga tidak ingin bekerja sama dengan mu dasar pria ba..ji..ngan!!." Bryan bersungut-sungut menunjuk ke arah Oskar.
Lalu Ia pun segera meninggalkan tempat itu, atau kalau tidak pasti Bryan akan benar-benar membunuh Oskar nantinya.
Dengan kasarnya Bryan membuka pintu mobilnya dan memukul-mukul stir dengan marah. Dan membuat Aya begitu terkejut melihat kemarahan suaminya itu.
"Bryan, Kau kenapa?." Tanya Aya.
Bryan menatap tajam istrinya itu. "Kenapa Kau tidak memakai kacamata mu saat di restoran tadi huh!. Aku sungguh menyesal mengajak mu ke restoran ini!!." Bentaknya dan itu membuat Aya tertunduk.
Matanya berkaca-kaca, bukankah tadi suaminya yang sudah memaksanya untuk ikut masuk kedalam restoran tersebut. Dan kini suaminya itu membentaknya karena menyesal sudah mengajaknya.
"Apa salahku Bryan, Aku hanya menuruti ucapan mu. Aku tidak memakai kacamata ku karena Aku tidak ingin mempermalukan mu di depan orang lain dengan penampilan ku itu." Aya berkata dengan air matanya yang sudah berjatuhan.
Hatinya begitu sakit mendengar bentakan dari mulut Bryan padanya.
Bryan pun mengusap wajahnya kasar. Karena emosi, Ia malah membentak Aya dan membuat istrinya menangis.
Sejenak Bryan memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya panjang. Ia berusaha mengatur emosinya
Di rengkuhannya tubuh bergetar istrinya yang tengah terisak dan langsung mengecup kening istrinya begitu lembut.
"Maafkan aku, maafkan aku." Ucap Bryan dengan terus mengecup kening istrinya.
Bryan memeluk tubuh istrinya dan mengusap kepala Aya pelan. Dia terus mengusap kepala istrinya hingga Aya kembali tenang dan tidak menangis lagi.
Setelah di rasa tenang, Bryan melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya yang saat ini masih tertunduk.
Aya masih merasa takut karena Bryan membentaknya tadi.
"Maafkan Aku Aya." Ucapnya lembut dan mengarahkan pandangan istrinya menghadapnya.
Masih dapat Ia lihat mata istrinya yang terlihat begitu sembab. Perlahan Bryan mengecup mata sembab istrinya satu persatu.
"Maafkan aku," ucapnya sekali lagi.
__ADS_1
***