Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 30


__ADS_3

Rasanya Bryan ingin sekali kembali merasakan manisnya bibir istrinya itu. Tapi Ia takut Aya akan marah padanya, seperti sebelumnya saat istrinya menyadari ulahnya yang membuat bagian dada Aya penuh dengan tanda kemerahan.


Bryan membalikkan tubuhnya membelakangi istrinya. Ia berusaha untuk memejamkan matanya. Namun tetap saja bayangan tubuh indah istrinya terus saja menari-nari dalam pelupuk matanya.


Sudah satu jam Bryan terus saja berbalik ke kanan dan kiri. Bahkan tubuhnya Ia tengkurap kan, dan tetap saja libidonya malah semakin besar.


Tidak dapat menahannya lagi, Bryan langsung mendudukkan dirinya. Pandangannya kembali mengarah pada tubuh istrinya.


"Aku tidak perduli, malam ini Aku harus bisa merasakan bibir manisnya." Ucapnya dan langsung menyambar bibir merah Aya.


Dengan lembutnya bibir Bryan terus saja menikmati bibir istrinya. Dan beruntung Aya tidak terbangun saat ini.


Tangan kekarnya mulai meraba dan menyingkap baju yang istrinya kenakan. Dalam hatinya, Ia terus saja melafalkan bahwa dirinya harus bermain cantik. Bryan tidak boleh memberikan sebuah jejak pada tubuh istrinya itu.


Bryan menelan ludahnya melihat bukit kembar milik istrinya itu. Ia sudah tidak sabar untuk memainkannya, bahkan merasakannya.


Nafasnya semakin memburu kala juniornya semakin sesak di bawah sana. Sesuatu yang begitu dahsyat terasa mendesaknya ingin keluar.


Bibirnya menggeram saat juniornya memuntahkan lahar panas yang membuatnya merasakan sebuah kelegaan.


Dengan segera Bryan menutup kembali baju istrinya dan langsung memasuki bathroom untuk membersihkan juniornya yang terasa begitu lengket.


Sungguh hanya dengan merasakan bukit kembar istrinya saja membuat sesuatu dalam dirinya keluar dengan begitu dahsyatnya.


"Lumayan, tapi Aku akan mendapatkan seluruh tubuhnya nanti." Bryan tersenyum, Ia begitu geli bila mengingat ulahnya sendiri.


Bryan kembali membaringkan tubuhnya di samping Aya setelah dari bathroom. Namun Ia tetap membelakangi istrinya. Ia tidak ingin juniornya kembali menegang setelah baru saja Ia memenangkannya.


Hingga malam itu pun berlalu dengan keduanya yang tidur dalam satu ranjang.


***


Bryan tengah bangun lebih awal. Ia tersenyum saat melihat istrinya yang masih terlelap di sana.


Iapun segera bersiap-siap untuk mandi dan berangkat ke kantornya.


Namun Bryan mengerutkan keningnya saat keluar dari bathroom. Ia melihat Aya yang masih setia dengan tidurnya. Karena itu tidak biasa menurutnya.


Ia melangkahkan kakinya, tangannya mengulur untuk menyentuh pipi Aya.


Betapa terkejutnya Bryan saat menyentuh pipi Aya yang saat ini terasa begitu panas. Lalu Ia menyentuh kening istrinya yang terasa begitu panas.

__ADS_1


"Apa dia sakit karena perbuatan ku semalam?." Gumamnya. Lalu Bryan segera keluar dari kamarnya.


Dengan segera Bryan menuju dapur, Ia pun menyuruh pelayan untuk membuat bubur.


Lalu Ia pun segera mengambil kompres dan dengan segera membawanya ke kamar untuk mengompres kening istrinya.


Bryan merasa begitu khawatir saat Aya mulai bergumam lirih dengan matanya yang masih terpejam.


"Ibu, Aku sangat merindukanmu, Aku lelah sekali ibu," rintih Aya.


Bryan dengan sabar terus membolak-balik kain kompres di kening Aya, sesekali menyeka buliran bening yang timbul dari kelopak mata Aya.


Tak berapa lama kemudian, Lusi mengetuk pintu kamar Tuannya dengan membawa satu mangkuk bubur dan obat untuk Nona mudanya.


"Tuan,ini bubur yang anda minta," ucap Lusi memberikan nampan yang berisi satu mangkuk bubur dan air putih.


Bryan segera mengambil bubur tersebut. " Kau letakkan air putih itu Lusi, dan cepat Kau hubungi dokter keluarga untuk memeriksa istriku." Ucap Bryan dan di anggukki oleh Lusi.


"Aya bangunlah, makanlah bubur ini dulu dan minum obat mu!." Bryan berusaha membangunkan Aya. Namun Aya masih saja tak membuka matanya.


"Ayolah Aya, tubuh mu begitu panas." Ucapnya kembali seraya menepuk pipi Aya pelan.


Bryan mulai menyodorkan satu suapan ke bibir Aya.


"Tidak Bryan, Aku tidak menyukai bubur," ucap Aya lemah. Ia pun menggelengkan kepalanya perlahan.


"Kau ini menyusahkan ku saja!." Bryan kesal karena Aya tidak mau memakan bubur itu.


Ia mulai menyuapkan satu sendok bubur ke mulutnya sendiri. Lalu dengan cepat Bryan menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.


Aya merasa terkejut dengan apa yang Bryan lakukan, namun tubuhnya terasa begitu lemas untuk menghentikan Apa yang suaminya lakukan itu.


Aya hanya bisa pasrah setiap kali menerima suapan bubur itu dari mulut suaminya itu.


Setelah di rasa cukup, Bryan kembali memasukkan obat kedalam mulutnya dan kembali memberikannya kepada istrinya itu.


Bryan merasa puas karena dirinya berhasil memberikan bubur dan obat itu untuk istrinya. Walaupun dengan cara yang berbeda, namun Ia begitu menikmatinya.


"Sekarang Kau boleh kembali tidur." Ucapnya tersenyum.


Sebenarnya Aya sangat kesal dengan sikap suaminya itu. Tapi tubuhnya begitu lemas dan terasa sakit semua. Jadi kali ini Aya tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


***


"Demam istri Anda sudah turun Tuan, mungkin dia hanya kelelahan. Saya juga sudah meresepkan obat dan vitamin untuk istri Anda." Ucap dokter dengan memberikan sebuah resep yang sudah Ia tulis.


"Terimakasih Dok," Bryan menerima resep tersebut.


"Kalau begitu saya permisi Tuan," ucap dokter itu.


Setelah dokter itu pergi, Bryan menyerahkan resep obat tersebut kepada Lusi untuk segera menebusnya di apotek.


Bryan menghampiri Aya yang kini masih tertidur, tangannya menyentuh kening istrinya itu. Ia merasa lega saat merasakan suhu tubuh Aya yang sudah stabil.


"Kau benar-benar membuat ku khawatir tadi," ucapnya, lalu Ia membaringkan tubuhnya di samping istrinya, mendekapnya kedalam pelukannya.


Hari ini Bryan tidak ingin ke kantor, Ia ingin menemani Aya sepanjang hari. Ia masih berfikir mungkin saja Aya sakit karena perbuatannya semalam yang diam-diam melakukan sesuatu pada tubuh istrinya itu.


***


Sore itu, kelopak mata Aya mulai terbuka. Aya terkejut saat pertama kali membuka matanya. Wajah Bryan berada dekat sekali dengan wajahnya.


Dan juga, pria yang berstatus suaminya itu tengah mendekapnya begitu erat sehingga membuatnya tidak bisa leluasa untuk bergerak.


"Dia tidak ke kantor?." Ucap Aya pelan, matanya menatap lurus ke arah wajah Bryan yang begitu dekat dengan wajahnya.


Dan tiba-tiba saja Bryan membuka matanya, Ia menatap istrinya yang kini juga menatapnya.


"Kau sudah sembuh?," Ucapnya seraya menyentuh kening Aya.


"Su-sudah," ucap Aya gugup karena wajahnya begitu dekat dengan wajah suaminya.


Bryan tersenyum, dan itu membuat Aya terpana akan wajah suaminya yang terlihat begitu tampan.


Tangannya kembali memeluk tubuh Aya kedalam pelukannya. "B-bryan, Apa yang Kau lakukan?, Lepaskan aku."


"Diamlah, Kau sudah membuat ku khawatir. Dan Kau juga sudah membuat ku tidak ke kantor hari ini." Ucapnya seraya memejamkan matanya kembali.


Aya hanya diam saja dan tidak membantah ucapan suaminya itu. Saat ini jantungnya berdetak kencang ketika suaminya itu membawanya ke dalam pelukannya.


Semburat merah menghiasi pipinya saat mengingat Bryan yang sudah merawatnya tadi pagi.


***

__ADS_1


__ADS_2