
"Kerahkan sebagian kelompok untuk membantu Karl, adikku sedang dalam bahaya saat ini!," perintah Sean kepada anggota kelompoknya.
"Baik Tuan!," jawab ketua anggota kelompok mafia tersebut.
Dengan cepat sebagian kelompok anggota tersebut segera pergi menjalankan perintah dari pemimpin kelompok tersebut, yaitu Sean.
Sementara di sisi lain, saat ini Eve benar-benar merasa sangat ketakutan, keringat mengucur deras di dahinya seiring rasa takut yang menderanya.
Dalam hatinya Ia terus berdoa untuk keselamatan dirinya dan Karl. Namun Ia tak hentinya mengingat Ax. Eve takut tidak dapat lagi bertemu dengan pria itu.
Para musuh pun mulai maju satu persatu. Namun dengan gerakan cepat Karl menangkis gerakan mereka untuk melindungi Eve.
Eve seakan membatu di tempatnya, semua adegan di depannya benar-benar mirip dengan yang di lihatnya di film-film.
Hingga ketua kelompok tersebut menodongkan senjata api ke arah Eve yang mematung.
Karena sibuk melawan anggota musuh yang lain, Karl tak memperhatikan ketua kelompok mafia tersebut menodongkan pistol ke arah Eve.
Namun Eve dapat melihat pria bertato itu mengarahkan senjatanya ke arahnya. Eve tidak dapat berkata, Ia bingung harus melakukan apa.
Hingga pria bertato itu melepaskan pelatuk senjata api tersebut dan mengeluarkan timah panas yang meluncur menuju tepat ke arah kepala Eve.
"Bos besar pasti akan senang bila melihat ku membunuh gadis itu!," ucapnya penuh seringai kemenangan.
Eve tak bisa berbuat apapun karena memang Ia tidak pernah berada di posisi yang seperti saat ini.
Eve hanya memejamkan matanya melihat peluru itu melesat ke arahnya. "Kak Ax!," teriaknya dalam hati seraya mere..mas ujung bajunya. Matanya terus terpejam, seakan menerima nasibnya saat ini.
Karl yang mendengar suara tembakan pun langsung menoleh ke arah Eve. Namun terlambat, peluru itu telah meluncur dari tempatnya.
"Ashy...!!!," teriak Karl menggelegar. Ia memberikan tendangan mematikan pada musuh di depannya dan berlari hendak menangkis peluru yang melesat ke arah Eve.
Dan zzzzt. Waktu seakan berhenti.
Eve yang memejamkan matanya pun segera membuka matanya karena Ia tidak mendengar kebisingan baku hantam seperti yang Ia dengar tadi. Eve berpikir mungkin dirinya telah tiada.
Namun Eve begitu terkejut melihat pemandangan di sekitarnya yang nampak seolah berhenti.
Eve dapat melihat peluru itu yang masih mengambang di depannya. hingga orang-orang itu yang tak bergerak sama sekali dengan posisinya seperti tadi.
__ADS_1
bahkan Eve dapat melihat sebuah air mancur yang dapat berhenti bergerak di sana.
"Ada apa dengan semua ini?, kenapa semuanya tiba-tiba berhenti dan tak bergerak?," gumam Eve.
Lalu Eve segera mendekat ke arah Karl karena takut dengan hal yang begitu tak bisa itu.
Eve kembali memejamkan matanya dan dalam hati Ia terus berkata. "Kembalikan seperti semula, kumohon!," ucapnya dengan begitu memohon.
Dan benar saja, semuanya kembali normal seperti semula. Eve dapat mendengar teriakkan Karl yang memanggilnya.
Namun tangan Eve langsung menarik baju Karl seraya memanggilnya, hingga membuat Karl begitu terkejut dan menoleh ke belakang.
"Ashy, Kau disini?, lalu itu..." Karl kembali menatap tempat Eve berdiri tadi. Jelas saja tidak ada Eve disana.
Karl menyunggingkan senyumnya mulai menyadari bahwa mungkin ini adalah kekuatan yang Eve miliki.
Sementara ketua kelompok mafia tersebut terkejut karena pelurunya tidak mengenai sasarannya. Malah sasarannya itu tak ada lagi di sana.
Ia kembali terkejut saat melihat sasarannya itu yang kini tengah berada di belakang Karl.
"Si..al!. Bagaimana gadis itu bisa berada di sana!," dengus pria bertato itu.
Dan beberapa detik kemudian, keadaan berbalik. Dari arah lain kelompok mafia lainnya yang tidak lain adalah orang-orang Sean datang dan melumpuhkan pria bertato itu dan kelompoknya.
Dorrr ...
Bau anyir melingkupi tempat tersebut, dengan banyak sekali musuh yang tergeletak tak bernyawa saat ini.
Sementara Eve yang melihatnya pun merasa begitu ketakutan. Belum pernah Ia melihat kejadian mengerikan seperti sekarang ini.
Eve pun bersembunyi di balik tubuh Karl dan mencengkeram erat baju Karl.
"Ashy, Kau harus berani melihat semua ini. Kedepannya Kau akan terbiasa," ucap Karl tersenyum. Ia memaklumi bahwa Eve baru pertama kali menyaksikan pertarungan antar mafia.
"Ini sungguh buruk kak, apakah ada yang lebih buruk lagi dari ini?," tanya Eve sungguh tak menyangka akan menjadi bagian dari mereka.
"Ini tidak buruk Ashy, karena yang lebih buruk dari ini pun pernah terjadi," jawab Karl. Ia membayangkan bagaimana hari-hari yang Ia lalui bersama dengan Sean dan kelompoknya.
"Lebih baik sekarang kita menemui kakak mu, Ia pasti sudah menunggu mu Ashy," ajak Karl.
__ADS_1
Eve pun mengangguk. Mereka pun memasuki mobil yang sudah di siapkan oleh Sean untuk Eve dan Karl.
Sementara yang lainnya mengawal mereka dari belakang.
***
Mobil yang di tumpangi Eve kini memasuki sebuah gerbang yang nampak terlihat begitu sangat tinggi.
Rasanya kini Ia berganti memasuki negeri dongeng seperti yang ada di cerita komik.
Sebuah istana yang begitu besar dan sangatlah luas nampak terpampang jelas di depan matanya. Eve mengucek matanya berkali-kali, bahkan Ia mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa yang Ia lihat itu bukanlah sebuah mimpi.
Dan ya, semua itu memanglah bukan mimpi, semua itu nyata.
Karl yang melihat ekspresi wajah Eve yang begitu tercengang melihat istana milik Sean yang berarti juga milik Eve pun hanya terkekeh.
"Selamat datang di rumah, Ashy," ucap Karl.
Membuat Eve pun menoleh ke arahnya. "Kak Karl, apa kita memasuki dunia dongeng?" tanya Eve masih begitu tidak percaya.
Karl semakin terkekeh, lalu Ia mencubit pipi Eve hingga membuat Eve mengaduh kesakitan.
"Auw...kak Karl!" ringis Eve kala merasakan sakit karena Karl mencubit pipinya.
"Bukankah sakit?" tanya Karl tertawa.
"Tentu saja ini sakit kak, kenapa Kau mencubit pipi ku?" keluh Eve. Ia masih mengusap pipinya.
"Untuk menyadarkan mu bahwa ini semua bukanlah mimpi Ashy."
Karl pun melihat Sean yang sudah menunggu di taman depan istana dengan menatap kearah mobilnya.
"Lihatlah, kakak mu sudah menunggu mu, ayo kita menemuinya!" ajak Karl menarik Eve keluar dari mobil.
Karl membawa Eve dan mendekati Sean. Hingga langkah kakinya pun berhenti di depan seseorang yang berdiri dengan begitu tegas dan terlihat begitu berwibawa. Dia adalah Sean, kakak kandung Eve.
Eve terdiam menatap Sean. Ia memperhatikan wajah Sean yang begitu mirip dengannya. Dan yang Eve rasakan saat ini, ada sebuah getaran yang begitu aneh saat Ia menatap Sean.
Sean pun merasa begitu bahagia, karena akhirnya Ia bisa bertemu dengan adiknya yang sudah 20 tahun ini Ia cari. Dapat Eve lihat cairan bening itu menetes dari sudut mata Sean.
__ADS_1
"Apa Kau tidak ingin memelukku Ashy, adik kecilku," ucap Sean.
***