Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 80


__ADS_3

Dapat Bryan lihat, disana istrinya tengah menandatangani surat kerja sama antara Tuan Jack dan perusahaannya. Dia pun segera menghampiri meja mereka.


"Hai istriku," sapa Bryan dan membuat semua orang pun menoleh ke arahnya.


Aya terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba saja berada di sana. Ia pun berdiri.


"Sayang, kenapa Kau ada di sini?," tanya Aya.


"Aku ingin mengajak mu untuk pulang, apa Kau sudah selesai meeting nya?."


Sementara Jack pun juga begitu terkejut, pasalnya dari kabar yang ia dengar, saat ini Bryan masih koma di rumah sakit.


"Tuan Bryan, Anda sudah sembuh?," tanya Jack yang kini mulai berdiri.


"Ya, seperti yang Kau lihat Tuan Jack. s


Saya sudah sangat sehat, dan mulai sekarang saya yang akan menggantikan istri saya mengurus perusahaan. Jadi mungkin kedepannya kita akan sering bertemu Tuan," jelas Bryan. Dalam hati pun dia bersorak senang saat melihat ekspresi kecewa dari wajah Jack.


"I-iya Tuan Bryan, saya turut bahagia melihat Anda sudah sembuh dan sehat," ucap Jack yang nampak tersenyum, tapi dalam hati ia mengumpat kesal. Misinya untuk mendapatkan Aya menjadi gagal.


Aya mengerutkan keningnya saat melihat suaminya yang tiba-tiba berada di sana. Ia terus saja menatap suaminya heran.

__ADS_1


"Maaf Tuan Jack, tapi saya harus segera mengajak istri saya untuk pulang," ucap Jack. "Ayo Istri ku!," ajak Bryan dan langsung menghampiri istrinya dan menggandengnya.


Sementara Aya terus saja menatap heran ke arah suaminya.


"Apa Kau baik-baik saja sayang?," tanya Aya.


Bryan tersenyum menatap istrinya. "Kau lihat sendiri kan sayang, Aku begitu sehat saat ini." Bryan segera membawa istrinya masuk ke dalam mobilnya.


"Tapi mobil ku bagaimana itu?," ucapnya saat memasuki mobil suaminya.


"Kau tidak perlu khawatir sayang, ada Citra di sana yang akan membawa mobilmu." ucap Bryan.


"Kau ingat Citra,sayang?," tanya Aya berpura-pura senang.


"Cih, dasar suami edan, kita lihat saja apakah Kau akan terus berpura-pura di depanku," ucap Aya dalam hati. Ia jengah dengan sandiwara suaminya itu.


"Jadi Kau juga sudah mengingat ku kan?." tanya Aya.


Bryan sebenarnya ingin berkata jujur kepada istrinya, tapi ia takut bila nanti istrinya akan marah kepadanya.


Bryan menatap istrinya intens, iapun menjalankan mobilnya tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya. Membuat Aya semakin kesal.

__ADS_1


"Aku tidak mengizinkan mu untuk mengurus perusahaan lagi mulai saat ini," ucap Bryan, namun Aya hanya diam saja. Ia ingin membalas suaminya yang tak menjawab pertanyaannya.


Melihat istrinya yang hanya diam saja, Bryan memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang tidak terlalu ramai.


"Aya, apa Kau tidak mendengarkan ucapan ku, kenapa Kau hanya diam saja?," ucap Bryan yang mulai sedikit kesal.


Aya pun menatap suaminya dengan tajam. Ia ingin menanyakan tentang semua kebohongan Bryan padanya.


"Kau mengingat nama ku?, apa Kau berbohong padaku suamiku?!," ucap Aya yang kini nampak garang. Membuat Bryan menelan kasar ludahnya.


"A-apa maksudmu sayang?." Kini Bryan bagaikan seekor semut kecil di depan istrinya. Ia takut istrinya mengetahui kebohongannya.


"Sudahlah suamiku, Aku tahu bahwa Kau berbohong dengan ingatanmu yang hilang itu. Apa Kau tahu betapa khawatir dan cemasnya Aku saat Kau tidak mengingat ku!." Aya mengeluarkan semua yang ia rasakan saat ini.


"Maafkan Aku sayang, Aku memiliki alasan tersendiri mengapa Aku tidak mengatakan bahwa Aku sudah mengingat semuanya."


"Aku tidak menerima alasan apapun, Kau tidak pernah tahu apa yang ku rasakan dan ku lalui saat Kau koma selama ini. Saat dokter mengatakan bahwa ia sudah menyerah, apa Kau tahu yang ku rasakan saat itu!." Aya menangis sejadinya meluapkan segala isi hatinya.


Bryan langsung mendekap erat tubuh istrinya yang bergetar karena menangis. Sungguh ia merasa menyesal telah membohongi istrinya. Hatinya begitu sakit melihat air mata istrinya yang terus saja mengalir karena dirinya. Sekali lagi ia telah membuat istrinya menangis.


"Maafkan Aku sayang, maafkan aku." Hanya itu kata-kata yang terucap dari mulut Bryan. Tangannya terus mengusap punggung istrinya, bibirnya terus saja mengecup kepala istrinya berkali-kali.

__ADS_1


***


__ADS_2