
Selang beberapa hari, Aya dan Bryan menjadi semakin dekat. Keduanya pun tidak jarang melakukan hubungan suami istri.
Mereka sama-sama menikmatinya, Bryan rasanya tidak ingin jauh dari Aya. Kelembutan sikap Bryan membuat Aya begitu yakin bahwa suaminya itu sudah mulai menerima dirinya dan mencintainya.
Namun Ia masih belum yakin, karena Bryan tidak pernah mengatakan sekali pun kata cinta untuknya. Sehingga membuatnya begitu bimbang untuk mengartikan sikap suaminya itu.
Hari ini Bryan berangkat pagi-pagi sekali, ada meeting penting di perusahaan sehingga mengharuskan dirinya untuk berangkat pagi untuk mempersiapkan semuanya.
Dilihatnya Aya yang masih terlelap dalam tidurnya. Semalaman Ia begitu bringas menggempur tubuh istrinya hingga hampir pagi. Dengan tersenyum seraya mengecup kening istrinya, iapun segera meninggalkan Aya untuk berangkat ke kantor.
Sungguh rasanya Bryan masih ingin sekali memeluk tubuh istrinya di sana. Namun pekerjaan mengharuskan dirinya untuk segera berangkat pagi-pagi sekali.
"Aku akan pulang secepatnya setelah meeting pagi ini berakhir." Ucapnya setelah mengecup kening Aya.
Lalu Ia pun segera meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju mobilnya. Bryan segera mengemudikan mobilnya menuju ke perusahaan miliknya.
***
Aya mulai mengerjapkan matanya saat tiba-tiba merasakan perutnya yang bergejolak.
Rasa mual itu kembali Ia rasakan setelah beberapa hari ini tidak pernah lagi Ia rasakan. Dengan segera pun Aya berlari menuju wastafel dan mengeluarkan cairan asam yang bercampur rasa yang begitu pahit di akhirnya.
"Kenapa Aku merasa mual lagi?." Ucapnya setelah membasuh mulutnya.
Lalu Ia memutuskan untuk mandi dan akan pergi ke dokter untuk berobat. Aya berfikir asam lambungnya kambuh.
Hari ini Bryan menyuruhnya untuk cuti satu hari dari kantornya. Jadi Ia akan ke dokter pagi ini, setelahnya Aya ingin berkunjung ke rumah ayahnya.
Aya mematut dirinya di depan cermin, kali ini Ia tidak mengepang rambutnya. Rambutnya Ia biarkan tergerai bebas.
Setelah mengambil kacamata tebalnya dan memakainya, Aya segera menuruni anak tangga. Ia berfikir ingin menyantap sarapan paginya terlebih dahulu.
Namun saat langkahnya menuju meja makan, Ia mencium aroma masakan yang terhidang di meja makan tersebut. Tangannya menutupi hidungnya, entah mengapa Ia merasa bau masakan itu begitu menyengat dan semakin membuatnya merasakan mual.
"Lusi, Apa yang kalian masak. Kenapa aromanya sangat tidak enak?." Tanyanya dengan menutup hidungnya.
Lusi dan pelayan lain saling berpandangan, mereka pun bertanya-tanya dalam pandangannya.
__ADS_1
"Nona muda, sarapan pagi ini adalah makanan yang Anda pesan kemarin malam." Tutur Lusi.
"Tapi Aku tidak menyukai baunya Lusi. Kalau begitu kalian saja yang memakannya, Aku akan pergi ke rumah ayah saja," ucap Aya dan langsung melangkah keluar dari meja makan.
Rasanya Ia tidak bisa menahan bau masakan itu lagi bila terus disana. Makanya Ia pun segera keluar dari sana dan ingin melihat apakah taksi yang sempat Ia pesan sudah datang.
"Anda mau kemana Nona?." Tanya supir Bryan yang melihat Aya melangkah keluar gerbang.
Aya menghentikan langkahnya dan berbalik. "Aku ingin ke rumah Ayah. Ada apa pak Jono?." Tanyanya kembali.
"Biarkan saya mengantar Anda Nona. Tuan Bryan tadi sudah berpesan kepada saya, bila Anda hendak keluar saya harus mengantar Anda." Ucap Jono
Namun Aya menolaknya, karena Ia sudah memesan taksi sebelumnya. Dan Aya juga melihat taksi itu sudah berada di depan sana.
"Maafkan saya pak Jono, tapi saya sudah memesan taksi. Saya pikir pak Jono mengantarkan suami saya ke kantor, jadi saya tidak mengetahuinya. Dan lihatlah, taksi yang ku pesan juga sudah datang pak. Pak Jono istirahat saja, biar nanti saya menghubungi suami saya untuk mengabarinya." Ucapnya ramah.
Jono terlihat menimbang ucapan Nona mudanya itu. Mendengar Aya akan memberitahukan kepada Tuan Bryan,maka Jono pun akhirnya menyetujuinya. Dan membiarkan Nona mudanya itu menaiki taksi yang sudah Aya pesan.
"Baiklah Nona," ucap Jono akhirnya.
"Yasudah pak Jono, saya pergi dulu.". Ucapnya sebelum melangkah keluar.
"Baiklah Nona."
Tak berapa lama kemudian taksi itu sampai di rumah sakit. Aya segera keluar dari taksi dan segera memasuki rumah sakit itu untuk memeriksakan dirinya.
Hingga namanya pun di panggil oleh suster.
Aya pun segera memasuki ruang periksa yang di sebutkan oleh suster di depan.
"Nona Aya, apa keluhan Anda?." Tanya dokter
"Saya berfikir asam lambung saya naik dok, beberapa hari ini saya sering merasa mual bahkan kadang juga pusing dok. Dan pagi ini lebih parah dok, karena saya juga merasakan mual saat mencium bau masakan." Papar Aya.
Dokter Rita mengerutkan keningnya, lalu Ia segera menyuruh Aya untuk berbaring dan segera memeriksanya.
"Tekanan darah Anda normal Nona, dan semuanya juga bagus. Tapi saya ingin anda menaruh urine Anda pada botol kecil ini," ucap sang dokter.
__ADS_1
Aya bingung dengan maksud dokter Rita, tapi Ia tetap menurutinya. Dengan segera Aya pun melakukan Apa yang dokter Rita katakan.
Aya memberikan botol kecil yang berisi urine miliknya kepada dokter Rita.
"Tunggulah sebentar Nona, saya akan kembali lagi nanti," ucap dokter Rita membawa botol kecil tersebut.
Sepeninggal dokter Rita, Aya terus bertanya-tanya sebenarnya sakit apakah dirinya. Namun Ia harus menunggu dokter Rita untuk memastikan semuanya.
Selang beberapa menit, dokter Rita datang dengan wajah yang sumringah. Tangannya membawa sebuah amplop putih.
"Bagaimana dok, sebenarnya saya sakit apa?," Tanya Aya penasaran.
Dokter Rita pun tersenyum. Selamat Nona, Anda akan menjadi calon ibu." Ucap dokter Rita.
Seketika Aya pun terbelalak terkejut mendengar penuturan dari dokter Rita.
"A-apa dok, s-saya hamil?." Tanya Aya memastikan.
Dokter Rita tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu Ia pun memberikan amplop berisikan tentang keterangan kehamilannya.
"Nona, silahkan Anda pergi ke dokter Vita, beliau adalah dokter kandungan di rumah sakit ini." Ucap dokter Rita seraya menandatangani sebuah kertas. Lalu Ia memberikan kertas tersebut kepada Aya agar membawanya ke dokter Vita.
Namun Aya masih mematung, Ia masih tak percaya dengan hasil pemeriksaan tersebut. Dalam hatinya Ia terus memikirkan apakah Bryan akan menerima calon anaknya nanti?. Apakah Bryan akan meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya?.
Sungguh banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Aya.
Aya tersadar ketika dokter Rita beberapa kali memanggilnya.
"Ah,iya dok saya akan ke dokter Vita saat ini juga," ucap Aya menerima lembar kertas tersebut.
Lalu dengan langkah beratnya, Aya pun berjalan mencari di mana ruangan dokter Vita.
***
"Lihatlah Nona, itu adalah kedua calon anak Anda. Kedua titik kecil ini nantinya akan menjadi janin. Selamat Nona Anda saat ini telah mengandung anak kembar," ucap dokter Vita.
Aya merasakan hatinya yang begitu campur aduk saat ini. Di satu sisi Ia bahagia dalam perutnya kini tengah tumbuh calon anak kembar. Namun di sisi lain, Aya takut bila Bryan tidak akan menerima kehadiran calon anaknya.
__ADS_1
Rasa takut akan ucapan Bryan dulu yang mengatakan akan menceraikannya dan menikahi wanita yang dicintainya membuatnya ragu untuk mengatakan kehamilannya kepada Bryan.
***