
"Lisa," panggil Adrian. Kini ia masih memeluk tubuh polos istrinya dalam satu selimut.
"Ya, ada apa Adrian?," jawab Lisa mendongak menatap suaminya.
"Aku ingin Kau memanggil ku dengan sebutan lain." Ucap Adrian.
"Kenapa?, Apa Kau tidak suka Aku memanggil mu dengan nama saja?. Bukankah waktu itu Kau sendiri yang menyuruh ku untuk memanggil nama saja, kenapa sekarang Kau tidak mau lagi Aku memanggil mu dengan nama?," protes Lisa.
"Ya, waktu itu memang Aku yang menyuruh mu. Tapi mulai sekarang Aku ingin Kau memanggil ku dengan nama panggilan lain yang lebih romantis daripada Bryan dan Aya," ujar Adrian.
Lisa menatap suaminya dengan pandangan tak percaya. "Kau ingin Aku memanggil mu dengan sebutan sayang juga?, Begitukah?."
Adrian memperlihatkan rentetan giginya dan membuat Lisa menepuk keningnya sendiri.
"Baiklah Aku akan memanggil mu Abang saja, bagaimana?."
"Kok Abang sih, apa tidak ada yang lainnya?," Protes Adrian.
"Soalnya Aku ingin Kau juga memanggil ku dengan sebutan adek, rasanya jadi adem dengernya hehehe," ucap Lisa terkekeh.
"Yasudah kalau begitu panggil saja sayang!." Adrian nampak kesal pada istrinya itu.
Melihat suaminya yang terlihat kesal, Lisa pun berusaha untuk membujuk suaminya.
"Aduh Abang, jangan marah gitu dong sama adek. Adek syedih lho bang," ucap Lisa masih terkekeh.
Sementara Adrian menahan senyumnya mendengar panggilan istrinya yang begitu menggelikan menurutnya.
"Sudah ah, kalau begitu bagaimana kalau kita lakukan itu lagi?," ucap Adrian mengerlingkan kedua matanya.
Membuat Lisa menatap negeri pada suaminya itu. Bukankah baru saja mereka menyudahi permainan mereka?. Tapi kini suaminya malah memintanya lagi. Sungguh Lisa tidak mengerti tenaga suaminya terbuat dari apa.
Lisa perlahan mengeluarkan kakinya dari selimut yang menutupi tubuhnya dan Adrian. Ia memutuskan hendak kabur dari suaminya itu.
"Abang, bukankah Abang harus ke kantor?. Adek capek ini bang." Lisa berusaha menghindari suaminya.
"Sudah terlambat untuk masuk kantor, Aku mau seharian ini membuat mu terus men..de..sah di bawah ku," ucap Adrian dengan senyum misterius. Membuat Lisa menelan ludahnya dengan kasar.
Lisa hendak mengambil ancang-ancang untuk kabur dari suaminya itu. Namun saat ia mau melakukan gerakan. Terlambat, suaminya sudah menarik tubuhnya dan kembali mengukungnya.
"Oh Abang sayang, apa Abang tidak kasihan dengan adek bang?, Masih lemas ini bang," ucap Lisa.
"Kau tidak perlu melakukan apapun, cukup diam saja dan rasakan!," tegas Adrian dan langsung kembali melancarkan aksinya.
Sementara Lisa hanya pasrah dengan apa yang suaminya lakukan padanya. Ia yang tadinya menolak ajakan suaminya, malah dengan tanpa malunya kembali men..de..sah menikmati permainan suaminya.
Hingga membuat Adrian tersenyum puas karena sudah berhasil membuat istrinya kli..maks berkali-kali.
Kini keduanya kembali mengulang pergumulan yang begitu memabukkan dan membawanya menuju kembali ke nirwana.
***
Dimas telah menyuruh seseorang untuk mencari tahu di mana Lisa tinggal. Karena sebelumnya saat ia mendatangi rumah kediaman Agra, pelayan di sana mengatakan bahwa Lisa tengah tinggal di rumah suaminya.
Mendengar bahwa wanita yang begitu ia cintai sudah menikah, Dimas mengepalkan tangannya. Ia merasa Lisa telah mengkhianatinya.
"Tidak, Aku tidak akan pernah membiarkan Lisa di miliki oleh pria lain!," sungutnya.
"Kalau saja Papa tidak menjodohkan ku dengan wanita sial..an itu, pasti saat ini Aku sudah menikah dengan Lisa!," ucapnya begitu kesal.
Ia pun segera melangkah pergi dari tempatnya. Dimas ingin menemui Lisa dan ingin membicarakan kembali tentang hubungannya selama ini.
__ADS_1
Sementara Adrian dan Lisa memutuskan pergi ke villa milik keluarga Pratama untuk berlibur.
Setelah Lisa berbicara jujur mengenai Dimas Kepada suaminya, mereka seakan menjadi semakin lengket saja.
"Abang, bagaimana kalau kita mengajak Aya dan Bryan juga, pasti akan seru nanti," ucap Lisa kepada suaminya.
"Tidak!," tolak Adrian dengan mantap.
"Kenapa?."
Adrian mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. Lalu ia pun membisikkan kata-kata di telinga istrinya.
"Karena Aku ingin kita fokus untuk membuat adik untuk Divya."
Lisa mendelik menoleh ke arah suaminya. " Apa?, Tapi Divya masih berumur 3 bulan. Dan itu masih sangat terlalu kecil untuk memiliki seorang adik," ucap Lisa.
"Aku ingin rumah kita menjadi ramai suara anak kecil, dan Aku juga ingin punya anak kembar seperti Bryan dan Aya sayang. Apa Kau tidak menginginkannya hum?." Adrian menaik turunkan kedua alisnya.
Lisa pun hanya memutar bola matanya jengah dengan keinginan suaminya itu.
"Pokoknya Aku tidak mau hamil dulu, Abang kira melahirkan itu tidak sakit apa bang?!."
Sementara Adrian hanya cengar-cengir mendengar ucapan istrinya itu. Ia pun masih teringat Lisa yang begitu kesakitan saat melahirkan putri mereka.
Hingga Adrian pun tak ingin lagi meminta anak kembar dari istrinya.
Mereka pun segera berangkat menuju villa milik Adrian. Mereka juga membawa baby Divya bersama pengasuhnya.
Tadinya Lisa ingin mengurus baby Divya sendiri. Namun Adrian menolak dan bersikeras untuk membawa pengasuhnya. Tentu saja karena Adrian tidak ingin siapapun mengganggu dirinya saat ingin manja dengan sang istri.
Adrian sebenarnya tengah merencanakan sesuatu di rumahnya, para keluarga pun ikut andil dalam perencanaan tersebut. Makanya ia mengajak istrinya ke villa agar istrinya tidak tahu tentang sebuah kejutan yang sudah Adrian rencanakan sebelumnya.
Mobil Adrian pun meninggalkan rumah miliknya dan segera menuju ke villa milik keluarga Pratama.
Mereka pun segera turun dari mobil dan langsung memasuki villa yang benar-benar indah dan sangat besar.
Lisa berdiri di balkon kamarnya menatap ke arah langit malam. Rasanya ia begitu bahagia saat ini. Ia tidak ingin siapapun mengganggu keluarga kecil yang ia miliki saat ini.
"Kau sedang apa hum?." Adrian memeluk istrinya dari belakang dan menaruh dagunya di pundak sang istri. Sesekali Adrian menciumi leher istrinya.
"Aku tidak ingin kebahagiaan ini terusik oleh siapapun. Aku jadi teringat dengan pertemuan ku dan Dimas. Aku takut dia akan mengusik kehidupan kita, mengingat hubungan dulu antara Aku dan dia belum sepenuhnya terselesaikan." Lisa memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya memikirkan hal itu.
Lisa tahu bagaimana sifat Dimas. Dimas bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia takut bila suatu hari Dimas tidak akan mengerti dengan semua yang terjadi.
"Kau jangan memikirkan hal itu sayang, karena Aku tidak akan pernah membiarkan keluarga kecil kita di usik oleh siapapun. Karena Aku akan selalu melindungi kalian. Dan untuk pria dari masa lalu mu, Aku yakin dia akan mengerti dengan semua yang terjadi."
"Tidak, Kau tidak akan mengerti. Dia bukan pria yang mudah menyerah saat barang miliknya di ambil orang lain." Lisa menatap suaminya dengan sendu.
"Tapi Kau bukan barang sayang, Kau adalah istri ku. Dan Kau adalah milikku dan akan selalu seperti itu." ucap Adrian dengan keyakinan.
Lalu iapun memeluk erat tubuh istrinya, ia tidak akan membiarkan siapapun merebut istrinya darinya, termasuk juga Dimas.
***
Lisa bangun pagi-pagi sekali. Semalam ia mengatakan kepada Adrian bahwa ia ingin mengajak suaminya itu joging.
Sudah lama sekali Lisa tidak melakukannya. Mengingat dirinya yang berada di puncak, Lisa ingin joging dan menghirup udara pagi yang masih sejuk di tempat itu.
"Abang sayang, ayo bangun. Semalam Kau bilang akan menemaniku joging. Ayolah cepat bangun?!." Lisa berusaha membangunkan suaminya.
Namun Adrian tak kunjung bangun. Dengkuran halus masih terdengar begitu nyenyaknya.
__ADS_1
Karena tak kunjung bangun, Lisa pun memutuskan untuk pergi joging sendirian. Mungkin suaminya terlalu lelah dengan semua pekerjaannya di kantor.
Lisa pun mulai mengitari jalan sekitar villa milik suaminya. Udara sejuk dan segar membuatnya begitu bersemangat untuk joging.
Hingga ia pun mulai menjauh dari villa milik suaminya.
Merasa lelah, Lisa pun memutuskan untuk beristirahat di sebuah taman yang ada di sana.
Lisa mendudukkan dirinya di sebuah kursi taman.
"Haus sekali, sebaiknya Aku membeli minuman dulu," ucap Lisa seraya mengibaskan tangannya ke arah dirinya untuk mengurangi rasa panas akibat keringat yang mengucur di pagi hari.
Namun Lisa begitu terkejut saat tiba-tiba seseorang menyodorkan satu botol minuman ke arahnya.
Ia pun mendongak menatap siapa orang tersebut.
"Dimas," ucap Lisa pelan namun masih d terdengar oleh Dimas. Ia terkejut melihat Dimas di sana.
"Hai Lisa, minumlah, Aku tahu Kau haus. Makanya Aku membawakan mu minum," ucap Dimas menatap Lisa tersenyum.
"Kenapa Kau berada di sini Dimas?," tanya Lisa tak menyangka bahwa Dimas akan sampai di sini. Lisa yakin Dimas telah mengikutinya.
"Minumlah dulu Lisa, Aku tahu Kau begitu haus."
"Tidak Dimas, lebih baik Aku segera pulang," ucap Lisa. Ia berusaha menghindari Dimas.
Lisa beranjak dan hendak berjalan meninggalkan Dimas, namun Dimas langsung mencekal tangan Lisa.
"Kenapa Kau terus menghindari ku Lisa?!, Apa Kau tidak tahu kalau Aku sangat merindukanmu?!, Kenapa Kau mengkhianatiku Lisa?!."
Lisa berusaha melepaskan cekalan tangan Dimas.
"Dimas, lepaskan Aku!."
"Tidak Lisa, Aku tidak akan melepaskan mu lagi."
"Mengertilah Dimas, Aku sudah menikah. Dan cerita di antara kita sudah selesai, ku mohon mengertilah?!."
"Tidak Lisa, Kau sudah mengkhianatiku dengan menikahi pria lain. Kenapa Kau tidak menunggu ku Lisa?!."
"Dimas, ini sudah jalan takdir kita. Kau sekalipun tidak pernah memberikan ku kabar. Bahkan nomormu tidak pernah aktif. Kemana Kau selama ini, Aku terus saja menunggu mu, Kau tahu Aku hampir putus asa waktu itu." Lisa mulai menangis mengingat hubungan antara mereka dulu.
"Maafkan Aku Lisa, Aku memiliki alasan tersendiri kenapa Aku tidak pernah menghubungi mu. Tapi yakinlah bahwa Aku tidak pernah tidak memikirkan mu sedetik pun," ucap Dimas.
"Lalu kenapa Kau tidak pernah memberi ku kabar?!, Apa jangan-jangan berita tentang pernikahan mu itu benar?!."
Lisa memang sempat mendapat sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang mengatakan bahwa Dimas telah menikah, namun waktu itu Lisa mengabaikannya, ia tidak mempercayai berita tersebut dan lebih memilih untuk menunggu Dimas sendiri yang menjelaskan tentang semua itu.
Dimas terkejut.
"Dari mana Kau mendapatkan kabar itu Lisa?."
Lisa mengerutkan keningnya, ia mulai yakin bahwa kabar itu benar saat melihat ekspresi Dimas saat ini.
"Jadi berita itu benar?, Dan sekarang Kau mengatakan bahwa Aku yang sudah mengkhianatimu?."
"Tapi Aku di jodohkan Papa, Lisa, dan Aku tidak pernah mencintai wanita itu, hanya Kau yang ku cintai, hanya Kau Lisa." Dimas berusaha meyakinkan Lisa.
"Tapi Lisa adalah istri ku!, Dan Aku tidak akan pernah membiarkan mu merebut istri ku dariku!." Suara Adrian membuat Lisa dan Dimas terkejut. Adrian menarik Lisa ke dalam pelukannya,hingga cekalan tangan Dimas pun terlepas.
Adrian menatap nanar Dimas yang nampak mematung di tempatnya.
__ADS_1
***