
Sean perlahan mulai membuka matanya. Tangannya mulai mencari sesuatu di sampingnya, yaitu istrinya. Namun disampingnya terasa kosong tak ada Divya di sana.
Seketika mata itu terbuka sempurna. Mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamarnya. Namun tetap saja sosok istrinya tak ada di sana.
"Divya," panggilnya, berharap yang di panggil menyahut seruannya.
Tak ada sahutan di sana. Hingga kakinya mulai melangkah menuju bathroom masih berharap mendapati istrinya disana.
"Divya," panggilnya kembali.
Namun di sana kembali kosong. Sean masih berusaha untuk tenang. Mungkin saja Divya berada di lantai bawah. Secepat kilat ia keluar dari kamarnya dan menyusuri tangga.
"Divya," panggil Sean sekali lagi. Ada sedikit rasa khawatir di hatinya. Namun ia terus mencoba untuk tenang.
Hingga akhirnya Sean mendengar suara gelas pecah dari arah dapur. Kakinya pun dengan cepat melangkah ke sana.
"Di, apa yang Kau lakukan?!" ucap Sean saat mendapati Divya yang bersimpuh di lantai dengan jarinya yang berdarah.
Secepat kilat Sean menghampiri Divya. Menggendongnya untuk menjauhkannya dari pecahan gelas di lantai.
Sean mendudukkan tubuh Divya di sebuah sofa. Lalu ia pun mengambil kotak obat untuk mengobati jari Divya.
"Di, Kau ini kenapa ceroboh sekali!" ucap Sean seraya menghisap jari Divya yang terkena pecahan gelas tersebut. Lalu ia memberikan plaster past di sana.
Divya hanya menunduk. Rasanya sungguh memalukan bagi dirinya. Sean selalu ada disaat dirinya terluka.
Tapi ia merasa begitu kecil di hadapan suaminya. Penyakit yang ia derita membuatnya minder. Ia berpikir dirinya tak pantas untuk suaminya.
"Maafkan Aku, Aku hanya ingin mengambil minum tadi. Air di kamar sudah habis." Hanya itu kata yang keluar dari bibir Divya. Matanya mulai berkaca-kaca. Entah kenapa ia menjadi gadis yang cengeng bila di depan Sean. Divya sungguh membenci dirinya yang seperti itu.
"Kenapa Kau tidak membangunkan ku Di? Aku bisa mengambilnya untuk mu. Sekarang lihatlah Kau terluka seperti ini," tukas Sean. Ia begitu khawatir dengan istrinya itu.
"Aku hanya tidak ingin merepotkan mu Sean. Aku sudah sering merepotkan mu selama ini. Maafkan Aku," ucap Divya parau.
Sean mengangkat dagu Divya. Ia melihat buliran bening itu mulai membasahi pipi istrinya. Dengan lembut, jarinya mulai mengusap likuid bening tersebut.
"Maafkan Aku karena sudah membentak mu Di. Aku hanya khawatir padamu. Aku tidak ingin Kau terluka. Apa Kau tahu betapa takutnya Aku saat tidak mendapatimu berada di kamar? Aku takut Kau meninggalkanku Di," tutur Sean membuat Divya terpaku. Hatinya mulai menghangat.
"Sean, kenapa Kau begitu baik padaku?" tanya Divya menatap Sean.
"Karena Kau adalah istri ku Di!" tegas Sean.
__ADS_1
Namun Divya tetaplah Divya. Ia masih berpikir bodoh menganggap Sean yang hanya kasihan dengannya.
"Aku akan mengambilkan mu minum, setelah itu kita mandi dan sarapan," ucap Sean. Dengan segera Sean beranjak dan mengambil minum untuk Divya.
Sean menyodorkan satu gelas air putih untuk Divya.
Sementara Divya menerimanya dengan begitu sungkan. Selalu saja dia merepotkan Sean.
"Terimakasih," ucap Divya setelah menandaskan air putih tersebut.
Sean hanya tersenyum. Lalu ia menggendong tubuh Divya hingga membuat Divya terkejut.
"Kenapa Kau menggendong ku Sean? Aku bisa berjalan sendiri," ucap Divya malu.
"Karena Aku tidak ingin Kau terlalu lelah Di. Sekarang diamlah, jangan cerewet lagi." Sean pun langsung membawa tubuh istrinya kembali ke kamarnya.
Hal inilah yang akan membuat Divya tak akan pernah bisa untuk melepaskan Sean. Rasa serakah mulai menguasainya. Ia ingin memiliki Sean selamanya. Namun itu hanyalah sekedar keinginannya. Nyatanya Tuhan tidak mengizinkannya dengan memberinya penyakit itu.
Divya kembali frustasi mengingat hal itu. Rasa minder kembali melingkupinya.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Sekarang Kau bisa mandi," ucap Sean. Lalu ia kembali menggendong tubuh Divya memasuki bathroom.
"Aku akan memandikan mu Di," ucap Sean.
Divya membelalakkan matanya. "Apa?! Tidak, Kau keluarlah! Aku bisa mandi sendiri," pekik Divya. Wajahnya memerah merasa begitu malu dengan perkataan suaminya.
Melihat wajah merah Divya membuat Sean tersenyum. Istrinya terlihat begitu manis saat ini. Ingin sekali Sean kembali merasakan bibir hangat istrinya.
"Di, Bagaimana kalau kita mandi bersama?" ucap Sean.
Sontak saja Divya langsung menatap Sean. Pipinya kembali memerah. Dengan cepat ia mendorong tubuh Sean hingga keluar dari bathroom. Ia begitu malu. "Kau mesum!" ucap Divya sebelum menutup pintu bathroom.
Sean terkikik. Bukankah mesum kepada istri sendiri adalah hal yang wajar?. Sungguh Sean merasa istrinya begitu menggemaskan.
"Kau harus sembuh Di," gumam Sean.
***
Di ruang makan, sepasang suami istri tengah menyantap sarapan paginya dengan begitu tenang.
Selesai menyantap sarapannya, Divya berniat untuk membicarakan hal penting kepada Sean. Divya merasa umurnya tidak akan panjang lagi. Makanya ia ingin menyampaikan sesuatu agar Sean mengabulkan keinginannya itu.
__ADS_1
"Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mu Sean," ucap Divya.
"Apa yang ingin Kau katakan Di?" Sean mengerutkan keningnya.
"Tunggulah sebentar, Aku sedang menunggu seseorang datang. Tadi Aku menghubunginya dan menyuruhnya datang kemari," ucap Divya.
Sean menjadi penasaran dengan apa yang akan Divya sampaikan padanya.
Beberapa saat kemudian, seseorang datang mencari Divya. Seorang wanita yang sangat cantik dan begitu anggun datang ke tempat Divya dan Sean.
Kini mereka berada di ruang tengah. Sean merasa bingung dengan kehadiran wanita tersebut di sana. Untuk apa istrinya itu mengundangnya.
"Sekarang katakan sebenarnya apa yang ingin Kau sampaikan Di. Siapa wanita ini? Dan apa hubungannya dengan apa yang akan Kau katakan?" Sean masih menerka-nerka apa yang akan Divya katakan saat ini.
"Baiklah Sean, kenalkan dia adalah Vaya temanku. Dan Vaya, dia adalah suamiku pria yang ku ceritakan kepada mu." Divya terdiam sejenak setelah mengenalkan mereka.
Ia menarik nafasnya dalam sebelum menyampaikan maksudnya.
"Sean Kau tahu kan tentang penyakit ku. Mungkin sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Aku ingin Kau menikah dengan Vaya setelah Aku tiada nanti. Vaya adalah gadis yang baik, cantik. Dan tentunya ia adalah gadis yang sehat. Kalian pasti akan bahagia nantinya," ucap Divya menahan sesak di dadanya.
Sementara Vaya, gadis itu begitu sumringah. Ia menatap Sean dengan tatapan kagum. Kagum akan ketampanannya.
Berbeda dengan Sean. Seketika rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangannya. Kenapa istrinya bisa memutuskan hal sebodoh itu?.
Sean berdiri dengan menahan marahnya. " Nona Vaya, tolong keluar dari rumah saya! Saya tidak akan pernah menuruti ucapan dari istri saya. Jadi tolong keluarlah!" ucap Sean begitu dingin.
Vaya menjadi ketakutan melihat tatapan dingin dari Sean.
"Tidak Sean. Kau harus mendengar ucapan ku selanjutnya," ucap Divya.
"Aku tidak mau mendengarkannya lagi. Sekarang tolong keluarlah Nona Vaya!" Sean berkata dengan nada membentak.
Vaya pun segera keluar dari sana dengan ketakutan. Ia tidak tahu pria setampan Sean akan sangat menyeramkan bila sedang marah.
"Aku pulang Di, permisi," ucap Vaya dan langsung pergi secepat kilat.
"Sean, kenapa Kau menolak permintaan ku!?"
Sean menatap Divya dengan begitu marahnya. Sungguh istrinya itu begitu bodoh. Rasanya ia ingin memberikan hukuman untuk Divya saat ini juga.
***
__ADS_1