Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 65


__ADS_3

Terkadang ada sebuah perih yang tak sempat tercatat, terkadang pengorbanan membeku di sudut ruang cerita. Sakit namun tak berdarah, luka namun tak terlihat. Begitulah yang Adrian rasakan saat ini.


Ia terluka mendengar ucapan wanita yang telah melahirkannya, wanita yang teramat Ia sayangi dan Ia percayai tega menyakitinya.


Semua kebenaran itu membuatnya begitu merasa bersalah kepada Papanya. Hatinya rapuh saat ini, Ia membutuhkan sandaran untuk mengobati lara hatinya.


Dan di sinilah Lisa berada saat ini. Ia dapat merasakan apa yang tengah suaminya rasakan. Dengan penuh kasih, Lisa memeluk tubuh suaminya yang terlihat nampak bergetar.


Lisa tahu bahwa Adrian telah menangis, hingga tak terasa likuid bening itu pun juga membasahi pipinya.


"Menangis lah jika itu bisa membuat hatimu menjadi lega. Ingatlah bahwa Aku ada di sini bersama mu," ucap Lisa mengusap punggung suaminya dengan lembut.


"Lisa, Aku tidak pernah menyangka bahwa dia akan begitu tega pada putranya sendiri. Aku terlalu bodoh karena sudah terlalu mempercayai wanita itu," ucap Adrian dengan suara begitu parau.


"Kau tidak bodoh Adrian, Mamamu lah yang bodoh karena sudah begitu tega padamu." Lisa terus mengusap lembut punggung Adrian. Ia ingin memberikan sebuah kenyamanan untuk pria yang berstatus suaminya saat ini.


"Aku sudah sangat bersalah kepada Papa, Lisa. Apa Papa akan memaafkan ku atas sikapku selama ini Lisa?." Adrian masih tertunduk dalam pelukan Lisa.


Hatinya begitu kacau saat ini, namun Ia merasa begitu nyaman berada dalam pelukan istrinya. Hingga Ia mengeluarkan segala rasa yang terpendam dalam hatinya.


Lisa menghembuskan nafasnya pelan, kata-kata Adrian mengingatkan dirinya akan almarhum Papanya. Iapun juga merasakan apa yang Adrian rasakan saat ini.


"Minta maaflah pada Papa, Adrian. Kau begitu beruntung masih dapat melihat Papa secara nyata, dapat menyentuhnya, dapat mendengar suaranya. Kau harus minta maaf kepada Papa, jangan sampai Kau seperti ku. Aku begitu terlambat mengatakan kata maaf, dan kini Aku tidak dapat menatap raganya, karena dia sudah bahagia di atas sana." Lisa memeluk erat tubuh suaminya.


Sementara Adrian terpaku mendengar penuturan Lisa. Kini Ia pun dapat merasakan kesedihan istrinya yang hampir sama dengannya.


Namun bedanya Adrian masih beruntung karena masih dapat menatap dan menyentuh raga Sang ayah.


Adrian pun membalas pelukan Lisa. "Kau jangan pernah bersedih lagi, karena Aku akan selalu bersamamu. Kau boleh menganggap ku sebagai seorang Ayah ataupun sebagai seorang suami untuk mu." Adrian pun berkata dengan begitu lembutnya.


Kini mereka saling menguatkan satu sama lain.


Lisa perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wajah suaminya. "Benarkah Kau juga akan menjadi ayah untuk ku?."


"Tentu saja, Kau bisa menganggap ku sebagai ayahmu," ujar Adrian seraya tersenyum menatap wajah Lisa.


Lisa begitu bahagia, dengan perhatian Adrian padanya. Terlebih Lisa dapat melihat senyuman Adrian kembali.


Adrian mendaratkan sebuah ciuman di bibir istrinya, membuat Lisa begitu terkejut.


"Kenapa Kau malah mencium ku?, Bukankah tadi Kau mengatakan bahwa Kau akan menjadi ayah untuk ku?," Ujar Lisa mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Apa Kau lupa kalau Aku juga merangkap sebagai suami mu." Adrian menaik turunkan kedua alisnya. Membuat Lisa membeliak.


"Kau curang!." Lisa mencubit lengan Adrian dan membuat Adrian mengaduh kesakitan.


"Kenapa Kau malah mencubit ku?," protes Adrian.


"Kau curang, Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan dari ku."


Adrian kembali memeluk tubuh istrinya. "Karena Aku suamimu. Aku senang karena Kau yang menjadi istri ku, menjadi ibu dari anakku," ucap Adrian tulus.


"Berjanjilah padaku bahwa Kau tidak akan pernah berbohong padaku, berjanjilah bahwa Kau tidak akan pernah meninggalkan ku," titah Adrian.


Lisa tersenyum mendengar permintaan suaminya itu. Yang jelas Lisa begitu yakin bahwa saat ini Ia sudah benar-benar jatuh cinta pada suaminya itu.


"Aku berjanji," ucap Lisa begitu yakin.


***


Keesokan harinya


Alika mendatangi rumah putranya untuk membuat Adrian kembali mempercayainya lagi. Alika tidak ingin kehilangan uang yang setiap bulannya Adrian berikan padanya. Ia tidak ingin menjadi miskin seperti dulu lagi.


"Adrian," panggil Alika.


Sementara Adrian dan Lisa yang sedang menyantap sarapan paginya pun menghentikan aktivitasnya kala mendengar suara yang tidak asing lagi di telinga mereka.


Lisa menatap Adrian yang kini sudah memancarkan aura dinginnya.


Melihat hal itu, Lisa menyentuh tangan suaminya dan menggenggamnya. Hingga membuat Adrian pun menatapnya.


Lisa menganggukkan kepalanya seakan berkata bahwa 'saat ini Aku bersamamu'.


Hatinya begitu gusar dan bergemuruh, namun genggaman tangan istrinya membuat hatinya sedikit tenang.


"Adrian, Mama datang nak," teriaknya dan langsung memasuki ruang makan.


"Untuk Apa Kau datang ke rumah ini!," ucap Adrian tanpa menatap ke arah Alika. Auranya nampak begitu dingin.


"Sayang, Mama ingin menjelaskan perihal kejadian semalam. Kau salah paham sayang." Alika berusaha untuk mengambil hati Adrian.


"Diam!, Kau tidak perlu mengatakan apapun lagi. Apa Kau pikir Aku tidak mendengar seluruh ucapanmu semalam?!. Aku mendengar semuanya, dan telinga ku ini tidak tuli. Jadi ku harap Kau pergi dari sini dan jangan pernah lagi muncul di hadapan ku!," seru Adrian dengan menahan sakit hatinya.

__ADS_1


Ia seorang anak, walaupun Ia begitu marah dengan kelakuan ibunya. Adrian tetap saja merasakan sakit saat membentak orang yang sudah melahirkannya.


Namun Ia tidak ingin lagi Mamanya membodohinya seperti yang sudah-sudah.


"Sayang, Mama minta maaf padamu, sungguh Kau sudah salah mengira tentang semuanya. Kalau Kau menyuruh Mama untuk pergi, lalu bagaimana Mama nanti."


"Kau khawatir kalau Kau akan jatuh miskin?!," ucap Adrian dengan sinisnya. Lalu Adrian mengambil sebuah cek kosong dari dalam sakunya dan melemparkannya ke arah Mamanya.


"Kau bisa menulis berapapun yang Kau mau, jadi pergilah dan jangan pernah kembali lagi!," ucap Adrian menahan perih hatinya.


Sementara Alika sebenarnya sangat tergiur akan cek yang melayang di di depannya itu. " Kenapa Kau begitu tega dengan Mama Adrian?!. Baiklah, Mama akan pergi. Tapi Mama akan kembali lagi suatu saat nanti," sahut Alika dengan mengambil cek di depannya itu.


Melihat Mamanya yang mengambil cek tersebut, membuat Adrian semakin sakit. Sakit karena ternyata Mamanya hanya perduli dengan uang saja.


Tadinya Adrian berharap Mamanya tidak akan mengambil cek tersebut. Bukan karena Adrian menyayangkan cek yang Ia berikan, melainkan karena Mamanya tidak berusaha untuk menyesali perbuatannya dan lebih memilih uang.


Adrian mengeratkan genggaman tangannya pada istrinya. Berusaha menekan rasa sakit pada hatinya yang di sebabkan oleh seorang ibu yang telah melahirkannya.


Lisa dapat melihat kesedihan dari sorot mata suaminya. Ia membalas genggaman tangan suaminya sembari mengusap lembut punggung tangan Adrian.


"Baiklah, kalau begitu Mama pergi Adrian. Tapi ingat!, Suatu saat Mama akan kembali lagi," ucap Alika sebelum meninggalkan ruang makan.


Adrian hanya diam menatap ke arah lainnya tanpa menjawab ucapan dari wanita yang sudah melahirkannya.


Hingga Alika pun benar-benar pergi dari sana.


Adrian memanggil seluruh pekerja di rumahnya. Dengan lantang Ia berkata.


"Jika suatu saat kalian melihat wanita tadi datang lagi ke rumah ini, siapapun dari kalian di larang keras untuk mengizinkannya masuk ke dalam rumah ini!. Kalian mengerti?!."


"Mengerti Tuan," ucap para pekerja di rumahnya. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Mereka tahu bahwa wanita yang di maksud oleh Tuannya itu adalah ibu dari Tuannya sendiri.


Banyak pertanyaan yang bermunculan dari para pekerja di rumah itu. Namun mereka tidak ingin bertanya kepada Adrian. Karena raut wajah Tuannya yang tidak seramah biasanya.


"Kalau begitu kalian bisa kembali melakukan pekerjaan kalian lagi," ucap Adrian. Mereka pun segera kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.


Lisa segera memeluk suaminya, berusaha membuat Adrian merasa tenang dengan memeluknya.


"Terimakasih, terimakasih karena berada di samping ku," ucap Adrian memeluk erat tubuh istrinya.


***

__ADS_1


Maafkan othor yang terlambat up ๐Ÿ˜Œ, pak su lagi di rumah, biasalah lg manja-manjanya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜


__ADS_2