Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 108 (season 2)


__ADS_3

Sean masih merasa kesal setelah keluar dari rumah sakit tersebut. Perasaannya menjadi aneh saat Divya mencetuskan bahwa Denis adalah kekasihnya.


Dengan segera, Sean langsung meninggalkan rumah sakit tersebut dengan perasaan kesal.


***


"Terimakasih Denis, Kau sudah mengantarku pulang," ucap Divya tersenyum.


"Aku akan selalu siap saat Kau membutuhkan sesuatu Di. Bila Kau membutuhkan sesuatu Kau bisa menghubungi ku Di," ucap Denis.


Divya tersenyum mengangguk. Ia tahu perasaan pria yang menjadi dokternya itu. Ia tidak ingin membuat pria sebaik Denis mencintai gadis yang sakit-sakitan seperti dirinya.


Setelah mobil Denis pergi. Divya langsung melangkah memasuki rumahnya.


Divya memasang wajahnya seceria mungkin untuk menutupi penyakitnya dari keluarganya.


"Mama, Papa..!, Di pulang," teriaknya.


Namun tak ada jawaban. Divya semakin masuk ke dalam rumahnya mencari keberadaan dimana kedua orang tuanya.


Terdengar suara tawa dari ruang makan. Sehingga langkah kaki Divya pun menuju ke sana.


Divya terkejut melihat pemandangan dalam ruang makan itu.


Dapat Divya lihat di sana Sean tengah bersenda gurau bersama keluarganya. Dan itu membuat Divya melongo.


Sean yang melihat Divya berdiri tak jauh dari ruang makan pun tersenyum penuh arti.


"Hai Di?" sapa Sean tersenyum misterius.


Adrian dan Lisa pun menoleh ke arah Divya. Mereka pun tersenyum. Lisa berjalan menghampiri putrinya dan membawanya ke meja makan.


"Sayang, Kau darimana saja?. Nak Sean sudah menunggu mu. Sekarang lebih baik kita makan dulu," ajak Lisa.


Sementara tatapan Divya menatap Sean penuh selidik. "Sebenarnya apa yang dia rencanakan?" batin Divya.


Keluarga tersebut beserta Sean pun mulai menyantap makan siang bersama.


Selesai menyantap makan siang mereka. Sean memberikan pujian bertubi-tubi dengan masakan yang Lisa masak.


"Bibi, masakan bibi memang sangat luar biasa. Paman sangat beruntung memiliki istri seperti bibi," puji Sean membuat Lisa pun begitu melambung.


"Ah,nak Sean. Kau sangat pandai memujiku," ucap Lisa tersenyum senang.

__ADS_1


Sedangkan Divya masih merasa curiga dengan sikap Sean yang tiba-tiba menghangat.


"Sebenarnya saya datang kemari karena ingin membicarakan tentang hal yang sangat penting kepada Paman dan bibi. Saya membutuhkan persetujuan Paman dan bibi untuk hal yang ingin saya sampaikan," Tutur Sean membuat Adrian dan Lisa bahkan Divya pun begitu penasaran.


"Hal sepenting apa yang ingin Kau sampaikan nak Sean?. Apakah ini mengenai perusahaan?." Adrian mengira Sean ingin bekerjasama dengan perusahaan miliknya.


Namun Sean menggelengkan kepalanya membuat Adrian mengerutkan keningnya.


"Bukan Paman, ini lebih penting dari perusahaan," tutur Sean. Ia mengambil nafasnya sejenak sebelum ia mengatakan maksudnya.


"Saya ingin melamar putri Paman untuk menjadi istri Saya," ucap Sean membuat Lisa dan Adrian saling berpandangan.


Sementara Divya langsung menyemburkan minumnya terkejut.


"A-apa!!!" Divya memekik terkejut.


"Sayang, Kau harus bersikap sopan di depan tamu. Apa lagi tamu ini akan menjadi suamimu," goda Lisa kepada putrinya.


Sementara Sean tersenyum penuh kemenangan. "Ini adalah hukuman ku untukmu karena sudah membuatku khawatir dan kesal tadi l," ucap Sean dalam hati dan tersenyum menyeringai menatap Divya yang nampak terkejut.


"Ta-tapi Mam, Di belum siap untuk menikah. Di masih ingin menyelesaikan kuliah Di." Divya berusaha menolaknya.


"Tapi bukankah kalian berpacaran?. Dan kuliahmu kan selesai tahun ini sayang," ucap Adrian membuat Divya mati kutu. Ia pun menatap tajam ke arah Sean.


Namun tak di hiraukan oleh pria itu. Membuat Divya begitu kesal. Bukankah pria itu tadi mengakhiri hubungannya sebagai kekasih?. Divya juga tidak ingin menikah. Ia takut bila harus meninggalkan seseorang yang mencintainya. Namun, apakah akan ada cinta di antara mereka?.


"Paman, bibi. Saya ingin menikah dengan putri mu secepatnya. kami akan menikah dulu, nanti setelah urusan saya di AS selesai, saya akan mengadakan resepsinya di Indonesia. Dan akan menetap di sini juga," ucap Sean dan mendapat persetujuan dari Adrian dan Lisa.


Sementara Divya benar-benar kesal dengan dengan Sean. Rasanya ia ingin mencakar wajah pria itu karena sudah berbuat seenaknya sendiri.


Sean tersenyum puas melihat wajah kesal Divya. Kini ia berhasil membalas Divya.


***


"Sebenarnya apa maksud mu mengatakan semua itu kepada keluarga ku huh!" Divya begitu marah saat ini.


Ia mengajak Sean untuk berbicara di taman yang ada di belakang rumahnya.


Sementara Sean benar-benar puas melihat Divya yang begitu marah. "Aku ingin menghukum mu karena sudah membuat ku khawatir dan kesal tadi," ucap Sean tanpa merasa bersalah.


"Aku membuatmu khawatir dan kesal?. Mengenai hal apa huh?!!" Divya semakin kesal karena alasan Sean.


"Aku khawatir karena Kau pingsan tadi. Dan kesal karena Kau Kau tidak mengakui ku sebagai calon suamimu di depan dokter itu. Kau malah menjadikan dokter itu menjadi kekasihmu!" ucap Sean dengan kilatan kemarahan. Sean mengingat saat Divya mengatakan menjadikan Denis sebagai kekasihnya.

__ADS_1


Sean mengatakan hal itu dengan mendekatkan wajahnya ke arah Divya. Membuat Divya terdiam dan menatap wajah Sean dengan begitu dekatnya.


"Dan Aku tidak akan pernah melepaskan mu karena sudah membuat ku cemas dan kesal. Kau harus di berikan hukuman untuk semua itu," ucap Sean begitu dekat. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.


Divya merasa jantungnya berdetak kencang, seakan hampir lepas dari tempatnya. Divya tidak mengerti dengan yang ia rasakan itu.


Hingga Sean pun langsung meninggalkannya dan pergi.


Divya memegangi dadanya yang berdebar. Baru kali ini ia merasakan seperti itu. Ia pun menjadi gelisah memikirkan perkataan Sean barusan.


"Aku salah berurusan dengan pria itu. Apakah dia akan membuat hidupku semakin menderita nanti?. Oh Tuhan, kenapa semua jadi seperti ini," keluh Divya.


Mau tidak mau Divya harus menerima lamaran dari Sean. Ia terus berdoa agar Sean tidak membuat hidupnya semakin berat.


***


Akhirnya kabar tentang Sean yang melamar Divya pun terdengar oleh Bryan dan keluarganya.


Eve yang mendengarnya pun begitu senang. Ia sangat setuju jika kakaknya menikah dengan Divya.


Hingga satu Minggu pun berlalu. Sean menikah dengan Divya dengan di saksikan oleh seluruh anggota keluarga besarnya.


Sean menikahi Divya secara agama di KUA di kota tersebut. Sebelumnya Sean juga sudah berpindah agama dan memeluk agama Islam.


Hingga kata sah pun terdengar dari keluarga tersebut.


Sean tersenyum puas melihat wajah Divya yang nampak ketakutan.


"Kuharap dia tidak macam-macam nanti. Atau Aku akan mencakar wajahnya," ucap Divya dalam hati.


Namun tiba-tiba Divya merasa di bagian perutnya terasa begitu sakit. Wajahnya mulai memucat.


"Kenapa sakit ini kembali terasa. Aku harus mengambil obat ku," batinnya.


Lalu iapun segera pergi dari sana mengatakan ingin ke toilet. Dan yang sebenarnya Divya mengambil obatnya yang ia taruh di tas miliknya.


Divya segera meminumnya. Ia tidak ingin semua anggota keluarganya mengetahui tentang sakitnya itu.


Divya menahan rasa sakit itu dengan mencengkeram bajunya. Hingga perlahan rasa sakit itu kembali mereda.


Divya hendak kembali ke tempat tadi. Ia pun membalikkan badannya.


Divya terkejut melihat Sean yang kini berada tepat di belakangnya dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Apa yang Kau lakukan di sini?!"


***


__ADS_2