
Mengetahui putrinya yang terus menatap kesal menantunya. Hendra ingin memberikan ruang kepada mereka agar lebih leluasa untuk membicarakan perihal tentang permasalahan mereka.
"Nak, kepala ayah tiba-tiba saja berkunang, bagaimana kalau suamimu saja yang membantumu memasak. Ayah mau istirahat sebentar,"ucap Hendra seraya memegangi kepalanya. Ia sengaja berpura-pura agar bisa memberikan uang kepada mereka.
Melihat sang Ayah yang memegangi kepalanya, Aya dan Bryan pun segera menghampiri Hendra.
"Ayah tidak apa-apa?, Apa ayah sakit?." Tanya Aya merasa khawatir, tak terkecuali Bryan.
Sebenarnya Hendra merasa bersalah kepada putrinya, tapi Ia juga ingin putrinya dan menantunya itu bisa menyelesaikan masalah mereka.
"Ayah tidak apa-apa nak, setelah istirahat sebentar nanti juga akan sembuh."
"Baiklah ayah, kami yang akan menyelesaikan masakannya. Biarkan kami mengantarkan ayah ke kamar ayah," ujar Bryan.
Namun Hendra menolak. " Tidak nak, ayah akan ke kamar sendiri. Kalian selesaikan saja masakannya."
"Benarkah ayah tidak apa-apa kalau ke kamar sendirian?." Tanya Aya memastikan.
"Iya nak, Kau jangan khawatir."
Lalu Hendra segera beranjak menuju kamarnya.
Setelah menatap sang ayah pergi menuju kamarnya, Aya mulai memotong sayuran untuk dimasak tanpa memperdulikan Bryan.
Sebenarnya Bryan sejak tadi ingin bertanya kepada Aya kenapa sikapnya berubah kepadanya. Tapi Ia mengurungkannya karena disana ada ayah mertuanya.
Dan sekarang lah saatnya untuknya menanyakan perihal perubahan sikap istrinya itu.
Bryan mulai mendekati Aya. "Aya." Panggilnya yang kini berdiri tepat di belakang istrinya.
Aya pun tak menjawab panggilan Bryan.
"Aya!." Panggil Bryan sekali lagi.
Namun tetap saja Aya tidak menjawabnya. Karena merasa di acuhkan, Bryan pun langsung membalikkan tubuh Aya hingga menghadapnya.
Aya terkejut dan kembali menatap Bryan dengan tatapan kebencian. Hingga membuat Bryan semakin bingung akan sikap Aya kepadanya.
Karena kemarin Aya bersikap begitu malu-malu padanya bahkan Aya selalu bersikap manis padanya. Dan sekarang perubahan sikap istrinya terlihat begitu kentara.
"Apa sih!, Minggir lah Aku sedang memasak Bry!." Ucapnya kembali ketus.
__ADS_1
"Aya, Apa Aku berbuat salah padamu?, Sebenarnya Kau ini kenapa?. Aku sungguh tidak mengerti dengan perubahan sikapmu ini!."
Aya menatap wajah suaminya begitu lekat. "Aku ingin kita berpisah Bryan Askara!." Ucap Aya menahan sesak di dadanya.
Aya tidak ingin mengharapkan pria yang tidak mencintainya. Aya ingin membebaskan Bryan untuk mencintai Rena.
Bryan terpaku, perkataan Aya membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Ia takut, takut bila istrinya itu benar-benar meminta berpisah darinya.
Bryan tidak ingin itu terjadi, Aya sudah mengusik hati dan pikirannya.
"Apa yang Kau katakan Aya, Aku tidak akan pernah menceraikan mu!." Ucap Bryan begitu marah.
Bryan berfikir Aya masih begitu membencinya karena perbuatannya yang selalu menghina dirinya. Jadi mungkin Aya belum bisa menerima dirinya.
"Kenapa kau tak mau Bryan?!, Aku tidak akan jadi penghalang untuk mu menikah dengan kekasihmu Rena. Bukankah ini adalah keinginan terbesar mu?. Yaitu berpisah dengan ku dan menikah dengan Rena?!." Aya berucap menahan sesak. Air matanya tak kuasa menetes.
Deg
Bryan teringat akan ucapannya dulu, lalu Ia pun dengan cepat memeluk Aya. Rasanya hatinya begitu ngilu bila mengingat ucapannya dulu terhadap istrinya itu.
"Jangan pernah meminta perpisahan dari ku Aya, karena berkali-kali Kau memohon padaku hingga Kau bersimpuh sekalipun, Aku tidak akan pernah mengabulkan permintaan mu itu!." Ucapnya begitu dalam.
Tanpa terasa terdapat tetesan air mata yang mengalir di pipinya saat mendengar ucapan Aya, dan kini suara Iskan istrinya membuatnya menyalahkan dirinya sendiri.
Bryan berjanji pada dirinya sendiri, Ia akan membahagiakan wanita dalam pelukannya ini. Ia akan melindunginya sampai nafas terakhirnya.
Perlahan Bryan melepaskan pelukannya, ditatapnya wajah Aya begitu lekat. Lalu tangannya mengusap air mata Aya begitu lembut, dan melepaskan kacamata istrinya itu.
"Aya lihat Aku!, Sekarang dengarkan aku. Mulai sekarang jangan pernah meminta sebuah perpisahan lagi dengan ku. Karena sampai kapanpun kau akan terus menjadi istri ku!." Ucap Bryan meyakinkan Aya.
Entah kenapa Aya seakan terhipnotis oleh ucap Bryan, Ia pun menganggukkan kepalanya dengan menatap mata Bryan.
Dan beberapa detik kemudian, Aya merasakan bibir Bryan yang kini sudah menyentuh bibirnya dengan lembut.
Hingga Aya pun memejamkan matanya, begitu juga dengan Brayn. Mereka berciuman melupakan semua rasa di dadanya. Tak ada naf..su dalam ciuman itu, yang ada hanyalah kehangatan dan rasa yang ingin saling memiliki di antara keduanya.
Aya memutuskan untuk mempercayai ucapan Bryan. Ia akan menerima konsekuensinya bila seandainya nanti Bryan akan meninggalkannya.
Perlahan Bryan melepaskan ciuman itu dan menempelkan kedua kenig mereka, lalu keduanya pun tersenyum. Mereka merasa seolah dunia ini hanya milik mereka.
"Apa kita harus melanjutkan memasaknya?, Kita pesan makanan saja. Aku ingin sekali mengajakmu pulang sekarang juga dan bermain sepak bola di kamar kita." Ucap Bryan tersenyum genit.
__ADS_1
"Sepakbola?." Tanya Aya dengan polosnya.
"Ya, sepakbola. Junior ingin masuk kedalam gawang," bisiknya. Dan itu sontak membuat Aya tersipu, tangannya mencubit pelan lengan suaminya.
"Auw, sakit Aya."
"Makanya jangan genit, sudah sekarang kita lanjutkan masaknya. Ayah pasti sudah sangat lapar." Ucapnya dan kembali memotong sayuran yang ada di sana.
"Sungguh tidak ingin memesannya?." Tanya Bryan sekali lagi.
"Tidak!."
"Haih... Yasudah, sepertinya bermain bolanya akan terjadi nanti malam." Ucap Bryan kecewa. Namun Ia bahagia melihat istrinya yang sudah kembali seperti kemarin.
Tidak menunggu lama, makanan itu pun sudah matang. Aya segera memanggil ayahnya, dan mereka pun makan siang bersama dengan begitu bahagia.
Hendra yang melihat senyuman putrinya kembali, juga merasa begitu bahagia.
"Semoga kalian selalu bahagia nak," ucap Hendra dalam hati kala melihat Aya dan Bryan makan dengan saling menyuapi.
***
Dalam perjalanan pulang, Bryan mendapatkan telpon dari investor terbesarnya yang ingin bertemu untuk membicarakan tentang proyek baru yang sedang mereka jalankan saat ini.
"Aya, sebelum pulang kita ke restoran J sebentar. Ada urusan pekerjaan yang harus saya selesaikan." Ucap Bryan.
Aya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, nanti Aku menunggu di mobil saja Bry."
"Tidak, Kau akan ikut dengan ku nanti."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi, Kau harus ikut dengan ku," ucap Bryan penuh penekanan. Hingga Aya pun tak mampu menolaknya.
Sampai di restoran J, Aya minta izin kepada Bryan untuk pergi ke toilet sebentar.
"Aku akan menunggumu di meja nomor 22, Tuan Abraham sudah berada di sana." Ucap Bryan.
"Baiklah."
Aya segera menuju ke toilet, sedangkan Bryan segera menemui Tuan Abraham.
__ADS_1
***