
Siang ini Rena kembali mendatangi kantor Bryan. Ia ingin mengajak Bryan untuk membeli baju untuk reuni besok malam.
"Selamat siang Tuan Bryan, Apa Kau tidak melupakan janjimu?," Ucap Rena saat memasuki ruangan Bryan.
Dan itu membuat Bryan segera mendongakkan kepalanya saat mendengar namanya di sebut.
Dengan senyumnya Bryan segera berdiri dan menghampiri Rena.
"Tentu saja Aku tidak melupakan janjiku, Apa Tuan putri sudah siap?," Tanyanya.
"Tentu saja pangeran," ucap Rena tertawa. Lalu mereka segera pergi dari sana dan berjalan bersama menuju mobil Bryan.
Para karyawan yang melihat keduanya pun menduga bahwa Rena adalah istri dari bos mereka. Sebab Bryan tidak pernah mengenalkan istrinya.
Dan para karyawan itu juga tidak mengetahui bagaimana wajah istri bosnya itu. Karena dalam media dan majalah waktu itu wajah Aya di samarkan atas permintaan Aya.
Kini semua karyawan disana mengagumi pasangan yang terlihat begitu serasi itu.
Dan Aya yang tanpa sengaja melihatnya pun menatap keduanya dengan sinis. Lalu Ia kembali mengalihkan pandangannya dari keduanya.
"Malas sekali menatap pasangan angkuh dan sombong seperti mereka," gumam Aya, lalu ia kembali menyelesaikan pekerjaannya..
Namun di saat Rena melangkah di samping Bryan, tidak sengaja seorang OB tengah membersihkan lantai dengan berjalan mundur dan tidak melihat Rena.
Sehingga Rena pun menabrak OB tersebut.
"Heeh...!, dasar OB si..alan!," Umpat Rena marah.
OB tersebut terkejut dan langsung berbalik ke arah belakang. "Maafkan saya Nona," ucap OB itu menunduk, Ia begitu ketakutan melihat wajah marah Rena.
"Rena sudah, lebih baik kita segera pergi," ajak Bryan untuk mengalihkan emosi Rena.
Namun Rena adalah tipikal orang yang tidak mau mengalah. Dan dengan teganya Rena pun menampar wajah OB tersebut dengan kerasnya. Ia tidak memperdulikan para karyawan yang kini tengah melihatnya.
Rena kembali melayangkan tangannya lagi, namun seseorang tengah menahan tangan itu. Dan membuat Rena menatap siapa yang telah menghentikannya itu.
"Kau!!."
Dengan kasar, seseorang itu menghempaskan tangan Rena.
"Dasar gadis jelek, Kau juga bekerja di perusahaan ini rupanya!. Dan sekarang Kau berani melawanku?, Apa Kau tahu Aku ini siapa?!, Aku adalah calon istri Bryan!."
"Ck, Kau hanyalah calon istri. Dan apa Kau tahu bahwa Tuan Bryan sudah mempunyai seorang istri?. Atau kau mau menjadi istri kedua," ucap Aya terkekeh.
"Kau!." Tunjuknya pada Aya.
"Nona Rena yang terhormat, Kau itu seorang yang berpendidikan tinggi. Tapi sikapmu mencerminkan seseorang yang tidak pernah di didik!. Dan Anda Tuan Bryan, Anda adalah pemilik perusahaan ini. Dan OB ini adalah karyawan mu juga. Tapi kau malah membiarkan orang asing berbuat hal yang begitu semena-mena terhadap karyawan mu sendiri."
__ADS_1
"Jaga batasan mu!," Ucap Bryan dingin. Namun Aya tidak mengindahkan ucapan Bryan.
"Kau itu hanya karyawan saja, dan Kau mau melawan kami. Jelas-jelas dia yang salah karena sudah menabrak ku. Dan sekarang kau mau menyalahkan ku?!, Dasar gadis jelek rendahan," cibir Rena.
"Rena, sudahlah, ayo kita pergi!." Ajak Bryan kembali.
"Tidak, sebelum kau memecat gadis jelek dan murahan seperti dia," tunjuk Rena tepat di depan Aya.
"Apakah Anda, tidak melihat siapa yang salah dan benar di sini Tuan Bryan?. Lihatlah, kekasih Anda lah yang salah karena tidak membaca tanda peringatan bahwa lantai sedang di pel. Dan sekarang dia ingin Anda memecat ku?!." Ucapnya menatap Bryan dengan tatapan nyalang.
Bryan melihat ke arah tanda peringatan yang di tunjukkan oleh Aya. Lalu Ia pun kembali menatap Aya dengan begitu dingin.
"Sudahlah Rena, sebaiknya kita pergi, tidak ada untungnya kita di sini," ucap Bryan seraya menarik tangan Rena menjauh dari sana.
"Bryan kenapa Kau malah membela gadis jelek itu?!."
"Aku tidak membelanya Rena, lebih baik sekarang kita pergi ke tempat yang Kau inginkan. Dan Kau juga boleh meminta apapun yang Kau mau," ucap Bryan berusaha agar Rena melupakan kejadian barusan.
Dan benar saja, Rena langsung berbinar dan menganggukkan kepalanya senang. "Benarkah Aku boleh meminta apapun?." Ucapnya senang.
Bryan menganggukkan kepalanya, sehingga Rena pun memeluk tubuh Bryan. "Terimakasih sayang, Aku tahu Kau begitu mencintai ku."
***
"Anda tidak apa-apa?," Tanya Aya berusaha memastikan keadaan OB tersebut.
"Sudahlah, sekarang Anda selesaikan pekerjaan Anda. Saya permisi," ucap Aya dan langsung pergi.
Saat duduk kembali di meja kerjanya, karyawan lain saling berbisik menatap Aya. Namun Aya tidak ingin menghiraukannya. Ia lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Dasar gadis sok-sokan, kau pikir kami akan menyukaimu setelah Kau bersikap bagai seorang super Hero?. Kami malah semakin membenci mu, Kau adalah gadis yang munafik!," Cibir teman-teman kerja Aya di sana.
Namun Aya tetap tidak terpengaruh, Ia seakan sudah kebal akan cacian dan makian dari orang lain.
***
Sore itu, Adrian kembali menghampiri Aya. Ia sudah tidak sabar untuk mengajak Aya. "Aya, ayo kita pergi!," Ajak Adrian.
"Sebentar lagi Iyan," Ucap Aya masih dengan membereskan mejanya.
"Pak Adrian kok mau-maunya sih dekat-dekat dengan gadis munafik seperti Aya?," Bisik karyawan lain yang kini hendak pulang juga.
Dan ucapan itu pun masih dapat di dengar oleh Adrian. Hingga Adrian menatap para karyawan tersebut dengan tatapan tajam dan dingin.
Mereka semua akhirnya segera pergi dari sana,merasa takut dengan pandangan tajam Adrian.
"Apakah ada yang ku lewatkan tadi Ay?, Kenapa semua orang menatap mu seperti itu?."
__ADS_1
"Jangan hiraukan sekitar mu Iyan, lebih baik sekarang kita segera pergi sebelum malam," ucap Aya.
Aya seakan kebal saat ini. Berbagai macam cemoohan dan hujatan yang ia rasakan selama ini membuatnya menjadi gadis yang begitu tangguh.
Akhirnya merekapun meninggalkan kantor dan langsung menuju ke tujuan mereka yaitu butik.
Aya kini sedang melihat-lihat berbagai jenis macam gaun yang begitu cantik. Bahkan harganya saja hampir membuat bola matanya hampir keluar karena saking mahalnya.
Aya berhenti melihat-lihat berbagai Pakaian disana. Karena gaji satu bulannya saja tidak akan cukup untuk membeli baju tersebut.
"Aya, bagaimana dengan penampilan ku?," Tanya Adrian saat keluar dari ruang ganti.
Aya melihat Adrian begitu tampan mengenakan pakaian yang di cobanya saat ini. Lalu Ia pun mengacungkan kedua jempol nya.
"Kau terlihat cocok mengenakannya Iyan," ucap Aya tersenyum.
"Sungguh?. Kalau begitu aku akan mengambil ini. Apa Kau juga sudah menemukan gaun yang akan Kau pakai nanti Ay?."
"Gaun yang ku inginkan tidak ada Iyan. Mungkin nanti Aku akan membelinya di tempat lain saja." Ucap Aya tersenyum canggung.
Adrian hanya tersenyum, lalu Ia segera kembali untuk mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaiannya, Adrian mengambil sebuah gaun yang senada dengan pakaian yang akan Adrian kenakan nanti. Jadi Adrian pun menyuruh pegawai butik itu untuk membungkusnya.
***
"Terimakasih Iyan sudah mengantarku," ucap Aya. Kini Adrian tengah mengantarkan Aya ke tempat waktu di saat Adrian menurunkannya beberapa hari yang lalu.
Aya hendak keluar dari mobil, namun suara Adrian kembali memanggilnya.
"Aya"
"Ada Apa Iyan?."
Adrian menyerahkan sebuah paper bag kepada Aya.
"Apa ini Iyan?."
"Aku ingin Kau memakai gaun ini saat reuni nanti. Dan ku mohon jangan menolaknya.
"Baiklah Iyan. Tapi..."
"Kumohon terimalah ini Ay." Ucap Adrian menyerahkan paper bag tersebut.
Aya akhirnya menerima paper bag tersebut. Lalu Adrian pun segera pergi dari sana karena Aya terus saja mengusirnya.
Dan setelah itu, sperti bisa, Aya akan memesan taksi untuk mengantarnya pulang ke rumah utama.
__ADS_1
***