Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 73


__ADS_3

Ambulance segera datang ke tempat kecelakaan itu. Polisi dan perawat berusaha mengeluarkan Aya dan Bryan dari dalam mobil yang ringsek itu.


"Korban masih bernafas, tapi detak jantungnya semakin melemah," ucap perawat yang mencoba untuk menolong Aya dan Bryan.


Sementara di belakang sana Bagaskara dan Hendra pun begitu syok melihat mobil putranya yang nampak ringsek tak berbentuk. Mereka pun menyerahkan baby Bintang dan Galaxy kepada pengasuhnya, sementara mereka pun segera menerobos masuk ke arah kerumunan orang yang menyaksikan kecelakaan tersebut.


"Maaf, kalian tidak boleh melewati pembatas ini!," ucap petugas kepolisian.


"Kami harus kesana pak, korban kecelakaan itu adalah putra putri kami!" ucap Hendra.


"Ya pak, kita harus tahu bagaimana keadaan mereka!," timpal Bagaskara.


Polisi tersebut langsung memberikan mereka izin untuk masuk ke pembatas polisi.


Bagaskara dan Hendra begitu syok melihat Bryan dan Aya tergeletak lemah dengan bersimbah darah. Mereka segera ikut masuk kedalam ambulance.


"Maaf kalian siapa?!," tanya dokter yang tengah menangani Bryan dan Aya.


"Kami adalah orang tua mereka, bagaimana keadaan putra ku?," tanya Bagaskara begitu khawatir.


"Putra Anda mengalami pendarahan yang serius di bagian kepalanya. Kita harus bergegas untuk menyelamatkan nyawa putra Anda," ucap dokter membuat Bagaskara begitu syok bukan main.


"Kalau begitu ayo dok kita harus cepat, Kau harus menyelamatkan nyawa putra ku," ujar Bagaskara dengan kepanikannya.


Sementara di dalam ambulance satunya, Hendra menanyakan hal yang sama kepada dokter yang menangani kondisi Aya putrinya.


Dokter juga mengatakan bahwa Aya pun mengalami hal yang serius. Dan harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Jadi mereka harus cepat membawanya menuju ke rumah sakit.


Kini kedua ambulance tersebut segera melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit. Sementara Bagaskara dan Hendra ikut masuk menemani putra-putri mereka.


Bagaskara juga sudah menelpon supirnya untuk pulang ke rumah membawa baby Bintang dan Galaxy bersama kedua pengasuhnya.


Dan kini baby Bintang dan Galaxy pun tiba-tiba menangis dengan begitu kencangnya. Hingga membuat Lusi dan Sari pun berusaha untuk menenangkan kedua baby Bintang dan Galaxy.


Mungkin baby Bintang dan Galaxy dapat merasakan bahwa kedua orang tuanya tengah berjuang antara hidup dan mati mereka.


"Sayang, jangan menangis, Nany tahu kalian pasti bisa merasakan bahwa orang tua kalian sedang berjuang. Kalian jangan menangis, Nany yakin mereka adalah orang-orang yang kuat." Lusi menitihkan air mata sambil berusaha untuk menenangkan baby Bintang, begitu juga dengan Sari.


Mereka pun mendoakan keselamatan Tuan dan Nona nya itu.


***


Sampai di rumah sakit, para dokter segera menangani kondisi Bryan dan Aya. Sedangkan Bagaskara dan Hendra menunggu dengan begitu cemas tentang kondisi keduanya.


Hingga salah satu dokter pun keluar. Hendra dan Bagaskara pun langsung menghampiri dokter tersebut untuk mengetahui pastinya keadaan Bryan dan Aya.


"Bagaimana kondisi anak dan menantu kami dokter?," tanya keduanya serempak.


Dokter nampak menghela nafasnya panjang, " untuk pasien wanita, beliau mengalami patah tulang di kakinya, namun masih bisa pulih meskipun harus bersabar. Tapi pasien mengalami pendarahan dan menyebabkan keguguran, dan kami harus segera melakukan kuretase untuk menyelamatkan ibunya.


Hendra dan Bagaskara terkejut, pasalnya mereka tidak mengetahui tentang kehamilan Putri dan menantunya itu.


"Apa dok, jadi putriku hamil, dan sekarang keguguran?."


"Ya, Tuan." Dokter menganggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan putra saya dok?," tanya Bagaskara.


"Untuk pasien pria, beliau mengalami pendarahan hebat di otaknya, dan kami harus segera melakukan operasi segera Tuan," ucap dokter.


"Apa?!, Dokter lakukan yang terbaik, tolong selamatkan putraku," ucap Bagaskara terlihat nampak begitu sedih.


"Iya dok selamatkan menantu saya," imbuh Hendra.


"Tapi Tuan, operasi ini bisa membuat dua kemungkinan yang terjadi pada putra Anda," ucap dokter.

__ADS_1


"Maksud dokter?."


"Kemungkinan besar yang terjadi, mungkin setelah operasi, putra Anda bisa mengalami amnesia, bisa juga operasi ini akan gagal. Tapi kami akan tetap melakukan yang terbaik untuk putra Anda." Ucap dokter begitu ambigu.


"Tidak dok, Anda harus bisa menyelamatkan putra saya!. Saya akan membayar berapapun biayanya asalkan dokter bisa membuat putra saya kembali seperti semula," ucap Bagaskara yang sudah begitu kalut mendengar penuturan dokter.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk putra Anda Tuan. Kalau begitu Tuan harus menandatangani surat prosedur untuk operasi besar ini Tuan," ucap dokter.


Bagaskara begitu syok mendengar penuturan dokter, namun dia juga ingin putranya tetap hidup. Jadi iapun harus mengambil sebuah keputusan.


"Baiklah dok, saya akan menandatangani surat prosedur itu," ucap Bagaskara. Iapun segera mengikuti dokter untuk menandatangani surat prosedur tersebut.


Setelah menandatangani surat prosedur operasi, para dokter segera melakukan operasi pada cidera kepala Bryan.


Sementara Bagaskara dan Hendra pun berdoa untuk keselamatan putra dan menantunya itu.


Adrian dan Lisa berjalan terpogoh-pogoh di rumah sakit untuk mengetahui bagaimana keadaan kakak sepupunya dan istrinya.


Mereka terkejut saat mendengar berita kecelakaan tersebut dari Lusi.


"Bagaimana keadaan kak Bryan Paman?," tanya Adrian saat melihat Bagaskara dan Hendra berada di depan ruang operasi.


Bagaskara menceritakan tentang semua yang terjadi. Hingga membuat Lisa menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya. Ia begitu iba dengan semua yang telah menimpa keluarga sahabatnya itu.


Mereka pun saling berdoa untuk keselamatan keluarga sahabatnya dan kelancaran operasi Bryan.


Hingga satu jam lebih berlalu, dokter keluar dari ruang operasi tersebut. Hingga membuat semuanya menghampiri dokter dan menanyakan perihal kelancaran operasi tersebut.


"Bagaimana operasinya dok, dan bagaimana keadaan putra saya?," tanya Bagaskara tak sabar.


"Operasi berjalan dengan lancar Tuan, tapi kita akan tetap memantau bagaimana kedepannya dengan kondisi putra Anda. Semoga saja kemungkinan yang saya sebutkan tadi tidak terjadi," ucap dokter.


Semua orang sedikit bernafas lega mendengarnya.


"Kalau begitu saya permisi Tuan," ucap dokter.


Dokter menganggukkan kepalanya dan segera pergi dari sana.


"Kalau begitu saya akan menemani Aya,Tuan Bagaskara. Aku takut bila dia sadar, pasti akan menanyakan tentang suaminya." Ucap Hendra.


"Ya, Kau benar. Pergilah temani menantuku, Aku akan menyusul mu nanti Hendra," ucap Bagaskara dan di angguki oleh Hendra.


Hendra segera menemui putrinya yang kini tengah di rawat di ruang rawat intensif. Setelah dokter telah mengkuretase kandungannya, Aya belum tersadar sampai saat ini.


***


Keesokan harinya


Hendra masih setia menemani putrinya yang masih setia memejamkan matanya.


Ya, sejak kemarin, Aya belum tersadar juga. Hingga perlahan mata itu mulai bergerak-gerak, pertanda bahwa Aya akan segera tersadar.


"A-ayah," ucap Aya begitu lemah. Pertama kali yang ia lihat adalah ayahnya.


Hendra pun begitu bahagia putrinya yang kini telah sadar. "Nak, Kau sudah sadar?, Syukurlah," ucapnya tersenyum menatap Aya. Lalu tangannya meraih satu gelas air putih di samping nakas.


"Minumlah nak," ucapnya seraya meminumkan air putih tersebut kepada putrinya. Aya perlahan mulai meneguknya.


Setelah di rasa cukup, Hendra kembali menaruh air putih tersebut kembali ke tempatnya.


Aya pun tiba-tiba saja kembali teringat akan kejadian kecelakaan tersebut, hingga membuatnya menjerit memanggil nama suaminya.


"Bryan...!," Teriaknya.


"Nak Kau kenapa, Kau harus tenang nak," ucap Hendra berusaha membuat putrinya Tenang.

__ADS_1


Namun Aya semakin mengingat kejadian kecelakaan tersebut, matanya menitihkan air matanya. Ia mengingat suaminya yang bersimbah darah.


"Ayah, di mana suamiku?!, Dimana dia ayah?! Katakan kalau dia selamat, katakan dia tidak apa-apa ayah?!," tanya Aya begitu tak sabar.


"Suamimu selamat nak, dia tidak apa-apa. Kau harus tenang, kondisimu masih lemah nak," ucap Hendra begitu tenang. Ia tidak ingin putrinya syok bila mengetahui kenyataan tentang suaminya.


"Benarkah ayah, Aku ingin bertemu dengannya yah, antarkan Aku untuk bertemu dengan suamiku," pinta Aya.


"Kau boleh menemuinya setelah kondisimu stabil," ucap Hendra.


Aya teringat akan sesuatu. "Ayah, bagaimana dengan calon anakku?," tanya Aya begitu ingin tahu.


Hendra menundukkan kepalanya dan menghela nafasnya. Rasanya ia begitu tidak tega untuk memberi tahu putrinya bahwa janin yang ada di perut Aya sudah tiada.


"Ayah, jawab ayah!," Kata Aya dengan tak sabar. Ia sudah dapat menebak dengan melihat raut wajah sang ayah.


"Maaf nak, tapi janin dalam kandungan mu tidak dapat di selamatkan," ucap Hendra lirih.


Aya menangis sejadinya, seharusnya calon anaknya menjadi hadiah ulang tahun untuk suaminya. Tapi Tuhan berkata lain. Tuhan begitu sayang dengan keluarga kecilnya, hingga memberikan cobaan kepada keluarga kecilnya.


Menolak pun tak akan bisa, karena Tuhanlah yang memiliki kuasa untuk semua umatnya. Yang Aya harus lakukan adalah dengan ia harus ikhlas menerima setiap ujian dan cobaan yang Tuhan berikan.


Hendra memeluk putrinya, iapun begitu sedih melihat cobaan yang datang kepada keluarga kecil putrinya itu.


"Menangis lah nak, mungkin dengan menangis Kau bisa menjadi lebih lega," ucap Hendra mengusap lembut kepala putrinya.


"Tapi ayah, kenapa ini begitu berat. Baru saja kami merasakan kebahagiaan, kini Tuhan telah mengambilnya begitu cepat," ucap Aya dengan isaknya.


"Kau harus yakin bahwa rencana Tuhan akan indah pada waktunya. Mungkin ini adalah jalan mu dan keluarga kecil mu untuk menuju ke keluarga yang lebih bahagia nantinya. Kau harus ikhlas nak." Hendra berusaha untuk menenangkan putrinya.


"Aku membutuhkannya ayah, Aku membutuhkan suamiku saat ini. Ayah, kumohon antar Aya untuk bertemu dengan suamiku," pintanya kembali.


Hendra kembali terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada putrinya bahwa saat ini suaminya belum tersadar.


"Kenapa ayah diam saja yah, ayo antar Aya menemui Bryan sekarang juga." Aya terus saja bersikeras.


Ia segera melepaskan pelukannya dan hendak mencoba untuk turun melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan suaminya. Namun, Aya tak dapat menggerakkan kaki kanannya sama sekali. Dan itu membuatnya begitu panik.


"Ayah kenapa kaki kananku tidak bisa digerakkan?," Ucap ayah begitu panik.


"Tenanglah nak, harus tenang. Kaki kananmu mengalami patah tulang jadi untuk sementara kau tidak bisa menggerakkan kaki kananmu." Hendra berusaha untuk menjelaskan kepada putrinya.


"Apa yah?!, Kenapa Tuhan mengujiku dengan cobaan yang bertubi-tubi yah?!."ayah kembali menangis terisak.


Disaat itu pula pintu ruangan itu pun terbuka. Di sana ada Bagaskara yang mulai melangkah memasuki ruang rawat Aya.


"Kau sudah sadar nak?, Syukurlah,"ucap Bagaskara begitu lega saat melihat menantunya itu telah tersadar.


"Papa, bayiku Pa, Tuhan telah mengambil bayiku, dan sekarang kakiku kananku juga patah dan tak bisa digerakkan pa. Di mana suamiku pa?, Aku membutuhkannya saat ini." Aya kembali menangis.


"Nak, Kau harus bersabar. Ini adalah ujian hidup. Kau pasti kuat." Bagaskara mengusap lembut kepala Aya.


"Di mana suamiku pa?, Kenapa dari tadi Aku bertanya tidak ada yang menjawabnya," Aya mulai curiga dengan ayahnya dan Papa mertuanya yang tidak menjawabnya saat menanyakan suaminya.


"Baiklah nak, kami akan memberitahumu di mana suamimu. Tapi Kau harus kuat dan bersabar menghadapi cobaan yang Tuhan berikan," ucap Bagaskara begitu lembut.


Aya mulai merasa khawatir dengan suaminya. Kenapa sedari tadi ayahnya tak menjawab pertanyaannya. Berbagai macam pikiran buruk membayangi otaknya.


Aya mendengarkan baik-baik ucapan Bagaskara mengenai kondisi suaminya.


Bagaskara pun menceritakan semua kondisi Bryan saat ini yang masih belum tersadar. Dan itu sungguh membuat Aya begitu terpuruk.


"Aku ingin bertemu dengannya pa, antarkan Aku untuk menemui suamiku pa," pinta Aya begitu bersikeras.


Bagaskara dan Hendra pun akhirnya menyerah. Mereka pun meminta izin dokter untuk membawa Aya menggunakan kursi roda menemui suaminya di ruang ICU.

__ADS_1


***


Mau tak tamat kan genks, untuk cerita Aya dan Bryan 😔😔.


__ADS_2