
Kini Eve memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di kampusnya dulu. Sementara Ax, ia juga sudah pindah kuliah di sana. Namun kuliahnya tinggal satu semester lagi.
Pagi ini mereka berangkat bersama menuju ke kampus. Sementara Bintang berangkat duluan untuk menjemput kekasihnya.
"Sayang, nanti di kampus jangan dekat-dekat dengan seorang pria. Kau tidak boleh genit," ujar Ax.
"Kak, kenapa setelah kita menikah kak Ax semakin bersikap posesif padaku?. Bukankah dulu kakak selalu bersikap biasa saja saat Aku bersama siapa saja?" Tanya Eve heran.
"Tentu saja, dulu Aku hanya bisa menahan marah dan cemburu saat Kau berbicara ataupun tersenyum kepada pria lain. Kalau sekarang berada, Kau adalah istri ku. Dan Aku berhak untuk melarang mu sekarang," jelasnya begitu bangga.
"Hais, Kau terlalu berlebihan kak. Aku tidak pernah menyukai ataupun mencintai pria lain selain dirimu, jadi Kau tenang saja," tukas Eve dengan ekspresi wajah yang begitu jengah.
"Bagus, pokoknya Kau tidak boleh berbicara dengan seorang pria manapun, apalagi menatapnya. Jangan!" Tegas Ax kembali.
"Iya-iya," jawab Eve jengah.
Hingga mobil mereka pun tidak berapa lama kemudian sampai di kamus mereka.
Eve melihat dari kaca jendelanya bahwa Divya juga tengah memarkirkan mobilnya di sampingnya. Eve segera membuka sit belt nya berniat hendak turun dan menghampiri Divya.
Sementara Ax juga membuka sit belt nya. "Sayang Aku akan...." Ucapan Ax terhenti saat menyadari Eve yang sudah lebih dulu keluar dari mobilnya.
Ia pun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang begitu girang saat melihat Divya.
Ax segera keluar dari mobilnya dan menghampiri kedua gadis yang menurutnya begitu konyol bila sedang bersama.
"Kak Di, bagaimana kelanjutan hubungan kakak dengan kak Sean?" tanya Eve begitu ingin tahu.
Divya mengerutkan keningnya heran melihat Eve yang menanyakan hubungannya dengan Sean. Divya berpikir bagaimana Eve bisa mengetahuinya sedangkan ia tidak memberitahu kepada siapapun.
"A-apa maksudmu Eve?" Divya berpura-pura tidak tahu.
"Kak Di, bukankah kalian sudah resmi menjadi pasangan kekasih?" tanya Eve seraya mencolek lengan Divya.
"Eve, bagaimana Kau bisa mengetahuinya, apa kakakmu yang mengatakannya kepada mu," tanya Divya terkejut.
"Tentu saja Aku mengetahuinya, Aku kan waktu itu sempat memeluk kak Sean sebelum memasuki pesawat. Jadi Aku bisa mengetahui semuanya hanya dengan memeluk kak Sean," ucap Eve membuat Divya tidak mengerti akan ucapan Eve.
"Sebenarnya apa yang Kau katakan Eve, Aku tidak mengerti," ucap Divya menggaruk tengkuknya.
Eve teringat bahwa Divya tidak mengetahui tentang kelebihan yang ia miliki. Akhirnya Eve pun mengalihkan pertanyaannya itu.
"Ah, Aku hanya asal menebak saja kak, karena Aku lihat Kau dan kak Sean sangat serasi," ucap Eve tersenyum canggung.
Divya mengambil nafasnya. "Baiklah Eve, sebenarnya kita memang sudah jadian," ucap Divya akhirnya. Lagipula untuk apa dirinya menutupi hubungannya dengan Sean.
Walaupun tidak ada perasaan di antara mereka, setidaknya mereka adalah pasangan kekasih dalam istilah kata.
"Apa?!, Kau dan Sean berpacaran?" Ax menimbrung percakapan kedua gadis di depannya itu.
Hingga keempat mata tersebut menatap ke arah Ax.
"Memangnya kenapa?, dia setuju kalau tidak akan ada cinta di antara hubungan kita. Makanya Aku memutuskan untuk menjadi kekasihnya," tutur Divya membuat Eve dan Ax pun saling berpandangan.
"Kak Di, apa Kau sedang kehabisan obat?. Sepertinya kakak harus memeriksakan diri kakak ke dokter," ucap Eve.
Divya tersentak mendengar ucapan Eve yang mengatakan obat dan dokter. "Me-memangnya ke-kenapa Eve?" Divya tampak tergagap.
Namun Eve langsung tertawa terbahak setelah perkataannya barusan.
"Maksud Eve,kak Divya perlu ke dokter cinta. Kalau wanita lain menginginkan sebuah cinta dari hubungan antara kekasih. Tapi kak Di malah tidak menginginkan cinta. Kak Di lucu." Eve terus saja tertawa mengingat Divya yang tidak menginginkan cinta.
Sementara Ax hanya menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan di antara istrinya dan Divya.
"Yasudah sayang, Aku akan mengantar mu ke kelas mu," ucap Ax dan langsung menggenggam tangan Eve dan menariknya.
"Kak Di, Aku duluan...!" Eve berteriak karena Ax sudah membawanya berjalan jauh.
Sementara Divya menatap kepergian dua pasang baru tersebut dengan sendu.
"Aku pun juga menginginkan sebuah cinta. Tapi bila itu hanya akan menyakiti seseorang nantinya,maka Aku memilih untuk tidak mencintai dan dicintai." Divya berkata dengan begitu sendu.
Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya yang sebentar lagi akan di mulai.
Divya memasang wajahnya dengan mode tersenyum. Selalu senyum itu yang terukir di wajahnya..
***
Satu Minggu berlalu.
Sean tengah berada di Indonesia saat ini. Namun ia belum memberitahu Eve bahwa saat ini ia berada di sana. Ia menyewa sebuah apartemen di kota J.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Sean berada di Indonesia. Bukan juga untuk menemui Divya yang kini sudah berstatus menjadi kekasihnya.
Sebenarnya Sean menganggap semua itu konyol. Makanya ia sembunyi-sembunyi berada di sana. Karena sebenarnya ia berada di sana karena kerjasamanya dengan perusahaan yang kebetulan berada di Indonesia.
Namun Sean juga memutuskan untuk menetap beberapa hari atau mungkin Minggu untuk menetap di Indonesia. Sean ingin menikmati liburan di sana setelah sibuk menjalankan pekerjaannya yang begitu melelahkan.
"Ron, Kau handle pekerjaan di sana. Mungkin Aku akan menetap beberapa waktu di sini. Aku membutuhkan liburan seperti mu juga Ron. Dan untuk kerjasama dengan perusahaan lain Aku serahkan padamu," ucap Sean pada asistennya yang berada di AS.
Lalu iapun menutup panggilan tersebut.
Sean memutuskan untuk berkeliling di kota tersebut. Ia ingin menikmati pemandangan malam sembari mencari tempat makan yang ia inginkan.
Sean berpikir ia akan menghubungi Eve lusa. Ia takut bila ia memberitahunya, Divya pasti akan terus menempel padanya.
Sean menyusuri jalanan malam dengan hingar-bingar yang nampak dari kaca jendela mobilnya. Karena saat ini masih pukul 19.30 WIB.
Sean melihat ada sebuah warung di pinggir jalan yang menyita perhatiannya. Ada seseorang yang begitu ia kenal berada di sana.
Sean menghentikan mobilnya menepi di sudut jalan. Memperhatikan seseorang itu yang saat ini nampak tengah berbincang dengan seseorang di depannya.
Sean menyipitkan matanya saat melihat lawan bicara seseorang yang ia perhatikan tersebut. Karena lawan bicara seseorang yang ia perhatikan nampak tidak begitu jelas karena tertutupi sebagian tempat warung makan sederhana itu.
Entah mengapa rasa penasaran membuatnya turun dari mobilnya. Namun sebelum turun, Sean mengambil sebuah masker agar seseorang yang ia perhatikan itu tidak mengenalinya.
Sean kini tengah berada di warung makan sederhana tersebut dan hendak melangkah masuk. Namun penjual warung makan tersebut memanggilnya dan bertanya. Untungnya Sean mengerti perkataan bahasa Indonesia, walaupun ia masih susah untuk berkata seperti mereka.
"Mau pesan apa Den?" tanya pemilik warung makan tersebut.
Sean merasa bingung ia mau menjawab. Ia tidak tahu menu makanan di tempat tersebut. Sean pun akhirnya menunjuk ke arah gambar ayam geprek yang ada di sana.
"Saya mau itu," ucapnya kikuk.
Namun pemilik warung makan tersebut mengerti bahwa pembelinya kali ini adalah seorang bule. Karena melihat postur tubuh Sean yang tinggi dan cara bicara yang nampak tidak fasih.
"Baiklah Den, silahkan duduk di dalam," perintah pemilik warung makan itu.
Sean akhirnya melangkah masuk ke dalam sana.
Ia dapat mendengar dengan jelas suara orang yang ia perhatikan itu namun tertawa di sana bersama seseorang di depannya yang ternyata adalah seorang pria yang lumayan tampan. Dan saat ini tersenyum menatap gadis yang tengah tertawa di depannya.
Sean pun duduk tepat di belakang gadis itu yang tak lain adalah Divya. Memperhatikan interaksi antara pria di depannya yang terus tersenyum menatap Divya.
***
Bukan kesal karena cemburu, tapi kesal karena karena merasa Divya mempermainkannya.
Hingga makanannya pun kini telah di hidangkan di meja makan di depannya.
"Silahkan Den"
Sean hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu ia menatap makanan di depannya. Sean berpikir kalau ia melepaskan maskernya, mungkin Divya akan mengenalinya.
Sean tidak ingin kalau Divya menganggapnya tengah menguntitnya. Karena Sean hanya penasaran saja dengan pria di depan Divya.
Namun perutnya merasa begitu lapar saat ini. Melihat makanan di depannya yang begitu menggiurkan membuatnya menelan ludahnya.
Hingga Sean mulai melihat Divya dan pria itu mulai meninggalkan tempat itu karena sudah selesai makan.
Sean merasa lega karena Divya pergi dari sana. Akhirnya ia bisa membuka maskernya dan menyantap makan malamnya. Walaupun sebenarnya ia begitu penasaran siapa seorang pria yang bersama dengan Divya tadi.
Namun rasa laparnya membuatnya kembali fokus pada makanan di depannya.
Ia pun akhirnya membuka maskernya dan mulai menyantap makan malamnya.
Tapi baru suapan pertama, Sean merasa lidahnya seperti terbakar. Rasa pedas membuat keringat mengucur deras di dahinya.
Sean langsung meminum minuman yang bernama es teh manis di sampingnya. Kini rasa dingin membuat nyaman lidahnya.
Tapi ia kembali penasaran dengan rasa pedas yang baru saja ia rasakan. Hingga ia pun kembali memasukan suapan untuk kedua kalinya, ketiga kalinya dan seterusnya hingga makanannya tandas.
Sean baru merasakan sensasi makanan yang masih baru di lidahnya. Tapi ia menyukainya. Walaupun Sean harus memesan minuman lagi untuk meredam rasa pedasnya.
***
Keesokan harinya Sean memutuskan untuk menemui Eve.
Sean sudah mengetahui bahwa Eve saat ini berada di kampusnya. Dan ia pun segera melajukan mobilnya ke sana.
Sesampainya di kampus Eve, Sean menajamkan pandangannya menatap di mana keberadaan adiknya itu.
__ADS_1
Karena tak menemukannya, Sean pun memutuskan untuk memasuki kampus tersebut.
Banyak sekali pasang mata yang menatapnya. Apalagi para wanita disana menatap kagum Sean yang begitu tampan dan yang pasti ia adalah seorang bule. Hingga membuat para wanita itu klepek-klepek di buatnya.
Hingga Sean akhirnya menemukan sosok yang ia cari tengah berbicara dengan Ax dan seorang gadis yang membelakanginya, namun Sean hafal dengan postur tubuh tersebut.
Sean memakai kacamata hitamnya berjalan mendekati Eve di sana.
Namun belum sampai Sean mendekat ke arah Eve. Eve sudah memanggilnya dari sana dan menatapnya dengan tatapan senangnya.
"Kak Sean..." Eve begitu girangnya hingga ia pun berlari menghampiri Sean.
Eve memeluk Sean karena merindukan kakaknya itu. Lalu iapun bergelayut di lengan Sean dan berjalan menghampiri suaminya.
Sementara gadis yang membelakangi Sean ternyata adalah Divya.
Sementara para wanita yang memperhatikan Sean merasa begitu iri kepada Eve karena bisa memeluk Sean sesukanya.
"Kak Sean, kapan Kau datang?, kenapa tidak memberiku kabar agar Aku menjemputmu," rengek Eve.
Ax langsung menarik Eve yang bergelayut di lengan Sean. Rasanya ia tidak rela istrinya bermanja-manja dengan Sean.
"Kau harus di dekat ku Eve." Ax menatap Eve tajam.
Sementara Sean hanya menggelengkan kepalanya melihat kebucinan Ax.
"Hai pacar, akhirnya Kau datang. Aku yakin itu karena Kau merindukan ku kan?" Divya menaik turunkan kedua alisnya.
Melihat hal itu membuat Sean mengerutkan keningnya. "Dasar gadis aneh," ucapnya sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku ke Indonesia karena ada urusan pekerjaan. Bukan karena merindukan gadis aneh seperti mu," cibir Sean membuat Divya mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa sih, pacar tidak jujur saja. Aku tahu kok Kau sebenarnya merindukan ku. Ini malah pakai alasan pekerjaan," gerutu Divya menatap Sean.
"Kalian memang pasangan yang serasi," ucap Eve terkikik. Hingga membuat Sean dan Divya menatap ke arahnya.
"Aku terpaksa menjadi kekasihnya karena dia terus saja mendesak ku," tunjuk Sean kearah Divya.
"Aku?" Divya menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Kenapa bisa Aku?, Kau sendiri menyetujuinya, sekarang malah menyalahkan ku." Divya bersedekap karena kesal.
Namun ia juga senang karena beberapa hari nanti ia tidak akan terlalu memikirkan sesuatu yang membuatnya sedih. Karena ada Sean yang akan menjadi ia lebih bersemangat untuk menggoda pria itu.
Divya sangat menyukai saat melihat wajah kesal Sean. Seperti ada kesenangan tersendiri.
"Kakak mau berapa lama berada di Indonesia?" Eve bertanya membuat Sean dan Divya pun berhenti saling mencibir dan menatap Eve.
"Kakak akan berusaha di Indonesia untuk beberapa hari lagi Ashy. Kakak juga sudah menyewa sebuah apartemen di jalan J," ucap Sean memberi tahu Eve.
Wah kalau begitu nanti malam kakak makan malam di rumah Mama dan Papa saja. Rencananya nanti Mama mau masak banyak karena uncle Adrian dan aunty Lisa juga akan berkumpul di rumah nanti. Mau ya kak, please!" Eve berusaha membujuk Sean.
Sementara Sean berpikir keras. Karena kalau keluarga besar berkumpul, pasti Divya juga akan berada di sana.
Lalu pandangannya beralih pada Divya yang menaik turunkan alisnya seraya menatapnya.
Sean menatap horor gadis yang menurutnya aneh itu. Sean akhirnya menyetujui permintaan Eve karena merasa tidak enak dengan adiknya itu.
"Baiklah," ucap Sean membuat Eve girang.
Sementara Divya mengedipkan matanya berulang menatap Sean. Membuat Sean jengah menatapnya.
***
Malam hari di kediaman Bryan dan Aya.
Dua keluarga kini tengah asyik mempersiapkan makanan malam di meja makan. Meja yang begitu besar untuk dua keluarga tersebut.
Sementara para pria sedang berbincang di ruang tengah.
Sean merasa senang dengan keluarga tersebut. Ia juga mulai mengakrabkan diri dengan mereka. Sungguh keluarga yang bahagia menurutnya.
"Makanan sudah siap, ayo kita semua makan,"Ajak Aya kepada seluruh anggota keluarganya.
Kini mereka semua duduk di kursi mereka masing-masing. Banyak sekali makanan yang tersaji di sana hingga siapa saja yang melihatnya pasti akan menjadi lapar mata.
Namun Sean mengerutkan keningnya saat melihat Divya yang nampak pucat dan terlihat seperti kelelahan.
"Kenapa dia?" Sean berucap dalam hati menatap gadis yang menjadi kekasihnya itu.
****
__ADS_1