Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 29


__ADS_3

Bryan mengikuti mobil Adrian di belakangnya. Dalam pikirannya masih saja memikirkan hal-hal buruk yang mungkin dilakukan oleh Adrian dan Aya.


Mobil Adrian pun mulai melambat saat hampir sampai di rumah utama. Namun Bryan heran ketika melihat Aya yang keluar dari mobil Adrian.


Terlihat Aya yang kini melambaikan tangannya kepada mobil Adrian yang perlahan mulai memutar arah dan berlalu.


Melihat hal itu, Bryan langsung menghampiri Aya yang kini baru mulai melangkahkan kakinya.


Bryan menekan klakson mobilnya, sehingga membuat Aya berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Masuklah Aya." Ucap Bryan saat membuka jendela mobilnya.


Namun Aya hanya menoleh, lalu Ia kembali melanjutkan langkahnya.


Bryan terus saja mengikuti Aya dengan mobilnya. Lalu sekali lagi Bryan membunyikan klakson mobilnya.


"Aya, Apa Kau tidak mendengarkan ku?!." Bryan mulai kesal.


Namun Aya tidak mengindahkan ucapan Bryan. Iapun melihat ke arah kiri dan kanan jalan untuk menyebrang.


"Sial!, Dia mengacuhkan ku." Umpat Bryan. Lalu Ia pun melajukan mobilnya menuju ke rumah utama.


***


Bryan sudah sampai ke rumah utama lebih dulu. Ia langsung memasuki kamarnya untuk membersihkan badannya.


Sementara Aya kini juga tengah sampai di rumah utama. Aya menyeka keringat yang mulai menetes di dahinya karena Ia berjalan hampir dua ratus meter.


Tempat pertama yang Ia tuju adalah dapur, Aya merasa sangat haus saat ini. Aya mengambil gelas dan menaruhnya di atas meja. Lalu menuangkan air putih dingin dari dalam kulkas.


"Ah, lega nya," ucap Aya saat rasa dahaganya kini terbayarkan.


"Nona Apa yang Anda lakukan di sini?, Kenapa Anda begitu berkeringat, Apa Anda sedang olahraga sore?." Tanya Lusi heran melihat Aya yang nampak berkeringat.


"Tidak Lusi, Aku tadi berjalan dari ujung jalan sana menuju ke rumah." Ucapnya, lalu Aya mulai meneguk kembali sisa air putih dalam gelasnya.


"Kenapa Anda berjalan Nona, bukankah sebelumnya Anda selalu menaiki taksi?."


"Iya Lusi, sebenarnya tadi Aku pulang di antar oleh teman ku. Tapi karena dia ada urusan mendadak. Aku menyuruh nya untuk menurunkan ku di ujung jalan sana."


"Nona berjalan dari ujung jalan sana?." Lusi menatap Aya tak percaya.

__ADS_1


Aya pun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Lusi.


"Nona keren," ucap Lusi seraya mengacungkan kedua jempol nya.


"Ish, Kau itu. Seperti itu saja Kau anggap keren." Aya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Lusi


"Tentu saja itu sangat keren Nona. Anda menikah dengan pria kaya dan tampan. Tapi anda tidak sombong nona. Nona tahu, dulu Tuan Bryan memiliki seorang kekasih yang sangat sombong. Baru menjadi kekasih, tapi dia sudah bersikap bak Nona besar di rumah ini." Lusi teringat dengan kekasih Bryan yang tak lain adalah Renata.


Aya mengerutkan dahinya mendengar penuturan dari Lusi. "Kau mengenal kekasih suamiku Lusi?."


"Iya nona, dia begitu cantik. Tapi tidak secantik hatinya. Dia sering membentak kami para pelayan. Dia menginginkan ini itu tanpa memikirkan kami yang tengah istirahat dari semua kesibukan kami."


"Jadi Rena pernah ke rumah ini?." Tanya Aya.


"Dulu Nona Lena sering kemari sebelum Tuan Bagaskara pulang ke Indonesia. Tapi setelah Tuhan Bagaskara pulang ke Indonesia. Nona Rena sudah tidak pernah kemari lagi." Lusi terus mengingat yang terjadi 1 tahun lalu.


"Tuan Brayn dulu adalah pria yang begitu baik Nona, itu yang saya dengar dari para pelayan senior di tempat ini. Dan Nona Rena lah yang memberikan pengaruh buruk kepada Tuan Bryan. Makanya Tuan besar langsung turun tangan pulang ke Indonesia. Dan tiba-tiba saja Anda menikah dengan Tuan Bryan. Itu semua membuat kami terkejut, tapi kami juga senang karena Anda yang menjadi istri Tuan Bryan." Tutur Lusi membuat Aya tercekat.


Disaat Aya kembali ingin bertanya kepada Lusi, suara deheman membuat keduanya terlonjak dan terkejut. Aya dan Lusi pun menengok ke belakang.


Lusi menelan kasar ludahnya kala melihat yang tengah di bicarakan sedang berdiri bersedekap menatap ke arah mereka.


Sementara Aya, perlahan melangkahkan kakinya. Tangannya berusaha menutupi wajahnya dari samping saat melewati suaminya yang masih berdiri dengan menatapnya.


Aya menghela nafasnya lega saat sampai di kamar. "Haih, apa dia marah?." Aya berbicara pada dirinya sendiri. "Ah sudahlah,mau marah kek,mau tidak kek bukan urusan ku."


Aya segera mengambil handuk dan masuk ke dalam bathroom.


***


Setelah mandi, Aya langsung menuju meja makan karena cacing dalam perutnya sudah terus berbunyi . Terlebih berjalan saat pulang tadi mudah sekali membuat Aya lapar.


Aya terkejut karena Bryan masih berada di meja makan. Tanpa menghiraukannya Aya langsung dudu di sana dan mengambil nasi dan beberapa lauk pauk.


Saat hendak memasukkan suapan pertamanya, suara Bryan membuatnya menghentikannya.


"Apa Kau tidak akan mengambilkan makanan untuk suami mu!." Bryan menatap Aya tajam.


Aya menaruh lagi sendoknya, pandangannya menatap piring Bryan yang masih kosong.


"Apa dia belum makan?, Lalu apa yang Ia lakukan sejak tadi. Apakah dia menunggu ku?." Aya terus saja bertanya dalam hatinya.

__ADS_1


"Kau menungguku?." Pertanyaan itu akhirnya di tanyakan pada suaminya.


Wajah Bryan terlihat kesal saat ini. "Apa Kau tidak melihat bahwa Aku sudah menunggu mu dari tadi?!."


"Kau benar-benar menunggu ku?," Ucap Aya tidak percaya.


"Tentu saja Aku menunggu mu, sekarang cepat ambilkan makan malam ku!, Aku sudah sangat lapar." Perintah Bryan.


"Siapa juga yang menyuruh mu untuk menunggu ku?!." Gumam Aya, namun Ia melakukan apa yang Bryan perintahkan padanya.


"Kau mau apa." Tanya Aya pada Bryan saat mengambil lauk untuknya.


"Samakan dengan mu saja."


Aya segera mengambilnya untuk Bryan, dan meletakkannya di depan suaminya itu.


Malam itu mereka makan dengan saling diam, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berdenting memenuhi ruangan meja makan.


Usai makan malam, Bryan langsung menuju meja kerjanya karena masih ada sedikit pekerjaan yang belum terselesaikan.


Sementara Aya langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


Aya merebahkan tubuhnya di sofa, Ia tidak ingin lagi tidur di ranjang yang sama dengan Bryan. Aya takut bila nanti Bryan akan melakukannya lagi di saat dirinya sedang tidur sementara Bryan tidak pernah mencintainya. Bryan melakukannya hanya karena nafsu saja, begitulah asumsi Aya selama ini.


Perlahan Aya mulai memejamkan matanya,rasa kantuk dan lelah mulai membuatnya tertidur dengan begitu cepat.


Bryan membuka pintu kamarnya, Ia terkejut melihat Aya yang tidur di sofa. Lalu Ia pun berjalan menghampiri Aya.


Bryan menggelengkan kepalanya melihat Aya masih menggunakan kacamatanya.


"Kenapa Kau tidur di sofa, bukankah Aku sudah menyuruh mu untuk tidur di kasur?." Ucapnya seraya melepaskan kacamata Aya.


Bryan menatap wajah Aya dengan mengusap wajahnya kasar. Selalu saja junior nya menegag saat dirinya menatap wajah Aya yang tanpa kacamata.


"Sial!." Umpat Bryan. Namun Ia tetap mengangkat tubuh Aya menuju kasur empuknya. Bryan tahu tidur di sofa pasti membuat tubuh Aya sakit saat bangun pagi.


lalu Ia membaringkan tubuhnya di samping Aya, Ia terus saja menahan libidonya saat ini.


Matanya terus saja menatap wajah Aya, hingga pandangannya tertuju pada bibir merah Aya yang terus saja menggodanya.


***

__ADS_1


__ADS_2