Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 51


__ADS_3

Seorang gadis cantik nan manis itu masih terlelap di kasurnya yang begitu besar dan mewah. Kelopak matanya bergerak-gerak pertanda gadis itu akan terbangun dari tidurnya.


Hingga mata indah itu pun terbuka sempurna, perlahan mulai mengerjapkan matanya. Dan menatap keberadaannya saat ini yang menurutnya terasa begitu tidak asing baginya.


"Kenapa Aku berada di sini?, Ini pasti ulah Papa," ucap gadis itu kesal. Iapun mulai turun dari tempat tidurnya dan menapakkan kakinya di lantai.


Gadis itu terus melangkah, menuju ke arah yang akan Ia tuju. Ia begitu hafal dengan sudut ruangan yang ada di rumah itu.


Dan akhirnya langkah kakinya pun terhenti di depan sebuah pintu.


Dengan menghela nafasnya, Ia mulai membuka pintu tersebut dengan wajah marahnya.


Di saat pintu itu terbuka, nampak terlihat seorang pria paruh baya yang sedang berkutat dengan laptop di depannya. Mendengar pintu ruang kerjanya terbuka, pria paruh baya tersebut menatap ke arah sosok gadis yang sangat Ia rindukan beberapa tahun ini.


"Putri Papa sudah bangun rupanya," ucap pria paruh baya itu kepada gadis yang ternyata adalah putrinya.


"Papa kenapa menculik ku?, Lisa tidak ingin kembali lagi ke rumah ini Pa, Apa Papa tidak mengerti?," ujar Lisa begitu kesal dengan Papanya.


"Nak apa Kau tidak ingin memeluk papamu ini?, Papa sangat merindukanmu," ucap Agra begitu sendu menatap putrinya yang masih sangat marah padanya.


Sementara Lisa hanya membuang wajahnya kala melihat papanya yang menatapnya sendu. Sebenarnya Lisa sangat merindukan sang Papa. Namun Ia begitu membenci Papanya saat mengingat penghianatan papanya terhadap almarhum mamanya.


Lisa meyakini bahwa dulu mamanya meninggal karena Papanya yang menikah lagi. Jadi Ia begitu membenci Papanya dan wanita yang di nikahi oleh papanya itu.


"Maaf Pa, tapi Lisa tidak sekalipun merindukan Papa. Jadi biarkan Lisa pergi Pa, Lisa ingin mencari kebahagiaan Lisa sendiri," ucap Lisa dan hendak pergi dari sana.


"Apa Kau mau membiarkan calon anak yang ada dalam perut mu itu terlantar?," ucap Agra menghentikan langkah Lisa.


Lisa terdiam, Ia yakin selama ini papanya pasti sudah mengirim seorang mata-mata untuk mengikutinya.


"Apa kau akan membiarkan cucu Papa tidak terurus?, Papa tahu Kau begitu membenci Papa. Tapi Papa mohon biarkan Papa ikut andil dalam membesarkan calon cucu Papa nanti. Papa juga akan merahasiakannya dari publik. Papa juga akan membantu mu menemukan siapa ayah dari anak dalam perutmu itu." Agra berusaha untuk menahan putrinya agar tidak pergi lagi.


Lisa memejamkan matanya, tadinya Ia tidak ingin lagi bertemu dengan seseorang yang sudah memperkosanya waktu itu. Tapi saat mengetahui bahwa dirinya tengah hamil akibat kejadian satu malam itu, Ia berusaha mencari tahu siapa pria itu. Namun Ia tidak menemukan apapun.


Tawaran Papanya seolah memberinya jalan untuk menemukan siapa pria yang sudah merenggut kesuciannya dan memberikannya seorang calon anak dalam perutnya.


Lisa membalikkan badannya menatap sang Papa.


"Baiklah, Aku akan tinggal di sini, tapi Aku tetap tidak akan menganggap wanita itu sebagai ibuku. Karena ibuku hanyalah Mama Wina," tegas Lisa.


"Baiklah, papa tidak akan memaksamu untuk menganggap Santi sebagai Mama mu. Asalkan Putri Papa tidak meninggalkan Papa lagi," ucap Agra menyetujuinya.


Biarlah putrinya belum bisa menerima istri keduanya sebagai Mamanya. Yang terpenting adalah putrinya itu tidak lagi pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


***


Lima bulan kemudian


Aya merasa sedikit takut saat mendekati hari perkiraan lahir (HPL) sang calon buah hati. Setiap malam Ia selalu susah untuk tidur. Bahkan Ia sering begadang karena merasa begitu gelisah.


"Sayang, ayo tidurlah, Kau harus tidur agar nanti saat Kau melahirkan anak-anak kita Kau memiliki tenaga," ucap Bryan yang merasa sangat mengantuk.


Bryan selalu setia menemani Aya di malam hari saat istrinya itu sulit memejamkan matanya. Dan hari ini Ia pun tak lelah menemani istrinya. Padahal tadi di kantornya Ia memiliki banyak pekerjaan.


"Baiklah sayang, Aku akan mencoba untuk tidur." Aya pun berusaha untuk memejamkan matanya. Bryan segera memeluk tubuh istrinya dan mengusap kepalanya pelan, agar istrinya itu lekas tertidur.


Dan alhasil perlahan Aya mulai tertidur dan diikuti oleh Bryan.


Pagi harinya


Bryan sudah bersiap untuk ke kantor, Ia menatap istrinya yang masih terlelap. Di usapnya perut istrinya yang sudah membesar itu dan mengecupnya.


"Papa ke kantor ya anak-anak Papa," ucapnya.


Lalu Bryan mengecup kening istrinya. Setelahnya Ia pun mulai berjalan keluar dari kamarnya.


"Tuan, hari ini Nona Aya ada jadwal pemeriksaan kandungannya. Apakah Tuan nanti ada waktu untuk mengantarkan Nona?," tanya Lusi saat Bryan menyantap sarapan paginya.


Bryan terlupa, ternyata hari ini Ia ada meeting pagi dan siang. "Nanti Kau temani istri ku Lusi, Aku akan menyusul nanti," ucap Bryan.


Setelah menghabiskan sarapannya, Bryan segera beranjak menuju mobilnya dan melajukannya menuju kantor.


Aya mulai terbangun dari tidurnya kala mendengar ponselnya yang berdering.


Iapun segera mengangkat panggilan dari sebuah nomor yang tidak di kenal.


"Halo," ucap Aya saat mengangkat panggilan tersebut.


Namun tak ada Jawaban di sana, hingga Aya terus bertanya siapa yang menelponnya tetap saja tidak ada jawaban. Karena kesal Aya pun menutup panggilan tersebut.


Namun beberapa saat kemudian ponselnya kembali bergetar, kali ini sebuah pesan singkat di ponselnya.


Aya pun segera membuka pesan tersebut, namun Ia pun begitu ketakutan saat membaca sebuah pesan singkat tersebut.


"Siapa yang mengirimkan pesan ini?!, Aku tidak ingin kehilangan calon anak-anak ku." Aya pun langsung menaruh ponselnya asal. Ia mencoba untuk tidak terpengaruh dengan pesan tersebut.


"Tidak akan terjadi apa-apa dengan ku dan bayiku, ya tidak akan terjadi apa-apa." Aya berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Iapun mulai mandi untuk menghilangkan rasa takut akibat pesan tersebut.


Setelah mandi, Aya bersiap untuk pergi ke dokter kandungan tempat biasanya ia periksa.


"Lusi, apa Kau sudah siap?" tanya Aya.


"Sudah Nona, oh ya, tadi Tuan mengatakan akan menyusul Nona."


"Benarkah?, Kalau begitu ayo kita berangkat," ajak Aya, Ia begitu senang saat mendengar Bryan akan datang dan menemaninya nanti.


Tak berapa lama kemudian, mobil mereka sampai di depan rumah sakit tempat dokter kandungan langganannya praktek.


Aya pun mulai melangkah turun dari tempat parkiran mobilnya.


"Tunggu saya Nona," ucap Lusi saat melihat Aya yang sudah mulai duluan melangkah.


Aya berhenti melangkah dan terkekeh menatap Lusi, karena Ia sendiri sampai terlupa kalau sebenarnya Lusi ikut dengannya. Ia begitu antusias untuk melihat perkembangan calon bayinya.


"Maafkan Aku Lusi, Aku sampai melupakan mu," ucapnya masih terkekeh.


Namun dari arah lain ada sebuah mobil yang melaju begitu cepat tepat ke arah Aya.


Lusi yang melihatnya pun berteriak memanggil Nona nya.


"Nona awas!!!," teriaknya.


Aya pun terkejut melihat ada mobil yang melaju kencang ke arahnya.


"Aaah..."


Wusss..." Sialan!, Aku gagal menghabisinya!," Ucap seseorang dari dalam mobil tersebut.


Sementara seseorang menarik Aya kearahnya dan menyelamatkannya.


"Anda tidak apa-apa Nona," ucap perempuan yang terlihat juga tengah hamil tua.


" Tidak, Aku tidak apa-apa, terimakasih Nona," ucap Aya masih memegangi dada dan perutnya. Ia masih terkejut dengan yang terjadi barusan.


"Nona, Anda tidak apa-apa?," tanya Lusi yang langsung menghampiri Aya, Ia begitu khawatir dengan Nona mudanya itu.


"Aku tidak apa-apa Lusi, Nona ini sudah menyelamatkan nyawa ku," ucap Aya menatap perempuan itu.


"Lisa Nona,nama saya Lisa," ucapnya memperkenalkan dirinya. "Sepertinya mobil itu sengaja Nona, ini area parkir, dan tidak mungkin ada mobil yang mengebut di area ini," ucap Lisa kembali.

__ADS_1


Aya kembali berpikir, mungkinkah pesan yang Ia terima tadi pagi ada hubungannya dengan hal ini?.


***


__ADS_2