Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 105 (season 2)


__ADS_3

Perhatian Sean masih berpusat pada Divya yang masih nampak pucat di kursinya. Lalu ia pun melihat Divya yang mulai berdiri dan mengatakan kepada semuanya bahwa ia ingin ke toilet.


Entah mengapa rasa penasaran membuat Sean ingin tahu apa yang sebenarnya membuat gadis itu menjadi pucat.


Namun pertanyaan-pertanyaan dari keluarga besar itu padanya membuatnya teralihkan. Sean pun menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Kepadanya.


Kini ia rasanya seperti memiliki sebuah keluarga yang bahagia. Dan Sean menyukainya.


Pantas saja Eve tidak ingin berpisah dari keluarga tersebut. Sean merasa keluarga ini begitu hangat dan menyenangkan.


Mereka pun mulai menyantap makanan yang sudah para wanita masak sedari tadi.


Hingga pujian-pujian pun berhamburan keluar dari mulut para pria untuk masakan yang mereka nikmati itu.


"Masakan istriku memang sangat luar biasa," ucap Bryan setelah menandaskan makanannya.


"Hei, masakan istriku lah yang lebih enak," tandas Adrian tak mau kalah.


"Sudah kalian ini sudah tua, jangan terus berdebat seperti ini!. Kalian ini seperti anak kecil saja!"


Aya berusaha untuk menengahi ucapan kedua pria yang sudah tak muda lagi itu agar tidak terus berdebat.


Sean ingin tertawa mendengar percakapan yang mengundang perdebatan itu.


Tapi pandangannya teralihkan pada sosok gadis yang terus saja mengganggunya. Yaitu Divya.


Sean melihat Divya kini sudah tak nampak pucat lagi. Mungkinkah gadis itu nampak pucat karena menahan ingin ke toilet?, begitulah pemikiran Sean. Hingga iapun menggelengkan kepalanya karena sempat terlarut akan perasaan ingin tahunya.


Divya kini nampak sumringah dan kembali mengeluarkan kecerewetannya. Ia mulai menimbrung percakapan keluarganya dengan berbagai candaan.


Bahkan Divya terus saja menggoda Sean dan membuat pria itu nampak kesal.


"Perhatian semuanya!" Eve berbicara lantang membuat semua orang di meja makan pun memperhatikannya.


"Ada apa Eve?" tanya Bintang ingin tahu apa yang akan Eve sampaikan.


"Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting. Dan kalian harus tahu," ucap Eve membuat semua orang begitu penasaran.


"Ayolah cepat katakan sayang, apa yang ingin Kau katakan?" Aya pun juga tak sabar untuk menunggu apa yang akan Eve katakan.


"Oke Mam," ucap Eve seraya melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya.

__ADS_1


"Apa kalian tahu kalau di meja makan ini ada pasangan baru?" Eve tersenyum penuh arti menatap Sean dan Divya.


"Pasangan baru?, Apa maksudmu sayang?" Aya semakin penasaran dengan apa yang akan Eve katakan selanjutnya.


"Itu loh Mam, ada yang sudah jadian tapi tidak bilang-bilang dengan kita semua di sini," ucap Eve membuat semua orang terkejut dan penasaran.


"Siapa?, Katakan Eve?" Bintang sudah tak sabar lagi.


"Dia adalah...kak Di dan kak Sean..." Eve bertepuk tangan senang.


Namun mereka semua saling berpandangan karena masih mencerna ucapan Eve.


Sementara Sean dan Divya memberikan sebuah tatapan tajam kearah Eve. Namun tak di hiraukan sang empunya. Eve terlihat nampak tak berdosa mengatakan semua itu.


Lalu berbagai macam pertanyaan pun terlontar dari mulut semua orang. Mereka menanyakan pertanyaan bertubi-tubi kepada Sean dan Divya.


Membuat Sean dan Divya kualahan untuk menjawab pertanyaan dari keluarganya.


"Eve..........!!" Sean dan Divya pun berteriak dalam hati memanggil nama Eve.


Sementara sang pembuat onar pun kabur entah kemana.


***


Hosh...hosh... Eve terengah-engah berlari dari ruang makan tersebut.


"Sayang, kenapa Kau mengajakku kabur dari sana?. Aku masih ingin melihat ekspresi kakakmu dan Divya yang terlihat lucu itu," ucap Ax sembari tertawa.


"Sudahlah kak, lebih baik kita cari aman saja. Daripada kita mendapatkan amukan dari kak Sean dan kak Divya," usul Eve.


"Baiklah," ucap Ax setuju. "Kalau begitu lebih baik kita ke kamar saja ya sayang," ajak Ax dengan mengedipkan matanya.


"Ada apa dengan matamu sayang?. Apa ada debu yang masuk?" tanya Eve dengan polosnya. Membuat Ax melongo tidak percaya melihat istrinya yang tidak peka.


"Ah sudahlah," sarkas Ax dan langsung menggendong tubuh istrinya menuju ke kamar mereka.


"Ah! Kak, apa yang kak Ax lakukan?!" pekik Eve terkejut.


"Kita akan melakukan yang enak-enak sayang," cetus Ax dan langsung membuat Eve menelan ludahnya dengan susah. Sekarang ia mengerti dengan kata 'enak-enak' yang di maksud dengan suaminya itu.


Semburat merah terpampang jelas di wajah Eve kala itu. Rasanya ia begitu malu. "Ah, kenapa Aku tidak mengerti dengan maksud kak Ax?!" Eve merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.

__ADS_1


Hingga pun sampai di tempat untuk merasakan enak-enak yaitu ranj..ang.


Ax merebahkan tubuh Eve menatap mata cantik itu begitu dalam. Rasanya ia begitu ingin menelan bulat-bulat istri manisnya itu.


"Bersiaplah untuk merasakan yang enak-enak sayang," ucap Ax dengan suara yang begitu parau.


Kabut gairah telah membelenggunya hingga membuat libidonya naik dengan begitu derastis hanya dengan melihat semburat merah istrinya yang nampak begitu malu-malu.


Ax mulai mendekatkan wajahnya. Pandangan matanya berpusat pada bibir merah istrinya yang seakan menari-nari untuk menggodanya.


Bibirnya mulai ia tempelkan pada bibir istrinya yang begitu lembut. Rasanya seperti menikmati ice cream yang begitu manis dan lembut.


Li..dahnya menari-nari menyusuri bibir Eve yang begitu lembut dan hangat.


Li..dah Ax terus mengeksplorasi bibir Eve dengan pagutan yang begitu memabukkan bagi Eve. Ax terus saja mencecap dan menggoyangkan lidahnya di rongga mulut istrinya.


Eve terbuai dengan permainan li..dah suaminya. Sangat memabukkan baginya. Dan semua yang suaminya ciptakan, membuat sesuatu dalam dirinya begitu menggelitik dan berpusat pada intinya.


Ax melepaskan pagutannya, bibirnya pun kini telah beralih menuju ke leher jenjang Eve. Beberapa tanda merah ia ciptakan disana. Membuat sang empunya men..de..sah merasakan gelenyar antara sakit namun begitu nikmat.


Hingga tanpa sadar Eve menyadari tubuhnya yang sudah polos, entah kapan Ax melepaskan pakaian miliknya.


Eve melihat kepala Ax yang kini sudah berada di da..danya. Dan melepaskan seutas kain yang menutupi bukit kembar miliknya.


Setelah kain penutup itu Ax lemparkan ke sambarang arah. Tangannya sedikit mer..re..mas satu bukit kembar istrinya dengan jarinya yang terus memilin pucuk bukit tersebut.


Suara de..sa..han pun lolos begitu saja saat Eve merasakan sensasi yang membuat bagian intinya menjadi ba..sah.


"aaahhh..." de..sah..nya. Eve merasa benar-benar melayang di awang-awang.


Tangannya me..re..mas kain sprei seiring rasa yang Ax ciptakan. De..sa..han demi de..sa..an terlontar dari bibirnya. Rasanya sungguh tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


Eve sedikit terpekik saat merasakan li..dah suaminya yang sedikit menggigit dan me..nye..sap ujung bukit kembar miliknya. Dan sesasi itu membuatnya terus dan terus mengeluarkan de..sa..han. Membuat Ax semakin gencar melakukan aksinya.


Skip


skip


skip


***

__ADS_1


__ADS_2