Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 37


__ADS_3

"Ya, memang Aku jelek, lalu kenapa?!. Aku juga tidak ingin pergi ke acara sampah kalian itu," sungut Aya.


"Kau dasar gadis jelek!...!." Deyo mengumpat dengan menunjuk Aya. Namun Arkan menghentikannya.


"Deyo!, Kau harus menjaga sikapmu, ini di depan umum!." Ucap Arkan mengingatkan.


"Baiklah kalau Kau tidak mau ikut Aya, kami tidak memaksa." Ucap Arkan tersenyum canggung.


"Ya, Aku tidak akan pernah ikut. Kalau begitu permisi, karena Aku sedang ada urusan." Aya berusaha untuk pergi dari sana. Ia begitu malas bertemu dengan orang-orang yang sudah pernah menghinanya.


Dengan cepat Ia pergi dan berjalan meninggalkan kedua pria itu.


"Dasar gadis jelek murahan!," Umpat Deyo membuat Arkan kembali menatapnya tajam.


"Deyo, kita ini sudah dewasa. Kenapa Kau selalu bersikap sesukamu?!."


"Memang kenyataannya dia gadis jelek, yah walaupun dia pernah berdandan cantik waktu itu. Tapi bukankah Rena bilang waktu itu bahwa gadis jelek itu adalah simpanan Om-om?." Sergah Deyo.


Arkan hanya menggelengkan kepalanya, memang kedua sahabatnya itu masih belum bisa berubah.


***


Bryan hendak pulang setelah meeting pagi ini. Rasanya Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya itu.


Bryan terkadang tertawa sendiri mengingat wajah manis istrinya itu. Belum pernah Bryan merasakannya kepada gadis lain, termasuk Rena.


Karena dulu Bryan waktu menjadikan Rena kekasihnya itu. Karena Rena adalah gadis paling populer di kampusnya. Jadi dia ingin sekali menaklukkan gadis incarannya itu. Rena begitu manis dan sangat cantik, hingga Bryan pun terpesona akan hal itu. Makanya Ia berfikir bahwa dirinya sangat mencintai Rena. Bryan memang belum mengetahui apa arti cinta yang sesungguhnya.


Seiring berjalannya waktu, Bryan mulai memperkenalkan Rena kepada sang Papa. Namun Papanya menolak keras hubungan mereka.


Jadi Bryan waktu itu berjanji kepada Rena, bahwa suatu saat dirinya pasti akan menikahinya.


Rena pun begitu senang, bagaimana tidak?. Bryan adalah pewaris Askara Corps, selain itu Bryan juga berparas tampan. Tentu saja Rena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu.


Bryan berjalan dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya. Dan semua itu menjadi pertanyaan besar bagi para karyawannya.


Karena tidak biasanya Bryan bersikap seperti itu, bahkan Bryan menyapa setiap karyawan yang berpapasan dengannya.


Disaat Bryan hendak menjalankan mobilnya, ponselnya berdering, nama Rena tertera pada layar ponsel tersebut.

__ADS_1


"Kenapa Rena harus menelpon." Decaknya. Dengan malas Bryan mengangkat panggilan tersebut.


Skip


Rena menyuruh Bryan untuk menjemputnya di sebuah salon kecantikan. Bryan sempat menolak, tapi Rena mengatakan bahwa Ia ingin membicarakan hal penting. Bryan pun berfikir hal yang sama. Ia ingin mengatakan kepada Rena bahwa Ia tidak bisa lagi menepati janjinya untuk menikah dengannya.


Bryan tidak ingin meninggalkan Aya, berpisah sebentar saja membuatnya begitu bimbang dan resah. Apalagi harus menceraikannya. Bryan pasti tidak akan sanggup.


Dengan malasnya Bryan pun melajukan mobilnya menuju ke tempat Rena berada saat ini. Namun Bryan sudah kekeh akan mengatakan bahwa Ia tidak bisa lagi menepati janjinya.


Bryan tahu, Rena pasti akan marah besar padanya. Tapi Ia juga tidak ingin meninggalkan Aya.


Tidak berapa lama pun Bryan sampai ke tempat di mana Rena berada.


Di sana Rena tengah berada di antara teman-teman wanitanya. Di saat Ia melihat Bryan yang datang menghampirinya, Rena langsung berlari kecil menghampiri Bryan.


Tangannya melingkar di lengan Bryan, berusaha untuk memamerkan Bryan kepada teman-temannya di sana.


"Hai sayang, Aku sudah menunggu mu," ucapnya bergelut manja.


"Kau memang hebat Rena, bisa pacaran dengan pria yang sempurna seperti Tuan Bryan," ucap salah satu temannya bernama Mimi.


"Kalian tahu, dia tidak mencintai istrinya. Kami akan menikah setelah Bryan menceraikannya." Rena berkata yakin.


Hati Bryan mencelos saat mendengar Rena berkata bahwa Ia akan menceraikan Aya dengan menikahi Rena. Tentu saja Ia tidak akan pernah sanggup.


"Wow,kau sangat beruntung Rena." Ucap mereka.


"Yasudah, kalau begitu kami mau kencan dulu bye," ucap Rena dan langsung mengajak Bryan menuju mobil.


"Rena aku ingin membicarakan hal penting denganmu, bagaimana kalau kita ke taman?," Ajak Bryan.


Namun Rena menolak, karena menurutnya taman adalah tempat rakyat kelas rendah. "Kenapa harus di taman sih, disana banyak orang-orang kampung, Aku tidak mau." Tolaknya.


"Tapi di sana lebih nyaman Rena, karena Aku ingin berbicara penting tentang hubungan kita kedepannya."


Rena mengerutkan keningnya, Ia penasaran dengan Apa yang ingin Bryan bicarakan dengannya. Mungkin saja Bryan segera akan menceraikan gadis kampung itu dan segera menikahinya, begitulah pikirnya. Hingga Rena pun menganggukkan kepalanya setuju.


Sampai di sebuah taman, Bryan langsung mengajak Rena untuk duduk di sana.

__ADS_1


"Cepatlah Bryan, Apa yang ingin Kau katakan?. Apa kau ingin menceraikan istri mu secepatnya?." Rena sudah tidak sabar mendengarkan jawaban Bryan.


Bryan terdiam sejenak seraya menarik nafasnya panjang. Tangannya mengulur dan menggenggam tangan Rena.


"Rena, sepertinya Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita ke depannya. Aku tidak bisa menceraikan istri ku. Maafkan aku karena Aku tidak bisa menepati janjiku untuk menikah dengan mu," ucap Bryan begitu hati-hati.


"Apa maksudmu Bryan?!." Rena terkesiap mendengar penuturan Bryan barusan.


"Maafkan Aku Ren, Kau pasti mengerti dengan ucapan ku barusan. Aku tidak bisa meninggalkan istriku, Aku tidak bisa menceraikannya." Ulang Bryan.


Rena begitu marah, Ia tidak bisa menerima penolakan Bryan terhadapnya. Namun Ia juga tidak ingin memperlihatkan kemarahannya kepada Bryan. Rena ingin mengambil simpati Bryan.


"Tapi Kau sudah berjanji waktu itu, dan bagaimana dengan rencana yang sudah kita rencanakan sebelumnya?. Kau tega Bryan, Kau tega!." Rena pun menangis, Ia tahu kelemahan Bryan. Bryan tidak akan pernah tega bila melihat dirinya menangis.


Dan benar saja, Bryan langsung memeluk Rena kala melihat air mata Rena yang berjatuhan. Bryan merasa sangat bersalah kepada Rena.


Dan di tempat yang tidak terlalu jauh dari mereka, sepasang mata yang berlinang air mata tengah menatap keduanya dengan perasaan yang begitu hancur saat melihat Bryan memeluk tubuh Rena.


Lalu dengan cepat Ia pun segera pergi dari sana sebelum hatinya terlalu sakit.


Sedangkan Bryan masih memeluk Rena berusaha untuk menenangkannya. Ia tahu ini berat untuk Rena, tapi Ia sudah kekeh dengan keputusannya untuk mengakhiri semuanya.


"Maafkan Aku Ren, Aku yakin Kau pasti akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku," Ucap Bryan.


"Sialan, Bryan masih tetap akan meninggalkan ku walaupun Aku mengeluarkan banyak air mata!." Umpat Rena dalam hati.


"Kau melanggar janji mu Bry, Apa Kau sudah tidak mencintaiku lagi?. Apa Karena Kau sudah tidur dengan istrimu itu jadi Kau mau meninggalkan ku?!." Rena sungguh tidak terima dengan semuanya.


"Bukan karena itu Rena, ada hal lain yang membuatku tidak ingin melepaskannya. Jadi kumohon maafkan Aku."


"Aku juga bisa memberikan tubuhku untuk mu Bryan, asalkan Kau mau meninggalkan istrimu!."


"Rena, Kau jangan merendahkan diri mu, jangan pernah berkata seperti itu. Suatu saat nanti Kau pasti akan mendapatkan pria yang baik untuk mu." Ucap Bryan.


Dengan perlahan Ia pun melepaskan pelukannya dan beranjak berdiri.


" Bryan, katakan kalau ucapan mu barusan tidak serius kan?."


"Maafkan aku Ren," ucap Bryan dan langsung pergi meninggalkan Rena yang menangis di sana.

__ADS_1


***


__ADS_2