
Sementara Pratama dan Bagaskara pun turut menghampiri keributan tersebut.
Alika menatap sinis Bryan dan Aya. Raut wajahnya menandakan bahwa Ia begitu tak takutnya dengan Bryan. Karena Alika tahu, bahwa nantinya putranya akan membela dirinya.
"Alika, berhentilah berulah!," Ujar Pratama kala melihat Alika yang terlihat begitu sombongnya.
"Aku?, Kau tidak bisa menghentikan ku!. Sampai kapanpun Aku tidak akan pernah membiarkan putraku menikahi gadis rendahan seperti dia!," tunjuknya pada Lisa.
"Putramu?!, Kau tidak pantas menjadi seorang ibu. Aku menerima Kau berselingkuh dari ku dulu, tapi Aku tidak akan pernah memaafkan mu yang dengan teganya menjual putraku hanya demi uang!. Kau beruntung Aku tidak pernah menceritakan kebusukan mu itu pada Putraku!." Pratama berucap dengan kilatan kemarahan dari raut wajahnya.
"Kau pikir Aku takut?!, Adrian tidak akan mempercayai ucapan mu. Karena Aku sudah membuatnya begitu mempercayai ku." ucap Alika dengan yakinnya.
Alika melupakan saat ini Ia berkata di depan banyak orang. Dan tanpa mereka sadari Adrian sejak tadi mendengar percakapan mereka.
Tubuhnya masih terdiam mematung di sana. Ia masih mencerna ucapan-ucapan yang dari Mama dan Papanya.
"Kalian tahu?, Aku tidak akan pernah memaafkan perlakuan kalian padaku selama ini." Alika menunjuk ke arah Pratama.
"Kau yang membuat kami melakukan hal itu. Dan kali ini Aku tidak akan membiarkan mu menghina menantuku!."
"Dia tidak pantas menjadi istri dari Adrian. Karena Aleta lah yang cocok menjadi menantu ku. Dia hanya wanita rendahan, sementara Aleta adalah putri dari keluarga Soehadi yang terkenal dan kaya," ucap Alika begitu membanggakan Aleta.
"Ternyata Kau masih sama, yang ada di otak mu hanya uang dan harta!."
"Terserah apa yang Kau katakan, Aku tidak perduli. Yang jelas Aku tidak akan pernah menyetujui gadis rendahan itu menjadi istri Adrian," cibir Alika.
"Siapa yang mengatakan putriku gadis rendahan!," ucap seorang tamu undangan yang baru datang di sana.
Semua orang pun menoleh ke arah seseorang yang baru datang tersebut.
"Mama," ucap Lisa menatap tamu undangan tersebut.
Tamu undangan tersebut adalah Santi. Ia heran melihat semua orang saling berbisik membicarakan yang terjadi di dalam. Hingga Ia pun penasaran dan mendekati kerumunan di dalam sana.
Ia terkejut saat melihat putrinya di hina oleh orang lain.
"Nyonya Santi," ucap Alika terkejut melihat orang yang paling terkenal datang ke acara disana. Keluarga besar Agra terkenal akan kekayaan dan perusahaannya yang begitu maju di berbagai negara.
"Siapa Kau berani menghina putri saya?!." Santi menatap nyalang Alika.
__ADS_1
"Nyonya, a-apa maksud Anda. Bukankah putri Nyonya sedang berada di luar negeri?," ucap Alika.
"Siapa bilang?!, Putriku ada di sini, dan dia adalah istri dari Adrian Pratama, pemilik perusahaan Pratama groups."
Alika terdiam, Ia sungguh terkejut mengetahui sebuah kebenaran ini. Gadis yang selalu Ia hina ternyata adalah putri keluarga Agra.
"Tante, mana mungkin putri keluarga Agra sudah memiliki anak sebelum menikah dengan kak Adrian. Aku yakin itu adalah anak orang lain dan mengkambinghitamkan kak Adrian agar bertanggungjawab atas anak haram yang Ia lahir kan!," hina Aleta.
Plak... Suara tamparan keras terdengar begitu nyaring.
Lisa tidak mampu menahan emosinya kala mendengar putrinya di hina. Ia masih bisa menahan emosinya saat orang lain menghinanya. Tapi kini putrinya yang di hina, jadi Ia tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Jangan pernah sekalipun Kau menghina putri ku, Kau mengerti!!," ucap Lisa dengan penuh amarah. Hingga membuat mereka terkejut. Lisa tidak pernah memperlihatkan amarahnya selama ini.
"Tante, lihatlah dia menamparku," adunya pada Alika, sementara Alika masih terdiam mencerna ucapan Santi yang mengatakan bahwa Lisa adalah putrinya.
"Tante...!," panggil Aleta karena Alika hanya terdiam sejak tadi.
"Diamlah Leta!."
"Tante membelanya?."
"Ja-jadi Lisa ini adalah putri Anda Nyonya?. Ah, Lisa sayang, maafkan Mama ya sayang. Mama tidak tahu kalau Kau adalah putri keluarga Agra. Dan kenapa Kau tidak memberitahu Mama sebelumnya, jadi Mama tidak salah paham padamu." Alika berusaha mendekati Lisa dan berniat memeluknya.
"Jangan pernah menyentuh istriku!," ucap Adrian begitu dingin menatap Alika.
Alika terkejut mendengar suara Adrian yang begitu dingin.
"Adrian sayang, sekarang Mama menyetujui pernikahan kalian nak," ucap Alika tersenyum.
Sementara Aleta mengepalkan tangannya mendengar ucapan Alika.
Adrian memejamkan matanya sejenak. Hatinya begitu sakit menatap wanita paruh baya yang selama ini sangat Ia sayangi. Kini Ia mengetahui sebuah kebenaran yang tidak pernah Ia ketahui selama ini.
Adrian selalu mempercayai wanita itu, selalu membelanya. Bahkan Ia begitu membenci Papanya saat wanita itu berhasil membuatnya percaya bahwa Papanya lah selama ini yang bersalah.
"Pergilah dari tempat ini sebelum saya memanggil security untuk menyeret Anda keluar dari tempat ini!." Adrian berkata tanpa menatap ke arah Alika.
Pratama menatap sendu putranya itu. Dapat ia lihat raut kekecewaan yang mendalam dari sorot mata putranya itu.
__ADS_1
"Nak, Kau bercanda kan sayang. Ini Mama sayang, dan Kau membutuhkan Mama untuk semua pencapaian mu ini," ucap Alika. Kini Ia berjalan mendekati Adrian.
"Saya tidak membutuhkan seseorang yang selalu berpura-pura baik di depan saya. Dan saya akan menuntut Anda karena sudah menghina istri saya!."
"A-apa maksudmu nak?." Lisa kembali terkejut.
"Jangan memanggilku nak!, Dan silahkan pergi dari sini!," ucap Adrian. Namun Alika tidak terima, Ia pun hendak menyentuh pundak Adrian namun langsung di tepis oleh Adrian.
"Security!!," panggil Adrian.
Hingga datanglah dua orang security.
"Ya Tuan."
"Cepat bawa wanita wanita ini dan dia pergi dari sini!," perintah Adrian.
"Baiklah Tuan, mari Nyonya, silahkan keluar dari tempat ini," ucap salah satu security itu, sementara yang satunya lagi membawa Aleta dengan paksa dari sana.
"Adrian, Kau tega dengan Mama mu ini?!, Adrian..!." Alika terus memberontak saat security itu membawanya paksa keluar dari sana.
Namun Adrian begitu acuh dan tidak mendengarkan teriakan Alika.
Adrian segera menghampiri istrinya dan memeluknya erat. "Maafkan Aku," ucap Adrian memejamkan matanya.
Sementara para tamu undangan disana saling berbisik melihat kejadian di depan mata mereka.
Adrian menatap Pratama sendu, rasanya Ia begitu merasa bersalah kepada Papanya. Namun Ia begitu malu pada Papanya. Ia membenci dirinya sendiri.
Adrian membawa Lisa pergi dari sana, Ia menggandeng tangan istrinya itu berjalan melewati beberapa tamu undangan.
Pratama dapat mengerti perasaan putranya saat ini. Lalu Ia pun menggantikan putranya untuk memulai acara tersebut. Ia tahu saat ini putranya butuh waktu sendiri.
Bryan yang sudah tersulut amarahnya pun mengajak istrinya untuk pulang. Namun Ia lega karena Adrian sudah mengetahui kebusukan Alika.
"Sayang, Aku sangat khawatir dengan Adrian," ucap Aya saat perjalanan pulang.
"Adrian memang membutuhkan waktu untuk sendiri sayang. Tapi Aku yakin Lisa adalah obat yang tepat untuk Adrian," ucap Bryan. Satu tangannya menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya.
"Ya, semoga saja," ucap Aya tersenyum menatap suaminya.
__ADS_1
***