Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 36


__ADS_3

Pagi itu setelah mengetahui kenyataan yang membuatnya begitu bimbang. Aya mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke rumah sang ayah.


Ia lebih memilih untuk duduk sambil menikmati suasana taman kota. Pandangannya seolah kosong, Aya tidak tahu apa yang akan terjadi bila nanti suaminya mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung.


"Apa nanti Kau akan menerima kehadiran calon malaikat kecil kita Bryan?." Ucapnya seraya memegangi perutnya yang masih terlihat rata.


Dan tiba-tiba saja Aya merasa lapar, Aya membayangkan semangkuk ramen pedas dengan berbagai macam toping. Air liurnya sudah hampir menetes membayangkannya.


Dengan segera Aya mengambil benda pipih yang ada di dalam tas kecilnya. Lalu Ia mulai browsing di mana tempat terdekat yang menjual ramen pedas yang begitu Ia inginkan.


"Yes, tempatnya begitu dekat dari sini." Ucap Aya begitu senang. Tangannya kembali mengusap perutnya seraya berkata "tenang ya sayang, sebentar lagi kita akan makan makanan yang kita inginkan."


Aya menatap ke segala arah, tatapannya mengisyaratkan bahwa ia tengah mencari sesuatu. Dan akhirnya Ia pun menemukan apa yang Ia cari, yakni tukang ojek.


Aya pun segera menghampiri tukang ojek tersebut.


" Bang anterin ke cafe J ya?." Suruhnya.


"Siap neng, yok berangkat." Ucap tukang ojek tersebut.


Aya mulai menaiki motor matic itu, lalu tukang ojek tersebut menjalankan motornya menuju tujuannya.


"Berhenti bang, sepertinya itu cafenya," ucap Aya dengan lantangnya menepuk pundak tukang ojek tersebut.


Aya mengambil selembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya kepada tukang ojek tersebut.


"Tunggu neng, kembaliannya," teriak tukang ojek itu karena Aya sudah jauh melangkah dari motornya.


"Buat Abang aja ," teriaknya kembali.


"Alhamdulillah rejeki." Ucap tukang ojek itu, lalu segera pergi dari sana.


Aya dengan senangnya berjalan memasuki cafe tersebut, Ia duduk di meja yang paling ujung. Karena di sana banyak sekali pengunjung dan hanya tersisa tempat duduk paling ujung.


Aya melihat berbagai macam olahan ramen di buku menu. Dan itu membuatnya begitu lapar mata, Ia rasanya ingin memesan semuanya.


Dengan melambaikan tangannya, karyawan cafe tersebut pun menghampiri Aya.


"Baiklah Nona, Apa yang ingin anda pesan?."


"Aku pesan ramen kari pedas, dan juga ramen Shoyu. Untuk minumannya Aku mau orange jus. Oh iya mbak, Aku juga mau pesan ice cream rasa strawberry." Ucap Aya.

__ADS_1


"Baiklah, mohon di tunggu Nona." Pelayan cafe tersebut langsung pergi setelah mencatat pesanan Aya.


Aya menunggu pesanannya dengan mulai membuka akun Ig nya di ponselnya.


Namun tanpa sengaja Aya melihat postingan Rena yang tengah berfoto bersama dengan pria berstatus suaminya.


Aya terdiam, di lihatnya unggahan postingan tersebut baru beberapa menit. Yang berarti saat ini suaminya tengah bersama Rena.


Hatinya tiba-tiba saja menjadi sesak, tanpa Ia sadari likuid bening itu pun menetes.


"Kenapa rasanya begitu sesak?. Sebelumnya Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini saat Bryan bersama dengan Rena." Gumamnya seraya memegangi dadanya yang terasa begitu ngilu.


Hingga seorang pelayan cafe tersebut pun datang untuk mengantarkan pesanan makanan yang Aya pesan.


"Selamat menikmati Nona."


Aya hanya menganggukkan kepalanya dan memaksakan senyumnya. Rasanya Ia sudah tidak berselera lagi untuk memakan apa yang sempat Ia inginkan sebelumnya.


Tapi saat Aya melihat ramen pedasnya, Ia pun mulai memakannya. Rasa pedas mulai membakar lidahnya, Hingg air matanya pun menetes.


Sebenarnya Aya masih dapat menahan rasa pedas dari ramen tersebut. Tapi, Ia ingin sekali menangis kala melihat postingan Rena barusan.


"Aku bodoh karena sudah mencintai pria yang selama ini ku benci. Sedangkan Bryan begitu mencintai Rena, bagaimana mungkin aku berfikir Bryan akan mencintai ku," batinnya dengan air matanya yang terus menetes.


"Aya?."


Mendengar namanya di sebut, Aya mendongak menatap siapa yang sudah memanggilnya itu.


Aya terkejut dan hampir tersedak saat melihat siapa yang tengah berdiri di sana.


"Arkan, Deyo," ucap Aya terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan mereka disini.


Dengan cepat Aya memakai kacamata tebalnya yang sempat Ia letakkan tadi di samping mejanya setelah mengelap air matanya.


"Wah jelek, kenapa kau memakai kacamata mu?, Kau jadi tidak cantik lagi." Celetuk Deyo dengan tawa ejekannya.


Sedangkan Arkan menatap tajam sahabatnya yang masih tertawa itu.


"Boleh kami duduk di sini?." Tanya Arkan kepada Aya.


Sejenak Aya terdiam seraya memperlihatkan keduanya. Lalu dengan ragu Ia pun menganggukkan kepalanya setuju.

__ADS_1


"Duduklah."


Keduanya pun langsung duduk di meja yang sama dengan Aya. Deyo terus saja menatap Aya dengan pandangan yang begitu sulit untuk diartikan. Membuat Aya begitu risih di buatnya.


"Jangan menatapku seperti itu, atau nanti ku congkel matamu!." Ancam Aya menatap tajam Deyo.


Namun Deyo tersenyum sinis dan tidak memperdulikannya.


"Deyo!, Kau harus menjaga sikapmu itu!." Tegur Arkan.


Ya, dari semua teman Bryan, Arkan lah yang masih waras. Dia mulai berfikir dewasa seiring berjalannya waktu. Namun berbeda dengan Deyo.


Deyo menjadi lebih urakan, dan dia juga sering bergonta-ganti wanita. Bahkan Ia pun saat ini berfikir bagaimana caranya untuk mendapatkan tubuh Aya.


Dan tatapan laparnya membuat Aya menjadi begitu risih saat bertemu dengannya.


Arkan menatap makanan yang ada di hadapan Aya, Ia pun mengerutkan keningnya melihat dua porsi makanan dan minuman di sana.


"Aya, Kau makan semua ini?." Tanya Arkan.


"Memangnya kenapa?!." Jawabannya ketus. Aya memang tidak suka dengan teman-teman Bryan dan Rena.


"Tidak hanya bertanya saja." Arkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia terkejut melihat Aya yang begitu galak.


"Aya Kau sudah melihat notifikasi pesan di grup?." Tanyanya lagi.


Lalu Aya menggelengkan kepalanya. Aya memang jarang membuka grup untuk melihat percakapan teman-temannya dulu. Ia terlalu malas untuk melihat percakapan teman-temannya, karena menurutnya itu tidak penting. Mengingat semua teman-temannya yang sering menghinanya dulu.


"Kami mengadakan liburan ke puncak. Dan kami juga menunjuk Bryan sebagai anggota panitia. Apa Kau mau ikut?." Tanya Arkan.


Dengan cepat Aya menjawabnya.


" Tidak, Aku tidak mau ikut!. Di sana pasti akan membosankan. Itu kan acara kalian, jadi jangan mengajaku."


"Heh gadis jelek, kau itu gadis kampungan,mana tahu acara yang keren seperti itu. Kau tahu?!, Kita nanti akan menginap di villa ku. Jadi tidak ada yang akan bosan di sana. Kau itu terlalu jelek untuk ikut!." Cerca Deyo.


"Deyo!!." Arkan menyentak ucapan Deyo.


Sementara Aya mengepalkan tangannya di bawah meja. Perkataan Deyo membuatnya menjadi jengkel dengan hinaan yang tiada habisnya dari mulut Deyo.


***

__ADS_1


__ADS_2