
Divya merasa begitu malu saat ini. Rasanya ia baru pertama kali merasakan hal yang luar biasa. Ia semakin mendusel kedalam pelukan suaminya.
Kini ia begitu bahagia. Ia merasa begitu beruntung karena Sean menjadi suaminya. Ia masih tidak percaya bahwa Sean mencintainya.
Divya berpikir Sean hanya merasa kasian padanya saja. Dan pernyataan Sean membuatnya bahagia.
Merasakan Divya yang terus mendusel kedalam pelukannya membuat Sean menahan miliknya yang terus meronta.
Sean menahannya sejak tadi. Ingin sekali Sean mengambil haknya kepada istrinya. Namun ia tidak ingin membuat Divya kelelahan. Jadi ia berusaha menahan gejolak yang terus saja menggodanya.
"Sean, benarkah Kau mencintai ku? Atau Kau hanya merasa kasihan saja padaku?" Divya masih tak percaya.
"Aku sangat mencintaimu Di. Mungkin sebelumnya Aku tidak suka Kau terus saja menggangguku. Tapi entah kenapa saat Kau terus menghindari ku, hatiku begitu terluka. Aku ingin Kau terus mengganggu ku seperti sebelumnya."
"Sungguh? Aku pikir Kau hanya kasihan padaku saja." Divya berkata sendu.
"Kau ini terlalu berpikir bodoh. Kalau Aku hanya kasihan padamu, mana mungkin Aku akan mencium mu. Dan juga memberimu perhatian lebih. Jangan pernah berpikir bodoh lagi, karena Aku mencintaimu Di. Aku pasti akan mencari cara agar Kau bisa sembuh dari sakitnu." Sean terus mengecupi kepala istrinya.
"Aku juga mencintaimu Sean," ucap Divya. Mukanya begitu memerah saat mengatakan hal itu. Ia kembali menduselkan wajahnya.
Sean terpaku sesaat, kemudian ia tersenyum. Kini ia telah berhasil membuat istrinya jatuh cinta padanya. Hal ini adalah kebahagiaan yang hakiki baginya.
Namun saat merasakan istrinya yang terus saja menduselkan wajahnya padanya, ia telah menahan libidonya agar tidak menerkam sang istri.
"Berhentilah bergerak Di. Apa Kau tidak tahu kalau Aku sedang menahan sesuatu sejak tadi?"
Divya mengerutkan keningnya. "Menahan sesuatu? Apa yang Kau tahan?" Divya tidak mengerti ucapan Sean.
Sean menarik tangan Divya dan mengarahkannya pada miliknya yang sejak tadi meronta ingin keluar.
"Sean... Apa yang Kau lakukan!" pekik Divya malu. Ia terkejut saat tangannya menyentuh tonjolan milik Sean di bawah sana. Dan itu begitu keras.
"Milikku juga ingin di tuntaskan Di. Aku sudah menahannya sejak tadi. Kau malah terus saja membuatku ingin sekali menerkam mu. Sekarang tunggulah di sini! Aku akan ke bathroom untuk menuntaskannya," tutur Sean membuat semburat merah terpampang jelas di wajah Divya.
Ia mengerti akan maksud suaminya. Divya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa pria membutuhkan pelepasan. Bahkan berbagai macam cara untuk melakukannya pun pernah ia baca.
Sean hendak beranjak turun dari tempat tidurnya. Namun Divya menahan tangan suaminya. Membuat Sean menatapnya bingung.
"Ayo kita lakukan," ucap Divya membuat Sean menelpon salivanya.
"Tidak di, Aku tidak ingin membuatmu kelelahan. Aku akan melakukannya sendiri," tolak Sean. Sean tidak ingin Divya lelah dan membuat sakitnya kambuh lagi.
__ADS_1
Namun penolakannya tidak serta-merta membuat pegangan tangan Divya terlepas. Divya masih menatap suaminya.
"Aku akan membantumu dengan cara lain," ucap Divya semakin memerah. Otaknya sudah bertraveling kemana-mana. Membayangkan Apa yang akan dia lakukan pada suaminya.
"Ma-maksudmu?"
Divya menarik kembali Sean. "Diamlah!"
Divya kini bertindak begitu agresif. Ia menaiki tubuh suaminya dan mencium bibir Sean.
Kini ia bagaikan seorang wanita bayaran yang hendak memuaskan pelanggannya.
Divya mulai turun dari bibir suaminya. Kini Ia perlahan membuka celana milik Sean. Memberikan kecupan-kecupan di sana.
Sean mengerang. Rasanya istrinya memberikan sebuah sengatan listrik.
Dan terjadilah acara pelepa..san tanpa menyatukan kedua tubuh. Divya melakukannya dengan begitu cantik. Seolah ia sudah begitu handal, padahal ia hanya mengikuti nalurinya sana.
Divya mampu membuat suaminya merasakan sebuah pelepa..san yang luar biasa, dengan menggunakan alternatif lain.
Divya segera berlari ke bathroom untuk memuntahkan sesuatu.
Tanpa menyatukan tubuh mereka saja rasanya membuat Sean begitu puas, apalagi bila menyatukan tubuh mereka? Pasti Sean tidak akan mau berhenti nantinya.
Ah, Sean tidak ingin memikirkan hal itu. Atau miliknya akan kembali mengeras bila membayangkannya.
Sean segera beranjak dari sana dan memakai celananya. Ia menyusul istrinya.
Divya masih membersihkan mulutnya dari kucuran air di wastafel. Hingga ia terkejut saat merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Maafkan Aku," ucap Sean seraya menciumi pundak istrinya.
"Kenapa Kau meminta maaf? Seharusnya Aku yang minta maaf padamu." Divya menundukkan kepalanya. Ia begitu membenci dirinya yang belum bisa memberikan miliknya pada Sean.
Bukan karena tidak ingin. Namun karena kondisinya yang tidak boleh terlalu kelelahan yang mengharuskannya melakukan hal tersebut.
"Kau tidak salah sayang, kenapa Kau meminta maaf? Kau begitu luar biasa. Aku minta maaf karena Aku menumpahkannya didalam mulut mu. Maafkan Aku," ucap Sean.
Sean langsung membalikkan tubuh istrinya. Lalu kembali mencium bibir istrinya. Mereka berciuman cukup lama.
Menuntaskan segala bentuk rasa cinta yang kini bergelora menyelimuti keduanya.
__ADS_1
***
Divya membuka matanya setelah semalaman tertidur dalam pelukan suaminya.
Namun ia begitu terkejut karena ia merasa asing. Ini bukanlah di kamar miliknya.
"Sean," panggilnya. Namun tak ada siapapun di sana.
Hingga ia mulai menginjakan kakinya mencari keberadaan suaminya. Ia merasa begitu takut.
"Sean," panggilnya kembali. Hingga tempat itu pun berubah menjadi gelap gulita.
Divya benar-benar ketakutan saat ini. Ia sendirian di sana.
Sejauh apapun Divya melangkah, rasanya ia tak menemukan siapapun di sana. Divya terus saja memanggil nama suaminya. Bahkan ia memanggil semua anggota keluarganya.
Namun tetap saja tidak ada jawaban dari siapapun. Divya hanya bisa menangis. Ia menangis dalam ketakutan.
Hingga tiba-tiba ia merasa ada yang menariknya. Menyeretnya begitu jauh. Divya melihat sebuah cahaya yang begitu terang dan begitu menyilaukan matanya.
"Di, Divya. Bangunlah sayang," suara lembut dan begitu tak asing itu pun terdengar dari telinganya.
Divya terus terseret ke arah suara tersebut. Hingga akhirnya ia merasakan berada dalam pelukan seseorang.
Divya mulai membuka matanya. Dan ternyata dirinya berada di pelukan suaminya.
"Aku takut Sean!" ucapnya memeluk erat tubuh suaminya. Divya berharap ini nyata.
"Hei, Kau kenapa sayang? Aku di sini. Aku bersamamu. Jangan takut," ucap Sean lembut.
"Aku takut sekali Sean. Jangan pernah meninggalkan ku."
Sean melihat tubuh Divya yang bergetar. Iapun membalas pelukan itu. Berusaha membuat istrinya untuk tenang.
"Aku akan selalu bersamamu Di. Jangan pernah takut. Aku di sini."
Divya menyadari bahwa yang terjadi barusan adalah sebuah mimpi buruk. Sungguh Divya tidak ingin mengalami mimpi itu lagi.
Kini ia merasa tenang berada dalam pelukan suaminya.
***
__ADS_1