Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 111 (season 2)


__ADS_3

Denis masih terkejut mendapat kenyataan tentang kebenaran yang ia dengar. Rasanya seperti terhempas dari ujung samudra.


Denis pun mencoba untuk menerimanya. Walaupun dalam hatinya ia begitu merasakan sebuah kekecewaan karena cintanya yang tak pernah sampai.


Denis berjalan menuju pintu untuk keluar. Ia membutuhkan udara segar saat ini. Kejadian barusan membuat hatinya perlu diperhatikan.


Denis membuka kenop pintu ruangan itu. Sebuah pemandangan yang membuat hatinya kembali bercokol.


Sepasang pria dan wanita yang baru saja mendeklarasikan tentang hubungan mereka terlihat begitu in..tim di depan pintu ruangannya.


"Apa yang kalian lakukan?!" ucapnya. Sungguh Denis tak menyangka bahwa pasangan suami istri itu benar-benar membuatnya begitu cemburu.


Apakah mereka tidak tahu bahwa dirinya adalah seorang jomblo. Pemandangan itu membuat Denis benar-benar frustasi.


Sementara kedua pasangan yang hendak menyatukan bibir itu terlonjak kaget. Namun Sean malah menatap tajam ke arah Denis. Sean menganggap Denis adalah pengganggu yang menggagalkan kegiatannya.


sedangkan Divya merasa begitu malu saat ini. Ingin rasanya Divya menenggelamkan wajahnya ke dasar laut terdalam. Ia merutuki kebodohannya yang begitu terbuai akan bibir suaminya.


Sungguh pasangan yang tidak tahu situasi dan kondisi. Sehingga Denis hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anak manusia itu.


"Maafkan kami Denis, kami permisi," ucap Divya tersenyum canggung. Ia pun menarik Sean dan segera pergi dari sana.


Sampai di parkiran, Divya bernafas lega karena tidak melihat Denis lagi. Rasanya ia begitu malu tadi. Divya merasa seperti seseorang yang ketahuan sedang mencuri.


Sementara Sean tersenyum mengingat kelakuannya bersama Divya tadi. Rasanya benar-benar gila. Ia baru pertama kali merasakan hal yang semenyenangkan seperti saat ini.


"Ayo kita pulang!" ajak Sean menggandeng tangan Divya.


"Ah, tapi mobilku...," ucap Divya saat Sean menariknya.


"Aku akan menyuruh sopir untuk membawanya nanti. Aku akan meneruskan hukuman untuk mu di rumah," tutur Sean membuat Divya terpaku.


"Apakah dia akan melakukan hal yang seperti tadi? apa dia akan mencium ku?" batin Divya. Wajahnya memerah seketika saat membayangkannya.


Namun belum sempat mereka memasuki mobil, suara seseorang tengah memanggil mereka.


"Kak Sean, kak Di," panggil seseorang yang tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


Mereka pun menoleh ke arah suara. Sosok Eve dan Ax berada tak jauh dari belakang mereka.


Hingga Ax dan Eve pun menghampiri mereka.


Sementara Sean berdecak kesal dalam hatinya. Rencana untuk menghukum Divya kembali terusik.


"Hai Eve, sedang apa kalian di sini?" tanya Divya menatap sepasang suami istri tersebut.


"Aku tadi mual-mual kak. Dan kak Di tahu? kak Ax langsung menggendong ku ke mobil dan membawaku kemari," tutur Eve membuat Divya mengerutkan keningnya.


"Apa Kau hamil Eve? apa Aku akan menjadi aunty?" Divya nampak berbinar.


Eve pun menatap Divya jengah. Ternyata dia sama seperti suaminya, begitu heboh sendiri.


"Tidak kak Di, Aku mual karena asam lambung ku naik. Kau sama hebohnya seperti kak Ax tadi. Dan sekarang lihatlah, kalian kecewa kan? Kalian sama-sama salah menyimpulkan," ucap Eve menepuk keningnya sendiri.


"Apa Kau sudah siap menjadi seorang Mama Eve?" tanya Sean menatap adiknya.


"Entahlah kak. Tapi yang jelas Aku menginginkan baby setelah menyelesaikan kuliah ku nanti."


"Tidak, itu akan terlalu lama! Pokoknya Aku mau kita secepatnya memiliki baby. Aku tidak bisa melihat mu bertemu dengan banyak pria di luar sana!" tegas Ax membuat Eve menatap jengah suaminya.


"Aku tidak pernah menemui seorang pria kak."


"Siapa bilang, pria-pria itu yang selalu menyapa mu setiap hari. Dan Aku tidak menyukainya!"


Eve merasa begitu bahagia. Ia tahu Ax seperti itu karena begitu mencintainya. Rasanya ia kembali teringat tentang hubungannya dulu.


"Sayang, Kau jangan cemburu seperti itu. Kau harus tahu bahwa Aku sangat mencintaimu. Bagaimana mungkin Aku akan berpaling darimu," ucap Eve begitu manjanya. Ia pun bergelayut di lengan suaminya.


Ax merasa gemas dengan istrinya itu. Rasanya ia ingin memakan istrinya saat ini. Bergelut di atas ran..jang dengan melakukan berbagai gaya. (😂)


Ax tersenyum sendiri dengan pikiran mesumnya. Sungguh istrinya membuatnya begitu candu.


"Hei...! Kalian ini sungguh ya, bermesraan tak tahu tempat!" umpat Divya. Ia hendak kembali mengumpat. Namun bayangan dirinya dan Sean yang hampir berciuman di depan pintu ruangan Denis pun berkelebat di otaknya.


Ia pun menjadi diam seribu bahasa.

__ADS_1


Sementara Sean pun tersenyum kecil melihat kemesraan sang adik. Ia malah membayangkan bagaimana bila dirinya dan Divya seperti itu.


"Yasudah sayang. Lebih baik sekarang kita pulang." ajak Ax. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menelan istrinya hidup-hidup. Mereka pun pergi meninggalkan Sean dan Divya, seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua saja.


Sean segera menarik Divya menuju mobilnya. Melihat kemesraan Eve dan Ax membuatnya begitu frustasi.


Dalam perjalanan menuju ke rumah, keduanya saling terdiam. Mereka begitu canggung saat ini.


Divya sedikit melirik Sean yang sedang menyetir di sampingnya.


"Kenapa akhir-akhir ini Sean terlihat begitu tampan? Dan tadi, ah... rasanya begitu memalukan," ucap Divya dalam hati. Kedua tangannya menutupi wajahnya merasa malu sendiri.


Sean menatap heran Divya.


"Kenapa Kau menutup wajahmu seperti itu?" tanya Sean heran.


"Ah tidak. Aku hanya sedang mengantuk saja," kilah Divya. Divya pun kembali menatap ke depan dan berusaha untuk bisa saja. Walaupun saat ini jantungnya berdetak kencang.


Entah mengapa, pria di sampingnya membuat jantungnya seolah ingin lepas dari tempatnya. Namun tiba-tiba Divya teringat akan penyakitnya.


Raut wajah sendu kembali terukir dari wajah Divya.


Hingga mobil Sean pun sampai di garasi rumahnya.


Namun Divya masih bergelut dengan pemikirannya. Divya terlihat nampak melamun.


"Di," panggil Sean. Tapi Divya tak menyahut. Ia tidak sadar bahwa saat ini ia telah sampai di rumah.


Hingga tiba-tiba ia merasakan tubuhnya yang seolah melayang di udara.


Dan ternyata Sean tengah menggendong tubuhnya memasuki rumah.


"Ah Sean, apa yang Kau lakukan?!" pekik Divya. Ia terkejut. Tangannya pun ia lingkarkan di leher Sean untuk berpegangan. Ia takut dirinya akan terjatuh nanti.


"Aku sedang menggendong mu. Apa Kau sakit? Wajah mu terlihat pucat," tanya Sean.


"Aku tidak apa-apa, turunkan Aku. Kenapa Kau menggendong ku?" Divya berkata seraya menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Sean. Ia begitu malu dan canggung ketika bertatap muka dengan Sean.

__ADS_1


"Aku memanggil mu sejak tadi, tapi Kau hanya diam saja. Dan wajah mu tampak pucat, jadi Aku menggendong mu. Aku baik bukan?" ucap Sean terkekeh mengingat yang dia lakukan.


***


__ADS_2