Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 47


__ADS_3

Bryan tak hentinya melafalkan doa untuk istrinya. Air matanya keluar begitu saja saat memikirkan kondisi istrinya.


Hingga beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang ICU.


Melihat hal itu, Bryan segera menghampiri sang dokter.


"Bagaimana kondisi istri saya dok?," tanya Bryan tak sabar.


Dokter itu menghembuskan nafasnya panjang, lalu Ia berkata.


"Tuan, kondisi istri Anda kini sudah membaik. Tapi dia mengalami syok sehingga membuat kandungan istri Anda mengalami pendarahan. Tapi untungnya janin dalam kandungannya begitu kuat dan membuat kedua janin Nona Aya selama," tutur dokter.


Bryan tercekat mendengar penuturan dari sang dokter. Tubuhnya seakan tak mampu bergerak, otaknya masih mencerna ucapan dokter.


Hingga Ia pun terbata untuk berkata.


"A-apa ma-maksud dokter?. I-istri saya ha- hamil?."


Dokter mengerutkan keningnya.


"Ya Tuan, apa Anda tidak mengetahuinya?."


"Tidak dok, saya tidak mengetahuinya." Tubuhnya seakan memanas, penuturan dari dokter membuat hatinya bergetar masih belum percaya bahwa Aya kini tengah mengandung anaknya.


"Kalau begitu mulai sekarang Anda harus menjaga kandungan istri Anda. Untuk sementara istri Anda harus bed rest total. Karena bila sekali lagi istri Anda mengalami pendarahan seperti ini lagi, maka saya tidak bisa menjamin keselamatan ibu dan janinnya," tandas dokter.


"Baiklah dok saya mengerti, mulai sekarang saya akan menjaga istri dan calon anak saya, terimakasih dok," ucap Bryan. Ia merasakan sebuah perasaan yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya Ia begitu bahagia mendengar bahwa istrinya tengah mengandung benih darinya.


"Baiklah Tuan, istri Anda juga akan kami pindahkan ke ruangan intensif, Anda bisa menemaninya di sana. Kalau begitu saya permisi Tuan." Dokter pun segera pergi dari sana.


Sementara Bryan terus saja menyunggingkan senyumnya, namun senyumnya luntur saat mengingat Deyo yang sudah melecehkan istrinya. Bahkan hampir membuat dirinya kehilangan calon anaknya nanti.

__ADS_1


"Kau akan merasakan akibatnya nanti Deyo, dan Rena. Aku yakin kalian pasti bekerja sama untuk menjebak ku!." Bryan mengepalkan tangannya mengingat kembali kejadian malam ini.


Lalu dengan cepat Bryan menuju ruang rawat istrinya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri.


"Aku akan punya anak, sebentar lagi Aku akan menjadi seorang ayah." Ucapnya bahagia, bahkan tanpa Ia sadari air matanya pun menetes.


Bryan segera membuka pintu ruang rawat Aya. Pandangannya menjadi sendu saat melihat tubuh istrinya yang tak berdaya di sana.


Kakinya perlahan melangkah mendekat, Bryan duduk kursi samping istrinya. Menatap wajah pucat Aya dengan perasaan sedih karena mengingat hampir saja istri dan calon anaknya terluka.


Tangannya menyentuh jemari mungil Aya, mengecupnya berkali-kali. "Maafkan aku sayang, maafkan aku tidak bisa melindungi mu dan calon anak kita." Bryan menangis mengingat kelalaiannya.


Hingga jemari tangan Aya mulai bergerak. Bryan yang menyadarinya pun merasa senang. Akhirnya Aya akan membuka matanya.


"Sayang," ucap Bryan dengan wajah berbinar melihat Aya yang perlahan membuka matanya.


"Jangan..., jangan sentuh Aku!, Pergi!!." Ucap Aya saat Ia mulai tersadar.


Aya menangis sejadinya, masih jelas terbayang dalam benaknya saat Deyo berusaha untuk melecehkannya.


Namun Aya teringat akan ucapan Deyo yang mengatakan bahwa Bryan yang sudah menyuruh Deyo untuk ke kamarnya.


"Bryan, lepaskan Aku!. Apa semua ini rencana mu Bryan?!. Kau sangat membenci ku kan, makanya kau melakukan semua ini!." Aya berusaha mendorong tubuh Bryan.


"Apa maksudmu sayang, Aku tidak mengerti?," ucap Bryan merasa bingung dengan ucapan Aya.


"Kau tidak usah berpura-pura!, Aku melihat pesan mu pada Deyo bahwa kau menyuruhnya datang ke kamar ku kan. Kau sudah merencanakan semuanya, Aku membencimu Bryan, Aku membencimu!!." Aya berteriak, hatinya begitu sakit.


"Sayang, Aku tidak pernah menyuruhnya untuk ke kamar mu, dan pesan apa?, Ponselku sempat terjatuh waktu itu. Aku yakin Deyo sudah menjebak ku sayang, kumohon percayalah padaku. Aku tidak mungkin melakukan hal itu padamu." Bryan terus meyakinkan Aya.


"Kau bohong!, Kau beralasan ponsel mu jatuh padahal Kau sedang asik bersama kekasih mu Rena kan?!."

__ADS_1


Bryan menggelengkan kepalanya. "Rena juga menjebak ku sayang, mereka sudah menjebak ku. Kalau Kau tidak percaya, Kau bisa menanyakannya pada Adrian. Karena Adrian lah yang sudah menolong ku dari wanita ular itu. Kau harus percaya padaku sayang, Aku tidak ingin kehilangan mu. Aku sangat dan sangat mencintaimu," ucap Bryan menitihkan air matanya.


Mendengar ucapan Bryan, membuat Aya terdiam. Apakah pendengarannya salah?, Aya sekali lagi ingin memastikannya kembali.


"Apa yang Kau katakan Bryan, Kau me-mencintaiku,"tanyanya sekali lagi memastikan.


"Ya sayang, Aku sangat mencintaimu, sangat dan sangat mencintaimu. Apa Kau tidak merasakannya selama ini?. Maafkan Aku karena tidak mengatakannya sayang, Aku pikir Kau menyadari perasaan ku, maafkan Aku." Ucap Bryan begitu dalam.


Membuat Aya begitu terkejut sekaligus bahagia mendengarnya. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan. Ternyata perasaannya terbalaskan, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Dan mulai sekarang kita harus menjaga kandungan mu, kita hampir kehilangan calon anak kita sayang," ucap Bryan kembali.


Aya terkejut Bryan mengetahui kehamilannya. "K-kau mengetahuinya?."


Bryan mengerutkan keningnya, jadi selama ini istrinya sudah mengetahui kehamilannya?, Dan Aya tidak memberitahu dirinya. Sungguh Bryan tidak mengerti dengan Apa yang istrinya itu pikirkan.


"Jadi Kau sudah mengetahui bahwa Kau hamil sayang?,dan Kau tidak mengatakan hak besar itu padaku?," tanyanya membuat Aya menggigit bibir bawahnya.


"Tadinya Aku ingin memberitahu mu tentang kehamilan ku padamu Bryan. Tapi waktu itu Aku melihat mu dan Rena tengah berpelukan di taman,jadi Aku menyembunyikannya dari mu. Kau dulu selalu mengatakan padaku bahwa Kau akan menceraikan ku dan akan menikahi kekasihmu. Makanya Aku memutuskan untuk tetap diam. Agar suatu saat nanti bila Kau benar-benar menceraikan ku, Aku masih memiliki anak kita yang akan menguatkan ku."


Bryan tercekat. "Kenapa Kau sampai berfikir seperti itu sayang, Kau tahu?, Waktu itu Aku sudah memutuskan semua hubungan ku dengan Rena. Memang benar Rena memeluk ku waktu itu, tapi Aku segera melepaskannya. Apa Kau tidak mendengarkan ucapan ku selanjutnya waktu itu?." Aya menggelengkan kepalanya.


"Dasar gadis bodoh, seharusnya Kau mendengar ucapan ku sampai akhir waktu itu." Bryan menyentil kening istrinya.


"Auw, sakit Bryan," ucapnya seraya mengusap-usap keningnya.


"Itu hukuman karena Kau selalu berfikir sesuka hatimu. Dan sekarang Kau sudah tahu kalau Aku sangat mencintaimu, jadi jangan pernah berpikir hal bodoh lagi."


Aya menganggukkan kepalanya, Ia tersenyum kali ini mendengar pengakuan cinta dari suaminya. Rasanya kebahagiaan yang Ia rasakan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas Aya begitu bahagia saat ini. Namun tiba-tiba Ia teringat sesuatu.


"Bryan, dimana Adrian?," tanya Aya melepaskan pelukannya dan menatap suaminya.

__ADS_1


***


__ADS_2