
Beberapa jam kemudian, mobil Bryan hampir sampai di villa milik Deyo. Bryan melihat Aya tertidur di sampingnya, sebuah senyuman nampak begitu jelas dari sudut bibirnya.
Lalu ia melihat dari arah spion, Adrian juga sama. Adrian tertidur setelah sepanjang perjalanan selalu saja menggoda Bryan.
"Cih, dasar tukang tidur!." Bryan berdecak melihat Adrian dari spion.
Hingga mobilnya sampai di halaman villa milik Deyo.
Disana sudah banyak mobil milik teman-temannya yang terparkir di halaman villa yang begitu luas itu.
Bryan yang melihat Aya masih asik dengan tidurnya pun perlahan menyentuhnya dan membangunkannya.
"Aya, kita sudah sampai, bangunlah." Bryan menyentuh pipi istrinya begitu lembut. Dan itu berhasil membuat Aya terbangun dan mengerjapkan matanya.
"Kita sudah sampai?." Aya pun membuka matanya sempurna.
Bryan juga menoleh ke kursi belakang, dilihatnya Adrian yang juga masih terlelap di sana. Ia pun menggelengkan kepalanya menatap Adrian.
"Woi monyet...!, Bangun woi... Kita sudah sampai!." Bryan berusaha membangunkan Adrian.
"Apa sih, masih ngantuk!."
"Dasar monyet tukang tidur!," umpat Bryan.
"Eh Aku masih bisa mendengarnya kodok." Adrian juga mengatai Bryan. Ya, sejak kecil mereka selalu saja saling mengolok dan bertengkar. Namun mereka saling menyayangi satu sama lain. Dan ini sudah hal biasa bagi keduanya.
Aya yang mendengarnya pun merasa kesal dengan sikap mereka yang menurutnya seperti tikus dan kucing.
"Stop!!, Diamlah kalian!. Apa kalian tidak berpikir kalau kalian itu sudah dewasa huh!. Kalian sungguh seperti anak kecil saja!," bentaknya kepada keduanya, dan itu membuat Bryan dan Adrian tertunduk.
"Maaf," ucap keduanya.
"Sekarang ayo kita turun, Aku sudah lelah dan ingin istirahat," ujar Aya dan hendak keluar dari dalam mobil.
"Tunggu!," ucap Bryan menghentikan Aya.
“Ada Apa lagi Bryan?,” tanyanya heran.
“Aya, Kau lupa memakai kacamata mu, dan pakai juga syal ini, diluar sangat dingin,” ucap Bryan seraya memakaikan kacamata dan syal untuk istrinya.
Sedangkan Adrian menatap jengah sepasang suami istri itu. “Hei, apa kalian tidak melihat bahwa di sini ada orang huh.” Adrian berdecak merasa matanya ternodai sebagai jomblowers.
“Deritamu wahai kau kaum jomblo,” ucap Bryan terkekeh. Sontak membuat Aya pun juga ikut terkekeh.
__ADS_1
Namun berbeda dengan Adrian, kini Ia merasa kesal terhadap pasangan suami istri itu. Hingga Ia berandai-andai kapan dirinya akan memiliki istri.
“Ingat Aya, Kau jangan pernah melepaskan kacamata tebal mu ini, Aku tidak ingin mereka melihat mu tanpa kacamata!.” Bryan memperingatkan Aya.
“Iya-iya,” ucap Aya jengah. Suaminya itu terus saja mengingatkan agar dirinya tidak melepaskan kacamata tebalnya.
Mereka pun keluar dari mobil dan segera berjalan memasuki villa milik Deyo yang terlihat nampak begitu besar.
Sampai di dalam, sudah banyak sekali teman-teman mereka yang sudah datang.
Mereka merasa heran saat melihat Bryan yang datang bersama Aya dan Adrian. Kalau bersama Adrian, itu sudah biasa bagi mereka. Namun untuk Aya, mereka begitu heran melihatnya.
Sementara dari arah lain, Rena mengerutkan keningnya melihat Bryan yang datang bersama Aya. Ia berpikir Bryan akan mengajak istrinya.
Rena tidak pernah tahu bahwa Aya lah istri Bryan. Yang Ia tahu istri Bryan begitu nampak cantik.
“Ck, Aku pikir dia akan mengajak istrinya, tapi ternyata Aku salah.”
“Ternyata si cupu juga ikut,” timpal Deyo yang saat ini duduk di samping Rena. Ia terus menatap Aya dengan senyum menyeringai.
“Kau masuklah ke kamar nomor dua Aya, nanti Aku akan menyusul mu,” bisiknya. Aya pun mengangguk mengerti. Ia segera membawa kopernya menuju kamar yang sudah Bryan katakan tadi.
Sementara pandangan Deyo terus saja mengikuti ke mana arah Aya pergi dengan tersenyum penuh arti.
Sementara Aya, langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur, rasanya Ia begitu lelah. Hingga akhirnya Ia terlelap begitu cepatnya.
Beberapa saat kemudian, Aya merasa seperti ada yang menyentuh pipinya dengan lembut. Namun Ia begitu enggan untuk membuka matanya. Rasanya Ia begitu lelah dan mengantuk saat ini.
Hingga sebuah suara halus mampu membuat matanya terbuka sempurna.
"Sayang bangunlah, Kau harus makan dulu,," ucap suara itu.
Suara yang begitu familiar di telinganya.
"Bryan?." Aya terkejut melihat suaminya di sana. Dan tadi, apakah pendengarannya salah?. Aya seperti mendengar suaminya memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Kau sudah bangun Aya?, Aku membawa makan malam untuk mu. Sekarang makanlah, Aku tahu kau pasti lapar." Bryan menyodorkan nampan berisi makan malam serta makanan penutup untuk Aya.
"Kenapa Kau membawanya kemari Bryan?, Bagaimana nanti kalau ada yang melihat Kau datang kemari," tanya Aya.
"Aku tahu kau pasti malas keluar dan bertemu dengan mereka. Jadi Aku berinisiatif untuk membawa makan malam mu ke sini," tutur Bryan. "Sekarang makanlah, Kau pasti lapar," ucapnya kemudian.
Aya tersenyum menganggukkan kepalanya, Ia memang sangat lapar saat ini. Aya juga merasa senang Bryan begitu perhatian padanya.
__ADS_1
Setelah makanan itu tandas, Aya kembali membaringkan tubuhnya. Rasanya Ia benar-benar malas.
"Ah, kenyangnya," ucapnya membuat Bryan menggelengkan kepalanya.
"Apa Kau akan tidur lagi wahai putri tidur?."
"Ya Bryan, rasanya Aku sangat lelah dan begitu malas. Aku akan kembali tidur lagi," ucap Aya malas.
"Baiklah, kalau begitu Aku akan menemanimu," ucap Bryan dan langsung menyusul istrinya.
"Tapi Bryan, bukankah Kau harus mengurus semuanya di luar?."
"Sudah ada Arkan yang memegangnya." Bryan merengkuh tubuh Aya dan memasukkannya ke dalam pelukannya.
Bryan mengecup kepala Aya berkali-kali, hingga membuat rasa nyaman bagi Aya saat ini.
Namun entah mengapa, tiba-tiba saja bayangan saat dirinya bergumul dengan sang suami terlintas di benaknya.
Aya ingin sekali kembali mengulangnya saat ini juga. Ia bingung kenapa Ia tiba-tiba menginginkan hal itu.
Dengan cepat Aya membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya. Menatapnya dengan sorot mata yang begitu malu-malu.
Bryan mengerutkan keningnya heran melihat Sang istri. Namun Ia begitu terpesona dengan kecantikan istrinya dari dekat.
"Kau sangat cantik Aya," ucap Bryan spontan.
Dan itu sukses membuat pipi Aya merah merona.
Bryan sungguh gemas melihatnya, rasanya Ia ingin menerkam Aya saat ini juga.
"Aya, bolehkah...?"
Aya tersenyum malu-malu dengan menganggukkan kepalanya. Ia tahu apa yang suaminya inginkan saat ini. Karena Ia pun juga menginginkannya.
Dan berakhirlah dengan pergumulan panas yang membuat keduanya seakan larut dalam sebuah kenikmatan yang hakiki. Hingga keduanya pun terlelap dalam mimpi indahnya.
Tak lama kemudian Bryan terbangun, Ia melupakan tugasnya menjadi panitia acara malam itu. Hingga Ia terburu-buru memakai pakaiannya.
Dilihatnya Aya yang sudah terlelap karena kelelahan akibat ulahnya. Bryan mengecup kening istrinya kemudian segera keluar dari kamar Aya.
Saat Bryan keluar dari kamar Aya,tak sengaja Deyo melintas di sana dan melihat Bryan.
"Oh, jadi si cupu sekarang menjadi selingkuhan Bryan?," Ucapnya dengan sinis. Iapun hendak merencanakan sesuatu melihat semua itu.
__ADS_1
***