
Eve perlahan berjalan mendekati Sean, air matanya pun tidak dapat lagi Ia bendung. Benarkah pria di depannya itu adalah kakaknya?. Rasanya Eve begitu terharu.
"Kakak," ucapnya dan langsung memeluk tubuh kakaknya.
Keduanya larut dalam suasana yang mengharu biru. "Aku tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ashy, kakak begitu khawatir padamu waktu itu. Syukurlah Kau selamat Ashy," ucap Sean begitu bahagia dapat kembali memeluk adik yang sudah lama Ia rindukan.
Sementara Karl pun ikut meneteskan air matanya melihat pertemuan dua saudara yang sudah lama tak pernah bertemu itu. Karl turut bahagia melihat Ashy akhirnya kembali lagi ke rumahnya yang sebenarnya.
Hingga beberapa saat pun mereka masih saja berpelukan dalam tangisnya. Dan itu membuat Karl menatap keduanya begitu jengah.
"Apa kalian akan terus menangis seperti itu di sana?, ayolah,ini sudah hampir satu bulan, apa kalian akan terus seperti itu?," keluh Karl yang melebih-lebihkan ucapannya.
Hingga tatapan tajam pun Karl dapatkan dari Sean dan Eve. Keduanya begitu kompak menatap ke arah Karl.
"Hehehe, iya-iya maaf, silahkan lanjutkan jadi Teletubbies nya, Aku lapar, mau makan dulu," gurau Karl kepada kedua saudara itu.
"Ah iya Ashy, ayo kita masuk, Aku akan memperkenalkan mu kepada semuanya bahwa Kau kembali. Putri dari ratu Moana telah kembali," ucap Sean begitu bersemangat.
Sean menggandeng tangan Eve dan membawanya masuk ke istana meninggalkan Karl di luar.
"Hei, kalian ini begitu kejam, Aku yang sudah bekerja keras untuk membawa putri Ashy pulang, dan sekarang kalian mengabaikan ku?" protes Karl, lalu iapun bergegas menyusul Sean dan Eve.
Sean benar-benar bahagia bisa bertemu lagi dengan adiknya. Ia memperkenalkan Eve kepada seluruh anggota istana. Bahkan Ia mengumumkan kepada rakyatnya untuk melakukan pesta penyambutan kembalinya Putri Ashy di kerajaan matahari.
"Kak, tidak perlu melakukan hal yang begitu berlebihan seperti itu, Aku kan malu," ucap Eve menunduk.
"Kau adalah putri kerajaan ini, jadi semua harus di rayakan. Kakak akan mengadakan pesta rakyat selama dua hari untuk penyambutan mu Ashy. Masyarakat pasti juga akan sangat senang dengan kembalinya dirimu. Kau begitu mirip dengan ratu mereka," ucap Sean begitu bangga.
"Jangan melebihkan kak," ucap Eve merasa malu.
"Kita bahas lagi ini nanti, sekarang kita makan dulu. Kakak tahu Kau pasti sangat lapar," ajak Sean, mereka pun segera menuju ke ruang makan di istana.
***
"Ashy, apa Kau sudah memakai kalung keluarga kita?" tanya Sean saat berada di ruangan khusus miliknya.
"Maksud kak Sean, apakah kalung ini?." Eve menunjukkan sebuah kalung yang Ia keluarkan dari sakunya.
Sean terkejut karena Eve belum memakai kalung tersebut.
__ADS_1
"Jadi Kau belum memakainya?, sekarang cepat gunakan kalung tersebut Ashy!" titah Sean.
Eve menganggukkan kepalanya menyetujui. Ia segera memakai kalung tersebut hingga melingkar di lehernya.
Namun Eve merasakan tubuhnya seakan bereaksi. Kalung yang Ia pakai perlahan lenyap dari leher Eve.
Eve pun begitu terkejut melihat kalung yang bertengger di lehernya itu perlahan mulai menghilang.
"Kak, apa yang terjadi?, kenapa kalungnya menghilang," ucap Eve begitu terkejut.
"Kalung itu sudah menemukan rumahnya Ashy, dan itu menyatu dalam tubuhmu. Di saat Kau kesulitan untuk melawan musuh-musuh mu nanti, kalung itu akan membantumu," ucap Sean.
Rasanya Eve antara percaya dan tidak percaya dengan semua hal itu. Namun Ia berusaha untuk mempercayainya.
"Ayo Ashy, kakak akan mengantar mu menuju ke kamar mu," ajak Sean seraya memegang pundak Eve.
Eve terkejut saat tangan Sean menyentuh kulitnya. Sebuah gambaran yang terasa begitu asing membuatnya bingung dan bertanya-tanya.
Eve pun memegang tangan Sean untuk menemukan jawabannya. Dan di saat itu, Eve kembali melihat kilasan-kilasan kejadian tentang pembunuhan yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Namun Eve masih bingung, kejadian apakah itu. Ia tidak mengenali wajah-wajah itu. Tapi Eve merasakan sebuah ikatan yang begitu kuat.
Sementara Sean yang melihat Eve pun begitu khawatir dengan Eve yang tiba-tiba saja terduduk di lantai.
"Ashy, Kau kenapa?, ada apa dengan mu Ashy?," tanya Sean panik.
"Aku melihat tengah terjadi pembantaian kak, dan itu sangat mengerikan!." Eve mulai menatap kearah Sean. Namun pandangannya teralihkan pada foto besar yang tergantung di dinding yang ada di ruangan tersebut.
Orang yang Eve lihat tadi, beberapa orang berbaju hitam dan orang-orang yang ada di foto tersebut.
"Mereka kak, mereka yang tengah Eve lihat. Orang-orang berbaju hitam telah membunuh mereka dengan begitu mengerikan," tutur Eve dengan raut wajah yang ketakutan dan menangis. Tangannya menunjuk pada sosok dalam foto yang tergantung di dinding itu.
Sean mulai mengerti, lalu ia memeluk tubuh adiknya yang bergetar karena ketakutan.
"Yang Kau lihat adalah gambaran di saat mereka membunuh orang tua kita Ashy. Kakak bersembunyi dan menyaksikan bagaimana mereka telah membunuh orang tua kita. Tenanglah Ashy, mereka tidak akan pernah menyakiti kita. Kita harus membalaskan dendam kepada para pembunuh Papa dan Mama." Sean mengusap lembut rambut Ashy.
"Jadi mereka kedua orang tua kita kak?" tanya Eve dan langsung menangis tersedu saat Sean menganggukkan kepalanya.
"Jangan menangis Ashy, kita harus menjadi kuat, kakak akan mengajarimu bagaimana cara bertarung dan menggunakan senjata agar kita bisa membalas semua yang mereka lakukan pada Mama dan Papa," ucap Sean. Rasanya Ia ingin sekali menghabisi kelompok mafia yang telah membunuh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Eve merasa sedikit ragu, tapi Ia menganggukkan kepalanya setuju.
***
Keesokan harinya.
Eve terlihat nampak begitu sangat cantik dengan gaun yang sangat indah. Ia begitu malu karena tidak pernah berpenampilan seperti saat ini.
"Kau sudah siap?" tanya Karl mengulurkan tangannya.
"Aku terlihat aneh dengan penampilan ku saat ini kak. Apa mereka akan menerimaku kak sebagai anggota kerajaan ini?." Eve menatap Karl meminta jawaban.
"Kau itu Adalah Putri kerajaan ini Ashy, Dan Kau terlihat begitu mirip dengan ratu Moana, Mama mu," ucap Karl mencubit hidung Eve karena Eve terus saja bertanya.
"Sekarang Kau harus berjalan dengan tegak. Kita akan melakukan acara penyambutan mu dan penobatan mu," papar Karl membuat Eve merasa begitu gugup saat ini.
"Aku tidak yakin, apakah mereka akan menerimaku kak."
"Tentu saja mereka akan menerimamu Ashy. Sekarang persiapkan dirimu," ucap Karl mengulurkan tangannya untuk menggandeng Eve.
Eve pun meraih uluran tangan Karl. Mereka mulai berjalan keluar dari sana untuk menuju ke ruangan penyambutan dan penobatan dengan disaksikan oleh rakyat dari kerajaan matahari.
***
Saat melihat Eve keluar dan berjalan menuju ruang penyambutan dan penobatan, para penduduk pulau tersebut begitu mengagumi kecantikan Eve.
Eve bagaikan duplikat ratu mereka yang sudah gugur.
Banyak pujian terus saja terlontar dari mulut mereka akan kecantikan dan keanggunan Eve.
Eve terus menebarkan senyum kepada para penduduk dari kerajaan tersebut.
Hingga acara itupun terus berlanjut sampai acara penobatan pun berlangsung dengan lancar.
Mulai saat ini Kau adalah putri kerajaan ini Ashy. Dan kakak mohon menetaplah di sini. Kakak ingin Kau membantu kakak," pinta Sean.
Eve terdiam mendengar permintaan kakaknya.
***
__ADS_1