
Eve berangkat pagi-pagi sekali tanpa sepengetahuan Ax. Ia akan membiarkan Ax dan Ayumi berbahagia. Mungkin hubungan di antara mereka tidak akan berhasil bila hanya Eve saja yang berusaha.
"Sampai jumpa kak, semoga Kau berbahagia dengan pilihan mu," ucapnya menatap pintu kamar Ax. Eve pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari apartemen dan menuju bandara dengan taksi yang sudah ia pesan.
Eve kembali menangis mengingat Ax yang berciuman dengan Ayumi semalam. "Ke bandara pak," ucap Eve kepada supir taksi tersebut.
Pagi-pagi buta Eve telah meninggalkan apartemen Ax dengan begitu sendu. Ia tidak tahu apakah nanti ia akan bisa melupakan Ax, karena hanya waktu yang bisa menjawabnya.
***
"Aku sudah menemukannya Sean, Aku menemukan adikmu," ucap senang Karl.
"Apa Kau serius?!, darimana Kau bisa tahu bahwa dia adikku?."
"Firasat ku tak mungkin salah, Auranya dan auramu menyatu dalam dirinya. Aku bisa merasakannya Sean," ucap Karl yakin.
"Syukurlah, tetap pantau adikku, lindungi dia!, musuh sudah mulai menemukannya," perintah Sean.
"Tentu, tanpa Kau suruh Aku akan melindunginya dengan seluruh hidup ku. Dia adalah gadis kecilku yang ku tunggu selama ini Sean. Kau tahu, adikmu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik," ucap Karl membayangkan bagaimana Eve saat ini.
"Hei!, dia adikku. Aku tahu Kau begitu menyukainya sejak ia di lahirkan ke dunia ini. Tapi Aku belum mengatakan bahwa Aku setuju atau tidak," ucap Sean membuat Karl berdecak.
"Terserah Kau saja!, Aku akan kembali mengawasi Eve," ucap Karl dan langsung pergi dari hadapan Sean.
"Eve??," ucap Sean bingung, pasalnya nama adiknya adalah Ashy. Dan Karl mengatakan Eve?. Mungkin itu nama yang di berikan oleh keluarga yang merawat adiknya itu.
Sean harus menemui keluarga itu, ia ingin menanyakan apakah keluarga yang merawat adiknya itu menyimpan kalung yang sebentar lagi harus adiknya pakai. Karena sebentar lagi adalah hari ulang tahun Ashy.
***
Ax mulai terbangun dari tidurnya, ia ingin membuatkan sarapan pagi untuk Eve. Ax melihat kamar Eve belum terbuka, yang menandakan bahwa Eve mungkin belum terbangun dari tidurnya.
Pelayan yang bertugas membersihkan apartemen Ax pun juga sudah selesai membersihkan apartemen tersebut.
__ADS_1
Ax mulai menyiapkan bahan untuk membuat sandwich kesukaan Eve sejak kecil. Ia mulai bergelut dengan bahan-bahan itu, dan beberapa saat kemudian, sandwich itu pun sudah jadi.
Ax juga membuat susu coklat hangat dan menyandingkannya di samping sandwich yang sudah ia tata di atas nampan.
Ax mulai berjalan menuju kamar Eve untuk membangunkan adiknya itu. Ia menghela nafasnya sejenak sebelum mengetuk pintu tersebut.
"Eve, ayo bangun Eve, kakak sudah membuatkan mu sarapan kesukaan mu," ucap Ax seraya mengetuk pintu kamar Eve.
Namun tidak terdengar sahutan dari dalam kamar, hingga Ax berpikir mungkin adiknya itu masih tertidur. "Eve!," panggilannya lagi.
Lalu Ax teringat akan kejadian semalam, mungkin Eve marah kepadanya dan tidak mau membukakan pintu untuknya.
Ax mulai membuka kenop pintu kamar Eve, dan ternyata pintu tersebut tidak terkunci. Ia pun memutuskan untuk masuk dan membangunkan Eve.
"Eve, kenapa Kau ceroboh sekali tidak mengunci pintu kamar mu?," ucap Ax yang kini mulai memasuki kamar Eve.
Namun Ax terkejut saat melihat kamar Eve yang rapi tersebut dan tidak menampilkan Eve di sana.
Ax menaruh sarapan yang ia bawa di atas nakas dan berjalan menuju bathroom. Ax berpikir mungkin Eve berada di sana.
Namun tidak ada sahutan. Ax pun mencoba untuk membuka pintu bathroom tersebut dan ternyata sama,tak di kunci.
Ax terkejut saat tak mendapati Eve juga tidak ada di sana. "Kemana Eve?," gumamnya.
Ax berpikir keras kemana Eve bisa pergi dari sana, sedangkan Eve tidak mengenal kota tersebut. Ax pun menyadari ada yang ganjil disana.
"Koper Eve, kemana kopernya?!," Ax mulai mencari di mana koper milik Eve yang biasanya berada di dekat lemari, sekarang sudah tidak ada.
Ax segera melangkah dan membuka lemari pakaian tersebut, berharap pakaian Eve masih berada di sana.
Dan ternyata dugaannya benar, Eve membawa semua pakaiannya.
Ax terpaku sesaat,lalu ia tertunduk menyadari bahwa Eve telah pergi dari apartemennya.
__ADS_1
Ax berjalan gontai dan duduk di pinggir tempat tidur milik Eve. Ia tersenyum, namun ia juga menitihkan air matanya mengingat yang telah ia lakukan bersama Eve beberapa hari terakhir. Bahkan bayangan saat mereka berciuman pun masih berkeliaran dalam ingatannya.
"Kau meninggalkanku Eve, ya, Aku memang pantas untuk Kau tinggalkan." ucapnya tertunduk.
Ax melihat ada secarik kertas di atas kasur tersebut. Lalu dengan cepat ia meraihnya dan membuka lipatan kertas itu.
Aku pulang kak Ax, maafkan Aku yang sudah memaksakan sebuah hubungan di antara kita. Semoga kak Ax bahagia bersama kak Ayumi
Ax semakin menitihkan air matanya kala membaca coretan yang Eve tulis dalam secarik kertas tersebut. Hatinya terasa begitu sakit, hingga ia pun memukul kasur itu berkali-kali.
"Eve, maafkan Aku. Aku pun begitu sangat mencintaimu Eve, tapi kita tidak bisa menjalankan hubungan yang tak sehat ini." Ax terus saja menangis. Berkali-kali ia mencoba untuk menghilangkan pikirannya dari Eve, tapi bayangan Eve selalu saja tak mau hilang dalam ingatannya.
Sejak kecil ia sudah memiliki perasaan sayang terhadap adiknya, dan saat sudah dewasa, perasaan itu berubah menjadi perasaan cinta yang begitu besar untuk Eve.
***
Aya tengah berbincang dengan suaminya untuk masalah terkait dengan kejutan untuk ulang tahun Eve.
Mereka sudah menyiapkan sebuah kejutan yang begitu meriah untuk merayakan ulang tahun Eve yang ke 20 tahun.
"Sayang, Aku akan memberikan kalung Eve yang wanita paruh baya itu berikan padaku 20 tahun yang lalu, apa Kau ingat sayang?," tanya Aya kepada suaminya.
"Ya sayang, Kau haris segera memberikan kalung itu. Entah mengapa Aku merasa Eve harus segera memakainya. Beberapa hari yang lalu Ax menelpon ku dan mengatakan bahwa ada seseorang yang sedang mencari Eve. Sepertinya nyawa putri kita sedang dalam bahaya." ucap Bryan membuat Aya membelalakkan matanya terkejut.
"Kenapa Kau tidak mengatakan apapun kepada ku sayang, dia putriku, Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi Kepadanya." Aya memarahi Bryan karena tidak menceritakan tentang yang Ax ceritakan kepada suaminya itu.
Kini ia merasa begitu khawatir dengan putrinya. "Aku akan menghubungi Eve untuk menanyakan bagaimana kabarnya saat ini," ucap Aya mencari ponselnya.
"Mama, Papa, Eve pulang," ucap Eve dengan lantangnya.
Bryan dan Aya begitu terkejut melihat putrinya yang kini tengah berjalan ke arahnya dan membawa koper miliknya.
"Eve?," ucap Aya masih tak percaya, pasalnya Eve mengatakan akan pulang saat akhir liburan semesternya.
__ADS_1
"Eve rindu kalian," ucap Eve dan langsung memeluk Aya dan Bryan bergantian.
***