
Dokter begitu cekatan menangani kondisi Divya saat ini.
"Siapkan defibrillator cepat!" pinta Denis.
"Baik dok!"
"Kumohon Di, Kau harus kembali!" ucap Denis seraya menggunakan alat pacu jantung.
Denis pun sebenarnya begitu khawatir pada Divya. Namun sebagai dokter ia harus tenang menghadapi kondisi pasien yang seperti ini.
Satu kali kejutan tak ada reaksi.
Dua kali kejutan masih sama.
"Tambah volt nya lagi!" teriak Denis. Sungguh ia tidak ingin menghadapi keadaan yang seperti sekarang ini. Apalagi itu adalah Divya.
Perawat melakukan perintah Denis.
Denis terus saja memberikan kejutan pada Divya. Namun hasilnya nihil, detak jantung Divya tak kembali lagi.
Para perawat saling pandang menatap dokter Denis yang bersikeras memacu jantung pasiennya.
"Dokter Denis, pasien sudah tidak merespon Dok. Waktu kematian pukul 10.25 ," ucap perawat.
Perlahan Denis mulai berhenti. Tangannya begitu gemetar saat ini. Sungguh ia merasa begitu gagal. Lalu apa yang harus ia katakan kepada Sean nanti? Denis begitu terpukul.
Mau tidak mau Sean harus menerima kenyataan tentang Divya.
"Aku akan mengatakan kepada keluarga pasien," ucap Denis tertahan.
Denis segera melangkah keluar. Ia tak mampu lagi menatap Divya.
Cklek...
Semua anggota keluarganya pun langsung menghampiri Denis yang keluar.
"Bagaimana keadaan Divya?" Pertanyaan itu terlontar dari seluruh keluarga.
Sementara Denis nampak begitu lesu. Bibirnya kelu untuk menjawab pertanyaan dari keluarga besar tersebut.
__ADS_1
Sean dengan tak sabarnya langsung mencengkram kuat kerah baju kebesaran milik Denis.
"Katakan kepada ku! Bagaimana keadaan Divya istriku!?" Sean begitu nanar menatap wajah lusuh Denis.
Denis enggan untuk membuka suaranya dan memberi tahu tentang kepergian Divya saat ini.
"Cepat katakan Denis!" Sean berteriak.
"Maafkan Aku.". Hanya kata itu yang keluar dari bibir Denis.
Seketika Sean langsung mendorong keras tubuh Denis. Kata maaf yang keluar dari mulut Denis bagaikan belati yang menghujamnya.
Sean hendak memukul Denis, namun keluarga besarnya Divya menghentikannya.
"Nak Sean, berhentilah! Kita harus mendengar ucapan dokter Denis!" tegur Bryan dan Adrian. Sementara Bintang dan Galaxy membawa Sean menjauh dari Denis.
Denis tidak marah dengan perlakuan Sean padanya. Malah ia kini rasanya tidak rela bila harus mengatakan tentang Divya.
"Dokter, bagaimana dengan kondisi putri kami?" Adrian bertanya dengan menekan rasa cemas dan gelisahnya.
Denis kembali menundukkan wajahnya. Rasanya ia tak mampu untuk membuka mulutnya.
"Maafkan kami paman, kami tidak bisa menyelamatkan Divya," ucap Denis. Suaranya tertahankan.
Sementara Lisa berteriak histeris sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Bagaimana tidak, putri semata wayangnya meninggalkannya.
Dengan sigap Aya menopang tubuh Lisa. Lalu Bintang pun membantu Aya. Bintang membawa tubuh auntynya untuk di periksa.
Sementara Sean ia begitu tak terima dengan kabar tersebut. Tangannya memukul tembok berkali-kali.
Sementara Bryan berusaha untuk menenangkan Adrian yang begitu terpukul.
Keluarga besar itu benar-benar tidak menyangka akan kehilangan Divya secepat ini.
"Tidak! Denis pasti berbohong. Istriku tidak mungkin meninggalkan ku. Dia pasti salah!" Sean berlari memasuki ruangan Divya.
Ia pun mendekati tubuh Divya yang memucat. Ia mendekap tubuh tersebut.
"Di, apa Kau sungguh tega meninggalkan ku!? Hei sayang, bangunlah! Atau Kau akan ku berikan hukuman!" Sean terisak.
__ADS_1
Kehilangan Divya adalah sesuatu yang membuatnya begitu terpukul saat ini.
"Tuan, semoga Anda di berikan ketabahan. Ini sudah kehendak Tuhan," ucap perawat.
"Tidak! Aku tidak akan pernah menerimanya! Pergi kalian pergi!"
"Tapi kami harus melepaskan alat di tubuh pasien, Tuan," sahut perawat.
"Pergi, atau Aku akan melakukan hal yang tidak akan pernah kalian duga!" ucap Sean begitu dingin. Tatapan matanya menyiratkan begitu banyak luka dan kemarahan.
Hingga beberapa perawat itu menciut seketika.
***
Sementara di sisi lain. Seorang wanita paruh baya mendatangi rumah sakit tersebut. Ia membawa sesuatu di tangannya.
Semua orang tidak menyadari saat Alice melewati keluarga yang tengah bersedih tersebut.
Hingga Alice masuk ke ruangan dimana Divya berada.
Alice melihat Sean yang tengah tergugu menggenggam tangan istrinya seraya menunduk.
Alice mendekat ke arah mereka.
"Tuan Sean."
Sean mendongak, menatap sebuah suara yang memanggil namanya.
"Alice, apa yang Kau lakukan di sini? Pergilah Alice jangan mencoba untuk memisahkan ku dengan istriku!"
"Maafkan saya Tuan Sean, tapi saya tidak akan pergi. Karena ada yang harus saya lakukan." Alice pun mendekati tubuh Divya.
Alice menyentuh tangan Divya. Masih terdapat denyut nadi di pergelangan tangan Divya namun sudah begitu samar.
Alice pun mengeluarkan sebuah batu giok yang ia bawa. Menaruhnya di dadanya Divya. Pancaran batu tersebut tiba-tiba menjadi gelap.
"Apa yang Kau lakukan pada istri Ku Alice!" bentak Sean.
"Tolong diamlah Tuan! Saya hanya sedang mencoba membuat Nona Divya kembali kepada Anda." Seketika Sean pun langsung terdiam.
__ADS_1
Namun ia masih begitu ragu. Dalam hatinya bertanya-tanya siapakah sebenarnya Alice.
***