
Tiga hari berlalu, kini tiba saatnya untuk Bryan dan Aya berangkat ke puncak menyusul teman-temannya.
Bryan memasukkan beberapa koper baju miliknya dan juga milik istrinya.
"Sudah siap," tanya Bryan menatap Aya.
Aya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Bryan membukakan pintu mobil depan untuk Aya. " Silahkan masuk Tuan putri," ucap Bryan berlagak bak seorang pangeran.
Sontak membuat Aya terkikik geli melihatnya, seorang Bryan yang biasanya selalu bersikap arogan, kini malah bersikap begitu romantis.
"Tunggu!," seru seseorang dari lain arah.
Membuat sepasang suami istri itu pun menoleh ke arahnya.
Bryan mengusap matanya tak percaya melihat seseorang yang datang ke arah mereka. Berbeda dengan Aya, Ia begitu senang melihat siapa yang datang itu.
"Aku ikut kalian, Aku malas sekali untuk menyetir," ucap Adrian, matanya terus melirik Bryan seraya tersenyum meledak.
"Kau tidak boleh ikut, mobil ini di khususkan hanya untuk ku dan dan Aya ISTRIKU." Bryan menekankan kata istriku dengan begitu jelas.
"Ya elah babang, masa sepupunya mau ikut tidak boleh, adek sedih nih bang," kelakar Adrian dengan tertawa senang menggoda Bryan.
Dua hari lalu Adrian mendatangi rumah utama. Ia juga membuat Bryan babak belur waktu itu.
Flash back on
Setelah mengetahui bahwa Bryan adalah suami Aya, Adrian pun mendatangi rumah utama. Ia ingin berbicara empat mata dengan kakak sepupunya itu.
Setelah pelayan membukakan pintu, tanpa berkata Adrian langsung berteriak memanggil nama Bryan.
"Bryan...!, Bryan...!." Suara Adrian seakan memenuhi ruangan tersebut.
Aya dan Bryan yang kini berada di meja makan pun segera keluar karena mendengar suara teriakan dari ruang tengah.
Aya terkejut karena Adrian datang ke rumah utama. "Oh tidak!, Apakah akan ada perang besar?," gumam Aya seraya menggigit kuku jarinya.
__ADS_1
Sementara Bryan memicingkan matanya kala melihat sosok Adrian di sana. Dengan langkah pasti Ia pun menghampiri adik sepupunya itu.
"Untuk Apa kau datang kemari huh?!." Tanya Bryan dengan mendudukkan dirinya di sofa.
Sementara Adrian menatap Bryan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Melihat hal itu, Bryan tersenyum sinis. "Bicaralah, jangan sampai kedua bola mata mu itu keluar," ucap Bryan dengan santainya.
Adrian segera menghampiri di mana Bryan yang kini mendudukkan dirinya di sofa.
Adrian mencengkeram kuat kerah baju yang digunakan Bryan, dan menariknya hingga berdiri. Bukannya Takut, Bryan malah tersenyum miring menatap Adrian.
"Berhentilah bicara!, Aku tidak akan pernah membiarkan mu menyakiti Aya. Bukankah Kau masih berhubungan dengan Rena huh!." Adrian berfikir Bryan masih berhubungan dengan Rena. Ia pun semakin mencengkram kerah baju Bryan.
Dengan cepat Adrian memberikan satu Bogeman mentah kepada Bryan. "Aku tidak akan pernah membiarkan mu menyakiti Aya, Aku akan merebutnya dari mu!," ucap Adrian kesal.
Mendengar ucapan Adrian yang ingin merebut Aya darinya, Bryan bangkit dan membalas pukulan Adrian. Rasanya darahnya begitu naik mendengar ucapan Bryan.
"Kau pikir Aku akan menyerahkan istriku huh?!, Aku tidak akan pernah membiarkannya. Asalkan Kau tahu, Aku sudah memutuskan hubungan ku dengan Rena." Lalu Bryan kembali membalas pukulan Adrian.
Sedangkan Aya yang menatap keduanya berkelahi pun terbelalak mendengar penuturan suaminya.
Bryan dan Adrian terus saling membalas satu sama lain. Dan Aya merasa begitu khawatir melihat keduanya. Aya hendak melangkah dan melerai keduanya.
Tapi suara seorang pelayan menghentikannya. "Jangan Nona, Anda jangan pernah menghampiri mereka dan melerai mereka."
"Tapi kenapa Bi?, Aku tidak ingin mereka saling memukuli," ucap Aya ingin tahu.
Bi Ani pun tersenyum, sudah berpuluh tahun dia bekerja di rumah utama. Bahkan dari saat Bryan kecil.
"Mereka sudah sering melakukan hal itu Nona, dan mereka nanti juga akan berhenti sendiri dan kembali berbaikan seperti sedia kala." Bi Ani membuat Aya tercengang mendengarnya.
"Sungguh?, Benarkah itu?." Aya nampak ragu dengan hal itu.
"Ya Nona, karena saya sudah sering melihat mereka seperti ini sebelumnya. Jadi lebih baik kita pergi dari sini." Bi Ani menggiring Aya untuk pergi dari sana.
Dengan ragu Aya pun meninggalkan kedua pria itu menuruti Bi Ani.
__ADS_1
Dan benar saja dengan apa yang di ucapkan oleh Bi Ani. Setelah beberapa saat mereka pun berhenti saling memukul. Tubuh mereka pun terbaring di lantai merasakan lelah akibat saling memukul.
Hingga suara tawa keduanya pun terdengar. Mereka tertawa dengan wajah saling babak belur. Namun entah mengapa keduanya merasa lega satu sama lain.
"Kau tahu Bryan?, Ini seperti terulang kembali. Apa kau ingat dulu kita sering berkelahi demi seorang gadis kecil?." Adrian mengingat kejadian pada saat mereka masih kecil.
Keduanya pernah menyukai seorang gadis kecil yang sama. Seorang gadis kecil yang sangat cantik dan juga baik hati. Dan Bryan lah pemenangnya waktu itu, Ia berhasil membuat seorang gadis kecil itu menyukainya dan mau berteman dengannya.
Namun entah mengapa setelah beberapa hari gadis kecil yang sering bermain di taman itu menghilang begitu saja dan tak pernah lagi datang ke sana.
Hingga Adrian dan Bryan perlahan melupakan sosok gadis kecil itu.
"Ya, Aku mengingatnya. Kemana sekarang gadis kecil itu Adrian?."
"Entahlah. Kau selalu menang dariku Bryan, dari dulu hingga sekarang. Kau begitu beruntung mendapatkan Aya. Sementara Aku yang sudah menyukainya dari dulu harus merelakan dia untuk mu. Selamat saudara ku?." Adrian menerima kekalahannya.
"Ya, Aku beruntung memiliki istri seperti Aya. Dan Aku tidak akan pernah melepaskan dia apapun yang terjadi. Aku akan selalu melindunginya Adrian." Bryan begitu mantap dan yakin mengucapkannya.
"Syukurlah Bryan, Aku merasa tenang saat ini. Aku mendoakan kebahagiaan mu dan juga Aya saudara ku," ucap Adrian menahan perih. Namun Ia lega dan juga bahagia karena Bryan sudah menerima Aya.
Flash back off
"Sudahlah jangan berkelahi terus!, Masuklah Adrian, Kau boleh ikut dengan kami," ucap Aya. Dan membuat Adrian tersenyum menang menatap Bryan.
Sementara Bryan mendengus kesal karenanya. Lalu Ia pun segera memasuki mobil setelah Aya masuk dan duduk di depan.
"Kita berangkat sekarang pak supir," ucap Adrian yang duduk di belakang mereka.
"Diamlah, Aku bukan supirmu!," Ucap Adrian kesal.
"Baiklah, Aku akan diam pak supir," ucap Adrian kemudian berusaha menggoda Bryan.
Dan itu sukses membuat Bryan begitu kesal. "Adrian, kalau Kau tidak bisa diam, maka Aku akan menurunkan mu!," ancam Bryan.
Sementara Aya merasa jengah mendengar dan melihat pertengkaran mereka yang membuat gendang telinganya seakan mau pecah karena terus saja mendengar pertengkaran mereka yang seperti anak kecil itu.
Hingga akhirnya Bryan menjalankan mobilnya menuju ke puncak yang akan mereka datangi saat ini.
__ADS_1
***