Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 46


__ADS_3

Adrian menghempaskan tubuh Andi, begitu marah mendengar ucapan Andi.


"Apa kalian semua yang ada di sini tidak punya hati!, Kalian sama halnya dengan sebuah patung!," ucap Adrian begitu marah.


Arkan yang melihatnya pun berusaha meredam amarah Adrian.


"Adrian, Kau tenanglah."


"Aku tidak akan pernah bisa tenang saat ini!," ucapnya dan langsung pergi ke kamar Rena.


Adrian membuka pintu kamar Rena dengan cepat, beruntung pintu kamar itu tidak terkunci, sehingga Adrian begitu saja masuk ke dalamnya.


Adrian terkejut mendapati Bryan yang kini berada di bawah Rena. Karena saat ini posisi Rena berada di atas Bryan dan berusaha membuka kancing baju Bryan.


Sementara Bryan terus memegangi kepalanya, pandangannya sulit untuk di kontrol. Wajah Rena di atasnya mulai berubah menjadi wajah istrinya.


"Aya." Bryan hendak menyentuh wajah Rena. Namun secepat kilat tubuh Rena tiba-tiba saja terhempas ke lantai.


"Dasar wanita murahan!," umpat Adrian. Pandangannya begitu marah melihat semuanya.


Lalu pandangannya beralih pada Bryan yang saat ini masih memegangi kepalanya.


Lalu dengan cepat Adrian menyeret tubuh Bryan.


"Apa yang Kau lakukan huh!!, Kau asik bermesraan di sini bersama ja..lang ini sementara istrimu sedang dalam bahaya!." Adrian mulai memukul wajah Bryan.


"Hei, Apa yang Kau lakukan?!, Kau sudah mengganggu kami!, Pergilah dari sini Adrian!." Rena berteriak sembari bangun dari lantai.


"Diamlah Kau wanita ja..lang! Atau Aku akan melakukan hal yang tidak pernah kau duga!." Adrian berucap dengan kilatan kemarahan.


Rena terkejut dengan kemarahan Adrian, Ia pun menjadi ketakutan karena Ia tahu Adrian juga bukan orang sembarangan.


Adrian lalu kembali menatap Bryan, Ia merasakan ada yang janggal pada diri Bryan.


"Apa yang Kau lakukan padanya huh!!," ucapnya dan langsung mencengkeram kuat leher Rena sehingga membuat Rena susah untuk mengambil nafasnya.


"Le..pa..s..kan a..ku." Rena susah untuk berucap, nafasnya seakan habis akibat cengkraman Adrian.


Adrian kembali menghempasnya ke lantai, hingga Rena meringis kesakitan dan terbatuk-batuk.


"Cepat katakan, Bryan kenapa huh?!."


"Di-dia menghirup lilin aromaterapi yang mengandung obat perangsang," ucap Rena dengan cepat.

__ADS_1


Sedangkan Adrian terbelalak mendengarnya.


"Sial!," umpatnya, karena semenjak memasuki kamar ini Adrian juga mencium bau nya.


Ia kembali menatap Rena, sepertinya Rena tidak terpengaruh oleh aroma tersebut hingga membuatnya yakin bahwa Rena memiliki penawarnya.


"Sekarang berikan penawar itu padaku!, Atau kau akan tahu akibatnya!!." Adrian mengancam Rena, membuat Rena bergidik ketakutan.


Dengan cepat Ia membuka laci kamar itu dan mengeluarkan sebuah obat yang Adrian yakin adalah penawarnya. Namun Adrian memicingkan matanya karena hanya ada satu obat.


"Hanya satu?!."


"Ya, Aku hanya punya dua, yang satu sudah ku minum, dan tinggal satu ini," ucap Rena ketakutan.


"Sial!!," umpat Adrian kembali. Adrian segera meminumkan obat tersebut kepada Bryan.


Tak berapa lama kemudian, Bryan mulai tersadar. Pandangannya mulai kembali normal, tubuhnya tak lagi terasa panas.


"Adrian?." Bryan terkejut melihat Adrian yang ada di sana.


"Sekarang bukan waktunya Kau terkejut, cepatlah tolong istrimu!, Deyo membawanya paksa ke kamarnya." Adrian berucap dengan menahan sesuatu dalam tubuhnya.


Sementara Bryan terkejut mendengar penuturan dari Adrian. Dengan cepat Bryan segera keluar dari sana dan menuju kamar Deyo.


"Kau akan merasakan akibatnya nanti, Kau tunggu saja!, Dasar wanita ja...lang!," ucapnya sebelum keluar dari kamar Rena.


Rena semakin ketakutan. "Bagaimana ini?, Tidak, Aku harus segera kabur dari sini," ucapnya,dengan cepat Ia pun mengemasi barang-barangnya.


***


Bryan dengan cepat berlari menuju kamar Deyo, kini emosinya sudah semakin memuncak.


Dilihatnya banyak teman-temannya yang masih berkerumun di sana. Bryan pun menerobos mereka dan dengan sekuat tenaga berusaha mendobrak pintu kamar Deyo.


Sementara di dalam, Deyo berusaha mengukung Aya. tangannya mencengkram kuat kedua tangan Aya. Bibirnya dengan bringasnya menciumi leher jenjang Aya.


Aya terus saja berteriak memanggil nama suaminya, hingga suaranya terasa begitu serak karena sedari tadi terus berteriak dan berontak. Namun sayangnya kekuatan Deyo lebih kuat.


"Bryan, tolong Aku. Tolong Bryan..." panggilnya, hingga terdengar begitu menyayat hati.


Namun Deyo dengan tega terus saja mencium leher Aya, tangan satunya menarik keras baju Aya hingga robek di bagian dadanya.


Melihat hal itu semakin membuat Deyo gencar melakukan aksinya.

__ADS_1


Terdengar pintu kamar tersebut yang terbuka secara paksa. Namun Deyo seolah tuli, pandangannya tertuju pada tubuh Aya yang terus menggodanya.


Dan tiba-tiba saja tubuhnya terjungkal ke samping karena mendapatkan sebuah tendangan dari Bryan.


Secepat kilat Bryan menyelimuti tubuh istrinya yang bergetar karena ketakutan. "Sayang, tenanglah, Aku di sini." Bryan memeluk tubuh Aya dan mencium kepalanya berkali-kali.


Lalu Ia teringat akan Deyo. "Sebentar sayang." Ucapnya.


Bryan dengan langkah panjangnya kembali menghampiri Deyo yang hendak berdiri. Tanpa aba-aba, Brayn kembali memukuli Deyo dengan kemarahannya yang begitu memuncak.


"Dasar ba..ji..ngan..! Kau beraninya menyentuh istriku huh, Kau berani menyentuh istriku dengan tangan kotor mu itu!." Bryan tanpa henti memukuli Deyo.


Kini wajah Deyo sudah tidak berbentuk lagi, darah segar mengalir dari hidungnya bahkan dari mulutnya. Bryan tak hentinya memukul, rasanya Ia ingin sekali menghancurkan Deyo saat ini juga.


Namun jeritan Aya menghentikannya, dengan cepat Bryan berlari menghampiri istrinya dan meninggalkan Deyo yang sudah tak berdaya bersimbah darah.


"Aya, Kau kenapa sayang, Kau kenapa?!," ucap Bryan begitu panik.


Aya merasakan sakit pada perutnya, keringat bercucuran menandakan sakit yang Aya rasaka sangat luar biasa.


Bryan membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya, dan betapa terkejutnya Bryan saat melihat darah mengalir membasahi celana yang Aya gunakan saat ini.


"Sayang, Kau kenapa?!!," Bryan segera mengangkat tubuh istrinya dan dengan cepat membawanya keluar dari sana. Menerobos teman-temannya yang sedari tadi hanya melihat saja dan saling berbisik.


Bryan segera menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat yang ada di kota itu.


"Suster tolong, tolong istri saya suster!." Bryan berteriak bak orang gila di rumah sakit itu.


Dengan cepat Aya mendapatkan perawatan medis, dan segera di bawa ke ruang ICU.


Bryan tidak ingin membiarkan Aya sendirian di dalam sana, ia hendak masuk kedalam sana namun dokter melarangnya.


"Maaf Tuan Anda harus menunggu di luar!." Ucap dokter.


"Tidak dokter, istriku membutuhkan ku saat ini, Apa dokter tidak lihat istriku sedang kesakitan?!." tukas Bryan.


"Tapi ini sudah prosedur dari rumah sakit Tuan, siapapun harus mematuhinya," tandas sang dokter.


Mau tidak mau Bryan pun harus menunggu di luar.


Bryan merasa sangat cemas dengan keadaan istrinya saat ini. Air matanya pun menetes mewakili Apa yang Ia rasakan saat ini.


"Selamatkan istriku Tuhan, tolong selamatkan dia," ucap Bryan tanpa hentinya.

__ADS_1


***


__ADS_2