
Sean merasa khawatir melihat Divya yang kini tak sadarkan diri dan sangat pucat.
Ia pun dengan cepat membawa Divya menuju ke rumah sakit terdekat.
Sean terus menoleh ke samping dimana Divya masih tak sadarkan diri dan semakin pucat.
"Kau sebenarnya kenapa Divya. Aku akan menghukum mu nanti karena sudah membuatku khawatir seperti ini," ucapnya dengan mengemudi begitu cepatnya.
Hingga mobilnya pun sampai di parkiran rumah sakit besar di kota tersebut.
Sean menggendong tubuh Divya memasuki rumah sakit tersebut.
"Tolong saya!" Sean berteriak memanggil suster yang berjaga di sana.
Dengan cepat Divya segera di bawa ke ruang UGD. Dokter segera menangani Divya yang kini masih tak sadarkan diri.
Sementara Sean merasa begitu khawatir melihat situasi saat ini.
"Dokter, ada pasien yang ada di UGD. Beliau terlihat pucat dan tak sadarkan diri. Dokter Riki menyuruh saya untuk memanggil Anda Tuan," ucap suster yang mencari dokter Denis.
Hingga dokter Denis pun harus turun tangan untuk memeriksa pasien yang berada di UGD, yang tidak lain adalah Divya.
Sean yang masih berada di depan pintu UGD pun mengerutkan keningnya saat melihat sosok dokter yang berjalan memasuki ruang UGD tersebut.
"Kenapa Aku seperti pernah melihat dokter itu?. Tapi di mana?" Sean bertanya dalam hati saat melihat Denis.
Sementara di dalam, Denis terkejut bahwa pasien itu adalah Divya. Dengan cepat ia pun segera memeriksa keadaan Divya.
"Di, kenapa Kau bisa sampai seperti ini?. Sebenarnya apa yang terjadi di?!" gumam Denis begitu paniknya.
Lalu ia memberikan sebuah suntikan untuk Divya.
"Dokter, sepertinya pasien memiliki riwayat penyakit. Kita harus melakukan tes untuk mengetahui tentang penyakitnya," ujar dokter Riki kepada dokter Denis.
"Tidak perlu, karena Aku sudah tahu penyakit yang di deritanya. Dia adalah pasien ku," jelas Denis.
Dokter Riki pun mengangguk mengerti. Lalu ia teringat dengan pria yang membawa pasien tersebut masih menunggu di luar.
"Apa sebaiknya dokter mengatakan kondisi pasien kepada keluarganya yang sedang menunggu di luar dok?" Dokter Riki memberikan usulan.
Namun Denis mengerutkan keningnya. Pasalnya tadi saat melintas masuk ke dalam ruangan ini. Ia tidak melihat satu pun anggota keluarga di luar.
__ADS_1
"Keluarga?. Tapi kenapa saya tidak melihat satupun keluarganya di luar tadi. Saya hanya melihat ada seorang pria berwajah bule yang sedang duduk di luar," ucap Denis mengerutkan keningnya.
"Bukankah pria itu keluarga pasien dok?. Karena pria itulah tadi yang membawa pasien ke mari. Dan dia juga nampak begitu cemas dengan kondisi pasien," tutur dokter Riki tak mengerti.
Sementara Divya pun perlahan mulai membuka matanya.
"Emh, dimana Aku," tanya Divya saat pertama kali membuka kedua matanya. Tangan lentiknya pun sedikit memijat pelipisnya.
"Di, kenapa Kau bisa sampai seperti ini?. Baru saja tadi pagi Aku mengatakan bahwa Kau tidak boleh terlalu capek. Apalagi berpikir terlalu berat. Kau adalah pasien ku yang paling bandel!" Denis menghardik Divya.
"Aku lelah Denis, Aku hanya protes saja tadi sama Tuhan. Eh Tuhan marah, jadilah Aku yang seperti ini," ucap Divya menghembuskan nafasnya.
Denis hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Divya yang masih saja bisa bercanda dengan kondisinya yang seperti ini.
"Kau itu, selalu saja konyol Di."
Pandangan keduanya teralihkan saat melihat pintu ruangan tersebut terbuka.
Divya dapat melihat sosok pria yang beberapa waktu lalu masih berstatus menjadi kekasihnya.
"Bagaimana keadaan Divya Dok?" tanya Sean merasa khawatir.
Sementara Denis menatap Divya. Ia melihat Divya yang sedikit menggelengkan kepalanya. Ia pun mengerti apa maksud dari gelengan kepala itu.
"Saya bukan anggota keluarga pasien, saya adalah temannya dok. Bisakah Kau segera memberitahu bagaimana keadaan pasien mu saat ini dok?" desak Sean.
"Maaf, tapi orang lain selain anggota keluarganya tidak boleh mengetahui tentang hal itu. Karena itu adalah privasi pasien dan rumah sakit," tutur Denis membuat Sean menatap Divya.
Melihat Sean menatapnya, Divya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Entah mengapa Sean begitu penasaran dengan keadaan Divya. Apakah wajah Divya yang pucat beberapa hari lalu juga berkaitan dengan kondisinya saat ini?. Sean terus saja bertanya dalam hatinya.
"Maaf dok, Saya memang bukan anggota keluarganya. Tapi sebentar lagi kami akan menjadi satu keluarga. Karena Divya adalah calon istri Ku!"
Pernyataan Sean membuat Divya membeliak. Sementara Denis mematung di tempatnya.
"Apa yang Kau katakan Tuan Sean?, Kau baru saja memutuskan ku. Dan sekarang Kau mengatakan Aku adalah calon istri mu?. Jangan konyol!" Divya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sean.
Divya pun menatap Denis dengan terbahak. "Sudahlah Denis, jangan Kau hiraukan dia. Sekarang lebih baik Kau mengantarku pulang," ucap Divya masih diselingi sedikit tawanya.
"Tapi Kau masih harus di rawat Di," cegah Denis, namun mendapat kedipan mata dari Divya.
__ADS_1
"Aku kan hanya sakit mag Denis. Minum obat dan istirahat sejenak nanti juga akan sembuh," ujar Divya memberi kode Denis agar tidak mengatakan tentang penyakitnya.
"Baiklah Di, Aku akan memberikan resep obat untuk mu. Setelah itu saya akan mengantar mu pulang," jawab Denis.
"Kau lihat sendiri kan Tuan Sean, Aku hanya sakit mag saja. Sekarang lebih baik Kau pulang, karena Denis akan mengantar ku," ucap Divya membuat Sean terdiam.
Sebenarnya ia mengatakan bahwa dirinya adalah calon suami Divya karena ingin mengetahui tentang kondisi Divya dan sakit yang di deritanya.
Kini ia tahu bahwa Divya sakit mag. Namun entah mengapa hatinya sedikit terusik saat Divya menolak dirinya sebagai calon suaminya. Bukankah sebelumnya gadis itu yang memintanya menjadi kekasihnya?.
"Aku yang akan mengantar mu pulang. Dan Kau tidak boleh membantahnya!" Tandas Sean.
"Kau tidak perlu repot-repot, Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Dan sekarang Kau bukan siapa-siapa ku lagi. Jadi pulanglah Tuan Sean!" perintah Divya.
Entahlah, rasanya Sean begitu tidak terima dengan penolakan Divya.
"Tapi Aku adalah calon suamimu, jadi Kau harus menurut dengan ku." Sean masih berkilah.
"Kau jangan bercanda Tuan Sean. Bukankah Kau tadi mengatakan bahwa pria yang mau menjadi kekasih ku adalah pria yang bodoh?. Jadi Kau lebih dari bodoh Tuan Sean, karena Kau mau menikahi ku."
"Sudahlah Tuan Sean, karena kita sudah putus, dokter Denis lah yang akan menjadi kekasih ku saat ini," ucap Divya dan membuat kedua pria di dalam ruangan tersebut terkejut. Beruntung dokter Riki dan beberapa perawat sudah meninggalkan ruangan tersebut.
"Apa maksudmu Di, sungguh Kau mau menjadi kekasih ku?" tanya Denis dan langsung mendekati Divya.
"Tentu saja dokter Denis, lagipula Aku dan Tuan Sean juga sudah tidak ada hubungan apa-apa. Tuan Sean sudah memutuskan ku tadi. Jadi sekarang Aku bisa berpacaran dengan siapapun," ucap Divya penuh penekanan. Ia bermaksud untuk mengusir Sean dari sana.
Sementara Sean mengepalkan tangannya mendengar ucapan Divya. Gadis di depannya itu sebenarnya saja menjadikan pria kekasihnya.
Apalagi saat Sean melihat binar kebahagiaan dari dokter Denis. Ia meyakini bahwa dokter Denis memiliki sebuah rasa untuk Divya.
Sean pun akhirnya meninggalkan ruangan itu dengan kesal. Rasanya ia tak terima jika Divya menjadi kekasih pria lain. Semua itu membuatnya begitu kesal.
Sementara Divya masih menatap punggung Sean yang sudah tak nampak lagi. Ia bernafas lega Sean pergi dari sana.
"Benarkah yang Kau katakan tadi Di?" tanya Denis kembali. Rasanya ia begitu bahagia.
Denis sudah berkali-kali meminta Divya untuk menjadi kekasihnya, namun Divya selalu menolaknya dengan alasan tidak ingin menjalani sebuah hubungan dengan melibatkan cinta di dalamnya.
"Maafkan Aku Denis, Aku hanya ingin Tuan Sean pergi dari sini. Kau tahu kan kalau Aku tidak mau melibatkan cinta. Maafkan Aku Denis." Divya menundukkan kepalanya.
Denis merasa kecewa, namun ia tidak ingin membebani gadis di depannya itu. Ia pun tersenyum dan mengerti.
__ADS_1
***