
Adrian tercekat melihat Bryan begitu paniknya membawa Aya begitu saja.
Lalu ia pun tersadar dan bergegas menyusul Aya dan Bryan. Namun baru beberapa langkah, Rena memanggilnya.
"Adrian, Kau mau kemana?," Tanya Rena menghentikan langkah Adrian.
"Aku akan menyusul mereka, Aku sangat menghawatirkan keadaan Aya," ucapnya tanpa menoleh kebelakang.
"Kalau begitu Aku ikut," ucap Rena dan langsung mengikuti Adrian di belakangnya.
Kini mobil Adrian melaju begitu cepat. Ia tidak ingin kehilangan mobil Bryan di depannya.
***
Sampai di rumah sakit terdekat, Bryan segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke sana.
Disana sudah ada perawat yang dengan cepat langsung menangani kondisi Aya dan langsung membawanya ke UGD.
Bryan menatap wajah Aya yang terlihat begitu pucat. Tangannya begitu dingin sehingga Bryan terus saja mengusap-usap telapak tangan istrinya.
"Apakah Anda keluarga dari Nona ini Tuan?," Tanya dokter yang memeriksa Aya.
Sedari tadi saat dokter menyuruhnya untuk menunggu di luar, Bryan bersikeras untuk tetap disana. Karena dokter itu tahu siapa Bryan. Dan dia tidak ingin mendapatkan masalah dengan keluarga Tuan Bagaskara.
"Saya sua..., Kakaknya dok," ucap Bryan yang tidak ingin dokter itu tahu bahwa dirinya adalah suami Aya. Hampir saja Bryan mengatakan dia adalah suaminya.
Dokter itu tersenyum. "Adik anda tidak apa-apa Tuan, dia hanya mengalami syok dan harus memulihkan kondisinya saja. Lebih baik sekarang Anda mengganti pakaian Anda Tuan, atau nanti Anda akan terkena flu. Dan biarkan perawat yang mengganti pakaian adik Anda." Ucap Sang dokter.
Bryan pun Setuju dengan ucapan dokter itu. "Baiklah, kalau begitu tolong jaga adik saya."
***
Bryan menelpon seseorang untuk mengantarkan pakaiannya ke rumah sakit. Dan tidak lama kemudian orang suruhannya pun datang mengantarkan satu set pakaian untuk Bryan.
"Terimakasih," kata Bryan lalu pergi menuju toilet rumah sakit tersebut.
Orang suruhannya itu tercengang dan masih berdiri di sana. Hatinya berbunga-bunga kala mendengar ucapan terima kasih dari Tuannya itu.
__ADS_1
"Ini adalah keberuntungan ku," ucap Asep, dia adalah supir Bryan. Sepanjang menjadi supirnya selama dua tahun, baru kali ini Bryan mengucapkan kata terimakasih padanya. Asep langsung pergi setelah melaksanakan perintah Bryan.
Bryan kini tengah mengenakan pakaian yang supirnya bawakan untuknya. Pakaian itu begitu pas di tubuh Bryan.
Bryan segera melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Aya. Ia ingin segera sampai ke sana dan melihat keadaan Aya saat ini.
Sampai di depan pintu kamar rawat tersebut, Bryan segera membuka pintu itu. Namun Ia terkejut kala melihat pemandangan yang membuatnya mengepalkan tangannya.
Disana Ia tengah melihat Adrian menggenggam tangan Aya dan berbicara menatap Aya yang kini masih tertidur.
Bryan kembali menutup pintu tersebut dan mengusap wajahnya begitu kesal. "Kenapa Adrian bisa berada di sini?!," Ucapnya kesal.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya dari arah belakang sehingga membuat Bryan begitu terkejut.
"Bryan, kenapa kamu meninggalkan ku demi gadis jelek itu?!, Dan juga Kau tadi sudah menciumnya. Kau jahat Bryan," kesal Rena dengan tangisannya.
Tangannya memukul-mukul dada Bryan untuk meluapkan kekesalannya itu.
Bryan mematung, ucapan Rena membuatnya kembali berfikir. " Kenapa Aku bisa sepanik itu saat si cupu tenggelam tadi." Pikir Bryan dalam hati. Iapun merengkuh tubuh Rena dan memeluknya.
"Tapi Kau mencium gadis jelek itu tadi. Apa kau tidak merasa jijik melakukannya. Dia itu wanita murahan Bryan!."
Bryan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rena tajam.
"Kau jangan berkata seperti itu Rena, Aku tidak suka Kau berbicara tanpa adanya bukti," sentak Bryan.
Bryan merasa marah saat ada yang menjelekkan Aya di depannya. Padahal dirinya sendiri sering sekali melakukannya.
"Aku tidak berbicara asal Bry, Apa Kau melihat lehernya yang terdapat bekas tanda kemerahan?. Itu tadinya samar, tapi setelah tubuhnya basah tadi saat tenggelam,itu terlihat jelas saat Aku melihatnya barusan." Renata mengatakan apa yang ia lihat kepada Bryan.
Sontak saja Bryan teringat tentang ulahnya semalam. Dialah sang pembuat tanda merah itu.
"Sudahlah Rena lebih baik Aku mengantarkan mu pulang, karena ini sudah malam," ucap Bryan yang tidak ingin Rena terus mengungkit tentang tanda merah itu.
"Tapi Kau pulang juga kan Bry?, Aku tidak ingin Kau kembali lagi kesini. Biarkan Adrian saja yang menjaga gadis jelek itu!." Rena tidak mau Bryan kembali menemui Aya. Rena merasa Bryan terlihat begitu aneh saat ini.
"Tentu saja tidak Rena, ini sudah malam. Dan besok juga Aku harus ke kantor," ucap Bryan berusaha di buat semeyakinkan mungkin. Padahal dalam hatinya Ia tidak ingin meninggalkan Aya. Apalagi saat ini ada Adrian di dalam sana, dan itu sungguh membuat dirinya merasakan kekesalan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," ucap Rena yang menyetujui Bryan untuk mengantarnya pulang.
***
Setelah mengantarkan Rena pulang, kini Bryan begitu lega karena tidak ada yang mengganggunya lagi. Tapi Bryan berdecak saat mengingat ternyata Adrian masih ada bersama Aya.
Bryan memikirkan bagaimana caranya agar Adrian segera pergi dari rumah sakit. Bryan tidak ingin ada satu orang pun yang mendekati Aya.
Ketika mendapatkan satu ide dalam kepalanya, Bryan segera bergegas untuk ke ruangan dokter.
***
"Permisi Tuan, apakah Anda keluarga pasien?," Tanya dokter yang baru saja memasuki ruangan tersebut.
"Bukan dok, saya adalah temannya," jujur Adrian.
"Tapi Tuan, keluarga pasien tidak ingin ada yang menjenguknya. Karena itu akan menggangu pasien untuk istirahat." Ucap dokter itu membuat Adrian kecewa.
Adrian ingin menemani Aya, tapi Ia harus mengurungkannya. Akhirnya mau tidak mau Adrian harus meninggalkan Aya di sana.
"Besok Aku akan kembali lagi untuk menjenguk mu Ay," ucap Adrian sebelum meninggalkan ruang rawat Aya.
Sedangkan Bryan yang memperhatikannya dari arah pintu merasa kesal saat tangan Adrian lagi-lagi menyentuh tangan Aya.
Disaat Adrian hendak melangkah keluar, Bryan dengan segera pergi dari pintu tersebut ke sudut ruangan lain, agar Adrian tidak melihatnya di sana.
Perlahan Bryan mulai mengintip apakah Adrian sudah benar-benar pergi atau belum. Setelah dirasa aman, Bryan keluar dari tempatnya bersembunyi.
"Ck, Kau pikir Aku akan membiarkanmu untuk kembali menjenguk gadis jelek itu?. Jangan bermimpi," gumam Bryan.
Bryan berencana untuk membawa Aya pulang ke rumah utama. Bahkan Bryan sudah menyiapkan keperluan dari rumah sakit untuk di bawa pulang.
Bryan benar-benar tidak ingin Adrian kembali menjenguk Aya. Makanya Ia segera membawa istrinya pulang dengan izin dari dokter.
Dengan di bantu oleh beberapa perawat, Bryan membawa pulang istrinya saat ini juga. Bryan tidak menyadari ada percikan api cemburu yang menguasai hatinya.
***
__ADS_1