
Divya memeluk Sean dengan begitu lega. Sungguh ia tidak ingin mengalami mimpi buruk yang seperti itu lagi.
Kepalanya ia dongakkan menatap sang suami.
"Sean," panggilnya. Kedua mata mereka bertemu.
"Ya, ada apa Di?" jawab Sean seraya mengusap pipi Divya.
"Apa Aku nanti akan sembuh? Aku takut sekali Sean," ucap Divya lirih.
Sean sejenak menghela nafasnya. Ia dapat melihat raut wajah cemas dan takut istrinya.
"Kau pasti akan sembuh Di. Karena Aku tidak akan membiarkan Tuhan mengambilmu dariku. Tuhan pasti akan memberikan mu umur yang panjang. Dan kita akan membangun sebuah keluarga kecil nantinya. Kau, Aku dan anak-anak kita," ucap Sean dengan mengecupi wajah Divya.
Divya merasa sedikit tenang mendengar ucapan suaminya. Ia pun juga menginginkan sebuah kecil yang berbahagia. Ia ingin ikut andil berada di dalamnya.
"Lusa Aku ingin mengajak mu untuk berlibur Di. Aku ingin menemui seseorang yang mungkin akan mampu mengobati sakitmu. Aku dengar beliau sedang berada di pulau milikku. Tapi Aku tidak tahu tepatnya dia berada di mana. Kita harus bertemu dengannya. Aku yakin beliau akan mampu mengobati penyakit yang Kau derita." Sean berkata dengan begitu yakinnya.
"Sungguh? Benarkah beliau akan mampu menyembuhkan sakitku sementara dokter dan medis pun belum tentu bisa menyembuhkan sakit yang ku derita?" Divya seolah tak percaya.
"Ya, Aku yakin. Karena salah satu penduduk dari tempat ku berasal tengah kritis dan koma saat itu. Tapi dengan tangannya yang menurutku begitu ajaib. Ia mampu menyembuhkan penduduk yang sakit itu dengan menggunakan pengobatan tradisional yang beliau miliki. Dan Aku yakin Kau pasti bisa sembuh Di. Kita harus bertemu dengannya," tandas Sean.
Di seolah masih belum begitu kurang yakin. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba kan?
"Baiklah. Tapi besok Aku harus mengantar skripsi ku dulu ke kampus. Boleh kan?" Divya menatap Sean penuh harap.
"Tentu, tapi Aku akan mengantar mu. Aku tidak ingin lagi sesuatu terjadi padamu Di."
Divya mengangguk sembari tersenyum. Ia kembali memeluk tubuh suaminya. Mencari sebuah kenyamanan di sana.
***
Keesokan harinya, Divya pun menuju ke kampusnya dengan di antar oleh Sean.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Sean terus menggenggam tangan Divya. Sesekali ia akan mengecup tangannya.
Divya, jangan di tanya lagi. Ia merasa menjadi wanita paling bahagia mendapatkan perhatian dan cinta dari Sean.
Ia begitu bersyukur Tuhan mempertemukan dirinya dengan Sean.
Kini mobil mereka pun sampai di parkiran kampus.
"Sean, kau tunggu saja di sini. Aku tidak akan lama," pinta Divya.
"Baiklah. Jangan lama-lama," perintah Sean dan mendapatkan anggukkan kepala dari Divya.
Divya segera turun dari mobil. Ia pun membawa skripsinya menuju ke dalam kampusnya. Ini adalah skripsi terakhirnya. Divya ingin mendapatkan nilai terbaik nantinya.
Di saat Divya berjalan menuju ruangannya rektornya. Sekilas ia melihat mahasiswa lain sedang berkerumun di sudut kampus tersebut.
__ADS_1
Karena merasa penasaran Divya berjalan menghampiri beberapa teman-temannya yang tengah berkumpul itu.
Divya mencoba bertanya kepada salah satu temannya mengapa mereka berkerumun.
"Sima, ada apa?"
"Ada seorang gelandangan yang memasuki kampus kita. Dan beberapa anak kampus menganggapnya sebagai pengacau. Jadi mereka berusaha untuk mengusir gelandangan itu," tutur gadis bernama Sima.
Divya pun memasuki kerumunan tersebut. Di lihatnya seorang wanita paruh baya yang nampak begitu berantakan dan terlihat sedang kebingungan menatap ke arah teman-temannya yang menyuruh wanita paruh baya tersebut segera pergi dari sana.
"Stop! Apa yang kalian lakukan? Ibu itu terlihat begitu ketakutan dengan kalian!" ucap Divya dengan sedikit berteriak.
"Tapi Divya, kita tidak pernah tahu kalau wanita ini orang baik atau tidak. Sebaiknya kita usir saja dia dari sini," jawab salah satu mahasiswa.
"Aku akan membawa ibu itu bersamaku. Kalian tidak perlu mengusirnya," ucap Divya.
Teman-temannya hendak protes. Tapi Divya menatap mereka dengan begitu tajamnya. Jadi mereka pun tidak berani melawan Divya. Karena Divya adalah Putri dari orang yang begitu terpandang.
Kerumunan tersebut perlahan mulai pergi. Divya pun menatap wanita paruh baya tersebut.
"Terimakasih nak. Maafkan Saya telah menakuti kalian. Saya tidak tahu tempat ini. Saya sangat kelaparan. Beberapa hari ini ibu belum makan apapun," tutur wanita paruh baya tersebut terlihat begitu memelas.
Divya teringat tentang bekal yang sempat ia buat tadi pagi. Tapi sayangnya bekal tersebut berada di mobil suaminya.
Divya menyentuh tangan wanita paruh baya tersebut. "Bibi tunggu di sini sebentar ya, sebentar lagi Divya akan kembali," pinta Divya.
Wanita paruh baya tersebut terhenyak menyentuh tangan dingin Divya. Ia menatap Divya dengan begitu serius. Namun Divya segera melangkah pergi.
"Maafkan Aku bibi, Divya harus meninggalkan bibi. Sekarang Aku akan mengajak bibi menemui suami ku. Aku juga sudah membuat bekal makan siang ku tadi bi. Jadi nanti bisa bibi makan," ucap Divya membuat wanita tersebut tersenyum.
"Bolehkah bibi menyentuh tangan mu nak?" tanya wanita paruh baya tersebut.
"Oh, boleh bi." Divya memberikan tangan kepada wanita paruh baya tersebut.
Wanita itu nampak tengah memejamkan matanya. Terlihat keringat yang mulai bercucuran di dahinya.
"Kau sedang sakit nak, Dan ini lumayan sangat parah." Wanita paruh baya tersebut berkata seraya memejamkan matanya.
Divya terkejut, dari mana wanita paruh baya tersebut mengetahuinya. Divya segera menarik tangannya.
"Apa maksud bibi? Darimana bibi bisa mengetahuinya?"
"Divya." Suara Sean membuat Divya dan wanita paruh baya tersebut menoleh.
"Sean." Divya segera berdiri.
"Aku sudah menunggu mu sejak tadi, kenapa kau malah berada di sini!?" Sean menatap Divya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat wanita paruh baya yang terlihat sedikit berantakan di sampingnya.
"Siapa dia Di?"
__ADS_1
"Oh iya. Sean Aku ingin memberikan bekal makan siang yang ku bawa tadi kepada bibi ini. Kasihan bibi ini belum makan sejak kemarin." Divya menjelaskan semuanya.
Sementara Sean masih menatap wanita paruh baya tersebut. Ia merasa seperti pernah melihat wajah itu. Tapi ia melupakan di mana itu.
Sean hanya menganggukkan kepalanya menyetujui. Ia masih berpikir keras dimana Sean pernah melihat wajah tersebut.
" Kalau begitu bibi ikutlah dengan kami," ajak Divya.
***
Divya merasa begitu iba melihat wanita paruh baya tersebut makan dengan lahapnya. Sepertinya ia benar-benar kelaparan.
Sean memberikan satu botol air mineral kepada wanita paruh baya tersebut. Ia juga membelikan untuk Divya.
Saat ini mereka tengah berada di meja taman kampus.
"Terimakasih nak, kalian adalah orang-orang baik. Bibi sudah kenyang, kalau begitu bibi akan pergi," ucap wanita paruh baya tersebut.
"Bibi mau kemana?"
"Entahlah nak, bibi akan mengikuti kaki ini melangkah," ucap wanita paruh baya tersebut.
"Bagaimana kalau bibi ikut kami saja. Dari pada bibi tidak memiliki tujuan, bibi bisa bekerja di rumah kami," ajak Divya.
"Boleh kan Sean?" Divya menatap Sean meminta persetujuan.
Sean nampak berpikir. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya tanpa berkata.
"Benarkah boleh nak? Terimakasih nak. Bibi tidak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih kepada kalian. Kalian adalah orang-orang yang baik," ucap wanita paruh baya tersebut begitu tulus.
" Kalau boleh tahu siapa nama bibi?" tanya Divya.
"Kau bisa memanggil bibi Alice nak. Sekali lagi terimakasih sudah menolong ku," wanita paruh baya tersebut membungkukkan badannya.
"Bibi jangan seperti ini, sekarang lebih baik bibi ikut kami," ajaknya.
Mereka pun menaiki mobilnya dan pulang ke rumah.
***
Divya memperkenalkan bibi Alice kepada para pelayan di rumahnya. Ia juga memberikan pakaian untuk Alice.
"Terimakasih Nona. Nona begitu baik kepada bibi," ucap Alice.
Divya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Divya menyusul suami Divya dulu ya bi, permisi."
Alice menatap punggung Divya yang perlahan mulai menghilang.
__ADS_1
"Sepertinya disini adalah persembunyian yang tepat. Anak itu juga begitu baik. Semoga mereka tidak menemukan ku," ucap Alice dan segera pergi dari sana membaur bersama para pelayan.
***