Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 48


__ADS_3

Sementara itu, setelah keluar dari kamar Rena, Adrian berjalan dengan terhuyung. Rasa panas dalam tubuhnya seakan tak mampu Ia menahannya.


Kini Ia berada di dapur villa tersebut, samar-samar Ia melihat sebuah pintu keluar di sana.


Adrian membuka pintu tersebut, Ia kembali berjalan dengan nafas yang tidak teratur dan keringat yang terus bercucuran.


Karena tidak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya, Adrian pun terjatuh di sana.


Namun tiba-tiba ada seseorang yang melihat semua itu. Seorang gadis yang umurnya nampak masih sangat muda. Sejak tadi gadis itu memperhatikan Adrian yang berjalan terhuyung-huyung.


Dengan cepat gadis itu membawa tubuh Adrian menuju ke kamarnya yang tidak jauh dari belakang villa tersebut.


"Tuan, bangunlah, Anda kenapa Tuan?." Gadis itu berusaha untuk membangunkan Adrian setelah membaringkan tubuh kekar Adrian.


Gadis itu mondar mandir di dalam kamar kecil tersebut. "Sebenarnya Tuan ini sakit apa?, Apa yang harus kulakukan. Ini sudah sangat larut, Ibu pasti sudah menungguku," ucapnya seraya menatap jam tangannya.


Namun tiba-tiba saja tangan Adrian meraih tangannya. "Tuan." ucap gadis itu terkejut.


"To-long a-aku," ucap Adrian terbata.


"Aku akan menolong mu Tuan, tapi Anda sabar sebentar. Saya akan menghubungi ambulans untuk Anda," ucap gadis itu mengeluarkan ponselnya dari sakunya.


Namun tiba-tiba Ia kembali terkejut saat Adrian malah menariknya hingga ia terjatuh di atas tubuh Adrian.


Dengan cepat Adrian mel..umat bibir gadis itu dan menekan kepalanya agar tidak terlepas.


Gadis itu berusaha berontak, Ia terkejut dengan perlakuan Adrian. Tangannya terus memukul tubuh kekar Adrian agar melepaskannya. Namun tenaga Adrian begitu kuat.


Dengan cepat Adrian membalikkan tubuhnya dan mengukung gadis itu. Menciumnya dengan nafas yang memburu.


Gadis itu menangis, menjerit. Namun Adrian seolah tuli. Pengaruh obat yang hirup terlalu kuat, sehingga Ia tidak mampu mengontrol tubuhnya.


Bryan terus saja mencium gadis itu dengan paksa. Dan akhirnya malam itu menjadi malam yang mengakibatkan Adrian mengambil paksa kesucian seorang gadis yang tidak di kenalnya.


Setelah hampir pagi, Adrian baru melepaskan gadis itu. Iapun membaringkan tubuhnya di samping gadis yang kini terkulai lemah dengan isak tangisnya.


Adrian mulai terlelap dalam tidurnya, sementara gadis itu terus saja menangis sejadinya. Ia tidak menyangka bahwa niatnya untuk menolong seseorang malah menjadi petaka baginya.


Perlahan gadis itu pun bangkit, dengan menahan sakit di area bawah sana, Ia memunguti bajunya. Tapi sayangnya bajunya yang Ia kenakan tadi tak berbentuk lagi. Adrian merobek pakaian gadis itu hingga terkoyak.


"Pria ba..ji..ngan!, Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kau sudah menghancurkan hidupku!," sungut gadis itu. Lalu Ia menatap jaket miliknya yang masih tergantung di kamar tersebut.

__ADS_1


Dengan tertatih gadis itu mengambilnya dan memakaikannya. Beruntung celana jeans-nya tidak rusak, jadi Ia masih bisa menggunakannya.


Gadis itu berjalan keluar dari kamar tersebut dengan langkah tertatih.


***


Pagi harinya


Adrian mulai terbangun. Ia terkejut berada di sebuah kamar yang begitu sempit. Pandangannya mengarah pada baju yang berserakan di lantai.


Matanya membola menatap tubuhnya yang tanpa mengenakan pakaian. "Apa yang terjadi?," tanyanya pada dirinya sendiri.


Adrian berusaha mengingat kejadian semalam. Sebuah potongan-potongan ingatan dirinya yang mencium seorang gadis membuatnya terus berpikir siapa gadis tersebut. Namun Ia tidak bisa mengingat jelas wajah gadis itu.


Adrian pun segera turun dan memakai pakaiannya. Namun pandangannya teralihkan pada bercak merah di atas kasur.


"Ah... tidak!, Aku sudah merusak hidup seseorang. Aku harus mencari gadis itu, ya, Aku harus mencarinya," ucapnya sebelum meninggalkan tempat itu.


Adrian kembali memasuki villa tersebut, namun disana sudah sepi dan tidak ada teman-temannya. Iapun mengambil barang-barangnya dan segera meninggalkan villa tersebut.


Tapi tunggu, bukankah Adrian datang kesana menebeng mobil Bryan?. Ah, tapi itu bukan masalah besar bagi Adrian.


"Maafkan saya Tuan karena sudah membuat Tuan Adrian menunggu. Silahkan Tuan," ucap supir yang Ia suruh untuk menjemputnya.


"Tidak apa-apa, ayo kita pulang!," ucap Adrian sebelum memasuki mobil. Diikuti oleh sang supir, lalu dengan segera supirnya yang bernama Arya melajukan mobilnya menuju ke rumah keluarga besar Adrian.


Di dalam mobil Adrian menelpon Bryan untuk mengetahui bagaimana kejadian semalam.


"Halo Bryan," ucap Adrian setelah panggilannya di angkat.


Skip


"Bawa mobilnya ke rumah sakit B," ucap Adrian pada Arya supirnya.


"Baiklah Tuan." Arya segera mengemudikan mobil itu menuju rumah sakit yang di tunjukkan oleh Adrian.


Setelah sampai di rumah sakit tersebut, Adrian segera pergi ke ruangan yang sudah Bryan katakan saat di telpon tadi.


"Bagaimana keadaan Aya?," ucap Adrian saat membuka pintu ruang rawat Aya.


Sedangkan Bryan kini tengah menyuapi istrinya, sontak saja keduanya menatap ke arah pintu.

__ADS_1


"Aya Kau tidak apa-apa, bagaimana keadaan mu?!." Adrian dengan cepat mendekat kearah Aya dan sedikit menggeser tubuh Bryan. Membuat Bryan menatap tajam adik sepupunya itu.


"Hei!, Aya istri ku, Kau menyingkirlah!," teriak Bryan dengan membalas dorongan Adrian.


"Ish, Bryan!, Kau tega sekali padaku, Apa Kau tidak ingat siapa yang menolong mu semalam?!." Adrian mengingatkan Bryan.


"Jadi Kau tidak ikhlas menolong saudara mu?!, Dan kemana Kau setelah itu?. Kau bahkan menghilang tanpa jejak." Bryan memicingkan matanya menatap Adrian.


Adrian pun tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh ya, bukankah Kau juga menghirup aroma yang ada di kamar ja..lang itu?," tanya Bryan penuh selidik.


"Ah sudahlah, jangan di bahas lagi. Semalam Aku juga mendapatkan obat penawarnya." Adrian berbohong mengenai obat penawarnya. Ia akan merahasiakan Apa yang tengah Ia perbuat semalam.


"Sungguh?!."


"Sudahlah, kalian jangan bertengkar terus. Apa kalian tidak melihat Aku pusing melihat kalian yang selalu bertengkar itu." Aya merasa kesal mendengar keduanya selalu saja berdebat saat bertemu.


Keduanya pun menatap ke arah Aya dan tersenyum memamerkan rentetan gigi mereka. Membuat Aya memutar bola matanya jengah.


***


Tiga hari berlalu. Aya tengah pulang ke rumah utama. Kebetulan Bagaskara juga telah kembali dari perusahaannya yang ada di luar negeri.


Bagaskara merasa bahagia melihat putra dan menantunya itu terlihat begitu mesra. Ia sudah menduga bahwa putranya itu sudah jatuh cinta pada menantunya.


Namun di media dan dunia Maya tersiar kabar tentang Bryan yang tengah memukuli sahabatnya hanya demi seorang wanita malam.


Sontak saja membuat Bryan begitu marah, dan juga membuat Aya begitu sedih dan menangis.


"Sayang tenanglah, Kau jangan menangis, Aku akan membuat mereka jera karena sudah berani membuat mu menangis. Aku berjanji akan memberi mereka pelajaran." Bryan memeluk tubuh istrinya.


"Tidak sayang, Kau tidak boleh melakukannya, Aku tidak ingin mereka berpikir buruk tentang mu." Aya berusaha mencegah suaminya.


"Tapi mereka sudah menghinamu, istri ku!."


"Kau tidak perlu repot-repot membalas perbuatan mereka, karena papa sudah melakukan sesuatu untuk membuat mereka jera!," ucap Bagaskara.


"Papa, Papa tidak menyalakan ku?,"tanya Bryan. Ia tidak percaya papanya akan membelanya. Sebelumnya Bagaskara selalu saja menyalahkan dirinya untuk berita di luar sana.


***

__ADS_1


__ADS_2