
"Aya, tiga hari lagi teman-teman kampus kita akan mengadakan liburan ke puncak. Dan Aku terpilih menjadi panitia acara lusa. Kau mau kan ikut dengan ku ke sana?," tanya Bryan setelah selesai menyantap sarapan paginya.
Aya terdiam sejenak, Ia memikirkan apa yang baru saja suaminya itu katakan.
Aya masih terbayang kejadian saat reuni beberapa Minggu yang lalu. Rasanya Ia begitu malas untuk bertemu dengan orang-orang itu.
"Aku di rumah saja Bry, Kau saja yang ikut. Kau kan panitianya," ucapnya menghembuskan nafas pelan.
"Tapi kalau Kau tidak ikut, Aku mengundurkan diri saja menjadi panitia pelaksanaannya," ucap Bryan.
"Apa, jangan dong Bry. Teman-teman mu nanti pasti akan kecewa," tangkas Aya.
"Yasudah, kalau begitu Kau ikut saja."
"Bryan, Kau tahu sendiri bagaimana teman-teman mu. Mereka selalu menghina ku sesuka mereka. Aku malas bila harus kembali bertemu dengan mereka," timpal Aya.
Dan semua perkataan istrinya membuat hati Bryan begitu tertohok. Dulu Ia pun ikut andil dalam menghina sang istri.
"Aya, Aku minta maaf karena dulu Aku juga selalu menghinamu," ucap Bryan tertunduk.
Melihat suaminya tertunduk, Aya menyadari bahwa dirinya menyinggung hati Bryan.
"Maafkan Aku Bryan, Aku sungguh tidak bermaksud untuk menyinggung perbuatan mu pada ku dulu." Aya merasa bersalah kepada Bryan.
"Kau tidak salah Aya, Aku dulu memang sangat keterlaluan padamu. Aku memang tidak pantas Kau maafkan," ucap Bryan kembali dengan tersenyum.
"Semua sudah berlalu Bryan, Kau juga sudah menyadari kesalahan mu. Dan Aku memaafkan semua kesalahanmu itu."
Bryan menghampiri istrinya, lalu menggenggam tangan Aya dan mengecup keningnya, seraya berkata, "Terimakasih sudah memaafkan ku Aya. Aku berjanji akan selalu melindungi mu," bisiknya.
Aya tersenyum menunduk, Ia begitu malu karena wajah Bryan begitu dekat dan terus menatapnya.
"Bryan, Kau harus segera ke kantor, atau nanti Kau akan terlambat." Aya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Namun suaminya tak bergeming, Ia terus saja menatap gemas wajah istrinya yang nampak begitu malu-malu. Rasanya Bryan ingin sekali menerkamnya.
"Tapi bukankah Kau juga harus ke kantor hum?." Tangan Bryan berusaha menarik dagu Aya hingga menghadapnya.
"I-iya." Ucapnya terbata, jantungnya berdetak kencang.
Aya sungguh merutuki jantungnya yang selalu berdetak kencang saat berada di dekat Bryan.
Dengan gerakan cepat, Bryan mel...umat bibir manis Aya sesaat. "Kalau begitu kita akan berangkat bersama." Bryan kembali berucap setelah mencium bibir Aya.
"Tapi Bryan, Aku sudah memesan taksi. Dan juga, Apa kata orang-orang kantor nanti bila mengetahui Aku berangkat ke kantor satu mobil dengan mu," protes Aya.
"Memangnya kenapa kalau mereka tahu?, Kau istri ku. Apa ada yang salah dengan itu?."
"Aku tidak ingin mempermalukan mu Bryan," ucap Aya lirih.
"Suatu saat mereka juga akan tahu Aya. Dan kau tidak mempermalukan ku Aya. Dan Aku beruntung memiliki istri seperti mu," tutur Bryan.
"Kalau begitu sekarang kita berangkat, atau kita akan terlambat." Ajak Bryan, tangannya meraih tangan Aya dan menggandengnya menuju mobilnya.
Rasanya Bryan begitu bahagia saat ini. Ia tidak pernah menyangka bahwa Ia akan menikah dengan gadis yang pernah Ia benci. Dan kini perasaannya begitu berbanding terbalik dengan perasaannya dulu.
Kalau dulu Ia begitu membenci gadis yang Ia gandeng itu. Kini justru rasanya Bryan tidak ingin jauh-jauh dari Aya.
Sampai di dalam mobil, Bryan memakaikan seat belt untuk Aya. "Terimakasih," ucapnya kepada suaminya.
__ADS_1
"Kau akan ikut ke puncak kan Aya?. Aku berjanji padamu akan melindungi mu di sana nanti," tanya Bryan sekali lagi.
Bryan tidak ingin meninggalkan Aya sendirian di rumah nanti. Dan Bryan pun juga pasti akan sangat merindukan Aya. Seperti kata Dylan bahwa 'rindu itu berat'. Itu pun berlaku pada Bryan.
Jadi Bryan memutuskan untuk mengajak Aya ke puncak. Sekaligus nanti Ia akan mengumumkan tentang pernikahannya dengan Aya.
Aya kembali berpikir ulang mengenai ajakan suaminya itu. Dengan sedikit keraguan, akhirnya Aya pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Bryan, Aku akan ikut dengan mu ke puncak nanti." Aya akhirnya setuju dengan ajakan suaminya itu.
"Terimakasih Aya." Bryan meraih tangan Aya dan mengecupnya berkali-kali.
Aya merasa begitu bahagia. Tidak pernah Ia sangka bahwa Bryan bisa begitu baik padanya.
"Sebenarnya Apa arti dari semua sikapmu ini Bryan. Apakah Aku salah bila Aku mengharapkan Kau mencintai ku?. Dan apa Kau nanti akan menerima calon anak kita ini?," batin Aya seraya mengusap-usap perutnya.
Bryan pun melajukan mobilnya menuju kantornya.
Setelah sampai di kantornya, keduanya pun keluar dari mobil. Tangan Bryan berusaha meraih tangan Aya dan menggandengnya memasuki kantor.
Setiap langkah demi langkah, banyak sekali mata yang menatap Bryan dan Aya dengan pandangan penuh tanya.
Melihat hal itu Aya pun berusaha untuk melepaskan tangan Bryan.
"Bryan, lepaskan tanganku," ucap Aya pelan. Namun Bryan tetap terus melangkah dan tidak melepaskan tangan Aya.
"Bryan!, Aku malu," ucap Aya, kepalanya terus menunduk karena melihat semua orang menatapnya.
Mendengar ucapan istrinya yang berkata bahwa Ia malu, Bryan pun menghentikan langkahnya. Dan itu membuat Aya menatap ke segala arah. Banyak sekali karyawan lain yang menatap mereka sambil berbisik.
"Kau malu Aku menggandeng tangan mu Aya?!." Bryan tidak menghiraukan tatapan karyawannya. Ia terus saja menatap Aya yang kini malah nampak berusaha menutupi wajahnya dengan tangan satunya.
Sementara tak jauh dari Bryan dan Aya, Adrian tengah berjalan ke arah mereka. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat tangan Bryan memegang tangan Aya dan berdebat disana.
"Aya," panggil Adrian yang sudah berada di dekat mereka.
Bryan dan Aya pun menoleh. Dengan cepat Aya kembali berusaha melepaskan tangan Bryan. Tapi Bryan semakin mengeratkan genggaman tangannya, lalu ia pun tersenyum ke arah Adrian seolah memamerkan genggaman tangannya.
"Sebenarnya ada apa ini Aya?." Adrian terkejut melihat hal di depannya itu. Ia merasa bingung dengan apa yang Ia lihat.
Sementara para karyawan lain sedang berusaha mencuri dengar akan percakapan mereka.
"Baiklah Adrian Aku akan memberi tahu hal penting padamu. Ah tidak, tunggu sebentar Aku harus mengumumkannya kepada karyawan lainnya juga." Ucap Bryan semakin membuat Adrian tidak mengerti.
"Tamatlah riwayat ku," ucap Aya dalam hati, Ia pun semakin menutupi wajahnya dengan menunduk.
"Perhatian semuanya!, Saya ingin menginformasikan hal penting kepada kalian semua. Kalian dengarkan baik-baik Apa yang ingin saya katakan, kalau perlu kalian harus mencatatnya!." Bryan berkata dengan suara keras.
Para karyawan pun semakin penasaran, mereka pun sedikit mendekat ke arah CEO nya itu.
"Saya Bryan Askara, pemilik sekaligus CEO perusahaan ini ingin mengatakan bahwa saya sudah menikah. Dan wanita yang menjadi istri ku adalah Cahaya Airin, yaitu Aya, karyawan perusahaan ini yang bekerja di staf keuangan," ucap Bryan begitu lantangnya.
Adrian membelalakkan matanya, Ia sungguh sangat terkejut dengan pengakuan dari saudaranya itu. Istri dari saudaranya itu adalah Aya, gadis yang selama ini Adrian cintai. Sungguh Adrian begitu terkejut mendengarnya dan membuat tubuhnya terpaku.
Sementara karyawan lain yang mendengarnya pun juga merasa terkejut dengan pengumuman dari CEO nya itu.
Lalu Bryan kembali menatap Adrian di depannya yang terdiam mematung di sana. "Kau sekarang sudah tahu kan Adrian?. Aya adalah istri ku!," ucapnya dengan penuh penekanan.
Bryan tahu Adrian begitu mencintai istrinya itu. Karena Adrian dulu selalu bercerita padanya bahwa Ia sangat mencintai seseorang gadis yang bernama Aya.
__ADS_1
Ia tahu, dirinya sudah melukai perasaan Adrian.
Namun sekarang ini Bryan lah yang menjadi suaminya. Dan Bryan tidak akan pernah melepaskan Aya, Ia tidak ingin pria manapun mendekati istrinya, termasuk Adrian.
Adrian masih tak bergeming dari tempatnya, Ia berusaha mencerna ucapan Bryan. Ia kembali mengingat potongan-potongan ingatan tentang Aya yang mengatakan bahwa sudah menikah. Namun Adrian tak pernah menyangka bahwa Bryan lah yang menjadi suami Aya.
"Adrian, Aku bisa menjelaskan semuanya padamu aku..."
"Aku sudah menjelaskan semuanya Aya, dan Aku yakin Adrian mengerti dengan yang ku katakan," potong Bryan saat Aya hendak berkata.
"Kenapa?, Kenapa harus Bryan Aya. Kenapa Kau harus menikah dengan Bryan?!," ucap Adrian dalam hati. Bibirnya terasa kelu untuk berkata, sebuah kenyataan seakan membuat tubuhnya tak mampu untuk menggerakkan bibirnya sekedar untuk bertanya.
Bryan menarik tangan Aya memasuki ruangannya dan meninggalkan Adrian yang kini masih terdiam terpaku di tempatnya.
"Bryan, lepaskan Aku, Aku belum menjelaskan semuanya kepada Adrian. Adrian pasti akan marah padaku nanti," bujuk Aya kepada Bryan.
Bryan memejamkan matanya dan mengambil nafas panjangnya. "Aya, Adrian mengerti apa yang ku ucapkan, jadi Kau tidak perlu lagi menjelaskan padanya lagi," ucap Bryan begitu dingin.
Bryan merasa Aya sudah terlalu dekat dengan Adrian, sedangkan Ia tahu bahwa Adrian mencintai istrinya. Bohong kalau Bryan tidak merasa cemburu, ya Bryan sangat cemburu melihat kedekatan mereka. Ia takut suatu saat nanti Adrian akan merebut Aya darinya.
"Tapi Bryan, Adrian adalah sahabat ku satu-satunya, Aku takut dia akan marah padaku."
"Tapi Adrian mencintaimu Aya!." Bryan berkata dengan menaikkan oktafnya.
Sesaat Aya terdiam, lalu Ia pun tertawa karena tak mempercayai ucapan Bryan.
"Kau jangan bercanda Bryan, mana mungkin Adrian mencintai ku?, Kau sungguh konyol," ucap Aya tak percaya.
"Aku tidak pernah bercanda Aya, karena Adrian sendiri yang selalu bercerita tentang mu pada ku. Dan dia mengatakan bahwa dia mencintai mu." Bryan sudah tidak tahu bagaimana lagi caranya agar Aya percaya. Iapun mengusap wajahnya kasar.
"Bryan, bagaimana mungkin Adrian bercerita tentang ku padamu. Bukankah dia hanya bawahan mu?," Ucapnya.
"Dia adik sepupu ku Aya," ucap Bryan.
Sementara Aya membelalakkan matanya tak percaya, sungguh Aya tidak percaya dengan penuturan suaminya itu.
"Kau harus tahu Aya, dia sepupu ku. Dan kami juga begitu dekat. Dia selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintaimu. Dan Aku tidak ingin kalau Kau terlalu dekat dengan Adrian. Aku tidak ingin kehilanganmu Aya." Bryan memeluk tubuh Aya dengan erat.
Rasanya Ia tidak bisa membayangkan bagaimana bila nanti Aya akan meninggalkannya. Sungguh Ia tidak akan sanggup.
Bryan tidak mengerti mengapa Ia bisa memiliki perasaan sedalam itu terhadap Aya. Sebelumnya saat bersama Rena, Ia tidak memiliki perasaan sedalam yang Ia rasakan seperti sekarang ini saat bersama Aya.
Aya masih mencerna ucapan suaminya tentang perasaan Adrian padanya. Sungguh, benarkah?, Aya benar-benar tak percaya.
Ia kembali mengingat tentang semua perhatian yang Adrian berikan padanya. Ia juga tidak pernah melihat Adrian memberikan perhatian lebih kepada gadis lain.
"Jadi kalian bersaudara?, kenapa di antara kalian tidak ada yang mengatakannya padaku?. Menyebalkan." Aya malah begitu jengkel saat ini, Ia pun mengerucutkan bibirnya karena kesal.
Mendengar ucapan Aya, Bryan perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya yang terlihat begitu kesal itu.
"Kenapa Kau malah kesal dan marah Aya, Aku sungguh-sungguh tidak ingin Kau terlalu dekat dengan Adrian."
Bryan merasa bingung dengan perubahan sikap Aya yang terlihat kesal.
"Aku marah dengan mu!, kenapa dari awal Kau tidak mengatakan kalau Adrian adalah sepupumu?!, Kalian sama menyebalkan nya." Aya pun langsung mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan Bryan. Sungguh Aya merasa kesal saat ini.
Sedangkan Bryan mengerutkan keningnya merasa bingung dengan istrinya itu. "Dia itu kenapa?, Apa dia sedang memasuki masa menstruasi nya?."
Bryan pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
***