Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 53


__ADS_3

Adrian berjalan cepat menuju ke ruangan tempat Aya dan baby-nya. Ia begitu senang kala mendengar kedua jagoan kecil yang sudah di tunggunya telah lahir ke dunia ini.


"Mana kedua jagoan kecil ku?," Tanya Adrian saat memasuki ruangan Aya.


Seketika penghuni yang ada di dalam sana pun menatap ke arah suara.


Bryan menatap tajam Adrian. "Hei!, Mereka ini putra-putra ku!." Ucap Bryan merasa kesal. Ia rasanya tidak ingin ada orang lain yang menyebut putranya jagoannya.


"Ih si Abang kumat deh, lupa ya kalau adek ini juga bapaknya," celetuk Adrian menggoda Bryan.


Bryan segera menghampiri dan menjitak kepala Adrian.


"Dasar bocah tidak ada akhlak, Kau itu sudah dewasa, sudah waktunya menikah," ucap Bryan.


Sementara Adrian mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit akibat jitakkan Bryan.


"Kau itu memang Abang yang pelit," ujar Adrian dan langsung berlari menuju keranjang bayi di samping Aya.


Bryan membelalakkan matanya berniat hendak mengejar Adrian, tapi istrinya memanggilnya dengan tatapan tajam.


"Sayang!," Ucap Aya pelan namun dengan tatapan tajam.


Aya sungguh begitu jengah melihat kedua pria itu yang sejak dulu terus saja bertengkar seperti tikus dan kucing.


Dengan menahan kesalnya Ia akhirnya mengalah dan duduk di samping istrinya.


Sementara Adrian menatap kagum dengan kedua baby yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan itu.


"Ay, boleh Aku menggendongnya?," tanya Adrian.


"Tidak boleh!," jawab Bryan cepat, namun seketika Ia pun mendapat cubitan dari istrinya.


"Kau boleh menggendongnya Iyan," ucap Aya masih menatap tajam suaminya.


"Wah, akhirnya Aku bisa menggendong jagoan ku," ucap Adrian seraya mengangkat perlahan tubuh mungil itu.


Bryan mulai menimang-nimang makhluk kecil imut dan menggemaskan itu.


"Apa kalian sudah memberikan sebuah mama untuk mereka?," tanya Adrian kembali.


"Sudah, nama mereka adalah Bintang dan Galaksi," ucap Aya tersenyum.


"Wah namanya keren, nanti kalau Aku memiliki seorang anak laki-laki Aku juga akan menamakannya Bumi," ucap Adrian terkekeh.

__ADS_1


"Ck, Kau menikah saja belum, tapi sudah berandai memiliki anak," cibir Bryan, kemudian ia pun terbahak-bahak.


Bryan menatap jengah kakak sepupunya itu, lalu fokusnya kembali pada baby dalam gendongannya.


"Boy, nanti kalau kalian sudah besar, jangan seperti papamu yang aneh itu ya," ucapnya pelan pada baby dalam gendongannya.


Namun ponsel Adrian berbunyi, dengan segera Adrian kembali menaruh baby dalam gendongannya itu dengan pelan.


"Uncle bingung dimana di antara kalian yang bernama Bintang dan Galaksi." Ucapnya tersenyum, lalu iapun menjauh dan mengangkat panggilan pada ponselnya itu.


Setelah beberapa saat, Adrian pun kembali, namun lagi-lagi Ia harus pergi.


"Kakakku dan kakak ipar yang berbahagia, maafkanlah Aku yang tidak bisa berlama-lama di sini. Ada urusan penting, jadi Aku pergi dulu,"ucap Adrian cengengesan.


"Ada apa, apa masalah Mama mu lagi?," tebak Bryan.


Namun Adrian tidak menjawabnya, Ia tidak ingin berdebat tentang Mamanya kepada Bryan. Adrian tahu Bryan dan keluarga dari papanya begitu membenci mamanya.


"Aku harus pergi ," ucapnya dan langsung berjalan keluar dari sana.


"Sayang, kenapa Kau begitu membenci Mamanya Adrian?," tanya Aya merasa begitu ingin tahu.


"Ceritanya panjang, besok kalau kita sudah di rumah Aku akan menceritakan semua padamu sayang," ucap Bryan dan dianggukki oleh Aya.


Sementara itu kini Lisa juga tengah sampai di rumah sakit. Ia terus melangkah menuju ke ruangan Aya berada.


"Ah sakit," ucapnya memegangi perutnya.


Adrian terus berjalan hendak menuju mobilnya, namun Ia melihat seorang wanita hamil besar yang terlihat tengah kesakitan.


Adrian pun berjalan mendekatinya.


"Anda kenapa Nona?," tanya Adrian.


"Perutku sakit sekali Tuan, sangat sakit, mungkin saya akan melahirkan," ucap Lisa tanpa melihat Adrian.


Adrian merasa bingung, Ia ingin segera pergi menemui Mamanya. Namun disisi lain Ia begitu tidak tega melihat wanita di depannya itu.


"Ah... sakit sekali Tuan...," pekik Lisa, tangannya meraih lengan Adrian dan me..re..masnya dengan kuat.


"Ahh... sakit Tuan... tolong saya Tuan. Ini sakit sekali...," pekiknya kembali.


Adrian sebenarnya merasakan sakit pada lengannya karena wanita di depannya itu mencengkeram kuat. Namun Ia juga merasakan kasihan padanya.

__ADS_1


Dengan segera, Adrian menggendong tubuh Lisa dan berteriak memanggil dokter.


"Dokter...,tolong ada yang mau melahirkan!," teriak Adrian.


Perawat yang melihat itu pun segera bertindak. Hingga Lisa pun segera di bawa ke ruang bersalin.


Adrian hendak pergi, namun tangan Lisa terus saja mencengkeram kuat lengannya, sehingga Ia merasa bingung harus bagaimana.


Dan mau tidak mau, Adrian akhirnya menemani Lisa untuk berjuang melahirkan bayi yang sebenarnya adalah bayi mereka berdua. (😌)


Dan setelah satu jam lamanya, bayi itu pun lahir. Entah mengapa Adrian menitihkan air matanya melihat proses persalinan tersebut, dan saat suara tangis bayi itu mulai terdengar. Ia begitu lega dan terharu melihatnya.


Lisa mulai melepaskan cengkeramannya pada lengan Adrian. Rasanya tubuhnya begitu lemas setelah berjuang mengeluarkan seorang bayi mungil yang sudah Ia nanti selama ini.


"Selamat Tuan, Nona, bayi kalian perempuan, dan sangat cantik sekali seperti Mamanya," ucap dokter yang membantu proses persalinan.


Adrian terhenyak, dokter sudah salah mengira.


"Sekarang Anda bisa mengadzani putri Anda Tuan," ucap dokter itu menyerahkan bayi cantik itu kepada Adrian.


Saat akan berkata, Adrian kembali terdiam saat menatap bayi itu begitu mirip dengannya. Hingga tangannya pun menerima bayi mungil cantik itu.


Adrian mulai mengadzani bayi cantik itu.


Lisa yang melihat dan mendengar seseorang yang menolongnya itu telah mengadzani putrinya pun begitu takjub dengan orang itu.


Seandainya Papa dari bayinya bisa di temukan, mungkin sekarang dialah yang melakukan semua itu pada putrinya.


Selesai Adrian mengadzani bayi cantik tersebut, Ia melihat sebuah senyuman di sudut bibir bayi perempuan tersebut. Membuat Adrian merasakan sebuah getaran yang sulit untuk Ia ungkapkan.


Adrian membalikkan badannya dan berjalan ke arah ibu bayi tersebut.


Lisa mengerutkan keningnya menatap wajah Adrian. Otaknya seakan membeku, Ia mengingat wajah itu. Wajah seseorang yang Ia cari selama ini untuk Ia mintai pertanggungjawaban atas perbuatannya dulu yang sudah menyebabkan dirinya mengandung.


Adrian tersenyum dan memberikan bayi tersebut kepada Lisa. Namun Ia heran melihat Lisa yang terus menatapnya tanpa berkata.


"Nona, ini putrimu saya serahkan kepada Anda. Sungguh beruntung Anda dan suami Anda memiliki putri yang begitu cantik," ucap Adrian.


"Nona, Apa Anda mendengar ku?," tanya Adrian sekali lagi karena wanita di depannya itu masih terdiam menatapnya.


"Dia adalah putrimu Tuan," ucap Lisa, air matanya menetes seiring kata-kata yang Ia ucapkan.


Adrian mematung mendengar ucapan wanita di depannya itu.

__ADS_1


***


Maaf untuk para reader ku tercinta, di bab ini author otaknya lagi meleng, jadi amburadul jadinya 😭😭😭


__ADS_2