
Beberapa hari berlalu, Adrian mulai terbiasa dengan hadirnya Lisa dan putri kecilnya Divya. Namun Ia belum merasakan sebuah getaran saat berada di dekat istrinya. Sampai saat ini pun mereka masih tidur terpisah.
Sementara Aleta setiap hari terus saja berkunjung ke kantornya. Adrian merasa senang Aleta mengunjunginya dan membawakannya makan siang. Ia sudah menganggap Aleta seperti adiknya sendiri.
Namun semua perhatian Aleta itu semata untuk merebut hati Adrian. Aleta memang berpura-pura bahagia dan memberikan selamat kepada Adrian waktu itu saat mengetahui kebenaran Adrian yang sudah menikah.
Ia bertekad untuk merebut Adrian dari Lisa. Dan Ia di dukung oleh Mama Adrian.
"Kak, boleh kah Aku bekerja di kantor kakak?," tanya Leta.
"Kau mau bekerja di kantor ini?, Apa Kau bercanda Leta. Ayahmu memiliki perusahaan sendiri, kenapa kau tidak bekerja di perusahaan Papa mu saja?," ucap Adrian menggelengkan kepalanya heran.
"Kak, Aku hanya ingin memulai karirku sendiri tanpa embel-embel keluarga Papa. Boleh ya?." Aleta berusaha membujuk Adrian.
"Baiklah, Aku suka tekad mu itu. Besok Kau bisa memulai bekerja di kantor ini. Tapi Kau hanya akan menjadi karyawan biasa, apa Kau mau?." Tawar Adrian.
"Aku mau kak," ucap Leta cepat. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa terus mendekati Adrian.
Sementara di tempat lain, Bryan sudah menemukan siapa seseorang yang ingin menabrak istrinya di parkiran waktu itu.
Dan benar saja dia adalah Rena. Kini polisi sudah membekuk Rena dalam jeruji besi atas dasar pembunuhan berencana.
Sebenarnya Rena juga sudah merencanakan untuk menculik salah satu putra Bryan. Namun ternyata rencananya dapat terendus oleh polisi.
Hingga kini Ia pun akhirnya tertangkap saat hendak bersembunyi di rumah temannya.
Bryan yang mengetahui hal itu bersumpah untuk membuat Rena tidak pernah lagi bisa keluar dari jeruji besi.
Kini Bryan merasa sangat bahagia dengan keluarga kecilnya itu. Ia juga sudah memboyong istri dan kedua putranya untuk tinggal di rumah miliknya sendiri.
***
Adrian juga merasa senang bisa melihat Bryan dan Aya begitu bahagia dengan keluarga kecilnya. Ia berharap Ia segera memiliki perasaan cinta kepada istrinya.
Namun berkali-kali Ia mencoba, perasaan itu tidak bisa muncul di hatinya. Ia hanya merasakan kenyamanan saat bersama dengan Lisa. Berbeda seperti saat yang Ia rasakan terhadap Aya dulu.
__ADS_1
"Lisa, besok Aleta akan bekerja di perusahaan milik ku. Dia ingin memulai karirnya dengan menjadi karyawan di kantor ku. Bukankah itu tekad yang bagus?, " tanya Adrian saat selesai menyantap makan malamnya.
Lisa terdiam mendengar ucapan Adrian, entah mengapa tiba-tiba Ia merasa sedikit mencelos hatinya. Namun Ia segera menepisnya.
Lisa berusaha untuk tersenyum. "Ya, itu tekad yang bagus."
"Apa Kau tidak merasa bosan di rumah Lisa?, Sebenarnya Aku juga ingin Kau membantu ku di perusahaan. Aku sangat membutuhkan seorang sekretaris saat ini," ucap Adrian menatap Lisa.
"Kenapa Kau tidak memasukkan Aleta sebagai sekertaris mu saja?," ucap Lisa.
"Sungguh Kau ingin Aleta yang menjadi sekertaris ku?," tanya Adrian mengerutkan keningnya.
"Kenapa tidak?," ucap Lisa tersenyum terpaksa. Sebenarnya dalam hatinya Ia tidak ingin Aleta menjadi sekertaris suaminya.
"Baiklah kalau begitu, tapi Kau tidak marah kan bila nanti Aku sangat sibuk, Aleta akan menyuapiku di kantor," ucap Adrian. Sebenarnya Ia ingin tahu apakah Lisa memiliki perasaan padanya. Namun kini Ia mengetahui jawabannya.
Ternyata di antara mereka memang tidak ada perasaan yang spesial. Selain Adrian yang berusaha bertanggung jawab atas perbuatannya dulu. Mereka hanyalah dua orang asing yang berstatus sebagai suami istri.
"Tentu tidak Adrian," ucap Lisa dengan tertawa menutupi hatinya yang bergejolak.
"Tentu, Kau istri ku. Aku juga akan senang bila Kau mau datang ke kantor dan membawakan makan siang untuk ku. Setidaknya Leta tidak perlu lagi membawakan makan siang untuk ku," ucap Adrian.
Lisa terkejut. "Aleta membawakan mu makan siang?, Kenapa Kau tidak memberitahu ku Adrian?." tanya Lisa.
Adrian berfikir Lisa cemburu mendengar Aleta yang selalu membawakan makan siang untuknya. Kedua sudut bibirnya pun terangkat.
"Apakah Kau merasa cemburu Lisa, kalau Kau merasa cemburu, Aku bisa menyuruhnya untuk tidak lagi membawakan ku makan siang," ucap Adrian cepat.
"A-aku tidak cemburu Adrian. Aku hanya tidak ingin Aleta berpikir Aku tidak mengurus mu. Kalau begitu mulai besok Aku akan mengantar makan siang untuk mu," ucap Lisa berusaha menutupi perasaannya.
Adrian merasa kecewa, Ia berpikir Lisa merasa cemburu padanya. Tapi tunggu dulu, kenapa Adrian begitu menginginkan Lisa cemburu padanya, mungkinkah Adrian sudah memiliki perasaan pada Lisa?. Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.
Kini mereka pun menuju ke kamar mereka untuk tidur. Tapi sebelumnya mereka menyapa baby Divya di kamarnya. Lisa juga harus memberikan ASI pada baby Divya.
Di saat Lisa memberikan ASI pada putrinya, tanpa sengaja Adrian menatap apa yang tengah di nikmati putrinya itu. Adrian menelan ludahnya saat melihat semua itu.
__ADS_1
Karena sebelumnya Lisa selalu menutupinya dengan kain. Tapi kali ini Lisa terlupa.
Lisa terkejut saat menatap kearah suaminya itu. Ia mengikuti arah pandang suaminya. Dan Lisa pun begitu terkejut saat Ia melupakan kain penutupnya.
"Adrian berbalik lah!," ucapnya cepat.
Namun Adrian masih fokus pada pandangannya, Ia begitu susah payah menelan ludahnya.
"Adrian!!."
"Ah, iya ada Apa?," ucap Adrian tersadar dan menatap wajah Lisa yang memerah.
"Kau berbalik lah, kenapa kau menatap ku seperti itu?, Ayo cepat berbalik!," pintanya.
Dan mau tidak mau Adrian pun harus membalikkan badannya memunggungi Lisa.
Lisa merutuki kebodohannya saat menyadari Ia terlupa dengan penutup kainnya. Ia merasa begitu malu saat ini.
"Aku ke kamar duluan Lisa," ucap Adrian. Ia ingin mendinginkan otaknya dari apa yang Ia lihat barusan.
"Baiklah," ucap Lisa.
Adrian pun dengan cepat langsung pergi dari sana menuju ke kamarnya.
Ia segera membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya. "Kenapa tadi Aku melihatnya?. Dan sialnya Aku terus terbayang dengan hal itu." Ucapnya. Adrian pun berusaha untuk memejamkan matanya.
Sementara Lisa kini sudah kembali dari kamar baby Divya. Ia melihat ke arah tempat tidur, suaminya tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Namun sebenarnya Adrian masih terjaga dari balik selimut tersebut.
Lisa mulai membaringkan tubuhnya di samping Adrian. Mereka memang sudah tidur satu tempat tidur beberapa hari terakhir. Namun mereka tetap harus mematuhi peraturan yang mereka buat, yaitu tidak boleh melebihi pembatas guling yang mereka taruh di tengah-tengah.
Adrian bisa merasakan pergerakan Lisa di sampingnya. Dan itu semakin membuat tubuhnya mulai gelisah. Bayangan saat Ia melihat putrinya sedang menikmati ASI masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Adrian terus berusaha untuk tidak mengingatnya, hal itu membuatnya susah untuk memejamkan matanya malam ini. Hingga hampir tengah malam Adrian baru bisa tertidur dengan pulasnya.
***
__ADS_1