Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 119 (season 2)


__ADS_3

Sean menatap istrinya dengan pandangan yang sulit di artikan. Sementara sang empunya tak mampu membaca raut wajah suaminya yang nampak begitu dingin dan begitu datar.


Mungkinkah suaminya marah padanya? Tapi yang Divya lakukan untuk kebaikan Sean juga. Walaupun itu akan membuatnya begitu terluka, tapi untuk kebahagiaan Sean Divya akan melakukan apa saja. Termasuk merelakan suaminya untuk wanita lain.


Mereka masih saling tatap. Seolah berbicara melalui bahasa kalbu. Namun, tetap saja Divya tak mampu membaca raut wajah suaminya.


Yang jelas Sean begitu marah. Ia merutuki kebodohan sang istri yang berniat menjodohkannya dengan wanita lain.


"Kau sudah membuatku marah Di!" ucap Sean dingin.


Mendengar suara Sean yang begitu dinginnya, membuat bulu kuduk Divya berdiri seketika.


Beberapa detik kemudian Divya merasa tubuhnya melayang. Sean secepat kilat menggendong tubuh Divya. Kini hukuman untuk sang istri akan Sean lakukan.


"Aaahhh... Sean!" Divya terpekik. Ia begitu terkejut. Lagi-lagi suaminya menggendongnya tanpa aba-aba.


"Kau akan menerima hukuman dariku karena sudah membuatku marah!" Sean langsung membawa Divya menuju ke kamarnya.


Sean membaringkan tubuh Divya di atas kasurnya. Lalu Sean pun berdiri kembali dan pergi.


Divya bernafas lega melihat Sean yang kini pergi. Eits, tapi tunggu dulu. Sean tidak benar-benar pergi. Karena sekarang ia sudah kembali berdiri di samping Divya. Menatap Divya dengan tersenyum penuh arti.


Sean hanya mengunci pintu kamarnya dan menekan tombol untuk membuat kamarnya kedap suara.


Di menelan ludahnya kasar. Ia menggigit bibir bawahnya karena melihat senyum Sean yang begitu mengerikan baginya. Hukuman apakah yang akan dia dapatkan? Divya terus bertanya dalam hatinya.


Sean membuka kemejanya dengan secepat kilat. Kini tubuh kekarnya membuat Divya takjub. Rasanya air liurnya mau menetes melihat tubuh bak roti sobek milik suaminya.


"Aih... kenapa dengan otakku ini!? Seharusnya Aku memikirkan hukuman apa yang akan dia berikan. Tapi otakku malah bertraveling kemana-mana." Divya merutuki dirinya dalam hati.


"Sean, ka-kamu mau apa?" Divya menjadi begitu ketakutan saat melihat Sean yang kini membuka ikat pinggangnya dan mulai mendekatinya.


Sean tak menjawabnya. Kini ia semakin mendekati Divya.


Grebb... Sean mengukung tubuh Divya dengan cepat. Menaikkan kedua tangan istrinya ke atas kepala dan sett... Sean mengikat kedua tangan Divya dengan ikat pinggangnya.


"Se-sean... Apa yang Kau lakukan? Kenapa Kau mengikatku? Lepaskan Aku!" Pekik Divya takut.

__ADS_1


"Kau akan merasakan hukuman dariku Di. Kau sudah membuatku begitu marah. Dan sekarang rasakan hukuman dariku," ucap Sean dengan bibirnya yang ia tempelkan pada telinga istrinya.


Divya merasakan sensasi luar biasa saat merasakan deru nafas Sean yang menerpa ceruk telinganya. Dan saat bibir Sean yang menempel di sana. Tubuhnya berdesir merasakan gelenyar dalam tubuhnya.


"Sean, kumohon maafkan Aku. Aku hanya ingin Kau bahagia bersama wanita lain yang lebih sehat dan panjang umur. Bukan bersamaku yang sakit-sakitan ini."


Sean kembali menahan amarahnya. Kenapa istrinya begitu bodoh?


Ia pun segera melahap bibir Divya yang akan kembali berkata.


Sean menumpahkan kemarahannya melalui ciuman-ciumannya. Hingga Divya tak mampu mengimbanginya.


"Sean hentikan!" pekik Divya di sela ciumannya.


"Aku tidak akan pernah berhenti Di! Kau sungguh bodoh menyuruhku untuk menikahi wanita lain. Karena seumur hidupku hanya Kau wanita yang akan ku nikahi. Apa Kau mengerti!" Sean kembali meneruskan hukumannya.


Sementara Divya masih mencerna ucapan dari Sean barusan. "Apa maksud Sean? Aku sungguh tidak mengerti," ucapnya dalam hati.


Namun tiba-tiba Divya kembali terpekik saat merasakan Sean yang telah melucuti seluruh pakaiannya.


Ia terlalu sibuk mencerna ucapan Sean. Hingga Divya tak menyadari Apa yang Sean lakukan padanya tubuhnya.


Tapi apalah daya. Sean telah mengikat tangannya sehingga Divya tidak bisa berbuat apa-apa.


Mau tidak mau Divya harus merelakan tubuh polosnya terpampang jelas di depan mata Sean.


"Sean, lepaskan Aku," ucap Divya pelan. Rasanya ia begitu malu saat ini.


Sean mengecup kening, pipi dan terakhir bibir Divya. Lalu melepaskan tautan bibirnya kembali. Sean menatap dalam mata Di.


"Aku mencintaimu Di, sangat mencintai mu. Dan Aku tidak akan pernah meninggalkan mu apapun yang terjadi. Karena selamanya hanya Kau lah istri Ku. Bahkan wanita lain pun tidak akan ada yang mampu membuat ku berpaling." Jelas Sean.


Divya terpaku dengan pernyataan suaminya. Ia selalu berpikir Sean hanya kasihan padanya karena penyakitnya. Benarkah yang Sean katakan itu? Benarkah dia mencintai Divya?


Divya rasanya tak mampu untuk berkata lagi. Pernyataan Sean membuat bibirnya seolah terkunci. Ada setitik kebahagiaan dalam hati Divya.


Hingga air matanya pun menetes tak dapat terbendung lagi.

__ADS_1


Sean mengusap lembut air mata istrinya yang meleleh itu. Lalu ia mengecup kedua mata itu secara bergantian. Ia tidak ingin melihat Divya menangis.


"Percayalah padaku, Aku mencintaimu Di. Dan Aku tidak akan membiarkan Tuhan mengambilmu dariku." Sean berbisik pelan.


Rasanya begitu menyejukkan mendengar perkataan suaminya. Ia serasa menjadi gadis paling bahagia saat ini.


Sean kembali mencium bibir Divya. Namun kali ini berbeda. Ia mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan. Dan membuat Divya terbawa akan arusnya.


Mereka saling mence..cap dan membe..lit li..dah satu sama lain. Divya membalas setiap ciuman suaminya.


Mereka benar-benar begitu larut dalam suasana yang begitu syahdu di pagi menjelang siang ini.


Tangan Sean menyusuri setiap lekuk tubuh Divya. Hingga sampailah di da..da istrinya yang sedari tadi terus menggodanya.


Sean mere..masnya dan memilin pucuknya. Hingga suara de..sa..han pun lolos begitu indah dari mulut istrinya.


Divya tak bisa berbuat apa-apa, tangannya masih terikat di atas. Sementara Sean terus saja memberikan sensasi yang begitu menggelitik dan membuat miliknya menjadi ba..sah.


Perlahan Sean mulai menciumi pucuk da..da istrinya. Hingga Li..dah itu mulai bermain di sana. Menggigitnya pelan dan membuat sang empunya terpekik. Merasakan sesuatu yang begitu nikmat.


Divya membusungkan da..danya saat mulai merasakan sebuah ja..ri yang sudah mengobrak-abrik di bawah sana.


"Ah... Sean...."


"Ya, panggil namaku sayang."


Sean melahap kedua benda kenyal di depannya bergantian. Sementara ja..rinya terus saja bekerja di bawah sana.


De..sahan demi desa..han terus keluar dari bibir Divya seiring permainan yang Sean ciptakan. Rasa nik..mat yang menggelora membuatnya menjadi menggila.


Hingga Divya merasakan sesuatu yang akan meledak di bawah sana.


Bibir Sean dengan asiknya terus menikmati gunung kembar milik Divya. Sementara tangannya masih mengobrak-abrik milik istrinya di bawah sana.


"Ah.. berhenti Sean... berhenti! Aku mau ah.....!!!" Tubuh Divya menegang. Sebuah ledakan nik..mat terjadi di bawah sana. Tubuhnya bergetar menahan luapan ledakan tersebut. Hingga rasa lega mulai menderanya.


Kini tubuhnya serasa bagaikan kertas. Akan terbang bila tertiup angin.

__ADS_1


Sean tersenyum puas melihat tubuh lemas istrinya. Ia pun melepaskan ikatan yang membelit tangan istrinya itu. Menariknya kedalam pelukannya dan membuat istrinya merasa nyaman.


***


__ADS_2