Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 109 (season 2)


__ADS_3

Divya terkejut melihat penampakan pria yang kini berstatus sebagai suaminya yang tiba-tiba berada di belakangnya.


"A-aku... Aku mau mengambil ponsel ku," bohong Divya. Ia berharap Sean mempercayainya.


"Yasudah, ayo kita kembali," ucap Sean datar. Ia pun meraih tangan Divya dan menariknya kembali ke tempat tadi.


Divya terkejut. Dilihatnya tautan tangannya dan tangan Sean. Ia berusaha melepaskan tangan Sean dari tangannya.


"Lepaskan Aku!." Divya mencoba melepaskan genggaman tangan itu


"Diamlah!, Kau harus menurut dengan suamimu. Dan sekarang Aku adalah suamimu. Jadi Kau harus menurut!" ucap Sean penuh penekanan.


Divya hanya bisa menuruti Sean. Setidaknya pria itu tidak mengetahui dirinya yang meminum obat barusan.


***


Divya merebahkan tubuhnya di atas kasur yang begitu empuknya. Rasanya ia begitu lelah seharian ini menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya.


Divya bak tersihir oleh kenyamanan kasur empuk itu. Hingga suara deheman seseorang telah membuatnya terlonjak kaget.


Divya menoleh ke arah suara. Ia begitu terkejut melihat Sean yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


"Aaaaa!!. Apa yang Kau lakukan?!." Divya memekik saat melihat Sean yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


"Apa yang ku lakukan?. Tentu saja mandi. Apa Kau tidak mau mandi?." Pertanyaan itu membuat Divya beranjak berdiri.


Rasanya ia begitu canggung saat ini.


Kalau sebelumnya ia selalu sendirian. Kini akan ada Sean di kesehariannya, termasuk tidur dalam satu ran..jang yang sama. Benarkah mereka akan tidur di tempat tidur yang sama?, Entahlah.


"Aku mau mandi di kamar sebelah saja. Kamar mu kan banyak." Divya hendak melangkah keluar. Namun tangan kekar Sean meraih tangannya dan menariknya.


Divya terdorong ke belakang hingga berakhir menabrak dada bidang Sean. Divya terkejut. Ia membelalakkan matanya saat melihat tubuh kekar Sean tepat berada di depan matanya. Bahkan hidungnya menyentuh dada itu karena menabrak tadi.


"Apa yang Kau lakukan Sean?. Aku mau mandi, kenapa Kau malah menarikku?!." Divya mendengus seraya menjauhkan diri dari Sean. Ia benar-benar merasa malu dan kesal dengan sikap Sean.


"Aku tidak mengizinkannya. Cepatlah mandi di kamar ini saja!." Sean memberikan perintah yang tidak bisa di bantah lagi.


Divya terus menggerutu, namun ia tetap menjalankan apa yang Sean katakan.


Senyum terukir di sudut bibir Sean saat melihat Divya yang menggerutu namun juga menuruti perintahnya. Namun senyum itu menghilang seketika.


"Tidak, kenapa Aku bisa merasa di begitu menggemaskan?. Sepertinya Aku mulai tidak waras," ucap Sean seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ia segera melangkah untuk mengambil pakaiannya dan menggantinya.


Beberapa saat kemudian, Divya keluar dari bathroom dengan mengenakan pakaian lengkapnya.


Sean yang sedang duduk di sofa pun melirik ke arah Divya yang kini tengah sibuk mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Ayo kita makan malam!" ajak Sean, namun pandangannya tak lepas dari ponselnya.


Divya menoleh ke arah Sean dengan tatapan malas. Ia diam tak menjawab ajakan Sean.


Melihat hal itu, Sean langsung meletakkan ponselnya dan berjalan menghampiri Divya yang masih sibuk dengan pengeringan rambutnya.


Sean menarik handuk Divya yang di pakai untuk mengeringkan rambutnya dan membuat sang empunya terkejut. Sudah ia duga bahwa Sean pasti akan mengganggunya.


Divya hanya menatap tajam Sean. Lalu ia beralih mengambil hairdryer yang ada di kopernya. Mengambilnya dan memakainya untuk kembali mengeringkan rambutnya.


Sean hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Divya. Ia kembali mendekati istrinya.


Saat melihat Sean yang kembali menghampirinya membuat Divya siap siaga kalau-kalau Sean akan merebut hairdryer miliknya.


"Aku hanya ingin mengajak mu makan, bukan mengajakmu untuk berperang," ucap Sean kembali menggelengkan kepalanya merasa gemas dengan tingkah Divya.


"Aku sudah kenyang!" Divya menjawabnya dengan nada begitu ketus.


Melihat penolakan Divya, Sean kembali mendekatinya. Sungguh istrinya itu terus saja membuatnya kesal.


"Kau mau apa lagi, menjauh lah!" Divya merasa was-was.


"Kau mau Aku menggendongmu ke ruang makan, atau Kau berjalan sendiri ke sana!" Sean nampak begitu geram.


"Tapi Aku tidak lapar Tuan Sean," jawab Divya.


Divya menelan ludahnya susah melihat ekspresi Sean yang nampak mengerikan. Ia segera menaruh hairdryer miliknya.


"Baiklah ayo!" Divya mengerucutkan bibirnya.


Sementara Sean tersenyum puas karena ternyata istrinya itu takut dengan gertakkannya.


"Gadis pintar. Ayo ikuti Aku!. Aku tidak ingin Kau tersesat nanti. Kau belum mengetahui seluk beluk rumah ini," ucap Sean.


Divya hanya mencebik. Ia pun segera mengikuti langkah kaki suaminya.


Sampai di meja makan. Divya melihat banyak sekali makanan yang terhidang di meja makan. Ia mengerutkan keningnya karena banyaknya makanan tersebut.


"Apa Kau sedang ada tamu?." Divya menatap Sean.


"Tidak, kenapa Kau bertanya seperti itu?" Sean berbalik bertanya.


"Lalu kenapa makanan sebanyak ini berada di sini?. Aku bukan babi yang akan makan sebanyak ini," tutur Divya. Ia mulai duduk di kursi.


"Aku tidak tahu makanan apa yang Kau suka. Jadi Aku menyuruh koki untuk memasak semua makanan ini," jawab Sean.


"Aku hanya makan makanan yang halal dan sehat saja. Tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan sebanyak ini," tandas Divya.


"Oke, besok Aku akan menyuruh koki untuk memasak makanan yang Kau mau. Sekarang makanlah yang ada," ucap Sean dan di angguki oleh Divya.

__ADS_1


Mereka makan dengan begitu tenang. Hingga makanan mereka pun akhirnya tandas.


Setelah acara makan malam selesai. Sean memanggil nama istrinya.


"Divya"


"Ya, ada apa?."


"Aku hanya ingin mengatakan kalau selama menjadi istri ku, Kau harus menurut padaku, atau Aku akan menghukum mu. Dan Kau tidak akan pernah bisa membayangkan hukuman dariku. Karena itu akan membuat mu kapok nantinya karena sudah membuatku kesal," ucap Sean.


"Kau memang suami yang kejam!. Tapi kenapa Kau harus menikahi ku?. Oh Aku tahu, Kau menikahi ku karena tidak ada wanita yang mau dengan pria angkuh seperti mu ya?." Divya segera berlari setelah mengatakan itu.


Sementara Sean membelalakkan matanya tak percaya Divya selalu saja membuatnya kesal.


"Divyaaaa...!" Sean berteriak karena begitu kesal dengan istrinya itu.


Divya berlari menuju kamar seraya tertawa cekikikan. Ia sudah membalas suaminya dengan membuatnya begitu kesal.


Tawa Divya terhenti saat mengingat dirinya yang belum meminum obatnya. Ia tidak ingin Sean melihat dirinya yang kesakitan nanti bila sampai ia telat meminum obatnya.


Divya mengambil obatnya yang ia taruh di tas miliknya. Banyak sekali obat yang harus ia minum. Rasanya ia begitu muak melihat obat-obatan tersebut.


Divya segera mengambil obat-obat tersebut dan mengambil minuman yang berada di nakas.


Bertepatan dengan itu Sean datang dari luar. Ia mengerutkan melihat Divya yang nampak sedang meminum sesuatu.


"Apa yang Kau minum?"


Selesai menelan obatnya, Divya menoleh ke arah Sean.


"Obat untuk mag ku," Jawab Divya yang di buat sesantai mungkin. ia tidak ingin Sean curiga.


"Apa mag mu belum sembuh?" Sean mengerutkan keningnya. Ia melupakan rasa kesalnya.


"Belum," jawab Divya singkat.


"Aku mau tidur, Kau mau tidur di mana?" tanya Divya sehingga Sean mengerutkan keningnya.


"Aku tidur di mana?, tentu saja di tempat tidur ini. Memangnya mau di mana lagi?."


"Kalau begitu Aku yang akan tidur di sofa," ucap Divya seraya berjalan mengambil satu bantal yang ada di tempat tidur.


"Tidak ada yang tidur di sofa!. Kita akan tidur di tempat tidur. Kau jangan membuat ku kesal Di!" Sean merasa kesal. Ia pun kembali mengingat kekesalannya di meja makan tadi.


"Kau belum menerima hukuman dari ku karena sudah membuatku kesal tadi," ucap Sean menyeringai.


Divya pun terpaku seraya menelan ludahnya susah. Ia tidak bisa membayangkan hukuman apa yang Sean berikan padanya.


***

__ADS_1


__ADS_2