Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 96 (season 2)


__ADS_3

Ax mulai terbangun dari tidurnya, tangannya mulai mencari Eve disampingnya. Namun sosok yang Ia cari pun tidak ada di sana. Bibirnya memanggil nama gadis manisnya.


“Eve,” panggilnya. Tangannya terus saja mencari gadis yang sebelumnya berada di sampingnya. Namun mata itu enggan untuk terbuka.


Ax merasa begitu yakin, setelah yang Ia dan Eve lakukan, Eve tidak akan jadi pergi.


Tapi setelah berkali-kali Ia memanggil nama Eve dan tidak ada sahutan sama sekali, Ax pun mulai membuka matanya dan mencari ke sekeliling sudut kamar tersebut. Tetep saja tak ada gadisnya disana.


Ax sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa Eve pergi jauh. Ia ingin menjalani hidup berdua saja dengan gadis yang sangat Ia cintai.


Ax tahu bahwa itu akan melanggar norma yang berlaku di masyarakat. Bahkan mungkin orang tuanya akan membencinya karena melakukan hal tersebut kepada adiknya.


Tapi Ax sungguh tak dapat lagi menahan rasa cintanya terhadap gadis yang Ia cintai, walaupun berstatus sebagai adiknya.


Melihat kamar tersebut terasa begitu hening, perasaan takut bila Eve pergi pun merasuki pikirannya.


Ax segera beranjak dan memunguti pakaiannya kemudian memakainya. Ia masih belum menyadari bahwa Eve kini sudah pergi bersama Karl.


Selesai memakai pakaiannya, Ax kembali mencari Eve dalam bathroom, dan tetap saja disana tidak ada sosok yang Ia cari.


Kepanikan mulai melandanya, rasa takut akan di tinggalkan oleh Eve bersama Karl membuat Ax begitu frustasi.


Ax pun berniat ingin membuka pintu lemari Eve, berharap baju-baju milik Eve masih tertata rapi disana. Dengan langkah panjangnya, Ax menuju lemari tersebut.


Perlahan Ax mulai membuka pintu lemari itu, dan betapa terkejutnya Ax saat melihat baju Eve yang nampak sedikit di dalam sana.


“Kenapa Kau begitu tega meninggalkan ku Eve, setelah semua yang kita lakukan barusan. Kau tega padaku Eve. Kau lihat saja Eve, Aku tidak akan pernah melepaskan mu, walaupun Kau bersembunyi di lubang semut sekalipun, Aku tetap akan menemukan mu Eve!," janji Ax pada dirinya sendiri.


Lalu tanpa sengaja Ax melihat sebuah bercak merah yang nampak sedikit mengering di atas sprei. Ax segera menggulungnya dan hendak membawanya ke kamarnya. Ax ingin menyimpannya sebagai bukti bahwa dirinya dan Eve melakukan hal tersebut atas kesadaran masing-masing.


"Kau tidak akan pernah bisa lari dari ku Eve," ucap Ax dengan yakinnya. Lalu iapun keluar dari kamar Eve menuju ke kamarnya. Ax menyimpan sprei itu kedalam lemarinya.


***


Malam hari pun tiba. Kini keluarga Bryan tengah makan malam di meja makan. Tak ada satu patah katapun di ruangan itu, yang ada hanyalah dentingan sendok dan piring yang tengah beradu.


Semuanya begitu merindukan Eve, mereka merindukan Eve yang selalu cerewet saat berada di meja makan.


Namun di saat itu, Ayumi kembali datang ke sana.

__ADS_1


"Selamat malam semuanya," ucapnya berusaha bersikap akrab dengan keluarga Ax.


Namun Bryan hanya melirik sekilas ke arah Ayumi. Sebenarnya Bryan tidak menyetujui hubungan Ax bersama Ayumi. Karena Bryan sudah menyelidiki bagaimana latar belakang Ayumi.


"Aku sudah selesai, kalian lanjutkan saja makan malam kalian," ucap Bryan dan langsung meninggalkan ruang makan.


Melihat hal itu Ayumi hanya bisa terdiam. Bryan melewati Ayumi tanpa menyapanya sama sekali, membuat Ayumi sedikit menundukkan kepalanya melihat tatapan tajam Bryan yang sempat menatapnya.


"Untung saja dia Papa Ax, kalau bukan, sudah kuberi pelajaran dia karena berani menatap ku seperti itu. Kalau saja bukan karena harta keluarga Askara yang begitu banyak, mana mungkin Aku akan repot-repot mengikuti Ax kesini," ucap Ayumi dalam hati.


Sementara Aya memaksakan senyumnya kepada Ayumi. Bryan sudah menceritakan tentang semua yang Ia ketahui tentang Ayumi. Dan Aya tidak menyetujui hubungan putranya dengan gadis tersebut.


Aya hanya berusaha untuk menghormati keputusan putranya yang menjadikan Ayumi kekasihnya. Namun Aya perlahan-lahan akan membujuk Ax untuk segera memutuskan hubungannya dengan Ayumi.


"Kau datang Ayumi?, apa Kau sudah sarapan?. Kalau belum, bergabunglah kemari," ajak Aya.


"Iya bibi, Ayumi memang belum sarapan. Maaf merepotkan bibi," ucap Ayumi dan langsung menuju tempat duduk di samping Ax dan Bintang.


"Kalau begitu kalian teruskan sarapan kalian, Mama mau menyusul papamu," ucap Aya kepada putra-putranya.


"Ya Mam," ucap keduanya. Aya pun segera beranjak, rasanya Ia begitu malas satu meja dengan Ayumi di sana.


Dengan tanpa malunya Ayumi segera mengambil makanan untuk dirinya dan tak memperdulikan bagaimana pandangan mereka.


"Sayang, Aku ingin berkeliling kota ini, nanti Kau temani Aku ya?," ucap Ayumi,lalu iapun memasukkan satu suapan makanan kedalam mulutnya.


Bintang mengerutkan keningnya. Lalu iapun juga beranjak dari sana.


"Kau mau kemana Bi?," tanya Ax heran yang melihat bintang beranjak dari sana.


"Aku ingin ke taman yang sering ku datangi bersama Eve," ucap Bintang dan langsung meninggalkan mereka.


Mendengar Bintang mengucapkan nama Eve, sontak membuat Ax pun berdiri. "Aku ikut Bi," ucap Ax.


"Sayang, bukankah Kau sudah berjanji akan mengantar ku berkeliling kota ini?." Ayumi protes saat Ax mengatakan mau ikut dengan Bintang.


"Ayumi, Aku tidak mengatakan kalau Aku mau mengantarmu berkeliling kota ini Ayumi. Kau bisa pergi sendiri, Aku sedang tidak ingin melakukan apapun hari ini," ucap Ax datar dan mengikuti Bintang pergi dari sana.


Ayumi merasa begitu kesal, Ia menaruh sendok dan garpu itu dengan kasar. "Si..a..lan!, Mereka semua mencoba untuk bermain dengan ku rupanya!. Lihatlah,apa yang bisa ku lakukan Ax untuk bisa membuat kalian bertekuk lutut dengan ku!," ucap Ayumi penuh seringai. Iapun segera pergi dari sana dengan kekesalan yang memenuhi hatinya.

__ADS_1


***


Sementara Eve dan Karl kini telah sampai sebuah pulau yang nampak begitu indah. Mereka menggunakan pesawat pribadi yang sudah Sean siapkan untuk mereka untuk sampai di sana.


Eve sungguh merasa begitu asing berada di tempat itu.


"Tetaplah ikuti Aku Ashy. Kita tidak pernah tahu musuh bisa menyamar menjadi siapa saja," ucap Karl memperingatkan.


Eve menganggukkan kepalanya, Ia pun mengikuti Karl di belakangnya.


Dorrr...


Suara tembakan hampir mengenai kepala Eve kalau saja Eve bergerak sedikit saja.


Eve dapat melihat bagaimana peluru itu melintas di depan matanya. Dan sungguh itu membuatnya begitu terkejut.


Karl langsung mengambil senjata api yang Ia simpan di dalam jasnya. Ia menarik Eve ke belakangnya berusaha menutupi tubuh Eve untuk melindunginya.


"Kau tidak apa-apa Eve?," tanya Karl khawatir. Kali ini Ia telah kecolongan.


"A-aku tidak apa-apa kak," ucap Eve terbata, baru kali ini Ia merasakan begitu takut dan tegang. Apakah nyawanya benar-benar dalam bahaya?, pikirnya.


Eve tak dapat berkata apa-apa lagi, Ia hanya mengikuti apa yang Karl katakan.


"Sungguh kejutan bisa melihat Kau kembali Karl, apa gadis manis itu adalah adik Sean?. Hahaha, Aku tidak akan melepaskan kalian!. Cepat!, habisi mereka!!!," perintahnya.


Lalu tiba-tiba saja orang-orang yang berlalu-lalang tadi pergi entah kemana, kini berganti dengan orang-orang yang berbaju hitam yang lumayan banyak.


"Si..al!. Kelompok mereka begitu banyak. Aku harus segera menghubungi Sean untuk mengirimkan bantuan." Karl berkata dalam hati. Tangannya mulai menekan sebuah tombol di saku jasnya. Ia berharap bantuan dari Sean segera datang.


Lalu Karl memberikan pistolnya kepada Eve. "Eve, tembak mereka bila ada yang mendekat atau menodongkan senjata padamu!," perintah Karl.


"A-apa?, ta-tapi kak. Aku tidak bisa menggunakan benda ini," ucap Eve merasa begitu ketakutan.


"Kita dalam kondisi terdesak Eve, Aku yakin Kau bisa!, Kau harus yakin Eve!." Karl berusaha meyakinkan Eve.


Mau tidak mau Eve menerima senjata api tersebut, Ia begitu ragu bisa selamat dari tempat itu. "Tuhan, lindungi kami," ucap Eve dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2