
"Si..alan!, Tante Alika malah pergi entah kemana. Ini tidak bisa di biarkan, Aku harus mencari cara agar kak Adrian menjadi milik ku!," gerutu Aleta kesal.
Lalu Ia pun menelepon seseorang untuk mendapatkan informasi tentang Lisa. "Cepat Kau cari semua informasi tentang putri dari keluarga Agra!," ucap Aleta pada panggilan telepon.
"Lihat saja, Aku akan membuat kak Adrian membenci mu Lisa!." Aleta tersenyum menyeringai.
***
Di kediaman keluarga Pratama.
Adrian menatap pria paruh baya yang selama ini begitu Ia benci. Ia merasa tak pantas untuk menatap wajah sang Papa. Hatinya sakit kala mengingat dirinya yang tak pernah memperdulikan Papanya.
Kakinya melangkah mendekati pria paruh baya yang kini tengah berada di ruang kerjanya dan menatap pigura foto Adrian saat masih kecil.
"Papa, maafkan Aku," ucap Adrian dengan berlutut di depan sang Papa.
Pratama terkejut mendengar suara putranya. Terlebih kini Ia melihat putranya yang tengah berlutut di depannya.
Ia pun berdiri dan berjalan menghampiri putra yang begitu Ia rindukan selama ini. Tangannya mengulur agar putranya berdiri.
"Apa yang Kau lakukan Adrian?, Berdirilah nak!," Tutur Pratama.
"Tidak Pa, Aku tidak pantas berdiri sejajar dengan mu. Aku sangat bersalah pada Papa, Aku selalu menganggap Papa yang bersalah selama ini. Aku terlalu percaya dengan perkataannya sehingga membuat ku menjadi buta karenanya." Adrian menitihkan air matanya. Ia sangat merasa bersalah kepada Papanya.
Sementara Pratama tak kuasa membendung air matanya. Pria paruh baya itu meraih putranya dan merengkuhnya.
"Kau tidak bersalah nak, Papa yang bersalah karena tidak menceritakan segalanya kepada mu. Mulai sekarang kita buka lembaran baru. Jadikan semua yang terjadi menjadi pelajaran hidup. Ini adalah jalan dari yang mahakuasa nak," ucap Pratama memeluk tubuh putranya.
Kalau sebelumnya Ia sangat sulit untuk berbicara dengan anaknya. Kini Ia dapat memeluk putranya dengan kasih sayang yang begitu besar.
Sementara Lisa ikut menitihkan air matanya saat melihat Ayah dan anak yang saling berpelukan itu. Ia ikut bahagia melihat suaminya dan Papa mertuanya yang kini sudah berbaikan.
"Terimakasih untuk semua dukungan mu untuk ku Lisa. Aku tidak tahu bagaimana kalau bukan Kau yang menjadi istri ku. Aku sungguh bersyukur memiliki mu." Adrian mengecup punggung tangan istrinya.
Kini mereka dalam perjalanan menuju ke kantor. Lisa memutuskan untuk membantu suaminya mengelola perusahaan. Lisa ingin belajar dari suaminya, karena Santi terus saja memaksanya untuk mengelola perusahaan keluarga Agra.
Namun walaupun begitu, Lisa hanya membantu Adrian setengah hari saja. Karena Lisa juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat perkembangan pertumbuhan sang putri.
Dan akhirnya mereka pun sampai di kantor. Adrian menggandeng tangan Lisa sepanjang perjalanan menuju ke ruangannya.
Sungguh Lisa merasa malu saat ini. Para karyawan nampak saling berbisik dan tersenyum menatap bos mereka melewati mereka.
"Adrian, Kau harusnya profesional saat berada di kantor. Kita tidak boleh memperlihatkan bahwa kita itu suami istri." ucap Lisa membuat Adrian mengerutkan keningnya.
"Kau menyuruhku untuk menjaga jarak dengan istriku sendiri, begitu?."
Lisa menepuk keningnya mendengar ucapan suaminya itu. "Bukan begitu, tapi ini di kantor. Dan kita tetap harus profesional dalam bekerja," tutur Lisa berusaha menjelaskan.
"Oke," ucap Adrian.
"Oke?, Hanya itu saja Jawabanmu?."
"Ya, kalau bukan oke, Aku harus menjawab apa?." Ucap Adrian.
Lisa hanya memutar bola matanya jengah dengan sikap suaminya itu. Terkadang suaminya membuatnya begitu kesal, seperti saat ini.
"Yasudah, kalau begitu Apa yang harus ku kerjakan?," tanya Lisa. Ia ingin memulai pekerjaannya hari ini.
"Duduklah!," ucap Adrian menepuk pangkuannya.
__ADS_1
Lisa mengernyitkan dahinya. "Kenapa Kau memintaku untuk duduk di pangkuan mu Adrian, Aku ini beneran mau belajar mengelola perusahaan lho, bukan mau main-main," protes Lisa dengan tingkah suaminya.
"Siapa bilang yang ku katakan hanya main-main. Aku akan mengajarimu, cepat kemarilah!," titahnya kepada istrinya.
Dengan mengambil nafas panjang, Lisa pun menuruti perintah suaminya. Ia duduk di pangkuan suaminya dengan. Wajahnya memerah saat suaminya terus saja menatapnya. Hingga membuatnya menundukkan kepalanya.
"Jangan menatapku seperti itu, Aku malu," ucap Lisa menunduk.
Adrian begitu gemas melihat ekspresi wajah istrinya itu. Ingin sekali Ia menerkam istrinya dan mengukungnya di bawahnya. Namun Ia harus menahannya.
"Jangan menundukkan wajahmu, bagaimana Aku akan mengajarimu bila Kau terus menundukkan wajahmu?." ucap Adrian menahan senyumnya.
"Tapi apakah harus dengan posisi seperti ini Kau mengajariku?. Aku sungguh merasa tidak nyaman Adrian," ucap Lisa malu.
"Tapi Aku nyaman dengan posisi ini, dan Kau harus terbiasa dengan ini." ucap Adrian dan tidak bisa lagi di bantah oleh Lisa.
"Baiklah," ucap Lisa akhirnya.
***
Lisa terus menggerutu sepanjang menuju mobilnya untuk pulang ke rumah. Jelas saja Lisa menggerutu, karena tadi suaminya terus saja menciumi rambutnya dan membuatnya tidak fokus.
Hingga saat sampai di parkiran tanpa sengaja Lisa menabrak tubuh seseorang dan membuatnya terjatuh.
"Lisa," ucap seseorang mengulurkan tangannya ke hadapan Lisa yang terjatuh.
Lisa terpaku mendengar suara seseorang yang begitu familiar di telinganya. Iapun mendongakkan kepalanya menatap wajah orang itu.
Pandangan keduanya bertemu, Lisa begitu terhenyak melihat seorang pria yang tengah menabraknya. Ingatannya kembali terputar pada masa saat dirinya dan pria di depannya bersama dahulu.
Ya, dia adalah Dimas Williams, seorang pria yang pernah membuat hatinya terpaut kepadanya. Pria yang selalu Ia tunggu kedatangannya sebelum Ia menjadi istri Adrian.
Lisa pun mulai berdiri, namun Ia terkejut saat pria di depannya itu tiba-tiba saja memeluknya.
"Aku merindukan mu," ucap pria bernama Dimas memeluk Lisa dengan erat.
Lisa terdiam untuk sesaat, lalu Ia pun tersadar dan berusaha untuk melepaskan pelukan dari Dimas.
"Lepaskan Aku Dimas!," ucapnya melepaskan pelukan Dimas dan memundurkan tubuhnya.
"Li-sa, Kau kenapa bersikap begitu dengan ku?. Apa Kau tidak senang Aku kembali?, Apa Kau tidak merindukan diriku?," tanya Dimas, Ia kembali mendekati Lisa dan berniat kembali memeluknya.
Namun Lisa dengan cepat menghentikan langkah Dimas.
"Berhenti di sana Dimas!, tolong jangan mendekat!," ucap Lisa dengan tegas.
Dimas terkejut mendengar penolakan Lisa. "Kenapa Kau melarang ku untuk mendekati mu Lisa?. Sekarang Aku kembali Lisa. Dan Aku akan menepati janji ku sebelumnya," ucap Dimas.
Sontak membuat Lisa terpaku dan kembali terdiam di tempatnya.
Lisa pun teringat akan janji Dimas sebelum meninggalkannya ke luar negeri.
"Hentikan ucapanmu Dimas!, Maafkan Aku karena Aku tidak bisa menepati janji ku!," ucap Lisa menahan air matanya.
Ia pun segera berlari dari hadapan Dimas, meninggalkan Dimas yang nampak terkejut dan terpaku di sana.
Lisa segera memasuki mobilnya dan menyuruh supirnya untuk segera meninggalkan parkiran.
Lisa menangis dalam perjalanan pulang. Pertemuannya dengan masa lalunya membuatnya kembali merasakan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Kenapa dia harus kembali?, Kenapa Tuhan?!," ucapnya dalam hati.
Lisa menjadi dilema saat ini. Disisi lain Ia begitu bahagia dengan kehidupan pernikahannya bersama suaminya. Namun di sisi lain Ia kembali mengingat masa-masa saat bersama masalalunya, yaitu Dimas.
"Apa yang harus kulakukan?, Dimas tidak tahu kalau Aku memiliki putri saat ini. Bagaimana bila Dimas dan Adrian bertemu nanti?." Batin Lisa terus saja berperang.
"Tidak!, Dimas adalah masa lalu ku. Aku tidak akan membiarkan dia merusak kebahagiaan keluarga kecilku saat ini!," ucap Lisa dengan meyakinkan hatinya.
***
Sementara Dimas, kini Ia masih memikirkan penolakan dari gadis yang sangat ia cintai.
Beberapa hari yang lalu sebelum Ia kembali ke negara ini. Seseorang tengah menemuinya dan mengatakan bahwa Lisa telah menikah dengan pria lain.
Ya, dia adalah Aleta. Aleta ingin melakukan segala cara untuk memisahkan Lisa dan Adrian. Leta mengatakan bahwa Lisa sudah merebut kekasihnya dan menikah dengannya.
Sontak itu membuat Dimas tidak percaya dengan penuturan dari Aleta. Dimas akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan ingin membuktikan bahwa ucapan Aleta tidaklah benar.
Namun saat mendapati penolakan dari gadis yang sangat ia cintai, Dimas terus saja terpikirkan oleh ucapan Aleta kepadanya.
"Kau tidak mungkin menghianati cinta kita kan Lis?, Kau masih tetap menunggu ku kan?," ucap Dimas pada dirinya sendiri.
Lalu Ia pun memutuskan untuk beranjak dari sana dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang ada di Indonesia.
Sementara di lain tempat, Aleta tengah tersenyum puas melihat hasil foto yang Ia dapatkan dari orang suruhannya.
Sebuah foto yang mengambil gambar Lisa dan Dimas yang tengah berpelukan. Namun lebih tepatnya Dimas lah yang tengah memeluk Lisa.
Tapi Aleta tidak menghiraukan semua itu, yang terpenting Ia telah mendapatkan foto yang dapat membuat Adrian membenci Lisa karena telah memeluk pria lain.
"Aku yakin kak Adrian akan salah paham pada mu setelah melihat foto ini Lisa," ucap Aleta tersenyum menyeringai.
Iapun segera menyuruh seseorang untuk mengirimkan foto tersebut ke kantor Adrian.
***
Adrian tersenyum kala mengingat ekspresi wajah Lisa beberapa saat lalu. Rasanya Ia ingin sekali meninggalkan pekerjaannya dan pulang ke rumah menyusul istrinya.
Namun Ia harus tetap profesional, dan harus segera menyelesaikan pekerjaannya.
Adrian ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang cepat hari ini. Namun Ia menghentikan aktivitasnya saat OB mengetuk pintu ruangannya.
"Permisi Tuan, ada surat untuk Anda," ucap OB tersebut.
Adrian pun menyuruh OB tersebut masuk dan mengambil sebuah amplop coklat yang di berikan OB tersebut.
"Kalau begitu saya permisi Tuan," ucap OB tersebut dan di anggukki oleh Adrian.
Adrian menatap amplop coklat di tangannya itu. Ia membolak-balikkan amplop coklat tersebut, mencari tahu nama pengirimnya. Namun tidak ada tulisan apapun di sana.
Merasa penasaran, Adrian pun segera membuka amplop coklat tersebut. Ia ingin tahu apa isi dalam amplop tersebut.
Adrian terbelalak saat melihat beberapa foto di dalamnya. Istrinya tengah berpelukan dengan seorang pria.
Namun Ia tidak ingin berburuk sangka dahulu. Walaupun hatinya begitu kacau saat melihat foto tersebut. Adrian ingin memastikan tentang keaslian foto tersebut. Ia ingin tahu apakah foto tersebut editan atau asli.
Dengan segera Adrian memasukkan kembali foto tersebut ke dalam amplop dan membawanya. Adrian meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke tempat temannya.
***
__ADS_1