
Bryan datang datang menemui istrinya di rumah sakit dengan terburu-buru. Setelah mendapat pesan dari Lusi, secepat kilat Ia pun langsung menyusul sang istri.
Rasa cemas saat mendengar bahwa istrinya yang hampir tertabrak membuat otaknya tak dapat berpikir lagi. Yang ada hanyalah bagaimana keadaan istrinya saat ini.
Hingga Ia pun menyerahkan pekerjaannya kepada sekretarisnya Zaki.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?, Apa ada yang terluka?. Dan bagaimana dengan anak kita?," tanya Bryan begitu cemas. Ia memeriksa seluruh tubuh istrinya itu.
Sontak saja itu membuat Aya begitu malu, karena saat ini Ia tengah berada di ruang tunggu rumah sakit. Dan disana sudah pasti banyak orang yang tengah menatapnya. Apalagi di sampingnya kini ada teman barunya, yaitu Lisa.
"Sayang berhentilah, Aku tidak apa-apa. Lihatlah banyak orang yang menatap kearah kita. Aku malu," ucap Aya seraya menarik suaminya agar duduk di sampingnya.
"Tapi Aku sangat mencemaskan mu sayang. Tadi Lusi mengabari ku bahwa Kau hampir saja tertabrak mobil. Bagaimana bisa di tempat parkir ada sebuah mobil yang melaju cepat?." Bryan merasa ada yang aneh dengan semuanya.
"Entahlah sayang, yang penting sekarang Aku tidak apa-apa. Dan ini semua karena Lisa sudah menolong ku, kalau tidak ada dia Aku tidak tahu lagi Apa yang akan terjadi padaku," ucap Aya.
Bryan melirik ke samping istrinya, Ia melihat wanita yang bernama Lisa itu juga tengah hamil besar seperti istrinya.
"Terimakasih Nona Lisa, karena sudah menolong istri saya," ucap Bryan kepada Lisa.
"Anda tidak perlu berterima kasih Tuan, sudah sepantasnya kita harus menolong seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan." Ucap Lisa.
"Sekali lagi saya berterima kasih kepada Anda. Kalau begitu apa yang Anda inginkan?, biarkan nanti kami memenuhi semua keinginan Anda," tanya Bryan.
"Anda tidak perlu repot-repot Tuan, tapi saya tidak menginginkan apapun." Lisa menolak tawaran Bryan dengan sopan.
"Sayang, Aku dan Lisa boleh berteman kan?," tanya Aya dan membuat Bryan seketika menatapnya.
Bryan tampak memikirkannya, lalu Ia pun tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih sayang." Aya sontak memeluk tubuh suaminya.
Sedangkan Lisa hanya melengos menatap pasangan suami istri di depannya itu.
"Terimakasih sudah mengizinkan kami berteman Tuan," ucap Lisa setelah melihat Aya melepaskan pelukannya.
"Anggap saja ini adalah tanda terima kasih saya kepada Anda karena sudah menolong istri saya Nona," ucap Bryan kepada Lisa.
"Oh ya Lisa, di mana suamimu?, Kenapa dia tidak menemanimu memeriksakan kandungan mu?," tanya Aya ingin tahu.
Lisa tercekat, mungkinkah Ia akan mengatakan bahwa Ia tidak memiliki seorang suami?. Oh tidak, bagaimana Ia akan menjawabnya.
Hingga mama Aya pun di panggil untuk segera memasuki ruang periksa.
Semua itu membuat Lisa menghembuskan nafasnya lega, akhirnya Ia tidak harus menjawab pertanyaan dari Aya.
"Lisa, kami masuk duluan ya," ucapnya dan di anggukki oleh Lisa.
__ADS_1
Bryan terus saja menempeli istrinya, Ia tidak akan membiarkan istrinya itu mengalami kejadian seperti sebelumnya. Makanya Ia bertekad untuk terus menjaga istrinya.
"Selamat siang dokter Vita," sapa Aya.
"Siang ibu Aya, silahkan duduk, biarkan saya mengecek tekanan darah Anda," ucap dokter Vita.
Setelah pengecekan tekanan darah dan menimbang berat badan. Aya pun segera membaringkan tubuhnya untuk USG.
"Baiklah, Nyonya, Tuan, kita akan melihat bagaimana bayi Anda." Ucap dokter Vita seraya mengoleskan gel ke perut Aya.
"Lihatlah Tuan, Nyonya, bayi kalian sangat sehat. Dan posisinya sudah hampir sempurna untuk melahirkan, tinggal menunggu saja. Dan jangan lupa untuk menjaga kondisi kesehatan. Karena nanti akan memerlukan tenaga yang lebih untuk proses persalinan."
"Baiklah dok, terimakasih," ucap Aya tersenyum lega karena bayinya baik-baik saja.
***
Setelah selesai di rumah utama, Bryan mengantarkan istrinya ke kamarnya. Karena Aya merasa mengantuk dan lelah karena tadi terlalu sering duduk.
Saat merasa Aya sudah terlelap, Bryan melangkahkan kakinya menuju balkon dan menelpon seseorang.
"Cepat Kau cari tahu siapa yang ingin menabrak istri saya?," perintah Bryan kepada seseorang dari sebrang telepon.
"Dan juga, cari tahu siapa Lisa, wanita yang sudah menyelamatkan istri saya!."
Bryan lalu menutup panggilan tersebut, Ia kembali melangkah dan menemani istrinya. Menyusulnya dan memeluknya.
***
Adrian hampir putus asa mencari dimana keberadaan gadis yang cari selama ini. Sedangkan sang Papa terus mendesaknya untuk meneruskan perusahaan keluarga.
Adrian terus saja menolaknya. Hubungannya dengan sang Papa memang renggang setelah perceraian Papa dan mamanya.
Yang Adrian tahu Papanya menceraikan mamanya karena sang Papa waktu itu sudah selingkuh dari mamanya. Jadi sampai sekarang Adrian masih begitu sangat enggan untuk berbincang dengan papanya.
Namun saat Adrian menceritakan kepada Mamanya tentang papanya yang terus mendesaknya untuk meneruskan perusahaan, Mamanya pun juga menyetujuinya dengan alasan untuk masa depannya.
Dan akhirnya mau tidak mau Adrian pun menyetujui permintaan Papanya. Iapun harus keluar dari perusahaan milik Bryan.
Hingga beberapa hari pun berlalu
Aya merasa perutnya begitu nyeri yang semakin lama semakin terasa begitu sakit. Tiba-tiba saja cairan bening membasahi celana yang Ia pakai.
Aya meyakini itu adalah air ketuban yang pecah. Iapun segera membangunkan suaminya yang nampak masih terlelap. Karena saat ini masih pukul tiga pagi.
"Sayang, bangunlah, perutku sakit sekali," ucap Aya dengan diiringi ringisan merasakan sakit.
"Ada apa sayang,ini masih malam," ucap Bryan.
__ADS_1
"Anak kita sudah ingin keluar sayang, ini sakit sekali," ucap Aya kembali.
Seketika bola mata Bryan pun terbuka lebar. "Apa!, Kau mau melahirkan sekarang. Anak kita ingin keluar?!." Bryan dilanda kepanikan.
Dengan segera ia pun menggendong tubuh istrinya keluar dari kamarnya. Dan langsung membawanya menuju mobilnya.
Dengan secepat kilat Ia mengemudikan mobilnya agar segera sampai di rumah sakit.
Dan akhirnya mobilnya pun sampai di rumah sakit. Bryan kembali menggendong tubuh Aya dan membawanya ke dalam rumah sakit.
"Sakit sayang!!," Pekik Aya saat merasakan sakit yang luar biasa.
"Iya sayang, tunggulah sebentar," ucap Bryan dengan terus menggendong tubuh istrinya.
"Suster... dokter... tolong istri saya mau melahirkan!!," teriaknya.
Suster jaga yang ada di sana pun dengan cepat langsung menangani Aya dan membawanya ke ruangan bersalin.
Dokter Vita pun segera menangani Aya, karena kebetulan malam ini Ia tugas jaga malam ini.
"Sepertinya bayinya sudah akan keluar, beruntung Anda segera membawa istri Anda kemari Tuan," ucap dokter Vita yang kini sudah bersiap untuk membantu proses persalinan Aya.
Bryan terus saja menggenggam tangan Aya, Ia begitu tidak tega melihat istrinya yang nampak begitu kesakitan. Kini Ia tahu bagaimana proses seorang ibu yang bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang anak ke dunia ini.
"Baiklah Nyonya Aya, sekarang ambil nafas yang dalam dan keluarkan dengan dorongan." Ucap dokter Vita memberi aba-aba.
Skip
Suara tangis bayi laki-laki terdengar begitu nyaring, lelehan air mata pun mengalir seiring rasa bahagia yang Bryan rasakan, begitu juga dengan Aya.
Walaupun setelahnya Aya harus kembali berjuang untuk mengeluarkan kembali bayinya.
Dan beberapa menit kemudian kembali terdengar suara tangisan bayi laki-laki lainnya. Hingga bayi pertama yang tadinya sudah berhenti menangis, saat mendengar saudaranya menangis pun Ia kembali menangis, seolah ada ikatan batin di antara keduanya.
Bryan menciumi wajah istrinya karena sudah berhasil berjuang melahirkan kedua putranya. "Terimakasih sayang, terimakasih," ucap Bryan menitihkan air matanya.
Setelah kedua bayi kembar tersebut di bersihkan, Bryan mulai mengadzani putranya bergantian, rasanya Ia begitu bahagia saat ini.
Bryan segera menghubungi Papanya dan anggota keluarga lainnya. Dan papanya begitu bahagia mendengar kelahiran cucu-cucunya.
Bagaskara pun segera pulang dari perjalanan bisnisnya di luar kota.
Sementara Adrian segera menuju ke rumah sakit karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan baby kembar putra dari kakak sepupunya itu.
Aya juga menyuruh Bryan untuk menghubungi Lisa. Karena waktu itu Lisa mengatakan bahwa Aya harus menghubunginya saat baby di perut Aya sudah lahir.
***
__ADS_1