
Sean menatap wajah tidur istrinya.
"Kau pasti akan sembuh Di, Aku tidak akan membiarkan mu meninggalkan ku," ucapnya merengkuh tubuh Divya.
"Ah... Sean," ucap Divya karena mulai terbangun dari tidurnya.
"Kau sudah bangun sayang?"
"Iya"
"Kita harus berkemas untuk pergi besok sayang. Aku tidak ingin menundanya lagi sayang. Kau harus sembuh," ucap Sean.
Namun Divya seperti tengah menahan sesuatu. Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.
"Argh..." Pekiknya.
"Sa-sayang Kau kenapa!?."
"Sakit sekali Sean," ucap Divya tertahan. Tangannya memegangi bagian perutnya. Keringat mulai bercucuran.
Sean begitu panik. Ia pun segera menggendong tubuh istrinya dan keluar dari kamarnya.
Sementara para pelayan terkejut melihat Sean yang nampak terpogoh-pogoh menggendong istrinya.
"Ada apa dengan Nona Divya, Tuan?"
"Istriku sedang sakit, cepat bukakan pintu mobilku!" perintah Sean.
Dengan segera pelayan melakukan perintah Sean.
Sean meletakkan tubuh Divya di depan. Lalu ia segera berjalan memutar memasuki mobilnya.
Dengan cepat Sean melajukan mobilnya. Ia begitu panik dan khawatir saat ini.
"Di, kumohon tetaplah bersamaku," ucapnya dengan meraih tangan Divya. Memegangnya erat seolah begitu takut kehilangannya.
***
"Bagaimana keadaannya Denis?" tanya Sean dengan tak sabar. Ia begitu panik saat ini.
Di lihatnya wajah Denis yang nampak lesu dan menggelengkan kepalanya. Membuat jantungnya berdegup kencang. Rasa takut semakin menjalari otaknya.
"Maafkan Aku Sean. Kondisi Di begitu buruk saat ini. Kita hanya bisa berdoa saja," ucap Denis sendu.
__ADS_1
Deg
Sean bagaikan terhempas kedalam jurang terdalam. Tubuhnya terpaku, otaknya seakan tak mampu bekerja.
Pernyataan Denis membuatnya terpukul. Baru saja ia merencanakan pengobatannya hari ini. Tapi kenapa Tuhan tidak mengizinkannya? Tuhan sungguh tidak adil menurut Sean.
"Sean, bagaimana keadaan Divya?" Suara seseorang membuyarkan keterpakuannya.
Sean menoleh. Ia terkejut mertuanya berada di sana dan menanyakan keadaan putrinya.
"Bagaimana Mama dan Papa bisa tahu kalau kami di sini?"
"Kami tadi ke rumah mu Sean. Mama dan Papa sangat merindukan putri Mama. Tapi pelayan di rumah mu mengatakan bahwa Divya pingsan. Dan kebetulan rumah sakit ini juga milik Papa mu. Jadi kami bisa tahu dan segera kesini." tutur Lisa.
Sean tak mampu harus berkata apa lagi. Divya melarangnya untuk tidak memberitahukan tentang penyakitnya.
Namun Sean tidak bisa. Mertuanya harus tahu sekarang. Karena istrinya saat ini sangat membutuhkan banyak dukungan.
"Ma, Pa." Sean menghela nafasnya sejenak. Lalu perlahan ia mulai menceritakan tentang semuanya.
Tubuh Lisa terhuyung ke belakang. Dengan sigap Adrian menangkap tubuh istrinya.
Sebuah kenyataan pahit membuat Lisa dan Adrian begitu terpukul. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Divya menyembunyikan rahasia sebesar itu.
Ia seorang ibu, tapi ia tidak pernah tahu yang putrinya alami selama ini. Air matanya terus bercucuran seiring rasa yang dahsyat menghantam hatinya.
Divya adalah putri semata wayangnya.
Sementara Adrian pun merasakan hal yang sama. Tapi ia tidak ingin membuat istrinya semakin kalut. Ia harus menjadi pria yang kuat saat ini.
Kini mereka hanya bisa berharap untuk kesembuhan putrinya.
"Ma, Pa. Sean harus pergi dulu. Sean titip Divya,' ucap Sean dan langsung pergi dari sana.
Sean menghubungi seseorang.
"Apa kalian sudah menemukannya?!" tanya Sean gusar.
"Maaf Tuan, tapi sepertinya tabib itu sudah meninggalkan tempat persembunyiannya. Sepertinya sempat terjadi pertikaian, karena saat kami menemukan rumahnya. Semuanya begitu berantakan." Seseorang di sebrang telpon menjawabnya.
Sean mengepalkan tangannya. Kenapa Tuhan sepertinya tidak membuatnya begitu tidak berarti?
Sean tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia langsung menutup panggilan tersebut.
__ADS_1
"Tuhan, Aku tidak akan membiarkan Kau mengambil istriku!" ucapnya dengan perasaan yang tidak menentu.
Ia pun segera menghubungi Eve agar segera datang ke sana.
***
Sean menatap Divya dengan begitu sendu. Air matanya mengalir begitu saja melihat banyak alat yang terpasang pada tubuh istrinya.
Ia begitu marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Di usapnya tangan istrinya dengan begitu lembutnya.
"Di, ku mohon bangunlah! Aku tidak mengizinkan mu meninggalkan ku. Bangunlah sayang ku, Aku tidak ingin melihat mu seperti ini. Kau adalah gadis yang kuat sayang." Sean menangis tergugu seraya mengecupi punggung tangan Divya.
Ia merasa begitu hampa tanpa istrinya. Rasanya ia seperti gelas kosong yang kehilangan airnya.
Namun tiba-tiba saja Sean merasakan pergerakan tangan Divya.
"Sayang, Kau mendengar ku. Bangunlah sayang. Jangan tinggalkan Aku," ucap Sean menatap lekat wajah pucat istrinya.
Kelopak mata itu pun benar-benar terbuka , namun terlihat begitu sayu. Sean merasa begitu senang.
"Sa..yang.. ma..af..." ucap Divya dengan begitu susahnya lalu ia kembali memejamkan matanya.
Suara layar monitor membuat Sean begitu terpaku. Ledakkan rasa ketakutan mengguncang hatinya.
"Tidak Di...ini tidak benar kan! Di... Di... Divya... jangan bercanda, Aku tidak suka dengan bercanda mu!!" Sean berteriak sekencangnya.
Namun tetap saja tidak ada perubahan pada Divya.
Mendengar teriakkan dari dalam. Dokter segera datang kedalam.
"Tuan sebaiknya Anda keluar!"
"Tapi saya ingin menemani istri saya dok! Denis tolong selamatkan istri ku!" Sean begitu menghiba kepada semua dokter di sana.
"Sean, keluarlah! Aku akan berusaha untuk menyelamatkan istri mu!"
Mau tidak mau Sean keluar dari sana. Ia menjambak rambutnya sendiri. Rasanya ia tidak akan pernah sanggup membayangkan kemungkinan terburuk istrinya.
"Bagaimana Divya, Sean?" Lisa dan yang lainnya begitu ingin tahu. Mereka pun menangis melihat keadaan Divya saat ini.
"Aku tidak tahu Mam, Aku tidak bisa kehilangan Divya Mam. Aku tidak bisa!" Sean tertunduk, ia menangis mengingat kembali keadaan Divya.
__ADS_1
***