Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 92 (season 2)


__ADS_3

Eve merasa dirinya begitu kecewa dengan keluarganya. Semuanya melupakan hari spesialnya, bahkan saat ini Divya pun juga melupakannya.


Seharian ini yang Eve lakukan hanyalah bermalas-malasan saja di tempat tidur Divya.


Sedangkan Divya yang melihatnya pun menggelengkan kepalanya. Ia pun berjalan mendekati Eve yang masih setia berbaring di kasurnya dengan memainkan ponsel miliknya.


"Eve, apakah Kau tidak bosan seharian ini hanya berada di situ tanpa melakukan apapun?," tanya Divya.


Eve hanya menatap Divya sekilas,lalu ia kembali menatap layar ponselnya. Ia masih merasa kecewa kepada Divya karena telah melupakan hari ulang tahunnya.


"Tidak, Aku nyaman seperti ini," ucap Eve sekenanya.


Dalam hati, Divya rasanya ingin sekali tertawa melihat Eve yang tampak sedang merajuk. Ia tahu apa yang membuat sahabatnya itu bersikap seperti itu.


Divya lalu ikut menjatuhkan dirinya di samping Eve. Namun Eve malah membelakangi Divya dan masih memainkan ponselnya.


"Eve, bagaimana hubungan mu dengan Ax?, apa Kau sudah mengatakan kalau Kau menyukainya?," tanya Divya.


Sontak saja Eve langsung berbalik menghadap Divya. "Jangan menanyakan kak Ax lagi, kak Di. Sepertinya Aku dan kak Ax tidak akan mungkin bersama, dia sudah memiliki seorang kekasih," ucap Eve mengingat kembali saat Ax dan Ayumi tengah berciuman waktu itu.


Divya begitu terkejut dengan penuturan Eve. "Apa?!, jadi Galaxy sudah memiliki kekasih?."


Eve mengangguk lesu.


"Eve, Kau tidak boleh menyerah!, Kalian pasti akan bisa bersama!," ucap Divya memberi semangat.


Namun Eve mengerutkan keningnya menatap Divya. Ia begitu heran kenapa Divya mendukung hubungannya bersama Galaxy.


"Kak Di, kenapa mendukung ku untuk bersama kak Ax?, bukankah kakak tahu kalau kami bersaudara?," tanya Eve menyipitkan matanya menatap Divya.


"Emm, itu...itu karena... Ah iya, Aku mau mengambil camilan dulu," ucap Divya yang berniat untuk menghindari pertanyaan Eve.


"Apa kak Di tahu kalau Aku bukanlah putri kandung keluarga Askara?," tanya Eve membuat Divya menghentikan langkahnya.


Divya terkejut, lalu iapun membalikkan badannya menatap Eve.


"Ba-bagaimana Kau bisa tahu Eve?," ucap Divya.

__ADS_1


"Jadi benar, selama ini kak Di tahu kalau Aku bukan Putri dari Mama Aya dan Papa Bryan?. Kenapa kak Di tidak mengatakannya pada ku?," protes Eve.


"Maafkan Aku Eve, sebenarnya Aku mengetahuinya saat mendengar Mama dan Papa sedang berbincang membicarakan mu." Divya merasa begitu sedih karena harus mengatakannya kepada Eve.


"Aku sudah tahu kak, tapi mungkin Aku dan kak Ax tidak akan pernah bersama. Lagipula Aku tidak mau menjadi seseorang yang egois. Mama dan Papa sudah memberikan begitu banyak kasih sayang untuk ku selayaknya putri mereka sendiri. Aku tidak mau menjadi orang yang begitu serakah dengan memaksakan kehendak seseorang yang tidak mencintai ku. Mereka sudah begitu baik padaku," ucap Eve sendu.


Divya kembali berjalan menghampiri Eve, iapun memeluk Eve untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Eve, Kau jangan bersedih. Kami semua sangat menyayangi mu. Mungkin Galaxy tidak mau mengakui perasaannya karena mengira Kau adalah adiknya. Biarkan nanti Aku yang akan mengatakannya kepada Galaxy tentang semua kebenarannya Eve," ucap Divya.


"Tidak usah kak Di, Aku tidak yakin kalau kak Ax mencintai ku, karena waktu itu Aku pernah memergoki kak Ax dan Ayumi sedang berciuman, dan kak Ax benar-benar menghayati ciuman itu. Aku tidak akan mengejar kak Ax lagi,kak Di. Lebih baik kita menjadi seorang adik kakak saja, karena itu akan menjadi lebih baik," ucap Eve meyakinkan Divya.


"Kenapa Kau sekarang menjadi gadis yang pesimis Eve?, mana Eve yang selalu percaya diri?!." Divya ingin Eve tidak menyerah.


***


Keesokan harinya, Divya mengajak Eve untuk pergi jalan-jalan untuk membuat Eve tidak terlalu bersedih.


Kini mereka tengah berada di pusat perbelanjaan di kota. Eve, merasa kakinya begitu pegal karena Divya terus saja mengajaknya untuk berkeliling hanya untuk membeli sebuah gaun saja.


Divya terkekeh melihat Eve yang nampak kelelahan. Pasalnya Eve memang gadis yang begitu tak suka dengan yang namanya berbelanja.


"Baiklah, tapi jangan kemana-mana, Aku takut Kau hilang nanti," ucap Divya terkekeh. Ia pun segera kembali meneruskan belanjanya.


Sementara Eve menatap jengah Divya yang mentertawakan dirinya.


Disaat Eve memijat kakinya pelan, seseorang tengah menyodorkan satu botol minuman ke arahnya. Sontak membuat Eve menatap ke arah seseorang tersebut.


"Kak Karl?," ucap Eve terkejut melihat Karl yang berada di sana.


Karl hanya tersenyum dan mendudukkan dirinya di samping Eve. "Minumlah, Aku tahu Kau lelah dan haus, minuman ini akan membasahi tenggorokan mu yang kering," ucap Karl masih menyodorkan air minum ke arah Eve.


"Kenapa kak Karl bisa ada di sini?, jangan-jangan kakak menguntit Eve?," tuduh Eve. Namun memang begitulah kenyataannya.


Karl memang terus mengikuti kemana Eve pergi. Makanya ia bisa tahu apa saja yang Eve lakukan.


Karl hanya tersenyum mendengar ocehan Eve.

__ADS_1


"Aku tidak menguntit mu Ashy, Aku hanya mengawasi mu saja," kilah Karl.


"Ish...itu sama saja," ucap Eve jengah, iapun langsung mengambil minuman yang Karl berikan dan segera meminumnya.


Karl nampak mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia memberikan sebuah gelang untuk Eve.


"Ashy, selamat ulang tahun," ucap Karl.


Eve begitu terkejut dengan ucapan dari Karl. Bagaimana Karl bisa tahu kalau ulang tahun Eve hari ini.


"Kau tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku?," tanya Eve tak percaya.


"Tentu saja Aku tahu, Aku yang menyaksikan mu lahir ke dunia ini, apa Kau lupa?."


Eve sungguh sangat terharu dengan ucapan dari Karl. Karena di hari ulang tahunnya, Karl lah yang pertama kali mengucapkannya kepadanya.


Karl memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Eve. "Kau jangan pernah melepaskan gelang ini Eve, karena ini akan melindungi mu ketika Aku tak ada bersamamu," ucap Karl.


Eve hanya menganggukkan kepalanya, dan tersenyum menatap gelang yang nampak indah di pergelangan tangannya.


"Terimakasih kak Karl," ucap Eve dan langsung memeluk Karl.


Rasanya ia begitu bahagia, setidaknya ada seseorang yang mengingat hari ulang tahunnya.


"Eve," panggil Divya yang kini sudah berdiri di depan Eve. Divya melihat Eve yang tengah berbincang kepada seseorang yang tidak ia kenal pun merasa khawatir.


"Kak Di, oh iya, Aku ingin mengenalkan kakak dengan teman Eve. Namanya kak Karl," ucap Eve yang melepaskan pelukannya dan memperkenalkan keduanya.


Divya menatap penuh selidik ke arah Karl. Ia harus waspada kepada seseorang yang belum di kenalnya. Namun kenapa Eve seperti sudah begitu akrab dengan pria yang kini tengah tersenyum menatapnya.


Divya langsung menarik Eve ke sampingnya. Maaf Tuan, tapi kami harus segera pergi," ucap Divya dan langsung menarik Eve untuk pulang.


"Kak, maaf ya, Aku harus pulang, sampai jumpa." Eve melambaikan tangannya kepada Karl dan di balas Karl.


Karl lega karena banyak orang-orang yang begitu menyayangi Eve.


***

__ADS_1


__ADS_2