Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 9


__ADS_3

Dua hari berlalu, Aya merasa sangat senang karena Ia dapat menempati ranjang milik Bryan. Badannya terasa nyaman setelah bangun tidur. Tidak seperti pada saat Ia tidur di sofa.


Aya berharap Bryan terus berada di luar negeri. "Nyaman sekali tanpa pria arogan itu. Hidup ku menjadi tenang dan tenteram," ucap Aya sembari menikmati sarapannya.


Kali ini Aya harus sarapan sendirian di meja makan. Karena Papa mertuanya pun kini tengah mengurus perusahaan yang ada di Singapura.


Aya melihat jam yang melekat pada pergelangan tangannya. Kini sudah menunjukkan pukul tujuh. Ia segera meminum air putihnya.


Aya segera beranjak dari rumah utama menuju gerbang depan, karena ternyata taksi pesanannya sudah ada di sana.


"Tolong sedikit lebih cepat ya pak," ucap Aya pada supir taksi itu.


"Baiklah Nona."


Aya lupa bahwa hari ini adalah penyambutan CEO perusahaan tempatnya bekerja. Pasalnya CEO itu kini akan mengurus perusahaan tempat Aya bekerja.


Karena sebelumnya perusahaan tempat Aya bekerja di pegang oleh orang kepercayaan CEO tersebut.


Aya berjalan cepat, namun Ia berpapasan dengan Adrian yang juga hendak masuk ke kantor.


"Aya, kau juga baru datang?," Tanya Adrian.


"Iya Iyan, ayo kita masuk sebelum CEO baru kita datang," ajak Aya dan langsung di anggukki oleh Adrian.


Mereka pun berjalan bersama. Di dalam semua karyawan sudah bersiap untuk menyambut CEO mereka yang lama berada di luar negeri.


Aya dan Adrian segera membaur dengan karyawan lainnya.


Beberapa saat kemudian, seorang pria yang begitu tampan dan terlihat sangat berwibawa menapakkan kakinya memasuki perusahaan yang telah lama di tinggalkannya untuk mengurus perusahaan yang lain.


Semua karyawan tersenyum ramah dan menatap CEO mereka.


" Selamat datang Tuan, senang melihat anda kembali ke perusahaan ini," ucap karyawan lama di perusahaan itu.


Namun CEO itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara.


Sedangkan Aya masih menunduk, Ia tengah mempersiapkan senyum ramahnya pada CEO perusahaan tempatnya bekerja.


Di saat Ia mendongakkan kepalanya dan menatap CEO yang kini tengah berjalan itu. Matanya terbelalak sempurna.


"Bryan?, Tunggu, jangan bilang kalau CEO perusahaan ini adalah Bryan?," Ucapnya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Aya mengusap-usap matanya masih tak percaya yang dilihatnya. Berharap penglihatannya itu salah.


Namun beberapa kali Ia mengkedip-kedipkan matanya, tetap saja CEO perusahaan itu tidak berubah.


"Sial sekali Aku," ucapnya pelan dengan menepuk keningnya sendiri.


Adrian yang sedari tadi berada di samping Aya pun masih mendengar gumaman Aya.


"Kau kenapa Ay?," Tanya Adrian heran dengan tingkah Aya.


"Tidak Iyan," Aya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia berusaha menutupi keterkejutannya.


Pandangan mata Bryan tanpa sengaja menangkap sosok gadis yang ia kenal. "Apakah dia gadis jelek itu," ucap Bryan dalam hati.


Dan tanpa sengaja Aya juga menatap ke arah Bryan. Pandangan keduanya bertemu. Bryan terlihat nampak terkejut melihat Aya yang juga ada di sana.


Lalu Bryan segera memutuskan pandangan itu. Ia segera berjalan menuju ruangannya.


Para karyawan wanita terlihat begitu senang dengan kedatangan Bryan. Namun berbeda dengan Aya. Aya tidak menyukai dengan CEO perusahaan yang ternyata adalah suaminya sendiri.


Sebelumnya Aya sudah merasa senang karena bisa menyibukkan dirinya karena tidak terlalu sering bertemu dengan Bryan. Apalagi sejak Bryan ada pekerjaan ke luar negeri beberapa hari yang lalu. Itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi Aya.


Tapi sekarang Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dengan hidupnya kalau di rumah dan di kantor Ia harus bertemu dengan Bryan. Sungguh Aya merasa dirinya begitu sial.


"Ay, ayo kita kembali bekerja!, Apa yang Kau pikiran? Apa kau juga tertarik dengan CEO kita seperti yang lainnya?," Tanya Adrian yang melihat Aya terdiam di tempatnya.


"Apa?, Aku tertarik dengan CEO kita?. Jelas tidak mungkin," ucap Aya dengan tawanya.


"Kau tidak tertarik dengannya?, bukankah dia tampan. Kau lihat sendiri kan para karyawan wanita begitu tergila-gila padanya. Tapi sayang CEO kita sudah menikah," tutur Adrian membuat Aya terkesiap dan langsung terdiam.


"Aku adalah istrinya, Dan Aku sangat tidak beruntung karenanya," ucap Aya dalam hati. Wajahnya terlihat begitu muram.


"Sudahlah Iyan, lebih baik kita kembali bekerja. Jangan membahas CEO itu lagi!," Ucap Aya malas.


Keduanya pun akhirnya kembali bekerja ke meja mereka masing-masing.


Akhirnya jam makan siang datang. Adrian dan Aya pun berjalan bersama menuju kantin yang ada di kantor tersebut. Namun tiba-tiba sekertaris perusahaan itu yang bernama Risty memanggil nama Aya.


"Aya" panggilnya.


Seketika Aya dan Adrian pun menoleh. Mereka melihat Risty yang berlari menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ada apa kak Risty?," Tanya Aya.


"Tuan Bryan memanggilmu ke ruangannya," ucap Risty yang masih mengambil nafasnya karena sejak tadi Ia berlarian mencari Aya.


"Kenapa dia mencari ku?," Tanya Aya.


"Apa kau melakukan kesalahan Ay?," Ucap Adrian membuat Aya menatapnya dan menaikkan kedua bahunya.


"Aku tidak tahu Iyan," ucap Aya.


"Sudahlah, lebih baik Kau cepat ke ruangannya Aya. Daripada nanti dia marah-marah. Biarkan Aku menggantikan mu makan siang bersama bersama Adrian," ucap Risty tersenyum ke arah Adrian hingga membuat Adrian merasa begitu risih.


"Tidak usah, Aku akan menunggu Aya dari ruangan Bryan...ah maksud ku Tuan Bryan saja," ralat Adrian dan membuat Risty cemberut.


Aya terkekeh melihatnya,lalu Ia pun segera menuju ke ruangan suaminya dengan begitu malas.


Dalam setiap langkah, Aya merasa begitu was-was kalau-kalau nanti Bryan akan membuat ulah dengannya.


Hingga langkahnya berhenti tepat di depan pintu ruangan Bryan. Aya pun mengambil nafasnya dalam-dalam untuk memasuki ruangan tersebut.


Aya mengetuk pintu tersebut dan langsung masuk kedalam. Di lihatnya Bryan yang saat ini sedang menandatangani berkas-berkas yang ada di depannya.


Aya dengan pelan berjalan menuju ke depan meja Bryan.


"Permisi Tuan, Apa anda memanggil saya," ucap Aya menundukkan kepalanya.


Bryan pun langsung mendongak menatap Aya yang menunduk. Senyum seringai terlihat nampak jelas dari guratan wajahnya.


Bryan langsung berdiri dan berjalan ke arah Aya.


"Aku tidak menyangka bahwa ternyata Kau juga bekerja di perusahaan ku. Dan itu memudahkan ku untuk membuatmu tersiksa bekerja di perusahaan ini," ucap Bryan menatap sinis Aya.


Namun Aya dengan beraninya menatap tajam ke arah Bryan. "Kau tidak akan berhasil melakukannya!." Ketusnya.


Namun malah membuat Bryan tertawa terbahak-bahak. "Kau tidak akan bisa melawan ku gadis jelek. Apa Kau lupa bahwa Kau masih berhutang padaku?. Baiklah Aku akan mengingatkannya lagi. Kau sudah berjanji akan menjadi budak ku selama seharian penuh. Jadi Aku akan menagih semua sekarang," ucap Bryan membuat Aya terkejut dan mematung.


Aya melupakan semua itu. Iapun merutuki dirinya sendiri karena sudah berjanji kepada Bryan waktu itu.


"Kenapa Aku bisa melupakan semua itu?. Nasib buruk akan menimpaku," ucap Aya menangis dalam hati.


Sedangkan Bryan terlihat nampak tersenyum puas melihat Aya yang kini tengah terdiam.

__ADS_1


***


__ADS_2