
Keluarga Bryan terlihat begitu bahagia. Liburannya kali ini benar-benar memberikan sebuah kesan yang begitu berharga bagi keluarga tersebut.
Di saat malam hari, kedua putra kembar Ajeng nampak tertidur pulas. Saat ini mereka tengah membeli sebuah rumah yang berasa di Hawaii. Tempatnya pun terletak di dekat pantai sama seperti rumahnya yang berada di Indonesia. Karena Bryan dan Aya begitu sangat menyukai pantai.
Aya ingin sekali berjalan di pinggir pantai dengan kaki telan..jang. Ia sempat mengajak suaminya, namun suaminya tengah sibuk melakukan meeting virtual bersama beberapa koleganya. Jadi iapun memutuskan untuk pergi sendiri ke pantai, karena letaknya juga dekat.
Namun saat berjalan di pinggiran pantai dan menikmati udara malam di menoleh kesana-kemari, namun tidak nampak sosok yang ia cari. Hingga tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang memegang pundaknya.
Sontak saja Aya pun menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang wanita paruh baya yang tengah menggendong bayi mungil dan terlihat begitu ngos-ngosan.
"Siapa Anda?," tanya Aya terkejut.(ceritanya ngomongnya pake bahasa English yak ðŸ¤)
"Nona, tolong saya!," ucap wanita paruh baya tersebut seraya mengatur nafasnya.
"Apa yang terjadi dengan Anda, kenapa Anda minta tolong pada saya?."
"Tolong saya Nona, kumohon!, ada seseorang yang sedang mengejar ku dan ingin membunuh bayi ini. Tolong saya untuk merawat bayi ini Nona!," ucap wanita paruh baya tersebut memohon.
Aya terkejut. Bagaimana bisa ada seseorang yang begitu tega untuk membunuh bayi yang tidak bersalah itu.
"Baiklah, Aku akan menolong Anda."
"Terimakasih Nona, saya menitipkan bayi ini kepada Anda. Dan saya juga ingin Anda memberikan kalung ini kepada bayi ini setelah usianya 20 tahun," ucap wanita paruh baya tersebut memberikan sebuah kalung yang berliontin indah kepada Aya Untuk di berikan kepada bayi tersebut.
Aya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu saya harus segera pergi Nona. Saya tidak ingin para penjahat itu tahu tentang keberadaan bayi ini," ujar wanita paruh baya tersebut.
Di saat Aya hendak bertanya untuk nama bayi tersebut, wanita paruh baya tersebut sudah berlari dan mulai menghilang di kegelapan malam.
"Sebenarnya siapa wanita paruh baya itu," gumamnya. Lalu Aya menatap bayi mungil dalam gendongannya itu. Aya segera membawa bayi mungil itu memasuki rumahnya.
Tiba-tiba bayi tersebut menangis.
"Cup-cup sayang, kenapa Kau menangis?, apa Kau lapar?," ucap Aya. Lalu ia pun merasakan tangannya yang basah. Ternyata bayi tersebut mengompol sehingga membuat Aya terkikik.
Dengan segera Aya mulai mengganti bedong bayi tersebut dengan kain bersih. Aya tersenyum saat mendapati bayi tersebut ternyata adalah perempuan.
"Kau bayi perempuan yang sangat cantik sayang," ucap Aya.
Bayi tersebut kembali terdiam dan kembali tertidur. Disaat itu, Bryan kembali dari meeting virtualnya. Ia heran melihat istrinya yang tengah berbicara sendiri dalam posisi membelakanginya.
"Sayang, Kau bicara dengan siapa?," tanya Bryan yang kini mulai mendekati istrinya.
Aya berbalik dan tampaklah bahwa Aya tengah menggendong seorang bayi kecil.
Bryan terkejut. "Ba-bayi siapa itu sayang?."
"Duduklah sayang, Aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Aya setenang mungkin.
Bryan mulai mendudukkan dirinya di samping Aya dan mulai mendengarkan penjelasan istrinya itu.
Bryan pun menerima bayi tersebut. "Baiklah, kalau begitu kita akan membesarkannya. Dan Aku juga akan mengumumkan bahwa bayi ini adalah putri kita sayang," ucap Bryan membuat Aya begitu senang dan bahagia karena suaminya itu menerima bayi tersebut.
__ADS_1
"Aku akan menyelidiki siapa bayi kecil ini," ucap Bryan dalam hati.
***
Sembilan belas tahun kemudian.
"Mama, Bintang berangkat ke kampus dulu," pamit Bintang kepada Aya.
"Tunggu, Eve ikut kakak," teriak gadis cantik itu. Dia adalah Eveline, bayi yang dulu Aya besarkan. Kini ia menjadi adik dari Bintang dan Galaxy.
Bintang dan Galaxy sangat menyayangi adiknya itu. Mereka benar-benar menganggap Eve sebagai adiknya, begitupula dengan Eve.
"Mereka segera mencium pipi Aya dan punggung tangan Aya, lalu mereka berdua berangkat bersama menuju kampusnya.
Aya begitu senang karena keluarganya terasa begitu lengkap setelah kehadiran Eveline.
Di dalam mobil Eve terus saja berceloteh membuat Bintang begitu pusing mendengar Eve yang begitu cerewet. Apalagi saat membicarakan Galaxy.
Ya, Galaxy memang tidak berada di Indonesia. Ia meneruskan studinya di Korea. Hingga membuat Eve begitu merindukan sosok Galaxy.
Hubungannya dengan Galaxy begitu dekat. Eve begitu menyayangi Galaxy, namun itu begitu berlebihan, karena entah bagaimana ceritanya Eve menyimpan sebuah rasa terhadap kakaknya itu.
Namun berbeda saat bersama Bintang, Eve merasa Bintang seperti kakak lainnya yang ia sayangi, berbeda saat bersama dengan Galaxy
"Apa Kau tidak lelah menceritakan Ax, Kenapa Kau tidak mengunjunginya saat liburan semester nanti?," ucap Bintang membuat Eve menatapnya.
Tak pernah terfikir Eve untuk mengunjungi kakaknya Ax. Dan kini Bintang telah memberikan solusi terbaik.
"Kau benar kak, kenapa tak pernah terfikir untuk mengunjungi kak Ax," ucap Eve menepuk keningnya sendiri.
Eve hanya memperlihatkan rentetan giginya tersenyum manis ke arah kakaknya itu.
Hingga mobil Bintang sampai di kampus mereka. Bintang segera menghampiri kawan-kawannya. Sementara Eve menghampiri Divya, mereka telah menjadi seorang sahabat yang sangat dekat.
Eve selalu menceritakan segala yang ia rasakan, bahkan ia menceritakan perasaan tak biasanya terhadap Galaxy kepada Divya. Padahal Eve tahu kalau Galaxy adalah kakaknya sendiri.
Namun bukannya melarang, Divya malah mendukung perasaan Eve untuk Galaxy. Karena Divya mengetahui bahwa sebenarnya mereka bukanlah saudara kandung.
"Kak Di, kakak tahu tidak kalau liburan semester nanti Aku mau kemana?," tanya Eve tersenyum girang. Ia sudah membayangkan bagaimana nanti ia akan menemui Galaxy.
"Memangnya Kau mau kemana Eve?," ucap Divya yang kini tengah membaca. Karena saat ini mereka berada di perpustakaan.
"Aku mau menyusul kak Ax ke Korea," ucap Eve begitu lantang.
"Sssst." Orang-orang di sana menatap tajam Eve karena tengah berisik di dalam perpustakaan. Hingga membuat gadis cantik itu tercengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Divya terkikik melihat tingkah konyol Eve. "Kau itu, Kau bersikap seperti gadis kecil yang baru saja di belikan permen." Divya berucap sepelan mungkin.
Ucapn Divya membuat Eve mengerucutkan bibirnya. Lalu ia membayangkan bagaimana pertemuannya dengan kakaknya setelah tidak bertemu selama satu semester itu.
Divya yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Eve yang kini nampak tersenyum sendiri. Ia juga sudah bisa menebak apa yang tengah Eve pikirkan saat ini, yaitu Galaxy.
***
__ADS_1
"Ax sayang, Aku ingin besok Kau mengantarku ke toko buku di sebrang kampus kita. Ya...ya ... please!," ucap gadis bernama Ayumi.
Ax pun tersenyum menatap Ayumi dan mengusap kepala gadis itu.
Ya, Ax memang telah memiliki seorang kekasih di Korea. Namun ia belum menceritakan tentang Ayumi kepada keluarganya.
Ax mengagumi Ayumi karena Ayumi adalah gadis yang selalu mencarikan donasi untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.
Namun setelah mengenal Ayumi, Ax baru mengetahui bahwa ternyata Ayumi adalah gadis yang begitu manja terhadapnya.
Ia memaklumi semua itu, karena Ax tahu kalau Ayumi hidup sebatang kara. Ayumi di besarkan di panti asuhan, hingga membuat Ax begitu kasihan dan memberikan kasih sayangnya terhadap Ayumi dengan menjadikannya seorang kekasih.
"Terima kasih sayang," ucapnya memeluk tubuh Ax.
***
Kini tiba saatnya liburan semester. Eve sudah mengatakan kepada Mama dan papanya bahwa ia ingin berlibur ke tempat Ax saat ini.
Dan mereka pun menyetujuinya, membuat Eve begitu girang. Kini ia akan bertemu dengan kakaknya disana. Ia sudah merasa sangat merindukan Galaxy.
Keesokan harinya, Eve sudah bersiap menuju bandara di antar oleh Mama dan papanya.
"Bintang, Kau harus menjaga adikmu nanti!," perintah Aya kepada putranya.
Bintang pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan sang Mama.
Bintang memang ikut menyusul Galaxy bersama Eve. Namun ia hanya sebatas menemani Eve sampai di Korea saja. Setelahnya iapun akan kembali pulang.
Bintang tahu Mamanya begitu over protective terhadap Eve. Tapi Bintang pun juga tidak keberatan dengan permintaan Mamanya itu. Karena dia sendiri pun juga mengkhawatirkan Eve bila harus pergi menyusul Ax sendirian.
Kini pesawat yang Eve dan Bintang tumpangi telah take off meninggalkan bandara.
Eve begitu sangat antusias, ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Ax di sana.
Hingga ia terus saja mengoceh kepada Bintang dan membuat Bintang begitu jengah dengan ucapan-ucapan Eve yang melantur ke mana-mana.
***
Eve segera berlari menuju ke apartemen Ax. Dia mengetuk pintu apartemen Ax dengan semangat.
"Kak, kakak... Eve datang," ucap Eve begitu lantang.
Sementara Bintang berjalan terpogoh-pogoh membawa koper milik Eve. Saking ingin cepat bertemu dengan Ax, Eve sampai melupakan kopernya.
"Eve... Kau sungguh keterlaluan meninggalkan ku dan koper milik mu ini. Dan ini sungguh sangat berat Kau tahu?!," ucap Bintang kesal.
"Hehehe, maafkan adikmu ini kak Bi, Eve sudah tidak sabar lagi untuk bertemu kak Ax. Tapi sepertinya kak Ax tidak ada di apartemen kak," ucap Eve menyimpulkan.
"Mana mungkin, Aku sudah menghubunginya bahwa Aku datang. Dan dia mengatakan ada di apartemennya." Bintang pun merasa heran.
Lalu pintu apartemen Ax pun terbuka dan membuat Eve dan Bintang menatap ke arah pintu.
"Kalian siapa," tanya seorang wanita yang membuka pintu apartemen Ax.
__ADS_1
***