
"Maafkan aku Aya, Aku bukanya ingin marah padamu. Aku hanya tidak menyukai Kau menggunakan make up di depan orang lain. Jangan pernah melakukannya lagi, Apa lagi melepaskan kacamata mu itu. Kau hanya boleh melepaskannya di depan ku." Ucap Bryan yang kini kembali memeluk tubuh istrinya.
"Apa Aku terlalu jelek, sehingga Aku tidak pantas untuk berdandan. Kau malu memiliki istri yang jelek seperti ku Bryan?." Tanya Aya yang kini hendak menangis kembali.
"Kau tidak jelek Aya, Apa kau tidak mengerti dengan ucapan ku?. Kau tahu?, Kau itu begitu cantik, dan Aku tidak suka melihat pria lain menatap mu lapar saat Kau berdandan dan melepaskan kacamata mu itu. Karena wajah cantik mu itu hanya boleh Kau perlihatkan padaku." Papar Bryan.
Dan itu membuat Aya kembali tersipu akan kata-kata suaminya. Aya pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan suaminya.
"Apakah kau berhasil bekerja sama dengan Tuan Oskar Bryan?." Tanyanya begitu antusias.
Namun Bryan kembali mengingat Oskar yang menginginkan istrinya. Sebisa mungkin Bryan meredam emosinya itu.
"Aku tidak akan pernah bekerja sama lagi dengannya." Ucap Bryan begitu dingin, sehingga membuat Aya pun menjadi bingung.
"Kenapa?."
"Sudahlah, jangan membahas masalah kerja sama dengan dia lagi." Ucap Bryan malas.
Aya hanya menganggukkan kepalanya menuruti perintah suaminya itu.
Lalu Bryan segera menjalankan mobilnya dan pulang ke rumahnya.
Bryan segera merendam tubuhnya kedalam bathtub, Ia ingin membuat pikirannya menjadi rileks mengingat masalah tadi siang.
Sementara Aya di luar tengah mengganti bajunya setelah tadi mandi di kamar sebelah. Aya melihat Bryan yang terlihat begitu marah hari ini. Makanya Ia tidak ingin mengganggu Bryan.
Aya mengusap perutnya itu, lalu Ia membaringkan tubuhnya di kasur empuk milik suaminya.
"Jangan nakal ya sayangnya Mama," ucap Aya tersenyum lembut. Matanya perlahan mulai terpejam dan memasuki alam mimpi.
Bryan yang membuka pintu bathroom sontak menatap istrinya yang kini tengah membaringkan tubuhnya asal.
Bryan hanya tersenyum dan mendekati Aya. Ia mengusap lembut kepala istrinya.
"Kau sudah berhasil memporak-porandakan hatiku Aya," ucap Bryan masih mengusap kepala istrinya.
__ADS_1
Hingga tengah malam pun tiba-tiba Aya terbangun. Aya merasa begitu lapar.
Ia pun mendudukkan dirinya, lalu di tatapnya suaminya yang terlelap dengan nyenyaknya.
"Bryan sudah tidur. Perutku lapar sekali." Gumamnya pelan. Lalu perlahan Aya mulai beranjak , kakinya melangkah menuju ke dapur, berharap masih menemukan makanan di sana.
Aya berjalan mengendap-endap di dapur, Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara-suara. Takut kalau ada pelayan yang terbangun.
Namun Aya saat ini begitu menginginkan makanan yang manis dan dingin, namun juga terasa pedas.
Perlahan tangannya membuka kulkas yang ada di sana, berharap Ia akan menemukan ice cream disana.
"Ah ketemu," ucapnya pelan dan begitu girangnya.
Aya mengambil ice cream tersebut dari freezer, dan meletakkannya di atas meja. Ia mulai membuka ice cream tersebut dan memakaikannya dengan sendok.
Baru dua suapan saja, Aya merasa seperti ada yang kurang dari rasa ice cream tersebut. Aya akhirnya kembali mencari sesuatu di sana untuk dimakan bersama ice cream tersebut.
"Ini pasti akan membuat ice cream itu enak," ucap Aya saat menemukan apa yang Ia cari dan segera membawanya ke meja.
"Emmm ini enak sekali." Ucap Aya begitu menikmati ice cream yang diberi saus sambal pedas di atasnya.
Sementara di kamarnya, tangan Bryan berusaha untuk memeluk tubuh istrinya yang Ia yakni berada di sampingnya.
Namun tangan itu tidak mendapatkan apa yang Ia cari saat ini. Hingga Bryan mulai mengerjapkan matanya, berusaha membuka matanya untuk melihat ke sampingnya.
Bryan terkejut tidak mendapati istrinya itu di sampingnya. Ia berpikir Aya mungkin di dalam bathroom. Membuatnya beranjak dan membuka pintu bathroom yang tak terkunci.
Pintu bathroom terbuka sempurna, namun disana tak menampilkan sosok yang Ia cari.
"Aya tidak ada, kemana dia?!." Ucapnya mulai panik.
Dengan terburu-buru Bryan segera bergegas keluar dari kamarnya. Tujuan pertamanya adalah sebuah taman kecil yang ada di sana.
Namun hasilnya nihil, Bryan tidak menemukan istrinya di sana. Bryan berniat untuk membangunkan salah satu pelayan yang tidur di kamar dekat dapur untuk membantunya mencari istrinya.
__ADS_1
Namun telinga Bryan mendengar sebuah suara yang berasal dari dapur. Sehingga Ia pun mulai menajamkan pendengarannya. Kakinya perlahan berjalan ke arah suara tersebut.
Bryan terkejut, melihat sosok yang di cari berada di meja dapur dan menikmati makanan. Tapi Ia begitu lega karena sosok yang di lihatnya adalah istrinya.
"Apa yang Kau lakukan malam-malam begini di sini Aya?." Tanya Bryan yang kini duduk di depan Aya.
Aya terkejut tiba-tiba melihat Bryan di depannya, Aya tidak melihat kedatangan Bryan karena terlalu asyik menikmati ice cream tersebut.
"Bryan, kenapa tiba-tiba Kau di sini?. Kau membuatku terkejut saja." Celetuk Aya.
"Kau yang membuat ku begitu khawatir karena tiba-tiba saja menghilang dari kamar." Sahut Bryan begitu kesal karena istrinya pergi diam-diam.
"Maafkan aku Bryan, Aku tadi melihat mu tidur sangat pulas sekali, dan Aku merasa lapar. Jadi ku putuskan untuk mencari makanan ke dapur." Ucap Aya menyesal.
"Lain kali Kau harus membangunkan ku. Dan sekarang Kau makan Apa?." Tanyanya seraya melihat ice cream yang ada di hadapan Aya dan juga satu botol saus sambal disana.
"Apa yang kau makan itu Aya, kenapa kau menaruh saus sambal di atas ice cream itu?!." Bryan bergidik ngeri melihat ice cream yang di taburi dengan saus sambal yang begitu banyak.
Aya kembali menatap ice cream di depannya, dengan senyumnya ia pun kembali menyendokkan ice cream dan saus sambal tersebut kedalam mulutnya.
"Ini sangat enak sekali Bryan, Apa Kau mau mencobanya?." Tawarnya seraya menyodorkan satu suap ice cream yang ada saus sambalnya.
Bryan segera menolaknya, Ia sulit untuk menelan ludahnya saat Ia melihat ice cream yang penuh dengan saus sambal.
"Tidak, Kau saja yang memakannya." Tolaknya segera. Bryan merasa bingung dengan sikap aneh istrinya itu.
"Aya, kenapa kau tidak makan makanan lain saja?. Yang Kau makan itu terlihat aneh Aya." Tegur Bryan. Namun Aya tidak mengindahkannya dan terus memakan ice cream tersebut dengan saus sambal.
"Tidak,ini sangat enak Aku sangat menyukainya."
Bryan hanya menggelengkan kepalanya,merasa aneh dengan sikap istrinya itu. Tapi Ia menemani Aya hingga Aya pun menghabiskan satu kotak kecil ice cream yang di beri saus sambal.
"Sekarang Aku merasa kenyang." Ucap Aya memegangi perutnya.
"Sudah, sekarang ayo kita tidur." Ajak Bryan dan di anggukki Aya.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya kembali ke kamarnya dengan berjalan bersama. Tangan Bryan meraih tangan Aya sehingga merekapun menuju kamar dengan bergandengan tangan.
***