
Hingga sebuah suara tembakan membuat panggilan tersebut terhenti dan terputus.
Divya terkejut. Sebenarnya suara apa tadi? Dan dimana suaminya berada saat ini?. Divya terus bertanya-tanya. Rasa khawatir mulai menyeruak dalam hatinya.
Divya menyesal. Menyesal karena tak menjawab panggilan dari Sean.
Tangannya kembali menghubungi nomor Sean. Namun nomor tersebut sudah tidak aktif. Hingga perasaan gelisah pun menghantuinya.
Berkali-kali Divya menghubungi nomor suaminya tetap saja bukan suaminya yang menjawabnya, melainkan suara operator.
Divya berusaha untuk tenang. Ia meyakinkan diri bahwa suaminya saat ini tengah baik-baik saja.
Tapi tetap saja. Seberapa kuat ia mencoba untuk memejamkan matanya, mata itu tak mau terpejam. Hingga menjelang hampir pagi,mata itu mulai terpejam. Melupakan sejenak kekhawatiran yang menyeruak dalam hatinya.
Divya terus berdoa semoga suaminya baik-baik saja
***
"Eve," panggil Divya saat berada di meja makan.
"Iya kak Di, ada apa?"
"Sebenarnya kakakmu itu pergi kemana sih?" tanya Divya ingin tahu.
"Kenapa kak Di bertanya? Tentu saja pergi bekerja kak," jawab Eve. Namun tak membuat Divya puas akan jawaban tersebut.
"Bekerja di mana, kantor? Kenapa terdengar suara tembakan bila sedang di kantor?" Divya sungguh ingin tahu sedang di mana Sean saat ini.
Sontak saja Eve mengurungkan niatnya untuk menyendok nasi di piringnya. Ia menatap Divya.
"Kenapa kak Di bertanya seperti itu? Mana mungkin di kantor ada suara tembakan? Mungkin itu suara benda jatuh saja kak." Eve berusaha meyakinkan Divya.
"Semalam kakakmu menghubungi ku. Disaat Aku mendengar suara tembakan panggilan itu terputus Eve," ucap Divya khawatir.
"Kak Di tidak usah khawatir. Tidak akan terjadi apapun dengan kak Sean," tandas Eve. Eve pun sebenarnya merasa khawatir dengan kakaknya.
Namun ia percaya bahwa kakaknya dan Karl pasti akan mampu menumpas semua musuh.
Sementara Divya masih merasa khawatir. Rasanya ia tidak berselera makan pagi ini.
***
Eve dan Divya pun berangkat kuliah bersama. Setidaknya ia punya kegiatan dan sejenak dapat meredam kekhawatirannya.
Saat makan siang, Eve menerima panggilan dari nomor tak dikenal. Ia pun menjauh dari Divya untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Kak Di, suamiku menelpon ku. Aku kesana sebentar ya," ucap Eve berbohong. Namun ia yakin panggilan tersebut sangat penting.
__ADS_1
Divya hanya menganggukkan kepalanya menyetujui.
"Halo,"ucap Eve menjawab panggilan tersebut.
"Eve, ini kakak. Sekarang dengarkan Aku. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin 30 menit lagi akan sampai. Tetep jaga Divya Eve. Mereka tahu kakak menikah dengan Divya. Sekarang mereka datang ke sana untuk mencelakai istri kakak." Sean berkata dengan suara yang begitu berat.
Eve pun mengerti. " Baiklah kak, Aku akan melindungi kak Di."
Dan di sisi lain saat ini Divya mengerutkan keningnya saat melihat Ax datang menghampirinya.
"Ax, bukankah Kau sedang menelpon Eve?" Tanya Divya heran. Jelas-jelas Eve tadi mengatakan bahwa Ax tengah menelponnya.
"Apa maksudmu Di? Seharian ini Aku tidak menelepon Eve. Aku ingin memberikan kejutan padanya bahwa Aku pulang cepat dan langsung menghampirinya ke sini." Ax nampak bingung.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah belakang Divya. Beberapa orang berbaju hitam Datang ke arahnya dengan membawa senjata api.
Semua mahasiswa pun berhamburan keluar dari kampus tersebut. Sementara Ax menyuruh Divya untuk berada di belakangnya.
"Siapa mereka Ax?. Dimana Eve, kenapa tidak segera kesini. Aku khawatir dengannya Ax." ucap Divya.
"Kita harus mencarinya Di. Ayo kita pergi! tetaplah berada di belakangku," perintah Ax.
Perlahan mereka hendak meninggalkan tempat itu untuk mencari Eve.
Baru beberapa langkah saja suara menggelegar menghentikan langkah Ax dan Divya.
"Berhenti!"
Sontak membuat Ax dan Divya pun terkejut. Todongan senjata membuat Divya ketakutan. Sementara Ax menatap tajam pria tersebut.
"Siapa kalian!" ucap Ax begitu dingin.
"Hahaha, Kami adalah seseorang yang akan mengambil nyawa gadis di belakang mu itu. Cepat serahkan dia pada kami!" gertak pria tersebut.
Divya menjadi semakin ketakutan. Kenapa orang-orang tak dikenal itu mencarinya dan berniat untuk membunuhnya.
"Tidak akan pernah!" Ax langsung menendang senjata pria tersebut dan menarik Divya untuk berlari.
Namun Orang-orang itu terus mengejar Ax dan Divya.
Langkah Ax kembali terhenti saat di depannya pria berbaju hitam lainnya menghadangnya.
Tidak ada pilihan lain. Ax harus melawan mereka. Hingga baku hantam pun terjadi.
Divya bersembunyi di balik kursi taman yang tidak begitu aman. Ia merasa benar-benar ketakutan saat ini.
Sementara Ax masih baku hantam dengan beberapa pria berbaju hitam.
__ADS_1
Di saat Ax menendang senjata salah satu pria berbaju hitam tersebut. Ia mengambil alih pistol tersebut.
"Berhenti dan jangan macam-macam dengan ku!" gertak Ax. Kini ia menodongkan senjata api ke arah pria berbaju hitam tersebut.
Namun ketua kelompok tersebut seakan tak takut. Ia tidak perduli jika anak buahnya tertembak.
Ketua kelompok mafia tersebut mengarahkan senjatanya ke arah Ax dan melesatkan tembakannya.
"Awas...!" Eve datang dan mendorong tubuh Ax hingga hampir terjatuh.
Eve segera menghindari peluru tersebut.
Eve pun menatap tajam ke arah ketua kelompok mafia tersebut dengan garangnya. Pandangan matanya pun berubah menjadi setajam elang.
Ax terkejut melihat istrinya berada di sana. "Eve, kenapa Kau kemari?! Pergilah!" perintah Ax. Ia tidak ingin terjadi apapun dengan istrinya.
Namun Eve tak mengindahkan ucapan Ax. Pandangan matanya terlihat begitu tajam. hingga membuat Ax terkejut. "Eve...."
"Aku tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka!" Eve berkata dengan begitu dinginnya.
Prok...prok...prok ...
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini Ashy? Si gadis kematian. Tapi Aku tidak akan pernah bisa Kau tundukkan. Karena Aku akan membunuhmu beserta seluruh keluarga mu!" Ketua kelompok mafia tersebut memberikan sebuah kode kepada para anggotanya untuk menyerang Eve.
Dan benar saja. Mereka semua pun maju dan menyerangnya.
Ax tidak mengerti yang mereka bicarakan. Ia masih mencerna ucapan mereka. Kini ia begitu khawatir melihat istrinya yang di kepung banyak sekali pria berbaju hitam.
Ax hendak menolong istrinya. Namun dirinya membatu kala melihat istrinya yang baku hantam melawan para pria berbaju hitam tersebut dengan tangan kosong dan mulai menumbangkan satu persatu musuhnya.
Ax terpaku. Ia terus bertanya dalam hatinya, benarkah wanita yang melawan mereka adalah istrinya?
Eve terus saja melawan musuh-musuh tersebut dengan gerakan yang begitu elegan dan cantik. Para musuh itu pun kini mampu Eve lumpuhkan.
Sementara Ax masih melongo tak percaya melihat pemandangan di depannya.
"Sekarang majulah! Aku akan menghabisi mu!" tantang Eve.
Namun pria itu malah menyeringai membuat Eve mengerutkan keningnya.
"Kau mau melawanku? Kalau begitu Kau akan melihatnya mati duluan," tunjuk pria itu ke arah dimana anak buahnya tengah menyandera seseorang.
"Ah... lepaskan!" pekik Divya kala salah satu anak buah Mafia tersebut menodongkan senjata ke kepala Divya.
Eve mematung di tempatnya. Ia terlalu sibuk melawan musuh-musuh lainnya hingga melupakan misi dari kakaknya.
"Kak Di." Eve mengepalkan tangannya. Ia benar-benar kecolongan saat ini.
__ADS_1
***