
"Lanjutkan teror selanjutnya! "
Pesan yang dikirim oleh stiven tersebut membuat ratih semakin gemetar, rencana stiven menakut - nakuti ibuk qania sangat keterlaluan dan membahayakan nyawa ibuk qania yang saat ini sedang sakit.
Ratih memeberanikan diri untuk menelfon stiven, ia mau menolak perintah stiven kali ini. Sudah cukup ia membuat qania sampai masuk kerumah sakit kemarin. Ratih tidak atau apa sebenarnya tujuan stiven mencelakai orang sebaik qania.
"Halo kenapa? Apa kamu sudah melaksanakan perintah saya? "tanya stiven.
" Maaf pak kali ini saya tidak bisa menuruti perintah bapak. Saya tidak mau mencelakai ibuk qania lagi."
" Oh.... yasudah kalu begitu saya juga akan mencabut semua pengobatan cucu kamu dan menyuruh pihak rumah sakit untuk melimpahkan semua biaya pengobantanya kepada kamu."
" Tidak bisa begitulah pak saya sudah mengikuti rencana jahat bapak. Dan saya rasa itu sudah cukup!c
" Terserah kamu, kamu lanjutkan rencana ini maka pengobatan cucu kamu juga akan berlanjut tapi kalau tidak kamu tau sendirikan apa yang akan saya lakukan. "stiven mematikan telfon dari ratih sembari tersenyum sini karna pastinya mau tidak mau ratih pasti akan melakukan perintahnya juga.
************
Maaf ya jeng, saya tidak tau kalau kamu masuk rumah sakit." ucap karina menjenguk qania ke rumah sakit.
"Iya ngga papa, lagian saya juga sudah baik - baik saja." jawab qania tidak ingin membuat orang di sekitarnya cemas.
Bener jeng, sheila bilang kalau luka bekas oprasi kemarin robek? "
'' Iya tapi dokter di sini sangat cepat mengobati saya dan... Sekarang saya sudah sehat. "
"Syukurlah kalau begitu, saya turut lega mendengarnya."
Karina beralih menatap sheila dan xavi, "Dan untuk kalian berdua! Cucap karina menatap anak serta menantunya itu.
" Harusnya kalau ada apa-apa kalian langsung kabarin mama atau siapapun orang rumah!"
" Kalian tau ngga sih betapa hawatirnya mama,liat kalian ngga pulang semaleman."
" Maaf ma, sheila cuma ngga mau mama hawatir tapi ternyata sheila malah buat mama tambah hawatir."
Karina terlihat menghela nafas, mendengar jawaban menantunya itu.
" Sheila...." qania meraih tangan sheila.
" Lebih baik sekarang kamu pulang ya mama sudah baik-baik saja di sini. Lagi pula saat inikan kamu sedang mengandung mama tidak mau kamu kelelahan karna mama. "
"Tapi ma..."
"Sheila.. Mama baik - baik saja di sini lagi pula ada bik ratih yang akan menjaga mama nantinya."
Sheila terlihat berat untuk meninggalkan mamanya.
__ADS_1
Sheila percaya sama mama, mama akan baik - baik aja di sini. "
Sheila mengangguk," yaudah sheila pulang tapi besok sheila akan balik ke sini lai buat nemenin mama."
"Iya, kamu istirat di rumah ya, jangan banyak pikiran mama ngga mau terjadi hal buruk sama calon cucu mama ini!" ucap qania mengelus perut sheila.
Ceklek...
Pintu ruang rawat qania terbuka dan terlihat ratih masuk dengan membawa barang - barang qania.
"Itu bik ratih, kamu pulang sekarang ya!" ucap qania begitu melihat ratih.
Jeng tolong jaga sheila ya, pastiin dia nurut sama xavi. Soalnya sheila ini sedikit keras kepala orangnya. Cucap qania melihat ke arah karina.
Pasti jeng, saya akan jaga sheila.
Xavi bawa sheila pulang ya nak dan mama juga mau kalian melanjutkan dinner kalian! "
Sheila dan xavi saling berpandanga mendengar ucapan qania.
****************
Plak...
Alexsander melemparkan berkas keuangan ke arah wajah stiven. Alexander terlihat sangat marah pada stiven yang baru datang di kantor.
"Semua keuangan kantor berantakan, pengeluaran yang besar tanpa ada pemasukan yang sebanding bahkan investor- investor lari karna kepemimpinan kamu yang tidak becus. "ucap alexsander melempar berkas - berkas kantor ke arah stiven.
" Papa ini pasti salah paham, ini semua bukan seperti yang papa kira. ''
" Apa lagi stiven, papa sudah memeprcayakan satu cabang perusahaan papa ini pada kamu tapi apa?....."
Perusahaan kecil seperti ini saja kamu tidak bisa mengurusnya bagaimana bisa papa memeberikan perusahaan utama papa pada kamu.
Kalau terus - terusan seperti ini cabang perusahaan papa ini akan bangkut karna kepemimpinan tidak becus seperti kamu.
" Mulai detik ini perusahaan ini tidak akan di pimpin oleh kamu lagi, kamu resmi papa pecat."
Tapi pa, papa tidak bisa seperti ini aku ini anak papa sudah seharusnya aku yang memimpin perusahaan papa.
Kalau bukan aku siapa yang akan memimpin perusahaan papa, siapa yang akan mengembangkan cabang perusahaan papa ini?"
Soal perusahaan papa bisa papa berikan pada xavi dan sheila yang jauh lebih becua mengurus perusahaan darp pada kamu.
Dan perusahan ini akan papa berikan pada sheila, dia yang akan memimpin perusahan ini.
Apa sheila?ngerti apa dia soal perusahaan pa.
__ADS_1
Mungkin dia tidak mengerti tapi dia jauh lebih baik daripada kamu.
"Papa "
"Tidak usah membantah sudah cukup papa beri kepercayaan pada kamu. "
"Sekarang kamu bisa keluar dari kantor ini dan silahkan nikmati kehidupan kamu seenaknya! "
Stiven menatap papanya itu dengan sinis. Stiven menghempas berkas yang ia pegang tadi ke atas lantai lalu keluar dengan hempasan pintu yang sangat kuat.
"Cari orang yang bisa di percaya untuk bisa memimpin sementara cabang kantor yang stiven pegang dulu! "ucap Alexsander saat menelfon kaki tangannya.
" Baik pak." jawab orang tersebut.
Alexsander menghela nafas melihat kelakuan anak bungsunya itu yang tidak pernah berubah.
*************
" Dokter khusus ginjal"tulisan yang ada di papan pintu ruang dokter yang papanya masuki kemarin.
"Maafkan papa sheila. ''
"Papa akan ikut bersama kakek kamu"
Sheila menghela nafas saat mengingat mimpi buruk tentang papanya kemarin.
'' Kamu kenapa? "tanya xavi melihat sheila yang berulang kali menghela nafas.
Xavi melihat sesekali ke arah sheila sambil terus mengendarai monilnya.
" Apa ada masalah yang tidak saya ketahui?" tanya xavi lagi.
" Tidak ada, saya hanya lelah." jawab sheila.
Xavi mengerutkan keningnya, ia merasa jika ada sesuatu yang di sembunyika sheila darinya.
"Sepertinya sheila masih marah pada saya, mungkin saya tanyakan ini nanti setelah dinner malam ini."
"Semoga saja kamu mau bicara pada saya nanti." batin xavi menatap sheila yang tidak membalas tatapnnya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1