
"Saya sudah menjalankan rencana kamu, malam ini qania akan mati ketakutan karna teror itu. "ucap stiven yang saat ini sedang berada di rumah rashel dan rico.
Rashel mendengarkan ucapan stiven sambil menyeduh teh untuk stiven dan juga rico yang sedang berkumpul di rumahnya.
" Bagaimana bisa?" tanya rashel.
"Saya berhasil mendapatkan penghianat dari dalam rumah itu.
" Siapa?"
" Pembantu qania, dia sedang dalam kesulitan ekonomi. Cucunya sakit dan harus segera di bawa ke rumah sakit. Dia sangat membutuhkan uang jadi saya menawarkan diri untuk membantunya asalkan dia mau melakukan perintah saya.
"Dia setuju begitu saja?"
"Tentu, apa yang tidak bisa di lakukan oleh uang?, uang bisa membuat orang baik menjadi jahat. Dengan uang semua masalah akan clear dengan cepat. "
"Hmmm.. Bagus kalau begitu kamu jaga penghianat kamu itu dengan baik jangan sampai dia buka mulut pada xavi ataupun sheila." ucap rashel,Memperingati sambil berjalan keluar terlebih dahulu dari dapur.
****************
Ratih duduk di pintu UGD dengan wajah yang amat bersalah, ia tidak menyangka perbuatannya akan membuat qania separah ini. Ratih takut terjadi hal buruk pada qania, ratih takut jika nantinya qania meninggal dan ia harus bertanggung jawab atas ini semua.
"Bik. "ucap sheila berlari menuju ratih yang duduk di depan ruang UGD.
" Non, '' ucap ratih berdiri memeluk sheila.
"Ibuk non, ibuk. "sheila melepaskan pelukan ratih.
" Mama kenapa bik ?gimana kondisi mama? " sheila sangat panik ia sudah membayangkan hal buruk tentang mamanya.
" Ibuk non jatuh di dalam kamar dan pas bibik masuk bibik udah liat mama non tergeletak dengan banyak darah di bagian bekas oprasi ibuk non.
"Hah..." sheila memegangi kepalanya sembari menepis airmatanya.
"Maafin bibik non harusnya bibik lebih perhatian, "ucap ratih memegang tangan sheila.
" Udah bik, semuanya udah kejadian. Percuma juga bibik minta maaf ngga akan kembali sembuh."
"Maaf non bibik akui bibik salah. "ucap ratih terus menangis memohon pada sheila.
Ceklek...
" Keluarga ibuk qania?" panggil suster tersebut begitu keluar dari ruangan UGD.
" Saya sus." ucap sheila berlari ke arah suster tersebut.
" Mari buk, dokter sudah menunggu di dalam!" ucap suater tersebut.
Di sisi lain Danie yang ada di sana terus menelfoni xavi untuk mengabari keadaan saat ini tapi sialnya telfon daniel tidak di angkat oleh xavi.
"Tidak biasanya tuan muda seperti ini, kalau seperti ini bagaimana saya akan mengabari?" bingung daniel yang tidak tau harus bagaimana.
"Bagaimana mama saya dok. "tanya sheila saat sampai di dalam ruangan UGD.
" Nona sheila?" tanya dokter tersebut mengenali jika itu adalah istri xavi cucu pemilik rumah sakit.
__ADS_1
Sheila mengangguk," mama saya kenapa dok? "tanya sheila melihat mamanya yang masih belum sadar.
Begini nona, jahitan bekas oprasi ibuk qania lepas akibat benturan yang terjadi saat ibuk qania jatuh. Tapu nona tenang saja kami sudah menjahit ulang dan memberhentikan pendarahan.
Sheila sedikit lega setelah mendengar penjelasan dokter itu.
"Tapi kenapa mama saya belum sadar?"
"Perlu waktu untuk ibuk qania sadar karna saat ini ibuk qania masih terpengaruh obat bius. "
Sheila mengangguk, "terima kasih dok."
Dokter itu mengangguk," tolong beritahu suster yang lain untuk memindahkan ibuk qania ke ruangan VVIP khus keluarga ya sus! "ucap dokter tersebut sebelum pergi.
" Baik dok." jawab suster tersebut.
************
Stiven memutar-mutar ponselnya,ia sangat penasaran bagaimana reaksi dan kondisi qania setelah melihat tulisan pengancaman di kamarnya sendiri.
" Kenapa orang tua itu belum mengabari saya? Apa dia tidak melakukan rencananya? "ucap stiven yang dari tadi menunggu kabar dari ratih.
" Kurang hajar, awas saja kalau dia sampai menipu saya." stiven mencari nomor telfon ratih lalu menelfonya.
Dddrrrttt... Dddrrrttt... Dddrrrttt
Tuan stiven is call...
Ratih menepis air matanya lalu mengangkat telfin dari stiven sembari menjauh dari sana, takut jika nanti ada yang mendengar oembicaraannya apalagi di sana masih ada daniel yang berjaga di luar ruangan UGD.
" Bagaimana, apa semua rencana lancar? "
" Hiks.. Ibuk qania tuan, ibuk qania terjatuh dan sekarang ada di rumah sakit."
" Apa?" ucap stiven spontan memunculkan senyumnya.
Maafkan saya tuan saya tidak berniat mencelakai ibuk qania. "
Tidak - tidak kamu tidak oerlu minta maaf justru tugas kamu sangat bagus."ucap stiven yang merasa sangat senang.
" Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa kondisinya parah? "
" Saya tidak tau jelas yang pasti luka bekas oprasi ibuk qania sobek dan luka itu mengeluarkan banyak darah. Sampai sekarang nina sheila belum keluar dari dalam ruangan. "jelas ratih.
" Oke, karna kerja kamu sudah bagus saya akan kirimkan kamu uang sebagai bonus. Kamu nikmati uang itu untuk bersenang - senang, oke!" ucap stiven yang kemudian mematikan telfonnya.
Ratih memeluk ponselnya, ia menangis sejadi - jadinya begitu melihat notif transferan uang dari stiven masuk.
" maafkan saya buk, maafkan saya.hiks... Hikss.. Hiks"gumam ratih yang sangat menyesali perbuatan kotornya itu.
************
Sheila berusaha menghubungi xavi untuk mengabari berita ini. Jujur ia sangat membutuhkan orang tempatnya bersandar dan melepaskan semua kehawatirannya saat ini.
"Aaakh.. Hiks... Hikss. Hhiks"kesal sheila karna panggilannya tak di angkat oleh xavi walaupun ia sudah menelfoninya berulang kali.
__ADS_1
Tok... Tok... Tokk
Daniel masuk kedalam kamar VVIp kamar rawat mamanya sheila setelah ia mengetuk pintu.
Sheila menghapus air matanya begitu melihat daniel masuk kedalam ruangan mamanya.
"Daniel, kenapa kamu masih ada di sini?. Jangan bilang kalau ini juga karna perintah xavi?"
Daniel menggeleng, "tuan muda belum tau soal mama kamu, saya sudah berusa untuk menghubunginya tapi panggilan saya tidak diangkat." jelas daniel.
"Saya juga sudah menghubungi dia tapi panghilan saya juga tidak di angkat. "
"Tidak biasanya tuan muda seperti ini. "ucap daniel.
" Kamu pasti taukan xavi pergi kemana?"
Daniel menggeleng," saya tidak tau, kalau saya tau mungkin sudah dari tadi saya menjemput tuan muda untuk menemani kamu."
Saya yakin dia pasti ke tempat sandra, hanya dia satu - satunya orang yang bisa membuat xavi pergi terburu-buru seperti tadi."
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri, kesimpulan yang kamu ambil bisa membuat pertengkaran antara kalian berdua." ucap daniel menasehati.
"Tidak usah membela dia, dinner malam ini yang seharusnya romantis malah berantakan gara-gara dia."
"Bahkan sekarang di saat kondisi mama saya seperti ini dia tidak datang bahkan tidak mengangkat telfon istrinya sendiri. "
Hikss.. Hikss... Hikss tangis Sheila yang saat ini sangat kecewa dengan xavi. Cinta yang ia ungkapkan semalam malah membuatnya merasa sakit hati dan hancur seperti ini.
" Sheila..."
" Pergi niel, saya butuh waktu sendiri. "ucap sheila saat daniel berusaha untuk menenangkannya.
" sheila lebih baik kamu pulang biar saya yang menjaga mama kamu di sini! "
" Tidak usah saya bisa sendiri. "
" Atau mau saya telfonkan ibuk karina agar dia bisa menemani kamu di sini? "
" Jangan! Jangan beritahu siapapun saat ini."
"Tapi kamu juga butuh istirahat apa lagi saat ini kamu sedang mengandung."
'' Kandungan saya baik - baik saja, tidak usah hawatirkan saya, lebih baik sekarang kamu pulang! "
" Tapi sheila..."
"Cukup niel, saya sudah cukup stres dengan ini semua, adanya kamu hanya akan membuat pikiran saya semakin kacau. Jadi tolong ikutin perintah saya!" mohon sheila yang mau tidak mau terpaksa di ikuti oleh daniel.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1