
Stiven menatap xavier dengan tajam, ia masih mencurigai xavier karna bisa saja ia ingin mencelakainya untuk bisa menjadi kepala keluarga di keluarga alexsander dengan begitu ia akan mendapatkan banyak kekayaan dan kekuasaan.lalu xavier akan sangat mudah menyingkirkannya dari keluarga alexsander.
"Kalau saja kamu bukan paman saya mungkin saya sudah membunuh kamu sejak lama. "Ketus xavier, ia tidak habis fikir dengan Stiven. Bisa - bisanya di menuduhnya melakukan hal yang semurahan itu kepadanya. Dia fikir dengan dia melakukan itu bisa melepaskan semua sakit hati dan kekesalnnya selama ini kepadanya.
Kalaupun ia ingin mencelakai Stiven dan ingin membuatnya menderita xavier akan memilih untuk menyuruh orang lain dari pada ia harus mengotori tangannya sendiri. Lagian xavier masih punya hati dan perasaan bila ia ingin mencelakai Steven walaupun Stiven dan dia sering bertengkar dan tidak pernah akur xavier masih menganggap Stiven sebagai keluarga dan menghargainya sebagai pamannya walaupun stiven lahir dari nenek yang berbeda.
Stiven adalah putra bungsu yang lahir dari kakek xavier ketika dia berhubungan dengan seorang wanita di luar saat di usia paruh baya. Kesalaham alexsander itulah yang membuat Stiven lahir ke dunia ini dan menjadi paman Xavier. Perselingkuhan antara kakeknya dengan wanita lain menjadikan Stiven tidak terlalu di anggap oleh keluarganya juga anak-anak kakeknya yang lain karna mereka sudah mencap stiven sebagai aib bagi keluarga mereka.
Stiven hanya dua tahun lebih tua dari xavier. Stiven sangat dimanja, dan merupakan seorang playboy. Hubungan Stiven dengan Xavier tidak baik sejak kecil, kali ini juga karna kakek yang memaksanya untuk mengunjungi Stiven.
Sikap stiven yang manja dan suka main wanita membuat xavier dan keluarga membencinya terlebih dengan sikap egoisnya karna selalu di manja oleh kakeknya membuat xavier semakin tidak suka kepada Stiven.
"Membunuh saya "Stiven tertawa kecil," jangankan membunuh memukul saya saja kamu tidak berani. "ejek Stiven pada Xavier.Stiven memang senang sekali mencari-cari gara-gara dengan xavier. Itu semua karna Stiven sangat iri dengan xavier yang jauh lebih sukses darinya. Semua keluaraga sangat membanggakan xavier, itu sebabnya Stiven sangat benci dengan keponakannya itu.
Xavier menatap Stiven dengan penuh amarah namun yang di tatap malah terlihat biasa-biasa saja, membuat Xavier semakin murka dan ingin sekali menghabisi Stiven saat ini juga.Pertemuan xavier dan Stiven memang selalu seperti ini selalu di warnai dengan cek-cok dan sindiran yang akirnya mereka akan saling bertengkar.
Daniel yang melihat percakapan antara kedua saudara itu sudah tidak baik lagipun langsung mengambil tindakan" Tuan lebih baik sekarang kita keluar!" ucap Daniel asisiten pribadi Xavier. Ia merasa suasana sudah tidak tenang lagi kalau di biarkan seperti ini maka akan ada baku hantam antara mereka berdua.
Daniel berdiri di antara Stiven dan Xavier, Daniel mendorong tubuh Xavier untuk pergi namun Xavier malah memberontak dan tak mau pergi.
"Tuan! "Bentak Daniel, '' jangan mencoreng nama baik tuan hanya karna pancingan kemarahan yang Stiven ucapkan." ucap Daniel penuh penekanan pada Xavier.
Stiven mendengus kesal mendengar ucapan Daniel yang sok menenangkan Xavier.
__ADS_1
"Kalau takut aja kali, ngga usah di tahan-tahan. Lagian saya yakin dia ngga bakal bisa mukul saya apa lagi mau ngabisin..." Stiven masih tertawa mengejek xavier yang di tahan-tahan oleh Daniel.
"Jangan dengarkan perkataan dia tuan, dia sengaj mengatakn itu agar tuan marah dan memukulinya." daniel masih menahan tangan xavier yang mengeoal dan siap menghantam wajah Stiven.
"Haduuh.... Kebanyakan drama. "sambung stiven menatap xavier penuh pengejekan.
" Tuan sebaiknya sekarang kita pergi! " Daniel menarik tangan Xavier untuk pergi dari ruangan stiven.
Di saat Xavier hendak pergi Stiven malah kembali memancing kemarahan Xavier.
"kamu hanya beruntung saat itu tapi lain kali saya ngga akan biarkan keberuntungan mendekati kamu." Stiven menatap punggung Xavier dengan senyum sinis khasnya.
"apapun caranya kamu harus keluar dari keluarga Alexander, Xavier!" batin Stiven.
"Karna kamu adalah bumerang untuk saya. "batin Stiven.
Xavier berbalik arah, xavier berjalan dengan langkah besar kembali menuju ranjang Stiven. Tangan Xavier mengepas sangat kuat perkataan Stiven tadi membuat Xavier benar-benar naik pitam di buatnya. Bahkan Daniel asisiten pribadi Xavier tidak bisa menghentikan Xavier walaupun Daniel berusaha menghalangi.
Xavier naik ke atas ranjang Stiven lalu mencengkram rahang baju Stiven dan....
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
Tiga pukulan mendarat mulus ke wajah Stiven yang membuat wajah Stiven saat ini berlumuran darah.
Pelipis matanya, hidung dan kedua sudut bibirnya lebam dan mengeluarkan darah.
"Kamu hanya paman tiri saya dan kamu tidak berhak mengatakan itu kepada saya. "murka Xavier masih mencengkram kuat kerah baju Stiven.
" Tapi nyatanya saya yang akan terpilih menjadi kepala keluarga Alexsander nantinya." ucap Stiven dengan songongnya pada Xavier.
Xavier sangat tidak suka melihat kesongongan yang di tunjukkan Stiven kepadanya. Xavier kembali mengepal tangannya dan bersiap-siap akan memukul Stiven lagi.
" Jangan mimpi kamu" Daniel menahan tangan Xavier di saat Xavier akan melayangkan pukulan lagi ke wajah Stiven.
"Sudah tuan kalau tuan memukul dia lagi, kakek alexsander akan marah besar dan benar-benar akan menganggkat dia sebagai kepala keluarga Alexander! "lerai Daniel pada xavier.
Xavier menghempas tubuh Stiven kemudian ia turun dari brankar dan berjalan keluar diikuti oleh Daniel.
Tak berselang lama para dokter dan susterpun bergegas masuk kedalam ruangan Stiven.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung